
Situasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran kian memanas sejak pembunuhan AS terhadap Komandan Pasukan Quds Iran Mayor Jenderal Qassem Soleimani pada Jumat (3/1). Selain potensi konflik langsung antara kedua negara, terdapat kemungkinan eskalasi permainan perang Iran melalui pemberontak Houthi di Yaman.
Pembunuhan yang ditargetkan oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Komandan Pasukan Quds Iran Mayor Jenderal Qassem Soleimani telah memicu tanggapan langsung pada Selasa (7/1) malam ketika Iran meluncurkan lebih dari selusin rudal balistik terhadap militer AS dan pasukan koalisi di Irak. Rudal-rudal tersebut menargetkan setidaknya dua pangkalan militer Irak yang menampung personel militer AS dan koalisi di Al-Assad dan Irbil. Kawasan tersebut diduga akan menghadapi deeskalasi, tetapi khawatir akan kesalahan perhitungan Iran atau Amerika yang dapat memperdalam konflik.
Yaman, misalnya, telah menjadi salah satu medan pertempuran utama. Menurut R. David Harden dan Abdulrahman Al-Eryani dari The Hill, Perang Yaman yang telah berlangsung selama lima tahun mengancam untuk menelan Timur Tengah dengan memperdalam konflik antara Iran dan proksi-proksinya di satu sisi dengan Amerika dan para sekutunya di sisi lain. Regionalisasi konflik ini dapat menjerumuskan jutaan penduduk Yaman yang paling rentan ke dalam bencana kemanusiaan, mengganggu produksi minyak global, mengancam perdagangan komersial melalui Teluk Persia dan Laut Merah, menyediakan lebih banyak ruang bagi ISIS dan Al-Qaeda, serta merusak stabilitas Arab Saudi.
HOUTHI YAMAN
Anggota suku bersenjata Yaman yang setia kepada pemberontak Syiah Houthi duduk di belakang kendaraan bersenjata, selama pertemuan untuk memobilisasi lebih banyak pejuang ke beberapa medan perang di pinggiran ibu kota, Sanaa, pada 1 November 2016. (Foto: AFP/Getty Images/Mohammed Huwais)
Milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman menggulingkan pemerintah yang diakui secara internasional pada 2014 dan sejak itu telah mengendalikan ibu kota Yaman, Sanaa, dan Yaman barat laut. Akibatnya, Arab Saudi melakukan intervensi militer di Yaman pada Maret 2015. Kerajaan Saudi telah melihat perjuangannya melawan Houthi melalui lensa pertempurannya melawan pengaruh Iran di kawasan tersebut. Tidak mengherankan, Houthi telah memperluas gudang senjata mereka dan memperdalam kemampuan militer mereka sejak 2014 dengan bantuan besar dari Iran. Kelompok Houthi saat ini mengendalikan sebagian besar populasi dan ekonomi Yaman.
Pasukan Quds Iran, yang sebelumnya dipimpin oleh Jenderal Soleimani, membantu milisi Houthi mengembangkan kemampuan militer luas yang telah digunakan dalam menyerang sasaran strategis di Arab Saudi. PBB mengonfirmasi bukti dukungan ini dan secara khusus menuduh Iran menyediakan rudal jarak jauh dan pesawat tak berawak kepada pemberontak Houthi.
Dengan bantuan tersebut, Houthi telah membawa perang mereka ke Arab Saudi dan para mitranya, terkadang sebagai tanggapan atas korban sipil dan serangan Arab Saudi yang tidak proporsional. Misalnya, rudal balistik Houthi telah mencapai sejauh Riyadh, ibu kota Saudi. Milisi Houthi juga menargetkan berbagai infrastruktur militer dan sipil di Saudi, termasuk kapal tanker minyak di Laut Merah, fasilitas minyak di Riyadh, dan pangkalan militer di Khamis Mushayt. Pemberontak Houthi juga telah meningkatkan serangan mereka terhadap infrastruktur kritis Saudi dengan menargetkan bandar udara Abha dan Jizan.
TAHUN BARU DAN PERANG BARU
Pekan lalu, kepemimpinan Houthi bersumpah untuk “mendukung rakyat Iran” sebagai bagian dari “Poros Perlawanan” (Axis of Resistance) yang dipimpin oleh Iran. Mereka menyerukan demonstrasi besar-besaran di kota-kota besar Yaman yang berada di bawah kendali mereka.
Meski Houthi bukan agen Iran, mereka telah secara eksplisit menunjukkan dukungan terhadap Iran dan Hizbullah. Agustus 2019, pemerintah yang dikuasai Houthi di Sanaa secara tidak mengherankan menunjuk duta besar pertamanya untuk Teheran. Sebagai imbalan atas senjata, minyak, dan dukungan yang berkelanjutan, Houthi dapat secara terbuka memihak Iran dalam konfrontasi militer langsung dengan AS dan para sekutu regional. Dalam skenario semacam itu, Houthi dan Iran kemungkinan akan menargetkan tiga kepentingan utama AS dan sekutu.
Pertama, Houthi dapat mengancam jalur air strategis Laut Merah. Pantai barat Yaman berada pada jalur perdagangan maritim yang strategis dan penting untuk kapal komersial dan kapal tanker minyak, yakni jalur pelayaran Laut Merah ke Terusan Suez, Mesir, Israel, dan Yordania. Arsenal maritim Houthis termasuk rudal jelajah anti-kapal, alat peledak improvisasi di air, dan sistem senjata canggih lainnya yang disediakan oleh Iran.
Menurut R. David Harden dan Abdulrahman Al-Eryani dari The Hill, Houthi tidak akan segan menargetkan jalur air tersebut jika terjadi eskalasi parah. Mereka bahkan sudah pernah melakukannya. Pada Januari 2016, Houthi mengancam akan menutup titik sumbat maritim itu saat terjadi perselisihan militer dengan Arab Saudi. Sejak 2015, 40 serangan laut Houthi telah didokumentasikan di Selat Bab Al-Mandeb dan Laut Merah. Kemampuan Houthi di Laut Merah, dikombinasikan dengan jangkauan Iran di Selat Hormuz di Teluk Persia, berpotensi dapat menimbulkan ketidakstabilan besar-besaran terhadap pasokan minyak global.
Kedua, Houthi dapat meningkatkan tempo serangan rudal balistik dan pesawat nirawak sambil memperluas daftar targetnya di Teluk. Pada 2019, Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan rudal yang mengakibatkan penutupan sementara fasilitas pemrosesan minyak terbesar Arab Saudi di Abqaiq. Dengan bantuan Iran, Houthi telah merekayasa ulang rudal Scud lama, mengembangkan pesawat nirawak, dan meluncurkan rudal jarak jauh lainnya yang memiliki kemampuan mencapai target strategis, termasuk pabrik minyak Aramco dan instalasi militer Amerika.
Ketiga, Houthi dapat meningkatkan serangan gerilyawan ke Arab Saudi dengan mengeksploitasi medan terbuka perbatasan Arab Saudi dengan Yaman. Iran kemungkinan akan mengambil keuntungan dari taktik Houthi ini, mengingat Saudi telah menghadapi tantangan untuk mempertahankan kontrol penuh atas sayap selatan mereka. Pada akhirnya, terlepas dari adanya penurunan ketegangan di perbatasan akhir-akhir ini, Iran sangat tertarik untuk mengalihkan sumber daya Saudi untuk memerangi Yaman di sepanjang wilayah perbatasan.
PERANG TANPA AKHIR
Kekuatan-kekuatan asing telah mengeksploitasi Yaman selama berabad-abad. Dalam konfrontasi Iran-Amerika, Yaman kembali akan menjadi medan pertempuran proksi. Dengan memanfaatkan Houthi, Iran dapat melibatkan musuh bebuyutannya Arab Saudi seperti situasi perang Vietnam, karena kerajaan Saudi menghabiskan darah dan harta yang tidak proporsional untuk menenangkan perbatasan selatannya. Namun, Iran juga dapat secara langsung menyerang kepentingan Amerika dari Yaman dengan mengancam fasilitas produksi minyak, rute pengiriman komersial, dan bahkan target militer.
Iran juga memiliki dua peluang politik. Pertama, Iran dapat memicu lonjakan harga minyak global selama kampanye Trump menjelang Pilpres AS 2020, dan merusak reputasi Trump dengan mengikis kekuatan ekonomi Amerika. Kedua, jika Iran berhasil mengancam Arab Saudi dari selatan, Iran kemungkinan dapat menarik pemerintahan Trump untuk mendukung kerajaan Saudi secara lebih substantif. Kemitraan pertahanan AS-Saudi yang lebih dalam akan mendorong reaksi bipartisan Kongres AS dan melemahkan janji Trump sejak lama untuk mengurangi keterlibatan Amerika di Timur Tengah.
Ironisnya, R. David Harden dan Abdulrahman Al-Eryani dari The Hill menyimpulkan, permainan strategis Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei bertujuan untuk menimbulkan dampak ekonomi pada perekonomian Amerika Serikat dan melibatkan Presiden AS Donald Trump dalam perang yang tidak populer selama panasnya musim Pilpres AS 2020. Di tengah konfrontasi dan kekacauan ini, tragedi yang sebenarnya adalah jutaan orang Yaman yang akan tetap terjebak dalam krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Penerjemah: Fadhila Eka Ratnasari
Editor: Purnama Ayu Rizky
Keterangan foto utama: Para pendukung bersenjata pemberontak Houthi berkumpul untuk memobilisasi lebih banyak pejuang ke medan perang melawan pasukan yang didukung Arab Saudi di San’a, Yaman, 1 Agustus 2019. (Foto: Shutterstock/EPA/Yahya Arhab)









