MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Sunday, January 12, 2020

Konflik Suriah: Rusia Capai Gencatan Senjata dengan Turki di Idlib

Konflik Suriah

Ditengah memanasnya konflik Suriah, Rusia mengumumkan tercapainya gencatan senjata dengan Turki di Idlib. Gencatan senjata di benteng terakhir kubu oposisi itu membuka jalan bagi jeda pengeboman oleh pasukan pemerintah Suriah dan memungkinkan bantuan kemanusiaan untuk masuk.
Rusia dan Turki telah mengumumkan gencatan senjata di provinsi Idlib, Suriah, yang membuka jalan bagi penghentian pengeboman yang dipimpin pemerintah di benteng terakhir yang dikuasai pemberontak di Suriah, sementara mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.
“Menurut perjanjian dengan pihak Turki, gencatan senjata diberlakukan di zona de-eskalasi Idlib mulai dari 14:00 waktu Moskow (11:00 GMT) pada 9 Januari 2020,” ujar Mayor Jenderal Rusia Yury Borenkov dikutip Al Jazeera.
Turki telah meminta Rusia untuk membuat gencatan senjata di wilayah tersebut dan mengirim delegasinya ke Moskow pada Desember untuk membahas masalah itu.
Bulan itu, pemerintah Suriah dan sekutu Rusia meluncurkan kampanye besar-besaran melawan pemberontak di Idlib.
Seiring serangan meningkat, pada Desember saja, hampir 300.000 orang melarikan diri ke daerah yang lebih aman menuju Turki dari Idlib selatan, menurut PBB.
Jamal Elshayyal dari Al Jazeera, melaporkan dari Ankara, mengatakan Turki telah mendorong dan menyerukan gencatan senjata, sebagian karena sudah di bawah tekanan besar dari masuknya pengungsi Suriah yang sudah berada di dalam perbatasannya.
“Perjanjian ini penting karena tidak hanya akan membendung aliran pengungsi dari Idlib, tetapi juga akan memungkinkan bantuan yang sangat dibutuhkan oleh organisasi kemanusiaan untuk menjangkau orang-orang yang putus asa di dalam kota di Suriah itu.”
suriah
Warga Suriah meneriakkan slogan-slogan dan melambai-lambaikan bendera-bendera oposisi saat mereka memprotes pemerintah Suriah selama demonstrasi di Binnish di provinsi Idlib utara yang dikuasai pemberontak pada 17 September (Foto: AFP/Getty Images/Omar Haj Kadour)
Kenan Rahmani dari Syria Campaign, mengatakan “kondisinya sangat buruk” di Idlib selatan, dan diperburuk oleh “penargetan yang disengaja” oleh pemerintah Assad di rumah sakit.
Dia juga menunjukkan bahwa Rusia telah berulang kali memveto bantuan kemanusiaan di PBB.
“Gencatan senjata, kami harap akan tetap ada,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa kesepakatan gencatan senjata sebelumnya telah dilanggar, di mana”rezim melanjutkan serangan militer brutalnya. Kami berharap kali ini akan berbeda.”
Perang sipil Suriah telah menewaskan lebih dari 370.000 orang sejak dimulai pada 2011, dengan penindasan brutal terhadap protes anti-pemerintah.
Secara total, 11.215 orang (termasuk lebih dari 1.000 anak) terbunuh pada 2019, tahun yang paling tidak mematikan sejak awal konflik.

PBB LAKUKAN PEMUNGUTAN SUARA TENTANG RESOLUSI BANTUAN LINTAS BATAS SURIAH YANG BARU

Menghadapi tenggat waktu pada Jumat (10/1) yang dapat menghentikan pengiriman bantuan kemanusiaan ke lebih dari 1 juta warga Suriah setiap bulan, Dewan Keamanan PBB yang terpecah akan melakukan pemungutan suara terkait resolusi-resolusi saingan yang akan melanjutkan pengiriman bantuan melalui penyeberangan perbatasan ke daerah-daerah yang sebagian besar dikuasai pemberontak.
Rancangan resolusi yang disponsori bersama oleh Jerman, Belgia, dan Kuwait dan didukung oleh kantor kemanusiaan PBB itu akan melanjutkan pengiriman bantuan melalui dua titik persimpangan di Turki dan Irak.
Resolusi saingan dari Rusia (sekutu terdekat Suriah di dewan tersebut) akan memperpanjang pengiriman hanya melalui dua penyeberangan Turki, The Washington Post melaporkan.
Mandat selama setahun saat ini berakhir pada Jumat (10/1), dan jika tidak diperpanjang, pengiriman makanan, obat-obatan, dan barang-barang penting lainnya akan terhenti.
Dewan Keamanan dijadwalkan untuk melakukan pemungutan suara pada resolusi saingan Jumat (10/1) sore. Kedua draft akan memperpanjang mandat selama enam bulan,
Para diplomat mengatakan, lima anggota dewan yang memiliki hak veto (Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, dan Prancis) bertemu empat kali sejak pekan lalu dan tidak dapat mencapai kompromi mengenai rancangan resolusi, dilansir dari The Washington Post.
Penerjemah dan editor: Aziza Fanny Larasati
Keterangan foto utama: Asap mengepul dalam serangan udara oleh pasukan pro-rezim di Kota Hish di Provinsi Idlib, Suriah, Senin, 19 Agustus 2019. (Foto: Getty Images/AFP/Omar Haj Kadour)


No comments:

Post a Comment