MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Sunday, January 12, 2020

Perang AS-Iran Telah Dimulai Jauh Sebelum Pembunuhan Soleimani

Perang AS-Iran

Beberapa hari setelah serangan AS menewaskan Jenderal Iran Qassem Soleimani (komandan Pasukan Quds Iran), Amerika dan Iran terperangkap dalam titik kritis. Namun sebenarnya, perang AS-Iran telah dimulai jauh sebelum pembunuhan Soleimani pada Jumat (3/1) lalu.
Dalam menimbang langkah selanjutnya, Iran menghadapi dilema: Bagaimana mereka akan membalas serangan Amerika untuk memulihkan martabat rezim dan reputasi nasionalnya? Bagaimana caranya agar serangan balasan tidak menimbulkan reaksi yang berlebihan dari AS dan mengarah pada perang?Sejak Mei lalu, Iran telah meluncurkan serangkaian serangan terhadap kapal tanker minyak di Teluk, menjatuhkan drone Amerika di atas perairan internasional, dan menyerang Saudi Aramco dengan rudal jelajah dan drone. Namun, para korban Iran tidak hanya menghindari serangan balasan, sebagian besar bahkan enggan menyebutkan siapa pelakunya.
Setelah serangkaian serangan roket yang diluncurkan oleh milisi proksi Iran terhadap pangkalan pasukan AS di Irak, Amerika terlihat menahan diri, dengan hanya mengungkapkan beberapa keluhan. Namun, kali ini Iran salah besar. Saat roket Kataib Hizbullah Irak itu akhirnya menewaskan korban warga sipil Amerika pada Desember, reaksi yang berbeda terjadi.
Pertama, mereka gagal mengetahui musuh mereka. Menganggap singa tidur sebagai singa mati. Kedua, mereka gagal mengenali perubahan pendekatan dalam serangan AS terhadap kamp-kamp Kataib Hizbullah. Ketiga, mereka meremehkan efek simbolis, emosional, dan politis dari menyerbu Kedutaan Besar AS.
Keempat, mereka tampaknya menelan propaganda kebanggaan mereka sendiri bahwa Presiden AS “tidak bisa berbuat apa-apa”, mencampuradukkan keinginan dan kemampuan. Terakhir, mereka lupa mempertimbangkan gaya pengambilan keputusan Donald Trump yang mudah berubah-ubah.
Secara pribadi, Soleimani terus berpegang pada kesalahan penilaian ini. Yakin bahwa statusnya tidak dapat disentuh, ia menilai kehadirannya di Baghdad sama sekali tidak berisiko. Rasa percaya diri memahkotai iring-iringannya dari Bandara Internasional Baghdad setelah pesawat perang Amerika dilaporkan berada di sekitarnya.
Dengan tewasnya Soleimani dan munculnya ancaman serangan balasan mematikan dari para pendukungnya, kekhawatiran akan eskalasi dapat dibenarkan. Namun, perang dapat dihindari, dan ketakutan Perang Dunia IIItidak berdasar.
Di Barat, beberapa orang menyebut serangan AS terhadap Soleimani sebagai “tindakan yang memicu perang”. Meskipun secara formal benar, deskripsi ini mencerminkan kegagalan dalam memahami kenyataan.
Rencana Pembunuhan Soleimani dan Lahirnya Martir Republik Islam Iran
Seorang gadis memegang tanda bertuliskan “Trump adalah seorang pembunuh” selama upacara belasungkawa untuk Mayor Jenderal Iran Qassem Soleimani, yang terbunuh dalam serangan udara dekat Baghdad, di luar Kedutaan Besar Iran di Kuala Lumpur, Malaysia, 7 Januari 2020. (Foto: Reuters)
Pada 1980-an, “Perang Pertahanan Suci” Iran selama satu dekade melawan Irak adalah trauma formatif rezim Iran. Sepenuhnya sadar akan biaya dan konsekuensi perang yang menghancurkan, Iran membencinya, seiring memanfaatkan ketakutan alami orang lain akan perang sebagai alat pencegah yang strategis.
Menentang perbedaan biner perdamaian-atau-perang (kecuali untuk melumpuhkan para pesaingnya) seni perang Iran tumbuh subur di zona abu-abu. Teheran melawan musuh-musuhnya dalam perang yang tertutup.
Bertempur di wilayah negara lain membuat pertempuran terjadi jauh dari wilayah Iran. Menyerang dengan “tangan orang lain” menyelamatkan nyawa warga sipil Iran. Dalam kampanye ekspansi lambatnya, Iran melatih, mendanai, mempersenjatai, dan memimpin milisi proksi lokal di seluruh Timur Tengah. Sementara proksi mengambil bagian terberat dari pertempuran, Iran hanya menanggung biayanya.
Sejak Revolusi Islam 1979, Israel telah bertarung dengan sebagian besar proksi Iran, Hizbullah Lebanon, Hamas Palestina, dan Jihad Islam. Sejak 2015, Arab Saudi dan sekutunya telah terjebak dalam konflik dengan Houthi Yaman, di bawah guyuran senjata Iran yang masuk.
Dalam dua dekade terakhir, ratusan orang Amerika di Irak dan Afghanistan tewas dan ribuan lainnya luka-luka karena proksi lokal Iran. Iran juga telah lama berperang dengan Amerika Serikat, meskipun tidak diumumkan dan sepihak. Sampai akhir-akhir ini, perang ini dibentuk oleh strategi Iran dan dilakukan di zona nyaman Iran, yang merugikan Amerika.
“Bentuk perang tertinggi,” kata Sun Tzu, “adalah perang yang menyerang strategi itu sendiri.”
Serangan AS terhadap Soleimani dan pesan lanjutannya mewujudkan hal itu. Serangan itu tidak hanya menewaskan diplomat strategis revolusioner utama Iran, tetapi juga mengguncang dasar-dasar strateginya.
Namun, pembunuhan Soleimani bukanlah akhir dari perang tertutup Iran. Soleimani hanyalah salah satu tokoh strategis Iran. Masalah yang paling mendesak saat ini adalah mengelola eskalasi agar perang terhindari.
Bahkan, menurut Assaf Orion, jika kedua belah pihak sama-sama ingin menghindari perang, perang masih mungkin akan meletus. Alasan utamanya adalah salah perhitungan, reaksi berlebihan, dan eskalasi refleksif.
Selain mencegah eskalasi, ada skema regional yang lebih besar. Kunci kebijakan keamanan yang relevan di Timur Tengah adalah mengenali sifat komposit dan keterkaitan dari berbagai tantangannya.
Bencana terorisme di wilayah ini bukan hanya ISIS dan Al-Qaeda Sunni, tetapi juga Pasukan Quds Syiah dan afiliasinya. Iran sendiri adalah gabungan dari bahaya, nuklir dan balistik, subversif dan teror.
ika mengesampingkan akar penyebab lain, kebijakan apa pun yang membahas hanya satu aspek dalam strategi Iran pasti akan gagal, kata Assaf Orion, karena berbagai upayanya saling terkait dan saling menguatkan. Pendekatan kebijakan harus mengakui tidak hanya peran Iran dalam masalah, tetapi juga asumsi kita sendiri.
Peribahasa Sun Tzu, “Kenalilah musuhmu, kenalilah dirimu sendiri,” yang gagal diterapkan Soleimani, masih menjadi kunci untuk mengalahkan seni perang Iran.
Penerjemah: Nur Hidayati
Editor: Aziza Fanny Larasati
Keterangan foto utama: Rakyat Iran membakar bendera Amerika Serikat selama prosesi pemakaman pemakaman Komandan Pasukan Quds Iran Mayor Jenderal Qassem Soleimani, yang terbunuh dalam serangan udara Amerika Serikat, di Teheran, Iran, Sabtu, 4 Januari 2020. (Foto: Reuters/Nazanin Tabatabaee/WANA)

No comments:

Post a Comment