
Tentara Israel telah menembak mati empat warga Palestina di area perbatasan Israel-Gaza. Militer Israel mengatakan empat orang itu bersenjata dan salah satunya menyebrang masuk ke Israel. Gaza dikuasai oleh Hamas, yang telah bertempur dalam tiga perang dengan Israel dalam 10 tahun terakhir. Kelompok itu mengeluarkan pernyataan pada hari Sabtu, menyangkal keterlibatan mereka.
Militer Israel mengatakan, tentara mereka menembak mati empat warga Palestina di dekat area perbatasan antara Gaza dan Israel pada hari Sabtu (10/8) pagi.
Menurut pernyataan militer, empat orang itu bersenjatakan senapan serbu, rudal anti-tank dan granat tangan, yang salah satunya dilemparkan ke tentara Israel.
Tentara Israel lantas melepaskan tembakan ketika salah satu dari empat pria itu menyebrang masuk ke Israel. Tidak ada korban dari pihak Israel.
Belum ada kelompok Palestina mana pun yang mengklaim tanggung jawab.
Gaza dikuasai oleh Hamas, yang telah bertempur dalam tiga perang dengan Israel dalam 10 tahun terakhir. Kelompok itu mengeluarkan pernyataan pada hari Sabtu, menyangkal keterlibatan mereka. Hamas mendeskripsikan empat pria Palestina itu sebagai “individu yang bertindak karena kemarahan pemuda”.
Juru bicara Abdel-Latif al-Qanou menambahkan bahwa Israel “bertanggung jawab atas rasa marah dan tekanan yang ditimpakan kepada rakyat kami karena pengepungan Gaza yang terus-menerus.”
Israel menarik tentara dan pemukimnya dari Gaza pada tahun 2005 , tapi tetap menahan daerah kantong itu di bawah blokade, mengutip alasan keamanan.
Warga Palestina telah mengadakan protes mingguan di sepanjang garis yang memisahkan Gaza dan Israel sejak bulan Maret 2018, menentang kondisi kritis di Jalur Gaza akibat dari blokade yang diterapkan oleh Mesir-Israel.
Setidaknya 301 warga Palestina telah tewas dibunuh oleh peluru Israel di Gaza atau area perbatasan sejak saat itu, kebanyakan terjadi saat demonstrasi. Tujuh warga Israel juga tewas.
Pada tanggal 1 Agustus, seorang warga Palestina dan tiga tentara Israel terluka dalam baku tembak di selatan Jalur Gaza.
Intensitas protes telah menurun sejak Israel dan Hamas mencapai gencatan senjata informal pada bulan Mei, mengikuti salah satu kekerasan terburuk yang terjadi di wilayah itu sejak perang 2014 antara keduanya.
Di bawah gencatan senjata—yang disponsori oleh PBB dan Mesir—Israel setuju untuk mengambil langkah yang akan melonggarkan blokadenya di Gaza, tapi warga Palestina telah menuduh mereka memperlambat penerapannya dan tidak mengambil tindakan cukup untuk mengurang kondisi ekonomi yang kritis di daerah kantong pinggir pantai tersebut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara luas dianggap berusaha menghindari kekerasan besar di wilayaah Palestina saat ia bersiap untuk pemilu susulan pada tanggal 17 September—pemilu kedua Israel tahun ini.
Namun, Netanyahu juga menghadapi tekanan politik agar bertindak tegas dalam serangan besar apapun.
Penembakan hari Sabtu kemarin terjadi saat warga Muslim Palestina bersiap untuk Idul Adha, hari raya kurban.
Keterangan foto utama: Hamas telah mengadakan protes mingguan di sepanjang garis pembatas yang memisahkan Israel dan Gaza sejak bulan Maret 2018. (Foto: Reuters/Ibraheem Abu Mustafa)
No comments:
Post a Comment