MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Monday, August 12, 2019

Serangan di Kabul Tewaskan 14 Orang Seiring Perundingan Damai Berlanjut

Serangan di Kabul

Seiring perundingan damai berlanjut antara Amerika dan Taliban, kekerasan di Afghanistan memburuk. Pada Rabu (7/8), sebuah bom truk Taliban yang kuat meledak di luar kantor polisi di Kabul, ibu kota Afghanistan, yang menewaskan 14 orang dan melukai setidaknya 145 lainnya. PBB mengatakan bahwa bulan Juli adalah bulan paling mematikan di Afghanistan dalam beberapa tahun terakhir, di mana 1.500 warga sipil tewas atau terluka akibat serangan di Kabul.
Oleh: Fahim Abed, Fatima Faizi, dan Mujib Mashal (The New York Times)
Kekerasan telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir di Afghanistan, seiring pihak-pihak yang berlawanan dalam perang mencoba mengubah serangan menjadi keuntungan dalam negosiasi atas masa depan politik negara itu.
Kesepakatan antara Taliban dan Amerika Serikat (AS) diharapkan akan segera diselesaikan dan akan memberikan jadwal penarikan bersyarat 14.000 pasukan Amerika dan mitra NATO mereka. Sebagai imbalannya, Taliban telah berjanji untuk mencegah serangan teroris terhadap Amerika Serikat dan sekutunya di wilayah Afghanistan.
Tetapi seiring perundingan berlanjut, kekerasan memburuk. Pada Rabu (7/8), sebuah bom truk Taliban yang kuat meledak di luar kantor polisi di Kabul, ibu kota Afghanistan, menewaskan 14 orang dan melukai setidaknya 145 lainnya, seiring negosiasi damai antara para militan dan diplomat Amerika sedang berlangsung.
PBB mengatakan bahwa bulan Juli adalah bulan paling mematikan di Afghanistan dalam beberapa tahun terakhir, di mana 1.500 warga sipil tewas atau terluka.
Walau PBB menyalahkan peningkatan bulan lalu pada ledakan besar Taliban, namun dikatakan dalam laporan sebelumnya bahwa pasukan Afghanistan dan sekutu Amerika mereka bertanggung jawab atas lebih banyak kematian warga sipil daripada Taliban selama enam bulan pertama tahun ini.
Serangan di Kabul pada Rabu (7/8)—menyusul peringatan berulang dari PBB tentang meningkatnya korban sipil—adalah yang terbaru yang menyerang daerah padat penduduk selama jam sibuk di pagi hari. Ledakan itu mengirim kepulan asap tebal ke langit, menghancurkan kantor polisi dan pusat rekrutmen tentara di dekatnya, dan menghancurkan jendela-jendela dalam radius sekitar satu mil.
Ledakan itu menimbulkan kawah besar dan puing-puing di sekitarnya.
“Rumah saya hancur,” kata Mohammad Nayeem (50 tahun). “Semuanya menjadi reruntuhan. Rumah saya dekat (dengan lokasi ledakan), tetapi bahkan rumah yang jaraknya sekitar satu kilometer juga rusak.”
Di luar kantor polisi, seorang pria bertanya kepada petugas tentang putranya, yang katanya terjebak di reruntuhan. Petugas menyuruhnya pergi mencari di antara para korban yang terluka atau meninggal di rumah sakit. Seiring kerumunan berkumpul, sang ayah mengatakan bahwa dia telah mencari di rumah sakit sebelumnya.
Seolah-olah mati rasa mengingat seringnya kekerasan seperti itu, petugas itu berusaha mengabaikannya, memberi tahu pria itu bahwa mungkin putranya jahat, dan bahwa apa pun nasibnya dalam ledakan itu adalah hukumannya. Kerumunan itu tertawa. Sang ayah tertekan, menangis, dan bergegas mencari putranya di tempat lain.
perundingan damai Afghanistan
Seorang pekerja kota membersihkan bagian depan gedung-gedung yang hancur, satu hari setelah sebuah serangan di Kabul, Afghanistan, 9 Mei 2019. (Foto: Reuters/Omar Sobhani)
Menjadi tanda betapa meluasnya kekerasan telah terjadi, pasukan keamanan Afghanistan melakukan hampir 100 operasi militer besar, serangan komando kecil, dan serangan udara di sekitar selusin dari 34 provinsi negara itu dalam 24 jam terakhir, kata Kementerian Pertahanan, dan menambahkan bahwa pihaknya telah menewaskan sedikitnya 84 pejuang Taliban dan melukai puluhan lainnya.
Kedua belah pihak seringkali melebih-lebihkan jumlah korban, yang sulit untuk diverifikasi secara independen.
Sebagian besar operasi oleh pasukan Afghanistan—yang sangat bergantung pada kekuatan udara Amerika—terjadi di pedesaan. Setiap hari, pesawat-pesawat Afghanistan dan Amerika menyerang sasaran-sasaran Taliban, yang seringkali dicampuradukkan dengan warga sipil.
Taliban menggunakan taktik mematikan yang berbeda: bom truk dan serangan bunuh diri, seringkali di pusat-pusat kota.
Di kota seperti Kabul—yang membengkak menjadi kota metropolitan yang berpenduduk sekitar lima juta orang—bahkan serangan terhadap sasaran militer seringkali meninggalkan korban sipil yang sangat besar. Para pejabat Afghanistan mengatakan bahwa warga sipil menyumbang lebih dari dua pertiga korban dalam serangan di Kabul pada Rabu (7/8).
Ini adalah kedua kalinya selama dua tahun terakhir di mana wilayah yang sama di Kabul barat—dengan kantor polisi dan pusat rekrutmen tentara—telah menjadi sasaran dalam pengeboman besar-besaran. Kantor-kantor tersebut—serta daerah-daerah sipil di sekitar mereka—baru saja dibangun kembali setelah pengeboman sebelumnya.
Serangan itu terjadi setelah malam yang tegang di Kabul, di mana ledakan terdengar di beberapa bagian kota lewat tengah malam. Badan intelijen Afghanistan mengatakan pada Rabu (7/8) pagi dalam sebuah pernyataan, bahwa mereka telah menyerbu tiga sel ISIS di berbagai bagian kota, yang mengakibatkan bentrokan dengan para terduga pembuat bom.
Meskipun Taliban bertanggung jawab atas sebagian besar kekerasan pemberontakan perang, namun afiliasi kecil dari ISIS telah memperoleh pijakan di timur negara itu dan telah mengklaim bahwa mereka melakukan serangan bunuh diri berulang-ulang di pusat-pusat kota.
Kekerasan semakin meningkat seiring para diplomat Amerika sedang mengerjakan perincian terakhir dari perjanjian awal dengan Taliban di ibu kota Qatar, Doha. Kesepakatan itu akan membuka jalan bagi negosiasi langsung langsung antara Taliban dan warga Afghanistan lainnya tentang masa depan politik negara itu.
Walau Amerika Serikat tampaknya telah menetapkan aspek rencana perdamaiannya—negosiasi langsung antara Taliban dan warga Afghanistan lainnya, termasuk pemerintah, setelah pengumuman jadwal penarikan pasukan—namun hanya ada sedikit kejelasan tentang permintaan Amerika untuk gencatan senjata yang komprehensif.
Menjelang sore hari pada Rabu (7/8), diplomat Amerika dan pejabat Taliban melanjutkan negosiasi mereka di balik pintu tertutup di tempat berlantai marmer. Para pejabat Taliban beristirahat sejenak. Mereka memeriksa ponsel mereka—termasuk untuk rincian serangan di Kabul—ketika mereka berjalan kembali ke aula. Situasi itu—di bawah matahari terbenam yang turun di pohon-pohon palem di sekitarnya—jauh dari kekacauan di Kabul.
Di Kabul, semuanya melakukan aktivitas yang tidak asing: menyapu pecahan kaca, memperbaiki jendela toko yang rusak, dan kembali bekerja untuk mencari nafkah.
“Toko ini adalah satu-satunya harapan yang saya miliki,” kata seorang penjaga toko, yang terlalu hancur untuk menyebutkan namanya. “Saya tidak tahu mengapa saya tidak meninggalkan negara ini. Ini adalah kuburan yang terus memakan orang.”
“Kami lelah, kami sesak napas,” Ghulam Ali, yang selamat, mengatakan kepada saluran berita lokal. “Ketika kami meninggalkan rumah di pagi hari, kami tidak tahu apakah kami akan berhasil kembali.”
Fahim Abed dan Fatima Faizi melaporkan dari Kabul, dan Mujib Mashal dari Doha, Qatar. Jawad Sukhanyar berkontribusi melaporkan dari Kabul.
Keterangan foto utama: Seorang wanita yang terluka dibawa ke rumah sakit pada Rabu (7/8) setelah serangan di Kabul, Afghanistan. (Foto: Reuters/Mohammad Ismail)

No comments:

Post a Comment