
Sebuah laporan Pentagon pada Selasa (6/8) mengatakan bahwa ISIS telah bangkit kembali di Suriah. Laporan itu mengatakan bahwa penarikan sebagian pasukan AS dari Suriah telah berdampak pada perang melawan sisa-sisa ISIS, membuatnya lebih sulit untuk memberi tahu sekutu lokal di lapangan dan menghilangkan kemampuan AS untuk memantau daerah-daerah zona perekrutan ISIS.
Oleh: Ryan Browne (CNN)
ISIS “bangkit kembali” di Suriah, kurang dari lima bulan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa kekhalifahan kelompok teroris tersebut telah 100 persen dikalahkan, menurut laporan baru Inspektur Jenderal Pentagon tentang Perang Melawan ISIS.
“Meskipun kehilangan ‘kekhalifahan teritorialnya’, namun ISIS memperkuat kemampuan gerilyawannya di Irak dan bangkit kembali di Suriah,” laporan itu, yang diterbitkan pada Selasa (6/8), memperingatkan.
Presiden Donald Trump berulang kali menggembar-gemborkan peran pemerintahannya dalam mengusir kelompok teroris itu dari daerah-daerah di bawah kendali teritorialnya, mengatakan pada rapat kabinet bulan lalu, “Kami melakukan pekerjaan hebat dengan kekhalifahan. Kami meruntuhkan 100 persen kekhalifahan, dan kami dengan cepat menarik diri dari Suriah.”
Tetapi laporan baru itu mengatakan bahwa penarikan sebagian pasukan AS dari Suriah telah berdampak pada perang melawan sisa-sisa ISIS, membuatnya lebih sulit untuk memberi tahu sekutu lokal di lapangan dan menghilangkan kemampuan AS untuk memantau daerah-daerah yang digambarkan berpotensi menjadi zona perekrutan, yang memungkinkan kelompok itu untuk mengisi kembali jajarannya.
Ditanya tentang temuan laporan tersebut pada Rabu (7/8), Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan bahwa “pemerintahan Trump sangat memperhatikan keberhasilan yang kami miliki versus keberhasilan ISIS,” walau mengakui bahwa ia belum membaca laporan tersebut.
“Saya yakin itu adalah kasus di mana ada kantong-kantong di mana mereka menjadi sedikit lebih kuat. Saya bisa meyakinkan Anda ada tempat-tempat di mana mereka menjadi lebih lemah juga,” kata Pompeo.
Laporan tersebut—dari Inspektur Jenderal untuk Operation Inherent Resolve, nama resmi untuk operasi yang dipimpin AS melawan ISIS—mencakup periode 1 April hingga 30 Juni 2019.
“Pengurangan pasukan AS telah mengurangi dukungan yang tersedia untuk pasukan mitra Suriah pada saat pasukan mereka membutuhkan lebih banyak pelatihan dan perlengkapan untuk menanggapi kebangkitan ISIS,” Glenn Fine, Wakil Kepala Inspektur Jenderal, menulis dalam sebuah pesan yang menyertai laporan tersebut.
Para pejuang dari Pasukan Demokratik Suriah mempersiapkan diri mereka sebelum apa yang mereka sebut sebagai serangan terhadap militan ISIS untuk mengambil kendali bendungan Tishrin, di selatan Kobani, Suriah, tanggal 26 Desember 2015. (Foto: Reuters/Rodi Said)
Mantan Utusan Khusus Presiden AS untuk Pertarungan ISIS, Brett McGurk, mencuit temuan laporan tersebut pada Rabu (7/8), mengatakan, “laporan itu menyimpulkan bahwa penarikan pasukan Trump terjadi pada waktu terburuk dan telah mengurangi sumber daya yang diperlukan untuk menyelesaikan misi.”
“Laporan ini sangat jelas dan harus ditanggapi dengan serius,” McGurk, yang mengundurkan diri dari pemerintahan pada Desember, tak lama setelah Trump mengumumkan rencananya untuk menarik diri dari Suriah, kemudian menambahkan.
Laporan tersebut memperingatkan bahwa karena pengurangan personel, AS dan sekutu lokalnya tidak dapat memonitor secara dekat kamp pengungsi internal al-Hol—sebuah situasi yang memungkinkan “ideologi ISIS untuk menyebar ‘tanpa perlawanan’ di dalam kamp tersebut,” yang berpotensi memungkinkan ISIS untuk mengisi kembali jajarannya di antara puluhan ribu penduduk.
TRUMP MENGATAKAN AS AKAN ‘SEGERA KELUAR DARI SANA’
Pada puncak kampanye di Suriah, AS kekurangan 3.000 tentara yang membantu memberi saran kepada Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung AS seiring mereka mengusir ISIS dari kota-kota di seluruh timur laut Suriah. Jumlah pasukan AS telah menurun secara substansial, namun para pejabat Pentagon belum memberikan statistik resmi tentang berapa banyak pasukan yang tersisa di negara itu.
Trump mengatakan bahwa sisa-sisa pasukan AS akan tetap berada di Suriah untuk jangka waktu yang tidak terbatas untuk membantu memastikan ISIS tetap dikalahkan.
“Kami akan segera keluar dari sana. Dan biarkan mereka menangani masalah mereka sendiri. Suriah dapat menangani masalah mereka sendiri—bersama dengan Iran, bersama dengan Rusia, bersama dengan Irak, bersama dengan Turki. Kami berada 7.000 mil jauhnya,” kata Trump bulan lalu.
Para pejabat Pentagon telah menyatakan kekhawatiran dalam beberapa hari terakhir bahwa potensi serangan militer Turki yang menargetkan sekutu-sekutu Kurdi Amerika di Suriah timur laut dapat merusak perang melawan ISIS.
Operasi semacam itu telah berulang kali diusulkan oleh para pejabat senior di Turki dan AS, yang secara konsisten menyebut tindakan semacam itu “tidak dapat diterima,” mengungkapkan kekhawatiran bahwa personel Amerika dapat terperangkap dalam baku tembak dan bahwa tahanan ISIS dapat melarikan diri dalam kekacauan.
ISIS juga masih menghadirkan tantangan di Irak, di mana bulan lalu koalisi militer pimpinan AS melakukan 33 serangan udara atau artileri yang menargetkan para pejuang, bangunan, terowongan, gudang senjata, dan kendaraan ISIS.
Keterangan foto utama: Para pejuang Pasukan Demokratik Suriah mengendarai truk ketika konvoi mereka melewati Ain Issa, Suriah, tanggal 16 Oktober 2017. (Foto: Reuters/Erik De Castro)








