Raja Salman mengadakan pertemuan darurat negara-negara Arab pada Jumat (31/5) dini hari, dan mendesak upaya internasional untuk menghalangi Iran. Pertemuan ini diadakan menyusul lonjakan ketegangan antara Iran dan Arab Saudi, serta Iran dengan AS. Raja Salman meminta masyarakat internasional untuk “menggunakan segala cara untuk menghentikan rezim Iran ikut campur tangan dalam urusan internal negara-negara lain, menyembunyikan entitas teroris global dan regional, dan mengancam saluran air internasional.”
Oleh: Aya Batrawy (Associated Press)
Raja Salman dari Arab Saudi membuka pertemuan darurat para pemimpin Arab di kota paling suci Islam, Mekah, pada Jumat (31/5), dengan seruan bagi masyarakat internasional untuk menggunakan segala cara untuk menghadapi Iran, tetapi dia juga mengatakan bahwa Kerajaan Saudi tetap berkomitmen untuk perdamaian.
Raja Salman menyampaikan pidatonya pada KTT Liga Arab di Mekah yang diadakan mendadak, setelah lonjakan ketegangan antara Arab Saudi dan saingannya Iran.
Ketegangan juga meningkat antara Teheran dan Washington dalam beberapa pekan terakhir, di mana Amerika Serikat (AS) mengirim kapal induk dan pesawat pengebom B-52 ke Teluk Persia. Pemerintahan Trump mengambil sikap garis keras terhadap Iran, pertama dengan menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran tahun lalu, dan kemudian menjatuhkan sanksi ekonomi pada negara itu.
Upaya Arab Saudi untuk mengundang para pemimpin regional ke Mekah, mencerminkan keinginan Kerajaan Saudi untuk memproyeksikan posisi Muslim dan Arab yang bersatu terkait Iran.
Namun, ada tanda-tanda ketegangan dan perselisihan yang terlihat di antara para pejabat Arab yang berkumpul pada pertemuan itu, yang dimulai tepat sebelum tengah malam pada Kamis (29/5) hingga Jumat (31/5) dini hari.
Maroko tidak mengirim rajanya, di tengah mendinginnya hubungan dengan Arab Saudi, sementara Qatar mengirim perdana menterinya dan bukan emirnya yang berkuasa di tengah kebuntuan diplomatik dengan negara-negara tetangga Arab.

Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri Qatar Sheikh Abdullah bin Nasser bin Khalifa Al Thani terlihat selama KTT Arab di Mekah, Arab Saudi, 31 Mei 2019. (Foto: Reuters/Hamad l Mohammed)
Irak—yang terletak di persimpangan antara Iran Syiah dan sebagian besar dunia Arab Sunni—menolak pernyataan akhir Liga Arab setelah KTT itu, dan tidak menandatanganinya.
Namun, semua mengecam dugaan sabotase terhadap empat kapal tanker minyak di lepas pantai Uni Emirat Arab dan serangan pesawat tanpa awak terhadap pipa minyak utama Saudi awal bulan ini.
Arab Saudi menuduh Iran mempersenjatai pemberontak Yaman di balik serangan pipa tersebut. Iran membantah terlibat dalam insiden itu.
Dalam sambutan pembukaannya, Raja Salman meminta masyarakat internasional untuk menghalangi perilaku Iran dan untuk “menggunakan segala cara untuk menghentikan rezim Iran ikut campur tangan dalam urusan internal negara-negara lain, menyembunyikan entitas teroris global dan regional, dan mengancam saluran air internasional.”
Dia menambahkan bahwa Arab Saudi ingin melindungi wilayah itu dari momok perang dan bahwa “ia terus mendorong perdamaian.”
Irak, sementara itu, membunyikan nada yang sangat berbeda. Presiden Irak Barham Salih mengatakan dalam sambutannya bahwa
Iran adalah negara dan tetangga Muslim.
“Kami tidak berharap keamanannya ditargetkan, karena kami berbagi 1.400 kilometer (870 mil) perbatasan dan memiliki sejumlah hubungan,” katanya pada pertemuan para kepala negara Liga Arab.
“Jujur, keamanan dan stabilitas negara Islam tetangga adalah kepentingan negara-negara Muslim dan Arab,” tambahnya.
KTT lain di Mekah diperkirakan akan dilaksanakan pada Jumat (31/5), sebagian besar berfokus pada kenegaraan dan kemerdekaan Palestina. KTT ini akan mempertemukan para pemimpin dari 57 negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI), yang berkantor pusat di Arab Saudi.
Dengan hadirin yang termasuk Raja Salman, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menggunakan pidatonya di Mekah untuk mengecam kesepakatan pemerintahan Trump yang bertujuan menangani konflik Israel-Palestina.
“Saya ingin mengkonfirmasi kembali penolakan mutlak kami terhadap upaya Amerika untuk menjatuhkan hukum internasional dan legitimasi internasional di bawah apa yang disebut ‘Kesepakatan Abad Ini’,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia berupaya untuk menggantikan “tanah untuk perdamaian” dengan ” tanah untuk kemakmuran ”.
Sekilas rencana itu akan sangat berfokus pada apa yang disebut perdamaian ekonomi, sambil mengesampingkan atau mengabaikan tujuan kemerdekaan Palestina yang telah lama ada. Solusi dua negara terus menikmati dukungan luas dari komunitas internasional.
Menantu dan penasihat Presiden Donald Trump Jared Kushner berupaya menggalang dukungan negara-negara Teluk Arab, untuk mendukung prakarsa ekonomi bagi Palestina sebagai bagian dari rencana bulan depan di Bahrain.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas menghadiri KTT Arab di Mekah, Arab Saudi, 31 Mei 2019. (Foto: Reuters/Hamad l Mohammed)
Terdapat pula perbedaan kebijakan yang menyimpang di antara negara-negara Teluk Arab yang pernah berkuasa dengan Iran. Oman, misalnya, memiliki hubungan dengan Arab Saudi dan Iran dan bertindak sebagai fasilitator pembicaraan.
Kebuntuan diplomatik antara Qatar dan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir telah mendorong negara kecil itu lebih dekat ke Iran.
Perdana Menteri Qatar Sheikh Abdullah bin Nasser Al Thani menghadiri KTT Mekah, yang menandai kunjungan tingkat tertinggi ke Arab Saudi oleh seorang pejabat Qatar sejak keretakan tahun 2017 meletus.
Al Thani berjabat tangan dengan tuan rumahnya, Raja Salman, tetapi tidak ada kontak mata dengan Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed dan tidak ada basa-basi yang terlihat dengan Raja Hamad bin Isa Al Khalifa dari Bahrain. Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dengan sangat cepat menjabat tangan PM Qatar, tetapi mereka tampaknya tidak bertukar kata-kata.
Washington telah berusaha (yang gagal) untuk menengahi akhir dari kebuntuan diplomatik antara sekutu-sekutu Teluk Arab-nya. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Morgan Ortagus mengatakan pada Kamis (30/5), bahwa AS menyambut upaya Saudi untuk membahas ancaman Iran di wilayah tersebut.
“Persatuan Teluk sangat penting dalam menghadapi Iran, untuk menghadapi pengaruh Iran, untuk melawan terorisme secara besar-besaran, dan tentu saja, untuk memastikan masa depan yang makmur bagi wilayah Teluk,” katanya.
Setelah kedatangan mereka di bandara di Arab Saudi, para pemimpin ditunjukkan barang-barang militer pemberontak Yaman, seperti pesawat tanpa awak yang hancur, rudal, dan peluru mortir yang digunakan dalam konflik dengan Saudi. Mereka diberi penjelasan singkat tentang senjata yang dipajang oleh Kolonel Turki al-Maliki, juru bicara koalisi pimpinan Saudi yang berperang di Yaman.
Sementara itu, Trump mengatakan minggu ini, bahwa AS tidak “ingin menyakiti Iran sama sekali.”
“Kami tidak mencari perubahan rezim—saya ingin menegaskannya,” kata Trump. “Kami hanya ingin menyingkirkan senjata nuklir.”
Penulis Associated Press Matthew Lee berkontribusi dari Washington.
Keterangan foto utama: Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz, Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi, dan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan, berdiri saat foto bersama para pemimpin Arab, menjelang KTT Arab di Mekah, Arab Saudi, 31 Mei 2019. (Foto: Reuters/Hamad l Mohammed Kuwaiti)