MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Sunday, June 23, 2019

Khashoggi dan Morsi: Korban dari Pesan Kejam Para Penguasa

Khashoggi dan Morsi

Pembunuhan Jamal Khashoggi dan kematian Mohamed Morsi adalah simbol di mana penguasa yang kejam dapat melakukan penindasan tanpa bertanggung jawab. Minggu ini, tampaknya kekejaman Presiden Mesir Abdel Fatah El Sisi dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menjadi bumerang. Kasus Khashoggi dan Morsi merupakan fenomena penindasan dengan impunitas oleh para pemimpin diktator ini tidak bisa dipungkiri berkaitan dengan Donald Trump yang terpilih sebagai Presiden AS.
Oleh: Wilson Dizard (TRT World)
“Jika Anda menginginkan gambaran masa depan, bayangkan sepatu boots menginjak wajah manusia—selamanya,” adalah sebuah kalimat dari novel dystopian George Orwell 1984 yang telah melekat dengan sendirinya dalam bahasa zaman kita. Tidak heran mengapa, pada tahun 2019, kata-kata itu menjadi sangat relevan.
Hal ini telah menyelinap di tengah maraknya rezim di mana “kekejaman adalah inti,” ketika seorang pengamat menggambarkan kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyiksa ribuan anak-anak imigran di kamp-kamp konsentrasi Amerika.
ADVERTISEMENT
Analogi Orwell, bagaimanapun, tidak mempertimbangkan apa yang terjadi ketika sol sepatu boots tersebut menipis karena sering dipakai untuk melumat otak, darah, dan tulang, dan pergelangan kaki yang menginjak itu terpuntir ke tanah. Mereka yang melakukan kekejaman—yang tidak pernah berpikir sejauh itu—akhirnya menjadi tak berdaya.
Minggu ini, tampaknya kekejaman menjadi tak berdaya bagi dua pemimpin dunia, Presiden Mesir Abdel Fatah El Sisi dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, juga dikenal sebagai MBS. Dengan menekan keras masyarakat sipil, kedua pemimpin ini menjalankan tugas pemerintahan kolonial Inggris—sebuah proyek yang akhirnya berakhir.
Keretakan dalam kedikatoran mereka mereka muncul dengan laporan PBB terkait Arab Saudi pada Rabu (19/6) tentang pembunuhan Jamal Khashoggi, dan kematian yang tak terduga mantan Presiden Mesir Mohammed Morsi yang digulingkan di pengadilan, setelah ia bertahun-tahun dipenjara.
Presiden Mesir: Militer Akan Bela Teluk Arab jika Ada Ancaman Langsung
Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi berbicara saat konferensi pers bersama Kanselir Jerman Angela Merkel (tidak ada dalam foto) di Kantor Kanselir di Berlin, Jerman, pada 30 Oktober 2018. (Foto: Reuters/Hannibal Hanschke)
Pembunuhan Khashoggi di Konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober 2018, adalah contoh utama kekejaman demi kekejaman.
Putra Mahkota Mohammed bin Salman—yang diidentifikasi oleh PBB berada di balik pembunuhan itu—tidak pernah berpikir bahwa ia membutuhkan alasan untuk menampilkan kekerasan keji yang mencolok. Kekejaman adalah intinya.
Membunuh Khashoggi akan menjadi peringatan yang sangat umum bagi setiap pembangkang yang mungkin ingin mengikuti jejaknya. Pembunuhan yang mengundang tontonan adalah tujuan MBS.
Yang terpenting, laporan itu mengumpulkan bukti bahwa pembunuhan itu bukan kematian yang tidak disengaja dalam proses memulangkan Khashoggi ke Arab Saudi, atau hasil dari perkelahian antara jurnalis berusia 59 tahun itu dengan tim penjaga keamanan Saudi yang kasar.
Laporan PBB mengatakan bahwa pembunuhan itu direncanakan dan dilakukan dengan perencanaan sebelumnya tentang cara membuang jasad Khashoggi.
Meskipun Arab Saudi mengaku menyebabkan kematian itu, namun tubuh Khashoggi masih hilang.
Sementara itu, tubuh Morsi telah dikuburkan di Mesir. Karena kondisi pemenjaraannya yang kejam, Presiden Mesir pertama yang dipilih secara demokratis itu tidak memiliki banyak kesempatan untuk bertahan lama di dalam tembok penjara dan pengurungan di sel isolasi yang terus-menerus.
Bantuan untuk Morsi—yang pingsan di pengadilan—juga tidak tiba hingga 20 menit, menurut laporan. Meskipun mengidap tekanan darah tinggi dan diabetes, namun kematian Morsi memungkinkan para kritikus Sisi untuk menunjuk pada sistem penjara Mesir yang terkenal penuh sesak dan kejam, di mana kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa ratusan tahanan politik menderita, dan beberapa akan dieksekusi.
Memang bagi Sisi, membuat Morsi berada di bawah kondisi yang kejam menjadi kesempatan untuk memperingatkan orang lain tentang kekuatan abadi Nasserisme.
Namun, cepat atau lambat, kekejaman Sisi terhadap Morsi menjadi bumerang, sehingga bahkan orang-orang paling liberal di ibu kota negara-negara Barat langsung menyadarinya.
Memang, tokoh-tokoh politik di seluruh dunia mengenang kematian Morsi dengan kesedihan. Bahkan Ratu Noor dari Yordania—yang mendiang suaminya Raja Hussein bukanlah rekan Ikhwanul Muslimin Morsi—mencuit “Semoga tenang Presiden #Mesir pertama dan satu-satunya yang dipilih secara Demokratis #Morsi.”
Uang, tentu saja, bisa berfungsi. Dan itu berarti para pembantu MBS atau Sisi tidak akan terkena dampak dalam waktu dekat, karena kematian seorang penulis tidak akan menghentikan orang untuk membeli produk petrokimia Saudi, karena dunia membutuhkannya untuk menyuburkan tanah untuk menanam makanan.
Rezim militer Sisi tidak akan mengalami pengurangan bantuan militer dari AS, karena suap bernilai miliaran dolar ke Kairo telah menjadi kewajiban bagi kebijakan luar negeri AS selama 40 tahun.
Mohammed bin Salman
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman berbicara selama Forum Inisiatif Investasi Masa Depan di Riyadh, Arab Saudi, tanggal 24 Oktober 2018. (Foto: Reuters)
Memang, Presiden AS Donald Trump (walaupun kurang memiliki pengetahuan tentang sejarah negara mana pun) memutuskan bahwa Sisi dan MBS adalah orang-orang seperti dia.
Dengan kata lain, Trump menyukai peluang yang ditawarkan oleh ‘kekejaman sepatu boots.’ Uangnya ada di sepatu bot itu. Dukungan Presiden AS itu—dan ketidakmampuannya untuk terlibat dalam pemikiran lain selain berbohong—telah membuat hidup sangat mudah bagi MBS dan Sisi, tetapi ini bukan hubungan yang berkelanjutan untuk kedua tokoh itu.
Kedua pemimpin itu tidak berpikir jauh ke depan tentang apa yang akan dilakukan Presiden AS yang terpilih selanjutnya. Bahkan sekarang, Senat AS telah merencanakan rancangan undang-undang yang akan menghentikan bantuan militer ke Arab Saudi atas pelanggaran aturan perang terus-menerus oleh Arab Saudi (Trump diperkirakan akan memvetonya).
Tentu saja, mantan Presiden AS Barack Obama—yang memberi lampu hijau kepada Riyadh untuk mengejar perang di Yaman dengan senjata buatan AS—mungkin tidak membayangkan bahwa seorang pembawa acara yang rasis akan menjadi presiden berikutnya.
Sedikit jajak pendapat internal yang dibocorkan oleh kampanye Trump baru-baru ini, menunjukkan bahwa dia membuntuti penantang Demokratnya di negara-negara bagian yang penting.
Jajak pendapat itu seharusnya membuat Sisi dan MBS berpikir tentang berapa lama mereka bisa lolos dari apa yang mereka lakukan sekarang, di bawah pengawasan seorang Presiden Amerika yang bangga walau tidak mencapai apa pun.
Dengan kata lain, Sisi dan MBS harus berpikir tentang berapa lama sepatu boots bisa digunakan untuk menginjak-injak.
Ya, Arab Saudi dan Mesir memiliki masalah yang jauh lebih besar daripada jurnalis pembangkang atau Ikhwanul Muslimin. Kedua negara itu akan kehilangan kekuatan besar karena perubahan iklim—masalah yang tidak bisa mereka beli atau bunuh.
Tetapi bagaimana dunia sampai pada titik ini? Sangat mudah untuk menyalahkan Trump, tetapi seluruh badan-badan kebijakan luar negeri Amerika juga layak ditegur karena mendukung kekejaman yang begitu ceroboh—dan menghargainya.
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.
Ketrangan foto utama: Gambar Presiden pertama Mesir yang dipilih secara bebas, Mohamed Morsi, diangkat ketika para pendukung bersorak saat reli di Tahrir Square di Kairo 13 Juli 2012. (Foto: Reuters)

No comments:

Post a Comment