MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Sunday, November 4, 2018

Putra Mahkota Saudi Sebut Khashoggi Seorang ‘Islamis Berbahaya’

Putra Mahkota Saudi

Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menyebut Jamal Khashogi sebagai seorang ‘Islamis berbahaya’ dalam sebuah panggilan telepon dengan Jared Kushner dan John Bolton. Beberapa pejabat Arab Saudi sebelumnya telah dituduh melakukan pembunuhan terhadap jurnalis yang kerap mengkritik kerajaan Saudi, Jamal Khashoggi, dan putra mahkota itu disebut-sebut terlibat dalam pembunuhan itu.
Oleh: John Hudson, Souad Mekhennet, dan Carol D. Leonnig (The Washington Post)
Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menggambarkan wartawan yang terbunuh Jamal Khashoggi sebagai seorang Islamis yang berbahaya, beberapa hari setelah kepergiannya, dalam sebuah panggilan telepon dengan menantu Presiden Trump Jared Kushner dan penasihat keamanan nasional John Bolton, menurut orang-orang yang akrab dengan diskusi itu.
Dalam panggilan telepon tersebut—yang terjadi sebelum kerajaan Saudi secara terbuka mengakui kematian Khashoggi—putra mahkota mendesak Kushner dan Bolton untuk mempertahankan aliansi Amerika Serikat (AS)-Saudi, dan mengatakan bahwa jurnalis itu adalah anggota Ikhwanul Muslimin—sebuah kelompok yang ditentang lama oleh Bolton dan para pejabat senior Trump lainnya.
Upaya untuk mengkritik Khashoggi secara pribadi tersebut, bertentangan dengan pernyataan publik pemerintah Saudi yang mengecam kematiannya sebagai “kesalahan besar” dan “tragedi yang mengerikan.”
“Insiden yang terjadi sangat menyakitkan, bagi semua orang Saudi,” Mohammed, pemimpin de facto kerajaan Saudi, mengatakan selama diskusi panel minggu lalu. “Insiden itu tidak dapat dibenarkan.”
Duta Besar Saudi untuk Amerika Serikat, Khalid bin Salman, menggambarkan Khashoggi bulan lalu sebagai “teman” yang mendedikasikan “sebagian besar hidupnya untuk melayani negaranya.”
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis ke The Washington Post, keluarga Khashoggi menyebut karakterisasi kolumnis itu sebagai seorang Islamis berbahaya sangat tidak akurat.
“Jamal Khashoggi bukan anggota Ikhwanul Muslimin. Dia membantah klaim tersebut berulang kali selama beberapa tahun terakhir,” kata keluarganya. “Jamal Khashoggi bukanlah orang yang berbahaya dengan cara apa pun. Mengklaim sebaliknya sangatlah konyol. ”
Seseorang yang akrab dengan diskusi tersebut mengatakan bahwa Bolton tidak memberi isyarat bahwa dia mendukung karakterisasi oleh putra mahkota terhadap Khashoggi selama panggilan tersebut.
Seorang pejabat Saudi membantah pada Rabu (31/10) bahwa putra mahkota membuat tuduhan itu, dan mengatakan bahwa “panggilan rutin memang ada dari waktu ke waktu” antara pemimpin muda itu dengan pejabat tinggi AS, tetapi “tidak ada komentar seperti itu yang disampaikan.”
Arab Saudi telah menghadapi kecaman internasional karena laporannya tentang menghilangnya Khashoggi pada tanggal 2 Oktober di Konsulat Saudi di Istanbul.
Kerajaan Saudi pada mulanya mengatakan bahwa Khashoggi keluar dari konsulat tanpa cedera, tetapi kemudian mengatakan bahwa agen-agen Saudi secara tidak sengaja telah membunuhnya dalam perkelahian, dan baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka memiliki bukti bahwa pembunuhannya “direncanakan.”
Dunia Masih Menanti Jawaban atas Kasus Pembunuhan Jamal Khashoggi
Orang-orang mengambil bagian dalam menyalakan lilin untuk mengingat kematian jurnalisArab Saudi Jamal Khashoggi di luar Konsulat Saudi di Istanbul pada tanggal 25 Oktober 2018. (Foto: Getty Images/Chris Mcgrath)
Para analis mengatakan bahwa upaya putra mahkota untuk mendiskreditkan Khashoggi secara pribadi, menunjukkan upaya dua wajah pada pengendalian kerusakan.
“Ini adalah pembunuhan karakter yang ditambahkan ke dalam pembunuhan terencana,” kata Bruce Riedel, mantan pejabat CIA yang adalah seorang akademisi di Brookings Institution.
Gedung Putih menolak untuk membahas percakapan sensitif dengan Saudi, atau mengatakan berapa banyak panggilan telepon yang dilakukan putra mahkota dan Kushner sejak hilangnya Khashoggi. Mohammed telah berbicara dengan Kushner beberapa kali, menurut orang-orang yang akrab dengan masalah ini, tetapi panggilan terakhir dengan Bolton dan Kushner terjadi pada tanggal 9 Oktober.
Para pejabat berbicara dengan kondisi anonimitas untuk membahas topik yang sensitif tersebut.
Para pemimpin Timur Tengah lainnya telah mendukung pembelaan putra mahkota itu. Dalam beberapa hari terakhir, Presiden Mesir Abdel Fatah al-Sissi dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengulurkan tangan kepada pemerintahan Trump, untuk menyatakan dukungan kepada putra mahkota, dengan alasan bahwa ia adalah mitra strategis yang penting di kawasan itu, menurut orang-orang yang akrab dengan panggilan-panggilan tersebut.
Israel, Mesir, dan Uni Emirat Arab bersatu di belakang upaya pemerintahan Trump untuk memberikan tekanan pada Iran dan memaksa kesepakatan perdamaian Timur Tengah antara Israel dan Palestina.
Sekutu AS lainnya—terutama Jerman, Inggris, dan Prancis—telah menyuarakan keprihatinan serius tentang apa yang terjadi pada Khashoggi, yang menulis artikel opini kritis terhadap kepemimpinan Saudi di The Washington Post.
Pemerintahan Trump mencabut visa atau melarang perjalanan untuk 21 warga Saudi, yang menurut Turki dan Arab Saudi terlibat dalam kematian Khashoggi.
Seiring para pejabat AS mempertimbangkan tanggapan yang lebih kuat, Kushner telah menekankan pentingnya aliansi AS-Saudi di kawasan itu, menurut orang-orang yang akrab dengan percakapan tersebut.
Para pejabat lain di Departemen Luar Negeri dan Pentagon, bagaimanapun, mengatakan bahwa opsi yang dipertimbangkan bisa mencakup peraturan yang tegas terhadap pemerintah Saudi atau permintaan untuk mengakhiri blokade yang dipimpin Saudi atau perang di Yaman.
Para pejabat memperingatkan bahwa belum ada keputusan yang dibuat, dan Trump tidak menyatakan keinginan untuk secara signifikan mengubah hubungan AS-Saudi, tetapi ada minat dalam pemeriksaan penuh atas potensi pilihan.
Upaya Kushner untuk secara hati-hati memupuk hubungan dengan ahli waris takhta Saudi tersebut, membuatnya menjadi suara kritis dalam memutuskan tanggapan pemerintah Trump. Setelah beberapa pembicaraan pribadi di awal pemerintahan, Kushner memperjuangkan Mohammed sebagai seorang reformis yang siap untuk mengantar monarki ultrakonservatif dan kaya minyak tersebut ke dalam modernitas.
Kushner secara pribadi berdebat selama berbulan-bulan pada tahun lalu, bahwa Mohammed akan menjadi kunci dalam menyusun rencana perdamaian Timur Tengah, dan bahwa dengan dukungan dari pangeran itu, sebagian besar dunia Arab akan mengikuti.
Dan Kushner-lah yang mendorong ayah mertuanya untuk melakukan perjalanan luar negeri pertamanya sebagai presiden ke Riyadh, menentang keberatan dari Menteri Luar Negeri Rex Tillerson dan peringatan dari Menteri Pertahanan Jim Mattis. Pada masa awal pemerintahan, Kushner sering lebih suka berbicara dengan putra mahkota secara pribadi, tetapi sekarang mengoordinasikan percakapannya dengan Dewan Keamanan Nasional.
Demonstran berpakaian seperti Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman dan Presiden AS Donald Trump (tengah) berpura-pura berciuman di luar Gedung Putih di Washington, DC, pada 19 Oktober 2018, menuntut keadilan atas hilangnya jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi. (Foto: AFP)
Demonstran berpakaian seperti Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman dan Presiden AS Donald Trump (tengah) berpura-pura berciuman di luar Gedung Putih di Washington, DC, pada 19 Oktober 2018, menuntut keadilan atas hilangnya jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi. (Foto: AFP)
Kushner mengunjungi putra mahkota di istananya dalam perjalanan rahasia pada bulan Oktober 2017—sebuah rencana yang tertutup, sehingga membuat beberapa pejabat Gedung Putih dan intelijen terkejut.
Dua pria berusia 30-an tersebut malam itu terjaga hingga larut malam, sendirian membahas prospek rencana perdamaian Timur Tengah Kushner. Beberapa hari kemudian, pangeran itu memerintahkan penahanan rumah terhadap puluhan bangsawan saingan dan pemenjaraan terhdap musuh-musuh lain, dalam upaya untuk memperkuat kontrolnya terhadap pemerintah. Gedung Putih dan Saudi membantah bahwa Kushner menyetujui perebutan kekuasaan.
Para pejabat Saudi tidak merahasiakan antipati mereka terhadap Khashoggi, termasuk mengekspresikan kekhawatiran tahun lalu ketika dia mulai menulis kolom secara rutin untuk The Post. Pada hari-hari setelah kepergiannya sebelum Saudi mengakui kematiannya di Istanbul, seseorang yang dekat dengan istana kerajaan mengatakan bahwa Mohammed bingung dengan perhatian yang sangat tinggi terhadap Khashoggi—yang ia anggap sebagai bagian dari Ikhwanul Muslimin dan juga sebagai agen dari Qatar.
Keluarga Khashoggi mengatakan bahwa pandangan Khashoggi jauh lebih bernuansa daripada yang dijelaskan oleh para pejabat Saudi. “Meskipun Khashoggi bersimpati dengan beberapa tujuan tertentu Ikhwanul Muslimin, namun ia juga sangat tidak setuju dengan banyak posisi mereka, terutama terhadap Arab Saudi,” kata keluarga itu dalam pernyataannya.
Arab Saudi memutuskan hubungan dengan Qatar tahun lalu, yang menuduh antara lain bahwa Qatar melindungi para “teroris” Ikhwanul Muslimin. Meskipun Saudi mempertahankan hubungan baik dengan Ikhwanul selama beberapa dekade setelah pendiriannya di Mesir sebagai gerakan politik dan sosial Islam, namun Riyadh menyatakan itu sebagai sebuah organisasi teroris, setelah pergolakan Kebangkitan Arab.
Banyak anggota parlemen Republik dan analis Timur Tengah di sayap kanan setuju dengan penilaian Saudi—pada tahun 2015, Perwakilan Mike Pompeo dari Kansas (yang sekarang menjadi Menteri Luar Negeri Trump) mensponsori resolusi yang menyerukan Departemen Luar Negeri untuk menetapkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris. Selama kampanye Trump, beberapa pendukung terkemuka, termasuk Bolton, menyerukan penetapan semacam itu.
Sissi dari Mesir—yang pemerintah militernya menggulingkan pemerintahan Ikhwanul Muslimin yang terpilih pada tahun 2013—dan politik sayap kanan Israel, memiliki pandangan yang sama tentang Ikhwanul Muslimin.
Trump mempertimbangkan tindakan semacam itu di awal pemerintahannya, tetapi dibujuk oleh Pompeo—yang telah menjadi Direktur CIA—dan yang lainnya dalam pemerintahan. Mereka menekankan bahwa walau penetapan tersebut akan menyenangkan beberapa mitra Arab, namun yang lain di kawasan itu akan menolaknya. Ikhwanul memiliki kekuatan politik dan legitimasi arus utama di Yordania, Turki, dan Maroko, di antara negara-negara lain.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan—saingan putra mahkota Saudi—telah menuntut Arab Saudi untuk dimintai pertanggungjawaban atas pembunuhan itu. Erdogan menghubungi Trump pada Kamis (1/11) untuk membicarakan tentang beberapa masalah termasuk penyelidikan Khashoggi, menurut orang-orang yang akrab dengan percakapan itu, tetapi tidak ada pemerintah yang mengakui dalam pembacaan resmi dari panggilan tersebut, bahwa penyelidikan Khashoggi dibicarakan.
Karen DeYoung dan Tom Hamburger berkontribusi untuk laporan ini.

No comments:

Post a Comment