MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Sunday, November 4, 2018

Turki atau Iran: Siapa yang Kini Didukung Amerika di Suriah?

Turki atau Iran: Siapa yang Kini Didukung Amerika di Suriah?

Konflik Suriah semakin rumit dengan semakin banyaknya aktor yang terlibat. Saat ini pun timbul pertanyaan: antara Turki atau Iran, siapa yang kini didukung Amerika di negeri itu? Hal ini seiring para pemberontak negeri itu yang sebelumnya didukung Amerika Serikat kini terpecah, antara mendukung Turki atau Iran. AS dan sekutu regionalnya—termasuk Israel, Qatar, Arab Saudi, dan Turki—mulai membantu mensponsori pemberontakan tahun 2011 melawan Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang mereka tuduh melakukan kejahatan perang.
Oleh: Tom O’Connor (Newsweek)
Mantan pemberontak Suriah yang pernah mendapat dukungan dari Amerika Serikat (AS), telah terpecah belah dan membentuk kubu-kubu baru, di mana beberapa di antaranya menerima gaji dari sekutu Lebanon Iran, Hizbullah, dan yang lainnya mendukung Turki ketika mereka menyerang mitra lokal baru Pentagon tersebut.
Ketika angkatan bersenjata Suriah—yang didukung oleh Rusia dan milisi Syiah yang disponsori Iran—menyapu bersih bekas kubu pemberontak yang dimotori oleh kelompok Islam awal tahun ini, pemerintah memberi warga sebuah pilihan: rekonsiliasi atau relokasi.
Di Provinsi selatan Daraa—yang direbut kembali dalam serangan musim panas—tak hanya mantan pemberontak yang memilih untuk menetap yang bergabung dengan militer, tetapi juga Hizbullah dan mitra Iran lainnya, yang dilarang berada di posisi yang terlalu dekat dengan perbatasan selatan dengan Israel dan Yordania, menurut sebuah artikel di The Wall Street Journal.
Artikel tersebut mengutip mantan komandan pemberontak Suriah yang tidak disebutkan namanya, yang mengatakan bahwa “Rusia mengusir Iran keluar (dari Suriah) adalah khayalan,” mengacu pada kesepakatan yang ditengahi Moskow, yang mendorong pasukan dukungan Iran untuk mundur sekitar 50 mil dari Dataran Tinggi Golan yang diduduki, untuk menghindari ketegangan dengan Israel.
Artikel tersebut juga mengutip Utusan AS untuk Suriah Joel Rayburn, yang menyebut langkah itu “prospek yang sangat tidak stabil,” yang “akan meningkatkan peluang terjadinya konflik.”
Rayburn membuat pernyataan selama konferensi hari Jumat (2/11) di Bahrain. Yang juga hadir adalah Menteri Pertahanan James Mattis yang, pada Senin (20/10), mengatakan kepada Insitute for Peace di Washington bahwa inti dari proses Jenewa yang dipimpin AS untuk Suriah adalah untuk memberitahu Iran:
“Anda tidak punya urusan di Suriah. Anda tidak membantu di sana. Milisi Anda yang mendestabilisasi di Lebanon melawan pemerintah, Hizbullah Lebanon, dan pejuang mereka di dalam Suriah, dan orang-orang seperti itu, harus keluar dari Suriah jika kita ingin mewujudkan perdamaian.”
Namun, tidak seperti AS, pemerintah Suriah menyambut baik intervensi Iran dan Rusia di negara itu, dan menuduh Washington memperpanjang konflik melalui dukungannya untuk aktor non-negara yang berjuang untuk perubahan rezim.
AS dan sekutu regionalnya—termasuk Israel, Qatar, Arab Saudi, dan Turki—membantu mensponsori pemberontakan tahun 2011 melawan Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang mereka tuduh melakukan kejahatan perang. Namun, dukungan berkurang, seiring organisasi-organisasi jihad seperti Al-Qaeda dan kelompok militan Negara Islam (ISIS) mulai mendominasi. AS, untuk bagiannya, membentuk koalisi untuk mengebom pasukan ISIS, yang telah menguasai hingga setengah dari Irak dan Suriah pada tahun 2014.
Rusia melakukan intervensi pada tahun berikutnya, dengan menargetkan berbagai kelompok gerilyawan dan militan di Suriah, seiring Pentagon mendirikan pasukan Demokrat Suriah yang sebagian besar dari kelompok Kurdi sebagai mitra utamanya di lapangan.
Dengan ISIS sebagai musuh bersama, militer Suriah dan Pasukan Demokrat Suriah mengejar serangan nasional yang terpisah, dan—karena jihadis kalah—AS dan Israel menjadi semakin khawatir tentang pengaruh Iran yang semakin meningkat di Suriah.
Pasukan Demokratik Suriah (SDF) menghadiri pemakaman salah satu komandan mereka, yang tewas sehari sebelumnya di kota Hajin selama pertempuran melawan ISIS, di kota yang dikuasai Kurdi Al-Qamishli di timur laut Suriah, pada 29 Oktober 2018. Pasukan yang didukung AS menangguhkan kampanye mereka melawan ISIS untuk menghadapi serangan baru dari Turki, yang mensponsori beberapa bekas kelompok yang didukung CIA di Suriah utara. (Foto: AFP/Getty Images/Delil Souleiman)
Dalam satu setengah tahun terakhir saja, Israel telah menyerang posisi Iran dan pro-Iran di Suriah lebih dari 200 kali, termasuk operasi udara besar-besaran pada bulan Mei yang datang sebagai tanggapan terhadap serangan roket di Dataran Tinggi Golan, yang diklaim Israel dilakukan oleh pasukan elit Garda Revolusi Iran.
Seiring pemerintah Suriah bersiap untuk merebut kembali provinsi barat daya Daraa dan Quneitra, Israel memperingatkan bahwa mereka tidak akan mentoleransi kehadiran kelompok-kelompok yang terkait dengan Iran yang berada di dekat dengan perbatasan.
Perjanjian dengan Rusia disetujui untuk mengusir pejuang-pejuang ini, yang memungkinkan angkatan bersenjata Suriah untuk merebut kembali wilayah itu dengan intervensi Israel yang terbatas, meskipun pesawat perang Suriah ditembak jatuh setelah Israel mengklaim bahwa itu masuk terlalu jauh ke wilayah Dataran Tinggi Golan yang dicaplok Israel pada tahun 1967, dan dianeksasi beberapa tahun kemudian tanpa pengakuan internasional.
Sekitar waktu yang sama, AS mengatakan kepada pemberontak bahwa mereka tidak akan menawarkan bantuan ketika militer Suriah mendekat, dan Israel tidak lagi mendukung oposisi.
Pada bulan Agustus, oposisi telah menyerah dan militer Suriah berfokus pada merebut kantong ISIS di Cekungan Yarmouk yang berbatasan dengan Suriah, Yordania, dan Dataran Tinggi Golan yang dikendalikan Israel.
Baik media pro-pemerintah Al Masdar maupun situs pro-oposisi Enab Baladi, serta media asing seperti The Times dan The Jerusalem Post, melaporkan bahwa ratusan mantan pemberontak telah direkrut menjadi angkatan bersenjata Suriah, di mana Enab Baladi mengklaim bahwa banyak juga telah bergabung dengan sekutu-sekutu yang didukung Hizbullah dan Iran, yang diduga menawarkan dua kali lipat gaji di Divisi Kejahatan Militer Ke-4 Suriah dan Korps Pasukan Perang Ke-5.
“Ketika pengaturan penyerahan selesai, mantan gerilyawan pemberontak antara usia 18 dan 42 tahun yang belum memenuhi kewajiban dinas militer mereka sebagaimana ditentukan oleh hukum, diminta untuk bergabung dengan tentara. Mereka biasanya diberi istirahat resmi sementara selama enam bulan, untuk menyelesaikan urusan mereka (sebuah proses yang umumnya dikenal sebagai taswiyat al-wad) dan mendaftar dengan cabang perekrutan militer lokal (Sha’bet Tajneed) di daerah mereka masing-masing untuk mendaftar,” menurut tulisan Haid Haid, seorang peneliti untuk Chatham House yang berbasis di Inggris, pada bulan Juli.
“Selain itu, para pejuang oposisi resmi dibujuk untuk bergabung dengan pasukan pendukung pro-rezim seperti Pasukan Pertahanan Nasional (NDF) yang didukung Iran atau Brigade ke-5 yang dipimpin Rusia. Ini biasanya difasilitasi oleh tokoh-tokoh lokal yang bertindak sebagai perantara, seperti mantan komandan oposisi, tokoh lokal, pengusaha terkemuka, atau bahkan pejabat rezim,” tambahnya.
Di beberapa bagian Suriah yang masih berada di luar kendali pemerintah, sisa-sisa oposisi yang terkepung telah menerima dukungan Turki, menghadirkan masalah lain bagi kebijakan Washington.
Para pemberontak yang didukung CIA ini terus-menerus menargetkan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung Pentagon dan bahkan pasukan AS membantu mereka. Sebagai tanggapan terhadap serangan baru dari sesama sekutu AS, Turki, Pasukan Demokratik Suriah untuk sementara menghentikan operasi melawan ISIS di Suriah timur.
Para pemberontak Suriah dari Front Pembebasan Nasional (NLF) berada di garis depan yang menghadap daerah-daerah yang dikuasai pemerintah di desa selatan Aleppo, pada 14 Oktober 2018. Kelompok yang didukung Turki dibentuk dari Tentara Pembebasan Suriah (FSA), kelompok pendukung yang didukung CIA, yang sekarang menargetkan militer Suriah dan Pasukan Demokratik Suriah yang didukung Pentagon. (Foto: AFP/Getty Images/Omar Haj Kadour)
Juru bicara koalisi pimpinan AS, Kolonel Sean Ryan, mengatakan pada Kamis (1/11) di Twitter, bahwa koalisi itu sedang “dalam komunikasi dengan Turki dan SDF untuk mengurangi situasi” dan mengumumkan dimulainya patroli bersama AS-Turki di kota Manbij di utara.
Pada Rabu (31/10), wakil juru bicara Departemen Luar Negeri Robert Palladino, mengatakan kepada para wartawan bahwa “serangan militer sepihak ke Suriah barat laut oleh pihak manapun—terutama karena personel Amerika mungkin ada di sana atau di sekitarnya—merupakan kekhawatiran besar bagi kami.”
“Koordinasi dan konsultasi antara Amerika Serikat dan Turki mengenai masalah keamanan merupakan pendekatan yang lebih baik,” kata Palladino. “Kami telah berhubungan dengan Turki dan pasukan pertahanan Suriah untuk menekankan perlunya mengurangi situasi. Turki adalah sekutu NATO dan mitra kunci dalam Koalisi Global untuk mengalahkan ISIS, dan kami sepenuhnya berkomitmen untuk keamanan perbatasan sekutu kami.”
Walau Mattis mengatakan pada Senin (29/10) bahwa “wewenang Pentagon untuk berada di Suriah saat ini adalah jelas untuk Kampanye Mengalahkan ISIS,” namun para pejabat Washington semakin ditunjuk untuk melawan Iran sebagai kepentingan tambahan kehadiran militer AS di sana.
Teheran telah mengatakan akan melanjutkan misi militernya di Suriah selama kehadirannya disambut oleh Damaskus, yang telah meminta AS dan Turki untuk segera mundur.
Sementara itu, Rusia, Iran, dan Turki terus bekerja sama sebagai bagian dari proses perdamaian trilateral yang ditolak sepenuhnya oleh AS. Moskow dan Ankara mencapai kesepakatan bulan lalu yang menjanjikan gencatan senjata di provinsi Idlib yang berhulu Islami di Suriah utara, sebagai ganti dari penarikan senjata berat dan mundurnya kelompok jihad seperti Hayat Tahrir al-Sham.
Kesepakatan ini berada di bawah tekanan besar, seiring Turki berjuang untuk mengusir kelompok militan terlarang dari daerah itu. Jika militer Suriah melakukan serangan habis-habisan, AS mengancam akan campur tangan.
Keterangan foto utama: Pejuang pemerintah pro-Suriah berdiri di atas kendaraan militer dengan bendera Suriah dan Hizbullah, di daerah Qara di wilayah Qalamoun Suriah, 28 Agustus 2017. Hizbullah telah memainkan peran sentral dalam mengalahkan jihadis di Suriah dan Lebanon, tetapi dipandang sebagai perwakilan untuk mempertahankan pengaruh Iran oleh AS dan Israel. (Foto: AFP/Getty Images/Louai Beshara)

No comments:

Post a Comment