
Sami-ul-Haq, seorang ulama Muslim ultra-ortodoks yang menciptakan Dewan Pertahanan Pakistan yang radikal, tewas di tengah protes keagamaan nasional. Pembunuhannya terjadi saat demonstrasi memprotes dibebaskannya seorang wanita yang dituduh melakukan penistaan agama dari hukuman mati. Insiden itu dipastikan akan meningkatkan keganasan kelompok Islam garis keras di Pakistan.
Oleh: Kunwar Khuldune Shahid (Asia Times)
Ulama Islam dan politisi terkenal, Sami-ul-Haq, yang dikenal karena peran dan pengaruhnya atas Taliban, terbunuh di rumahnya di Rawalpindi, Pakistan, pada hari Jumat, tanggal 2 November 2018.
Motif dan latar belakang afiliasi pembunuh Haq masih belum diketahui. Tapi insiden itu pasti akan mengobarkan ketegangan yang sudah tinggi di Pakistan, di mana kaum radikal Islam berdemonstrasi dengan ganas terhadap keputusan pengadilan baru-baru ini untuk membatalkan hukuman mati terhadap seorang wanita Kristen.
Haq, kepala sekolah agama Islam terkemuka di Pakistan, dikenal sebagai “bapak” dari gerakan Taliban, sejak perang gerilya melawan Soviet di Afghanistan. Dia juga mendirikan Dewan Difa-e-Pakistan, sebuah kelompok payung kelompok militan, pada bulan November 2011.
Namun, terlepas dari reputasi fanatiknya, pandangannya agak moderat dalam beberapa tahun terakhir dan ia lebih menyukai proses politik daripada kekerasan ekstremisme.
Mantan senator Pakistan, kepala partai politik Jamiat Ulema-e-Islam Sami (JUI-S), dan yang paling baru-baru ini, sekutu Perdana Menteri Pakistan yang baru terpilih Imran Khan, meninggal dunia akibat luka yang ditimbulkan dalam tikaman pisau, menurut konfirmasi anggota keluarganya.
Pembunuhan Haq terjadi di tengah ketegangan antara pemerintah dan pengunjuk rasa radikal Islam, yang dipimpin oleh Tehrik-e-Labbaik Pakistan (TLP), atas putusan Mahkamah Agung yang membebaskan Asia Bibi, seorang anggota kelompok minoritas Kristen Pakistan, dari hukuman mati atas tuduhan penodaan agama.
Bibi telah terlibat dalam pertengkaran dengan wanita Muslim yang mengecamnya karena menyentuh bejana air mereka. Bibi kemudian diduga, oleh seorang ulama lokal, bahwa dia telah melakukan penistaan terhadap agama Islam.
DI TENGAH DEMONSTRASI, HAQ DITIKAM DI RUMAH
Putra ketua JUI-S Hamid-ul-Haq menegaskan bahwa ayahnya telah ditemukan dalam keadaan terluka oleh supirnya sekitar pukul 18.30 waktu setempat. Dia dilarikan ke rumah sakit di mana akhirnya dia meninggal.
“Dia ingin pergi ke demonstrasi menentang putusan Asia Bibi, tetapi harus kembali [pulang] karena jalan-jalan diblokir,” kata Hamid-ul-Haq. “Kedua rumah itu membantunya pergi selama sekitar 15 menit, ketika seseorang datang dari luar dan melakukan tindakan ‘martir’ membunuhnya dalam serangan pisau.”
Haq mengajukan laporan informasi pertama (FIR/first information report) terhadap orang tak dikenal pada hari Sabtu (3/11). Laporan itu mengatakan bahwa pendiri JUI-S ditikam 12 kali di perut, dada, dahi, dan telinga.
“Ini adalah kegagalan total pemerintah bahwa negara telah mencapai tahap di mana tidak ada yang aman di jalan atau di rumah mereka sendiri,” Haq menambahkan.
‘BAPAK TALIBAN’
Sami-ul-Haq dikenal sebagai “Bapak Taliban” atas perannya dalam “perang suci” yang dilancarkan oleh Taliban, dengan dukungan Barat dan Pakistan, melawan pasukan Soviet di Afghanistan pada tahun 1980-an.
Namanya sering didahului oleh “Maulana,” gelar kehormatan untuk seorang pengajar agama, karena ia adalah seorang ulama Deobandi. Sekolah Islam Deobandi, yang berbasis di India, dikenal sangat ortodoks. Sekolah itu didirikan sebagai tindak lanjut atas sekolah sebelumnya yang besar di India, Pakistan, dan Afghanistan.
Banyak militan lulus dari sekolah agama atau madrasah Haq di Pakistan yang bernama Dar-ul-Uloom Haqqania. Sekolah ini terus mencetak para pemimpin berbagai faksi Taliban termasuk Taliban Afghanistan, dan Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP).
Haq juga memimpin Dewan Difa-e-Pakistan (Dewan Pertahanan Pakistan), sebuah kelompok payung kelompok-kelompok Islam radikal sebagai tanggapan terhadap pasukan AS yang membunuh tentara di pos pemeriksaan Pakistan. Dewan itu mencakup orang-orang yang disebut teroris menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), seperti Hafiz Saeed dan kepala kelompok militan anti-Syiah Ahmed Ludhianvi.
Dalam sebuah wawancara dengan Yayasan Jamestown pada bulan Mei 2007, Haq mencoba untuk membenarkan peran Taliban di Afghanistan dan pendiriannya sendiri.
“Taliban sibuk dalam studi mereka ketika perang faksional di Afghanistan mencapai klimaks,” katanya. “Tentu saja, ketika para pemimpin tidak bisa melakukannya, para siswa harus datang untuk menyelamatkan negara yang dilanda perang. Dengan demikian, Taliban bergegas kembali untuk menyelamatkan negara mereka dari pertempuran antar faksi.”
Dia dengan gigih melawan keterlibatan AS di kawasan itu dan dengan keras menentang kehadiran pasukan Amerika.
“Demikian pula, ketika Amerika menyerang Afghanistan pada akhir tahun 2001, peristiwa yang sama terjadi. Dapat dimengerti bahwa ketika orang-orang kafir menyerang sebuah negara Muslim, maka menjadi kewajiban setiap Muslim untuk mempertahankannya,” katanya. “Serangan AS terhadap Afghanistan merupakan tindakan agresi dan terorisme yang jelas. Tetapi ketika seseorang bangkit melawan agresi AS, dia disebut seorang teroris. Hal ini adalah filosofi yang aneh dan tidak logis. ”
Terlepas dari reputasi dan penampilannya yang luar biasa–Haq tampil dengan jenggot merah dan menyukai penutup kepala tradisional–dia hampir tidak sama ekstremnya dengan beberapa militan lainnya. Di Pakistan, dia mendukung proses politik, bukan kekerasan, dan menjabat beberapa kali sebagai senator.
Sementara mempertahankan pandangan fundamentalis yang kuat, Haq mengeluarkan fatwa atau dekrit agama pada tahun 2013 yang mendukung vaksinasi polio ketika ulama Islam lainnya menentangnya. Dia menyebut keberatan terhadap vaksinasi sebagai hal yang “palsu dan tidak berdasar.”
Karena pengaruhnya atas Taliban Afghanistan, delegasi dari pemerintah Afghanistan akhirnya bertemu dengan Sami-ul-Haq bulan Oktober 2018 untuk meminta bantuannya. Mereka ingin dia meminta Taliban di Afghanistan untuk bersedia mengikuti perundingan.
Haq telah menyatakan keinginannya untuk berakhirnya jihad Afghanistan, yang dia harapkan akan menghasilkan munculnya negara Afghanistan yang benar-benar independen yang tidak bergantung pada AS. Organisasi JUI-S Haq, sebuah partai Deobandi, juga bergerak dalam politik arus utama.
JUI-S membentuk aliansi dengan Tehrik-e-Insaf Pakistan (PTI) yang berkuasa sebelum pemilihan tahun 2018. Partai Imran Khan yang memerintah provinsi Khyber Pakhtunkhwa memberi pendanaan jutaan Dolar AS kepada Dar-ul-Uloom Haqqania untuk dukungan elektoral JUI-S.
Pergeseran suara Islam dari Liga Muslim Pakistan Nawaz (PML-N/Pakistan Muslim League-Nawaz) ke PTI dan partai-partai yang baru terbentuk seperti TLP terbukti sangat penting dalam kemenangan PTI awal tahun 2019. Namun, JUI-S Haq jelas absen dari Muttahida Majlis-e-Amal (MMA), koalisi Islam yang telah bersatu kembali dalam membangun pemilihan untuk “menegakkan Syariah di Pakistan,” meskipun Haq telah menjadi salah satu dari anggota pendiri.
Kecaman atas pembunuhan Haq mulai berdatangan pada hari Jumat (1/11) malam. Mereka yang mengutuk pembunuhan itu termasuk kepala militer Jenderal Qamar Javed Bajwa, Perdana Menteri Pakistan Imran Khan, dan politisi terkemuka lainnya.
“Saya mengutuk [pembunuhan] dengan kata-kata terkuat. Ini adalah tragedi pribadi bagi saya,” kata Fazl-ur-Rehman, presiden MMA. “Saya terhubung secara spiritual dengan Dar-ul-Uloom Haqqania. Sekolah itu adalah almamater saya. Saya belajar di sana selama delapan tahun. Semua yang saya lakukan adalah karena Dar-ul-Uloom. Peristiwa ini adalah kerugian bangsa, kerugian [masyarakat] Muslim. Saya berdiri dalam solidaritas dengan keluarga dan partainya.”
Para penyidik tidak mengetahui dengan jelas siapa yang berada di balik serangan itu. Desas-desus liar menunjukkan bahwa organisasi Afganistan atau India adalah kemungkinan pelakunya, tetapi sambil mengumpulkan bukti, pemerintah Pakistan menahan diri untuk tidak melontarkan tuduhan.
Suatu hal yang pasti ialah bahwa pembunuhan itu menyulut Pakistan pada saat kaum fundamentalis Islam secara nasional memprotes kasus Asia Bibi.
No comments:
Post a Comment