MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Tuesday, October 2, 2018

Wanita-Wanita yang Berani Dibantai di Irak, Picu Ketakutan Pembalasan Konservatif

Di Irak, para wanita yang dengan berani menunjukkan kebebasan mereka tewas terbunuh. Salah satunya ditembak di siang bolong di jalanan kota Baghdad. Kehadiran tokoh-tokoh wanita tersebut di depan publik dan sikap mereka yang ‘tidak tradisional’, saat ini banyak dianggap sebagai ceroboh.
Bahkan bagi sebuah negara yang terbiasa dengan kekerasan, gambar-gambar itu mengejutkan. Seorang pria dengan sepeda motor berhenti di samping jendela mobil dan melepaskan tiga tembakan ke Tara al-Fares, membunuhnya di jalan kota Baghdad.
Pembunuhan siang hari tersebut—yang tertangkap oleh kamera pengintai—sangat keterlaluan namun tidak asing bagi orang Irak yang hidup melalui perang sipil dan dekade yang menyakitkan sejak itu.
Namun itu juga sangat mengejutkan; tubuh yang terpuruk di kursi mobil bukanlah seorang politikus, pejabat, pemberontak, atau panglima perang. Dia adalah mantan ratu kecantikan; seorang wanita muda yang memiliki nama dan sikap yang terkenal—yang menjadi salah satu dari empat wanita Irak berprofil tinggi yang telah tewas di seluruh negeri secara berurutan.
Keempatnya tidak mengenal satu sama lain, tetapi kehidupan mereka—baru-baru ini setidaknya—memiliki tema yang sama. Semuanya hadir di depan publik dan menyuarakan hal-hal yang telah mengganggu elemen masyarakat Irak, yang telah mempertahankan pandangan kaku tentang bagaimana perempuan harus berperilaku, bahkan ketika kebebasan relatif telah merangkak ke dalam budaya yang masih konservatif.

Untuk menunjukkan satu sifat seperti itu di Irak pascaperang sangatlah berani, banyak wanita Irak mengatakan. Dengan bangga menunjukkan keduanya bisa jadi tindakan yang sangat ceroboh.Al Fares yang sangat bersemangat, telah menjadi pusat kritik untuk semua empat kematian tersebut, dan memicu diskusi publik yang jarang dilakukan di Irak tentang seberapa jauh perkembangan wanita dalam 15 tahun sejak invasi Amerika Serikat (AS)—para pendukung bersumpah bahwa kebebasan sipil dan kebebasan individu entah bagaimana akan muncul dari kekacauan berikutnya.
Kematian Al-Fares (22 tahun), pada Jumat (28/9) lalu, menyusul pembunuhan Suad al-Ali, seorang aktivis hak perempuan di kota selatan Basra, yang ditembak mati saat berjalan ke mobilnya. Pada bulan Agustus, dua wanita Irak lainnya, Rasha al-Hassan dan Rafifi al-Yasiri tewas berselang satu minggu. Keduanya bekerja di klinik kecantikan.Plt Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi, mengatakan bahwa kematian-kematian tersebut bukanlah peristiwa acak, dan telah berjanji untuk memburu para penyerang. Para wanita Irak telah melangkah lebih jauh. Zainab Salbi—seorang warga Irak yang memimpin institut Women for Women International di Washington—mengatakan “Perempuan diserang dari kiri, kanan, dan tengah. Di mana-mana. Kami hidup dalam perburuan modern.”
Al-Fares sangatlah berbeda. Sebagai seorang ibu tunggal yang bercerai yang telah menikah pada usia 16 tahun, ia telah berlenggok ke rumah-rumah Irak dengan rok pendek dan rias wajah di media sosial. Dia memiliki 2,7 juta pengikut di Instagram dan populer di Twitter, Facebook, dan YouTube. Semuanya sangat populer di Irak, di mana hidup sebebasnya masih dapat diterima—tetapi memiliki profil tinggi membawa bahaya, terutama bagi perempuan.
“Kita bisa pergi ke Lebanon dan berpakaian seperti yang kita inginkan,” kata Hadeel Muthanar, yang mengidentifikasi dirinya sebagai seorang konservatif sosial berusia 28 tahun dari Baghdad timur. “Bahkan pria Irak akan menatap ke arah lain di sana. Tetapi untuk melakukan hal yang sama di Baghdad sangatlah memalukan. Ini adalah muka dua, tapi begitulah kami.”
Al-Fares—yang lahir dari seorang ibu Syiah Lebanon dan seorang ayah Kristen Irak—tidak melakukan banyak usaha untuk tunduk pada norma-norma yang banyak diharapkan darinya. Profilnya dibuat sebagai tantangan untuk standar ganda yang banyak dikeluhkan di Irak, tapi tidak banyak yang mau mengatasinya.Reaksi terhadap kematian Al-Fares di media sosial sebagian bersimpati dan sebagian pedas—sebuah cerminan bagaimana apa yang didukungnya membuat masyarakat Irak terpolarisasi. Seorang karyawan media milik pemerintah dipecat setelah menyebut Al-Fares “pelacur” di unggahan media sosial.
Pada bulan Agustus, kematian Dr Rafif al-Yasiri—seorang ahli bedah plastik terkenal—juga menciptakan gejolak. Wanita berusia 32 tahun itu diberi label “Barbie of Iraq“, dan berbicara secara teratur tentang wanita yang mendapatkan kemerdekaan dengan mengubah penampilan mereka.
Para pejabat Irak mengklaim bahwa dia meninggal karena overdosis obat. Satu minggu kemudian, ahli kecantikan populer, Rasha al-Hassan, ditemukan tewas di dalam rumahnya. Penyebab kematiannya masih mencurigakan.
“Pesan yang begitu banyak yang saya lihat di media sosial telah membuat saya muak,” kata Zainab (39 tahun), yang menambahkan bahwa pembunuhan baru-baru ini telah membuatnya takut untuk mengungkapkan nama belakangnya. “Mereka berkata: ‘Mereka berhak mendapatkan apa yang mereka dapatkan karena tindakan mereka.'”
“Orang-orang menuduh gadis-gadis ini menyalahgunakan kebebasan mereka sendiri. Tetapi pemahaman kebebasan-lah yang disalahgunakan. Keluarga dipaksa untuk membela diri daripada berduka atas kehilangan mereka, dan ini salah.”
Rusul Kamil—seorang aktivis perempuan dan spesialis kekerasan berbasis gender—mengatakan: “Saya pikir bahwa apa yang terjadi pada gadis-gadis ini dianggap sebagai ancaman bagi semua wanita dan gadis Irak yang ingin hidup bebas, terlepas dari etnis, agama, dan peran mereka. Keragaman dan perbedaan menjadi pendekatan yang berisiko bagi semua wanita.”
Sura Ahmed, seorang mahasiswa universitas di Baghdad setuju. Baginya, kematian kemungkinan tidak akan mengubah sikap yang masih membenci “wanita yang tidak tradisional”.
“Kami telah melihatnya sebelumnya, di mana rumah bordil dibom dan klub malam ditembak. Ini adalah pesan untuk “mengetahui di mana tempat Anda”. Saya takut orang-orang akan segera mendengarkannya. Dan saya pikir kejahatan ini tidak akan terselesaikan.”

No comments:

Post a Comment