Warga Palestina di sebuah desa Tepi Barat bersiap pada Senin (1/10) untuk pembongkaran yang diperintahkan pengadilan Israel terhadap rumah mereka, seiring para aktivis tiba untuk membantu mereka melawan jika pasukan Israel bergerak untuk mengusir mereka.
Banyak yang menghabiskan malam dengan tidur di halaman sekolah atau berjaga-jaga, seiring tenggat waktu tengah malam yang dikenakan Israel sudah lewat bagi penduduk Khan al-Ahmar untuk secara sukarela mengungsi, atau menghadapi pemindahan paksa dan pembongkaran rumah mereka. Namun, itu kemungkinan tidak akan terjadi setidaknya sebelum akhir hari libur Yahudi pada senja hari Senin (1/10).
Israel mengatakan, perkemahan gubuk di luar pemukiman Israel dibangun secara ilegal dan di lokasi yang tidak aman di dekat jalan raya utama. Israel telah menawarkan untuk memindahkan para warga ke lokasi yang berjarak beberapa mil jauhnya, dalam apa yang dikatakannya sebagai kondisi yang lebih baik—dengan koneksi ke air, listrik, dan pengolahan limbah yang saat ini kurang memadai.
Tapi para kritikus mengatakan bahwa tidak mungkin bagi masyarakat Palestina untuk mendapatkan izin bangunan, dan rencana pembongkaran pemukiman Israel di tepi barat bertentangan dengan kehendak warga dan dimaksudkan untuk memberi ruang bagi perluasan permukiman Israel.
Mahkamah Agung Israel baru-baru ini menolak banding terakhir terhadap rencana tersebut, membuka jalan bagi potensi pembongkaran Khan al-Ahmar.
Perkemahan itu telah semakin diserukan oleh warga Palestina, dan Israel mendapat kritik keras, di mana negara-negara besar Eropa mendesaknya untuk menahan diri dari pembongkaran dan pengusiran terhadap 180 atau lebih warga. Kanselir Jerman Angela Merkel akan tiba di Israel akhir pekan ini untuk kunjungan yang tidak terkait, yang mungkin memicu penundaan lebih lanjut dalam tindakan Israel.
Sekitar 200 aktivis berkemah di lokasi tersebut seiring batas waktu 1 Oktober berlalu, yang memberikan pelatihan kepada para penduduk untuk melakukan perlawanan tanpa kekerasan. “Kami melatih mereka cara cepat pindah ke gubuk, berkelompok, dan membuat misi tentara sesulit yang mereka bisa,” kata Monzer Amereh, seorang aktivis terkemuka yang telah berada di sana selama berminggu-minggu. “Kami akan duduk di dalam gubuk dan tidak akan pergi dan membiarkan mereka mengeluarkan kami dengan paksa.”
Para aktivis mengatakan bahwa Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, telah mendukung masyarakat dan memberi mereka bantuan hukum dan keuangan. Penduduk baru-baru ini menanam lebih banyak pohon dan mendirikan gubuk-gubuk baru untuk menunjukkan pembangkangan.
“Kami tidak akan pergi, kami akan duduk di alam liar sampai mereka pergi, dan kami akan membangunnya lagi,” kata Eid Khamis, pemimpin komunitas tersebut. “Ini adalah tanah kami, bukan tanah mereka, dan kami tinggal di sini dan mati di sini.”
Bagi Israel, kasus ini adalah masalah hukum dan peraturan yang sederhana. Para pejabat menekankan bahwa Israel juga mengusir para pemukim Yahudi yang bermukim secara ilegal. Tetapi para pemukim tersebut pada umumnya lebih mudah untuk menerima izin bangunan, dan pemerintah seringkali secara retroaktif melegalkan pos-pos yang tidak sah, berpura-pura tidak mengetahui, atau menawarkan kompensasi kepada para pemukim yang terusir.
Bagi rakyat Palestina, itu dilihat sebagai bagian dari pencaplokan wilayah yang mereka inginkan untuk sebuah negara masa depan.
Desa ini berada di 60 persen dari Tepi Barat yang dikenal sebagai Area C, yang tetap berada di bawah kendali eksklusif Israel dan merupakan rumah bagi puluhan permukiman Israel. Israel menempatkan pembatasan ketat pada pembangunan Palestina di sana dan pembongkaran rumah bukanlah hal yang aneh. Tetapi pengusiran seluruh komunitas akan sangat tidak biasa.
Sebagai bagian dari kesepakatan perdamaian sementara pada tahun 1990-an, Tepi Barat didirikan menjadi daerah otonom dan semi-otonom Palestina, yang dikenal sebagai Area A dan B, dan Area C, yang merupakan tempat bagi sekitar 400 ribu pemukim Israel.
Palestina mengklaim seluruh Tepi Barat untuk negara masa depan mereka, dan mengatakan bahwa Area C—yang juga rumah untuk sekitar 150.000 hingga 200.000 rakyat Palestina—sangat penting bagi perkembangan ekonominya.
Keterangan foto utama: Dalam foto yang diambil Minggu (30/9/2018) ini menunjukkan lokasi di mana orang-orang dari desa Khan al-Ahmar seharusnya pindah di dekat desa Tepi Barat, Abu Dis. Hari Senin menandai lewatnya batas waktu yang ditetapkan oleh Israel bagi para penduduk Khan al-Ahmar untuk pindah secara sukarela sebelum dipaksa. (Foto: AP/Majdi Mohammed)

No comments:
Post a Comment