MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Tuesday, October 2, 2018

Hasil Referendum Makedonia Merupakan Kemenangan bagi Rusia

Para pemimpin Barat menawarkan integrasi yang lebih erat tetapi mereka terkalahkan oleh Rusia. Pejabat negara-negara Barat telah memperingatkan sebelum pemungutan suara bahwa Rusia mencoba untuk menekan jumlah pemilih dalam referendum Makedonia untuk membatalkan hasilnya. Di acara tersebut, lebih dari 90 persen dari pemilih mendukung perubahan nama.
Penolakan pemilih Makedonia untuk mendukung perubahan nama negara mereka tampaknya, sekilas, murni merupakan masalah kepentingan lokal. Tapi, hasil referendum Makedonia hari Minggu (30/9) dilihat sebagai kemenangan signifikan bagi Vladimir Putin, kemunduran bagi Uni Eropa dan NATO, dan merupakan contoh kemampuan dan kesediaan Rusia untuk mempengaruhi proses demokrasi di negara-negara Barat.
Pejabat negara-negara Barat telah memperingatkan sebelum pemungutan suara bahwa Rusia mencoba untuk menekan jumlah pemilih dalam referendum untuk membatalkan hasilnya. Di acara tersebut, lebih dari 90 persen dari pemilih mendukung perubahan nama.
Tapi jumlah pemilih yang datang ke tempat pemungutan suara hanya sekitar 36 persen, kurang dari 50 persen dari yang diperlukan untuk membuat keputusan mengikat parlemen. Zoran Zaev, perdana menteri Makedonia, telah bersumpah untuk terus menindaklanjuti ini, walaupun akan menghadapi oposisi keras dari nasionalis.
Meningkatnya ketidakstabilan dan perpecahan ini sesuai dengan rencana permainan Rusia, menurut para analis Barat. Jika referendum berhasil, referendum itu akan menyelesaikan perselisihan dengan Yunani yang telah memblokir rute Makedonia ke keanggotaan UE dan NATO. Seperti di negara lain di Balkan barat, terutama Serbia, Kosovo dan Montenegro, Rusia telah bertekad untuk mencegah perluasan pengaruh Barat.
Bagi pengamat pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) tahun 2016, metode Rusia di Makedonia ini terlihat sangat familiar. Kampanye disinformasi dan “berita palsu”, cyberwarfare dan peretasan, akun Facebook dan Twitter palsu dan pembayaran tunai rahasia, semua itu diduga telah digunakan.
Rusia telah membantah tuduhan campur tangan tersebut. Namun para diplomat Barat mengklaim bulan lalu bahwa 40 unggahan baru yang menghasut boikot referendum muncul setiap hari di Facebook. Dalam unggahan itu ada pertanyaan “apakah kalian akan membiarkan orang Albania mengubah nama kalian?”—sebuah upaya terang-terangan untuk memicu ketegangan dengan minoritas Albania di Macedonia yang mayoritas warganya beretnis Slavia.Dalam satu insiden, seorang pendukung sepak bola yang menentang perubahan nama berkelahi dengan polisi di Skopje. Beberapa orang kemudian mengakui bahwa mereka telah dibayar untuk menimbulkan masalah oleh orang-orang yang tidak mereka kenal. Sebuah foto beredar di media sosial yang menunjukkan wajah penyanyi populer yang memar, mengaku-ngaku telah dipukuli oleh polisi.
Zaev mengatakan bahwa ia telah menerima banyak laporan bahwa pengusaha Yunani yang “bersimpati pada tujuan Rusia” telah membayar kelompok nasionalis sayap kanan sebanyak $21.000 (£16.000) untuk melakukan tindakan kekerasan. Dia didukung oleh James Mattis, menteri pertahanan AS, yang menyatakan pada kunjungan ke Skopje bahwa “sudah pasti mereka [Rusia] telah mentransfer uang dan melakukan kampanye pengaruh yang lebih luas”.
Upaya Mattis untuk meningkatkan suara setuju, didukung oleh $8 juta dalam pendanaan kongres AS, dilengkapi dengan kunjungan oleh Angela Merkel, kanselir Jerman, Jens Stoltenberg, sekretaris jenderal NATO, dan Federica Mogherini, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa. Kementerian Luar Negeri Inggris juga dilaporkan menyediakan dana referendum.
Mereka semua berusaha meyakinkan orang Makedonia akan keamanan masa depan mereka dan kemakmuran terbaik yang dihasilkan oleh integrasi lebih erat dengan negara-negara Barat. Tapi mereka tidak melihat gambaran itu, seolah mata mereka tertutup oleh Rusia.
Mattis menghubungkan peristiwa di Makedonia dengan campur tangan Rusia di masa lalu dalam pemilihan di AS, Inggris dan Eropa. “Kami tidak ingin melihat Rusia melakukan apa yang telah mereka coba lakukan di banyak negara lain,” katanya. Senada, Stoltenberg juga mengatakan: “Kami telah melihat Rusia mencoba ikut campur dalam proses politik demokratis di wilayah ini selama bertahun-tahun.”
Campur tangan Rusia telah menjalar ke Yunani utara, di mana empat diplomat diusir pada bulan Juli karena mencoba mengobarkan sentimen anti-Makedonia di Thessaloniki. Pada tahun 2016, Rusia dituduh mencoba melakukan kudeta di Montenegro untuk mencegah negara itu bergabung dengan NATO.
Seperti di negara lain di Eropa, kampanye pengaruh Rusia di Makedonia mengeksploitasi dan melengkapi narasi nasionalis-populis sayap kanan berdasarkan pada pengertian identitas, ras dan ancaman yang dirasakan dari Uni Eropa. Dan masih belum jelas apakah tindakan Rusia ini telah menyeimbangkan kondisi tersebut.
Paradoksnya adalah bahwa, apa pun nama negara itu, sebagian besar orang Makedonia mendukung keanggotaan Uni Eropa dan NATO, menurut survei belum lama ini. Prospek itu telah surut, setidaknya untuk saat ini. Dalam kontes kekuatan dan pengaruh Eropa yang terus berlanjut, Rusia baru saja mencetak skor lagi.
Keterangan foto utama: Para pendukung boikot referendum merayakannya di Skopje. (Foto: Reuters/Marko Djurica)

No comments:

Post a Comment