MENERIMA IKLAN/SPONSOR
Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.
Sunday, January 16, 2022
DOWNLOAD BUKU INDONESIA DALAM REKAYASA KEHIDUPAN, DLL
https://docs.google.com/document/d/1bw0-Wn-6aJ3mDT9QaFzDch2NQHz2H6x9/edit?usp=sharing&ouid=114340931369707986861&rtpof=true&sd=true
Thursday, June 18, 2020
Google Meet Kini Terintegrasi dengan Gmail

Setelah menggratiskan ke semua orang bulan lalu, Google Meet akan segera hadir di Gmail sehingga pengguna bisa dengan mudah menggelar konferensi video dari smartphone mereka. Google Meet tersedia pada Gmail berbasis Android dan iOS.
"Hari ini, kami membawa Meet to Gmail di Android dan iOS, sehingga Anda dapat dengan mudah bergabung dengan rapat video dari inbox Anda," kata Manajer Produk Gmail Google, Erika Yamasaki, di blog Google, dikutip Kamis (18/6/2020).
Menurut Erika, dalam beberapa pekan mendatang, pengguna akan menemukan tab Google Meet baru di aplikasi Gmail dan bisa menjadwalkan rapat virtual dengan rekan kerja lewat Kalender Google dengan hanya satu ketukan.
Di tab Meet, ketuk “Rapat baru” untuk memulai rapat secara instan, dapatkan tautan rapat untuk dibagikan, atau untuk menjadwalkan rapat di Kalender. Jika Anda mengetuk "Gabung dengan kode," Anda dapat bergabung ke undangan rapat dengan memasukkan kode rapat.
Jika Anda tidak ingin Google Meet muncul sebagai tab di aplikasi Gmail, akses Pengaturan dari menu hamburger di sudut kiri atas kotak masuk Anda, ketuk akun Anda, gulir ke bawah dan hapus centang Meet.
Layanan konferensi video kini sedang berkembang pesat setelah banyak orang terpaksa bekerja dari rumah karena wabah Covid-19. Sejauh ini Zoom menjadi aplikasi paling banyak digunakan.
Untuk melawan dominasi Zoom, kapasitas serta keringkasan penggunaan Google Meet dan Google Duo terus ditingkatkan. Pemain lain adalah Microsoft Team serta dua WhatsApp dan Messenger dari Facebook. [Antara]
5 Standar Keamanan Aplikasi Panggilan Video, Daftar 12 Apps Aman Dipakai

Saat ini, aplikasi panggilan video menjadi salah satu aplikasi penting untuk terhubung dengan orang lain di tengah pandemi Virus Corona jenis baru, penyebab Covid-19. Namun, masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak memperhatikan keamanan dalam penggunaannya.
Padahal, pemakaian aplikasi ini bisa membahayakan data pribadi pengguna jika dipakai secara tidak bertanggung jawab.
Mozilla bekerja sama dengan Consumer Indonesia dan Internet Society membentuk lima standar keamanan minimum aplikasi panggilan video. Standar keamanan ini mengharuskan perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam produksi perangkat terhubung internet untuk memenuhi kebutuhan keamanan privasi penggunanya.
Dalam keterangan pers yang diterima Suara.com, berikut lima standar keamanan aplikasi panggilan video yang harus diketahui:
1. Enkripsi
- Enkripsi merupakan proses mengamankan suatu informasi dengan membuat informasi itu tidak dapat dibaca tanpa bantuan pengetahuan khusus. Aplikasi panggilan video harus menggunakan enkripsi untuk semua fungsi dan kemampuan komunikasi jaringannya.
- Hal ini untuk memastikan bahwa semua komunikasi tidak diuping atau dimodifikasi. Aplikasi juga harus menggunakan enkripsi saat tidak digunakan untuk memastikan data pelanggan dilindungi.
2. Pembaruan keamanan
- Aplikasi panggilan video harus mendukung pembaruan otomatis untuk periode yang wajar dan diaktifkan secara default. Ini memastikan bahwa saat kerentanan diketahui, vendor aplikasi dapat menyediakan pembaruan keamanan untuk pengguna.
3. Kata sandi yang kuat
- Jika aplikasi menggunakan kata sandi untuk autentikasi jarak jauh harus menggunakan kata sandi yang kuat, termasuk memiliki persyaratan kekuatan kata sandi. Kata sandi default yang tidak unik juga harus diatur ulang sebagai bagian dari pengaturan awal perangkat.
- Hal ini membantu perangkat dari kerentanan terhadap serangan siber yang menargetkan kata sandi.
4. Manajemen kerentanan
- Pembuat aplikasi dan pengembang harus memiliki sistem untuk mengelola kerentanan dalam aplikasi ini. Juga harus menyertakan kontak agar pengguna dapat melaporkan jika ada kerentanan atau bug.
5. Praktik privasi
- Aplikasi harus memiliki informasi privasi yang berlaku khusus untuk perangkat, bukan kebijakan umum yang ditulis hanya untuk melengkapi web perusahaan.
- Di sisi lain, para peneliti Mozilla menelusuri lima belas aplikasi untuk mendapatkan informasi mengenai privasi dan keamanan.
- Secara total, terdapat 12 aplikasi yang memenuhi standar keamanan di atas. Berikut daftarnya:
- Zoom
- Google Duo atau Hangouts Meet
- Apple FaceTime
- Skype
- Facebook Messenger
- Jitsi Meet
- Signal
- Microsoft Teams
- BlueJeans
- GoTo Meeting
- Cisco WebEx.
Sedangkan tiga aplikasi yang tidak memenuhi standar keamanan, adalah:
- Houseparty
- Discord
- Doxy.me
Hal baiknya, Mozilla juga menemukan bahwa lima belas aplikasi tadi memiliki fitur perekam yang terpasang tetap (built-in). Sehingga memungkinkan peserta panggilan mengetahui jika mereka sedang direkam. Selain itu, mayoritas aplikasi itu memiliki kemampuan untuk mengatur panggilan video, sehingga mampu meminimalisir kejadian yang tidak disengaja atau tidak bertanggung jawab.
Cara Transfer Pulsa Telkomsel dengan Mudah

Pengguna Telkomsel dapat memberikan pulsa yang dimilikinya kepada sesama pengguna simPATI, Kartu As, dan Loop lewat layanan transfer pulsa. Ada dua cara transfer pulsa Telkomsel dengan mudah, yaitu melalui aplikasi MyTelkomsel atau lewat UMB.
Menurut laman resmi Telkomsel, pulsa yang dapat ditransfer antara Rp 5.000 sampai Rp 1 juta per transaksi dengan maksimal transaksi dalam satu hari per nomor adalah sebanyak 250 transaksi.
Sementara biaya untuk melakukan transfer pulsa melalui dua cara ini adalah Rp 1.850 untuk nomimal transfer Rp 5.000 sampai Rp 19.000 dan Rp 2.000 untuk transfer pulsa dengan nominal Rp 20.000 dan seterusnya.
Berikut ini dua cara transfer pulsa Telkomsel dengan mudah:
1. Cara transfer pulsa Telkomsel melalui aplikasi MyTelkomsel
Pertama, buka aplikasi MyTelkomsel > akses menu Gift > masukkan nomor tujuan transfer pulsa > pilih Transfer Pulsa > pilih metode pembayaran yang diinginkan > masukkan kode OTP, setelahnya pengguna akan menerima pemberitahuan transaksi.
2. Cara transfer pulsa Telkomsel melalui UMB
Untuk mentransfer pulsa Telkomsel melalui UMB, pengguna dapat menekan *858# di keypad > pilih angka 1 untuk pilihan Transfer Pulsa > masukkan nomor penerima dan nominal transfer yang diinginkan. Pengguna akan mendapatkan pemberitahuan transaksi melalui SMS.
Sebelum mentransfer pulsa kepada pengguna lain, pengirim pulsa harus berada dalam masa aktif sedangkan penerima pulsa bisa dalam masa tenggang. Jika penerima penerima pulsa ada dalam masa tenggang, maka pulsa transfer juga hanya akan bisa digunakan setelah penerima melakukan isi ulang.
Pengguna bisa melakukan transfer pulsa jika masa aktif nomornya sudah lebih dari tiga hari. Kedua cara transfer pulsa Telkomsel di atas bisa dilakukan untuk mengirim pulsa ke sesama teman atau anggota keluarga yang menggunakan Telkomsel ketika pulsa mereka menipis.
Sunday, January 12, 2020
Permainan Perang Iran lewat Houthi Yaman untuk Tantang Amerika

Situasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran kian memanas sejak pembunuhan AS terhadap Komandan Pasukan Quds Iran Mayor Jenderal Qassem Soleimani pada Jumat (3/1). Selain potensi konflik langsung antara kedua negara, terdapat kemungkinan eskalasi permainan perang Iran melalui pemberontak Houthi di Yaman.
Pembunuhan yang ditargetkan oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Komandan Pasukan Quds Iran Mayor Jenderal Qassem Soleimani telah memicu tanggapan langsung pada Selasa (7/1) malam ketika Iran meluncurkan lebih dari selusin rudal balistik terhadap militer AS dan pasukan koalisi di Irak. Rudal-rudal tersebut menargetkan setidaknya dua pangkalan militer Irak yang menampung personel militer AS dan koalisi di Al-Assad dan Irbil. Kawasan tersebut diduga akan menghadapi deeskalasi, tetapi khawatir akan kesalahan perhitungan Iran atau Amerika yang dapat memperdalam konflik.
Yaman, misalnya, telah menjadi salah satu medan pertempuran utama. Menurut R. David Harden dan Abdulrahman Al-Eryani dari The Hill, Perang Yaman yang telah berlangsung selama lima tahun mengancam untuk menelan Timur Tengah dengan memperdalam konflik antara Iran dan proksi-proksinya di satu sisi dengan Amerika dan para sekutunya di sisi lain. Regionalisasi konflik ini dapat menjerumuskan jutaan penduduk Yaman yang paling rentan ke dalam bencana kemanusiaan, mengganggu produksi minyak global, mengancam perdagangan komersial melalui Teluk Persia dan Laut Merah, menyediakan lebih banyak ruang bagi ISIS dan Al-Qaeda, serta merusak stabilitas Arab Saudi.
HOUTHI YAMAN

Anggota suku bersenjata Yaman yang setia kepada pemberontak Syiah Houthi duduk di belakang kendaraan bersenjata, selama pertemuan untuk memobilisasi lebih banyak pejuang ke beberapa medan perang di pinggiran ibu kota, Sanaa, pada 1 November 2016. (Foto: AFP/Getty Images/Mohammed Huwais)
Milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman menggulingkan pemerintah yang diakui secara internasional pada 2014 dan sejak itu telah mengendalikan ibu kota Yaman, Sanaa, dan Yaman barat laut. Akibatnya, Arab Saudi melakukan intervensi militer di Yaman pada Maret 2015. Kerajaan Saudi telah melihat perjuangannya melawan Houthi melalui lensa pertempurannya melawan pengaruh Iran di kawasan tersebut. Tidak mengherankan, Houthi telah memperluas gudang senjata mereka dan memperdalam kemampuan militer mereka sejak 2014 dengan bantuan besar dari Iran. Kelompok Houthi saat ini mengendalikan sebagian besar populasi dan ekonomi Yaman.
Pasukan Quds Iran, yang sebelumnya dipimpin oleh Jenderal Soleimani, membantu milisi Houthi mengembangkan kemampuan militer luas yang telah digunakan dalam menyerang sasaran strategis di Arab Saudi. PBB mengonfirmasi bukti dukungan ini dan secara khusus menuduh Iran menyediakan rudal jarak jauh dan pesawat tak berawak kepada pemberontak Houthi.
Dengan bantuan tersebut, Houthi telah membawa perang mereka ke Arab Saudi dan para mitranya, terkadang sebagai tanggapan atas korban sipil dan serangan Arab Saudi yang tidak proporsional. Misalnya, rudal balistik Houthi telah mencapai sejauh Riyadh, ibu kota Saudi. Milisi Houthi juga menargetkan berbagai infrastruktur militer dan sipil di Saudi, termasuk kapal tanker minyak di Laut Merah, fasilitas minyak di Riyadh, dan pangkalan militer di Khamis Mushayt. Pemberontak Houthi juga telah meningkatkan serangan mereka terhadap infrastruktur kritis Saudi dengan menargetkan bandar udara Abha dan Jizan.
TAHUN BARU DAN PERANG BARU
Pekan lalu, kepemimpinan Houthi bersumpah untuk “mendukung rakyat Iran” sebagai bagian dari “Poros Perlawanan” (Axis of Resistance) yang dipimpin oleh Iran. Mereka menyerukan demonstrasi besar-besaran di kota-kota besar Yaman yang berada di bawah kendali mereka.
Meski Houthi bukan agen Iran, mereka telah secara eksplisit menunjukkan dukungan terhadap Iran dan Hizbullah. Agustus 2019, pemerintah yang dikuasai Houthi di Sanaa secara tidak mengherankan menunjuk duta besar pertamanya untuk Teheran. Sebagai imbalan atas senjata, minyak, dan dukungan yang berkelanjutan, Houthi dapat secara terbuka memihak Iran dalam konfrontasi militer langsung dengan AS dan para sekutu regional. Dalam skenario semacam itu, Houthi dan Iran kemungkinan akan menargetkan tiga kepentingan utama AS dan sekutu.
Pertama, Houthi dapat mengancam jalur air strategis Laut Merah. Pantai barat Yaman berada pada jalur perdagangan maritim yang strategis dan penting untuk kapal komersial dan kapal tanker minyak, yakni jalur pelayaran Laut Merah ke Terusan Suez, Mesir, Israel, dan Yordania. Arsenal maritim Houthis termasuk rudal jelajah anti-kapal, alat peledak improvisasi di air, dan sistem senjata canggih lainnya yang disediakan oleh Iran.
Menurut R. David Harden dan Abdulrahman Al-Eryani dari The Hill, Houthi tidak akan segan menargetkan jalur air tersebut jika terjadi eskalasi parah. Mereka bahkan sudah pernah melakukannya. Pada Januari 2016, Houthi mengancam akan menutup titik sumbat maritim itu saat terjadi perselisihan militer dengan Arab Saudi. Sejak 2015, 40 serangan laut Houthi telah didokumentasikan di Selat Bab Al-Mandeb dan Laut Merah. Kemampuan Houthi di Laut Merah, dikombinasikan dengan jangkauan Iran di Selat Hormuz di Teluk Persia, berpotensi dapat menimbulkan ketidakstabilan besar-besaran terhadap pasokan minyak global.
Kedua, Houthi dapat meningkatkan tempo serangan rudal balistik dan pesawat nirawak sambil memperluas daftar targetnya di Teluk. Pada 2019, Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan rudal yang mengakibatkan penutupan sementara fasilitas pemrosesan minyak terbesar Arab Saudi di Abqaiq. Dengan bantuan Iran, Houthi telah merekayasa ulang rudal Scud lama, mengembangkan pesawat nirawak, dan meluncurkan rudal jarak jauh lainnya yang memiliki kemampuan mencapai target strategis, termasuk pabrik minyak Aramco dan instalasi militer Amerika.
Ketiga, Houthi dapat meningkatkan serangan gerilyawan ke Arab Saudi dengan mengeksploitasi medan terbuka perbatasan Arab Saudi dengan Yaman. Iran kemungkinan akan mengambil keuntungan dari taktik Houthi ini, mengingat Saudi telah menghadapi tantangan untuk mempertahankan kontrol penuh atas sayap selatan mereka. Pada akhirnya, terlepas dari adanya penurunan ketegangan di perbatasan akhir-akhir ini, Iran sangat tertarik untuk mengalihkan sumber daya Saudi untuk memerangi Yaman di sepanjang wilayah perbatasan.
PERANG TANPA AKHIR

Kekuatan-kekuatan asing telah mengeksploitasi Yaman selama berabad-abad. Dalam konfrontasi Iran-Amerika, Yaman kembali akan menjadi medan pertempuran proksi. Dengan memanfaatkan Houthi, Iran dapat melibatkan musuh bebuyutannya Arab Saudi seperti situasi perang Vietnam, karena kerajaan Saudi menghabiskan darah dan harta yang tidak proporsional untuk menenangkan perbatasan selatannya. Namun, Iran juga dapat secara langsung menyerang kepentingan Amerika dari Yaman dengan mengancam fasilitas produksi minyak, rute pengiriman komersial, dan bahkan target militer.
Iran juga memiliki dua peluang politik. Pertama, Iran dapat memicu lonjakan harga minyak global selama kampanye Trump menjelang Pilpres AS 2020, dan merusak reputasi Trump dengan mengikis kekuatan ekonomi Amerika. Kedua, jika Iran berhasil mengancam Arab Saudi dari selatan, Iran kemungkinan dapat menarik pemerintahan Trump untuk mendukung kerajaan Saudi secara lebih substantif. Kemitraan pertahanan AS-Saudi yang lebih dalam akan mendorong reaksi bipartisan Kongres AS dan melemahkan janji Trump sejak lama untuk mengurangi keterlibatan Amerika di Timur Tengah.
Ironisnya, R. David Harden dan Abdulrahman Al-Eryani dari The Hill menyimpulkan, permainan strategis Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei bertujuan untuk menimbulkan dampak ekonomi pada perekonomian Amerika Serikat dan melibatkan Presiden AS Donald Trump dalam perang yang tidak populer selama panasnya musim Pilpres AS 2020. Di tengah konfrontasi dan kekacauan ini, tragedi yang sebenarnya adalah jutaan orang Yaman yang akan tetap terjebak dalam krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Penerjemah: Fadhila Eka Ratnasari
Editor: Purnama Ayu Rizky
Keterangan foto utama: Para pendukung bersenjata pemberontak Houthi berkumpul untuk memobilisasi lebih banyak pejuang ke medan perang melawan pasukan yang didukung Arab Saudi di San’a, Yaman, 1 Agustus 2019. (Foto: Shutterstock/EPA/Yahya Arhab)
Konflik Suriah: Rusia Capai Gencatan Senjata dengan Turki di Idlib

Ditengah memanasnya konflik Suriah, Rusia mengumumkan tercapainya gencatan senjata dengan Turki di Idlib. Gencatan senjata di benteng terakhir kubu oposisi itu membuka jalan bagi jeda pengeboman oleh pasukan pemerintah Suriah dan memungkinkan bantuan kemanusiaan untuk masuk.
Rusia dan Turki telah mengumumkan gencatan senjata di provinsi Idlib, Suriah, yang membuka jalan bagi penghentian pengeboman yang dipimpin pemerintah di benteng terakhir yang dikuasai pemberontak di Suriah, sementara mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.
“Menurut perjanjian dengan pihak Turki, gencatan senjata diberlakukan di zona de-eskalasi Idlib mulai dari 14:00 waktu Moskow (11:00 GMT) pada 9 Januari 2020,” ujar Mayor Jenderal Rusia Yury Borenkov dikutip Al Jazeera.
Turki telah meminta Rusia untuk membuat gencatan senjata di wilayah tersebut dan mengirim delegasinya ke Moskow pada Desember untuk membahas masalah itu.
Bulan itu, pemerintah Suriah dan sekutu Rusia meluncurkan kampanye besar-besaran melawan pemberontak di Idlib.
Seiring serangan meningkat, pada Desember saja, hampir 300.000 orang melarikan diri ke daerah yang lebih aman menuju Turki dari Idlib selatan, menurut PBB.
Jamal Elshayyal dari Al Jazeera, melaporkan dari Ankara, mengatakan Turki telah mendorong dan menyerukan gencatan senjata, sebagian karena sudah di bawah tekanan besar dari masuknya pengungsi Suriah yang sudah berada di dalam perbatasannya.
“Perjanjian ini penting karena tidak hanya akan membendung aliran pengungsi dari Idlib, tetapi juga akan memungkinkan bantuan yang sangat dibutuhkan oleh organisasi kemanusiaan untuk menjangkau orang-orang yang putus asa di dalam kota di Suriah itu.”

Warga Suriah meneriakkan slogan-slogan dan melambai-lambaikan bendera-bendera oposisi saat mereka memprotes pemerintah Suriah selama demonstrasi di Binnish di provinsi Idlib utara yang dikuasai pemberontak pada 17 September (Foto: AFP/Getty Images/Omar Haj Kadour)
Kenan Rahmani dari Syria Campaign, mengatakan “kondisinya sangat buruk” di Idlib selatan, dan diperburuk oleh “penargetan yang disengaja” oleh pemerintah Assad di rumah sakit.
Dia juga menunjukkan bahwa Rusia telah berulang kali memveto bantuan kemanusiaan di PBB.
“Gencatan senjata, kami harap akan tetap ada,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa kesepakatan gencatan senjata sebelumnya telah dilanggar, di mana”rezim melanjutkan serangan militer brutalnya. Kami berharap kali ini akan berbeda.”
Perang sipil Suriah telah menewaskan lebih dari 370.000 orang sejak dimulai pada 2011, dengan penindasan brutal terhadap protes anti-pemerintah.
Secara total, 11.215 orang (termasuk lebih dari 1.000 anak) terbunuh pada 2019, tahun yang paling tidak mematikan sejak awal konflik.
PBB LAKUKAN PEMUNGUTAN SUARA TENTANG RESOLUSI BANTUAN LINTAS BATAS SURIAH YANG BARU
Menghadapi tenggat waktu pada Jumat (10/1) yang dapat menghentikan pengiriman bantuan kemanusiaan ke lebih dari 1 juta warga Suriah setiap bulan, Dewan Keamanan PBB yang terpecah akan melakukan pemungutan suara terkait resolusi-resolusi saingan yang akan melanjutkan pengiriman bantuan melalui penyeberangan perbatasan ke daerah-daerah yang sebagian besar dikuasai pemberontak.
Rancangan resolusi yang disponsori bersama oleh Jerman, Belgia, dan Kuwait dan didukung oleh kantor kemanusiaan PBB itu akan melanjutkan pengiriman bantuan melalui dua titik persimpangan di Turki dan Irak.
Resolusi saingan dari Rusia (sekutu terdekat Suriah di dewan tersebut) akan memperpanjang pengiriman hanya melalui dua penyeberangan Turki, The Washington Post melaporkan.
Mandat selama setahun saat ini berakhir pada Jumat (10/1), dan jika tidak diperpanjang, pengiriman makanan, obat-obatan, dan barang-barang penting lainnya akan terhenti.
Dewan Keamanan dijadwalkan untuk melakukan pemungutan suara pada resolusi saingan Jumat (10/1) sore. Kedua draft akan memperpanjang mandat selama enam bulan,
Para diplomat mengatakan, lima anggota dewan yang memiliki hak veto (Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, dan Prancis) bertemu empat kali sejak pekan lalu dan tidak dapat mencapai kompromi mengenai rancangan resolusi, dilansir dari The Washington Post.
Penerjemah dan editor: Aziza Fanny Larasati
Keterangan foto utama: Asap mengepul dalam serangan udara oleh pasukan pro-rezim di Kota Hish di Provinsi Idlib, Suriah, Senin, 19 Agustus 2019. (Foto: Getty Images/AFP/Omar Haj Kadour)
Alasan Iran Sangat Membenci Amerika

Pankaj Mishra dalam Bloomberg menulis, “Semua orang ingin pergi ke Baghdad. Laki-laki sejati ingin pergi ke Teheran.” Itulah kata-kata seorang pejabat senior Inggris kepada Newsweek pada 2002, menyaksikan keengganan kompetitif dalam pemerintahan Bush menjelang perang di Irak.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan klaimnya sebagai manusia sejati saat ia merobek kesepakatan nuklir dengan Iran beberapa waktu lalu.
Namun, ia secara tidak sengaja mempercepat dan bukannya menunda proses yang tak terelakkan: munculnyaIran sebagai kekuatan geopolitis dan ilmiah utama di dunia yang tidak lagi dibentuk secara eksklusif oleh kepentingan Eropa dan Amerika.
Pemahaman Trump tentang apa yang telah dilakukannya, beberapa minggu setelah memicu perang dagang dengan China, tentu terbatas. Dia milik generasi orang Amerika yang,—sudah terluka oleh kekalahan di Vietnam dan guncangan minyak tahun 1970-an—merasa benar-benar dihina oleh kaum revolusioner Iran yang menyandera Amerika selama lebih dari setahun.

Orang-orang Iran yang menyerbu Kedutaan Amerika pada tahun 1979 menanggapi dekade-dekade intervensi AS dan Soviet di Iran. (Sumber: Agence France-Presse via Getty Images)
Kemudian, kebanyakan yang berfantasi tentang perubahan rezim di negara-negara yang hanya mereka tahu sedikit tentangnya tidak pernah cukup mengalami dekolonisasi: peristiwa sentral abad ke-20, di mana kerajaan Barat digulingkan dan mayoritas penduduk dunia diasumsikan haknya untuk martabat dan kesetaraan di negara berdaulat.
Intervensionis Barat ini tidak memahami mengapa Teheran melakukan dekolonisasi dengan sangat terlambat, dan kemudian dengan ‘letusan gunung vulkanik’ anti-Barat. Selama beberapa dekade orang Iran menjadi korban Perang Dingin, ketika Uni Soviet dan AS menjatuhkan rezim boneka di banyak negara-bangsa di Asia dan Afrika.
Iran memang memiliki kebangkitan nasionalisnya sendiri, yang dibangun di seluruh pendudukan Barat dan Soviet di negara itu selama Perang Dunia II. Tetapi secara brutal ditekan oleh kudeta yang didukung CIA pada tahun 1953 yang menggulingkan pemimpin terpilih secara demokratis dan mengangkat Shah Iran yang lalim.
Puluhan ribu orang Amerika yang pernah tinggal di Teheran, beberapa sebagai penasihat bagi algojo dan penyiksa, dipekerjakan Shah yang terkenal kejam, mungkin kadang-kadang merasakan permusuhan mendalam di negara itu kepada Shah dan orang-orang Amerika yang menjadi pendukungnya.
Namun, mereka tidak dibantu oleh “editor yang melihat pendirian,” seperti Kennett Love, korespondenThe New York Times di Teheran, menelepon atasannya, yang seperti kebanyakan editor surat kabar Amerika tidak dapat melihat melewati proyek modernisasi firaun Shah terhadap kebrutalan dan kebodohannya.
Kenaifan dan ketidaktahuan seperti itu menjelaskan mengapa, ketika akhirnya meletus pada 1979, hasrat anti-Amerika mengejutkan para pembuat kebijakan dan pembentuk opini di AS.
Frustrasi “pria sejati” kemudian mengambil untuk membantu Saddam Hussein dalam serangan ganasnya terhadap Iran, yang membudaya para revolusioner Islam yang berkuasa di Teheran.
Mereka menginjak-injak beberapa pucuk reformasi liberal di Iran pada awal tahun 2000-an, bersikeras masuknya negara itu dalam “poros kejahatan” Presiden George W. Bush. Tidak mengherankan bahwa penyerbuan mereka ke Baghdad membantu mengubah Irak menjadi negara klien Iran.
Tak perlu ditambahkan, selama bertahun-tahun ketika kebijakan Amerika yang tidak kenal lelah dan tidak kompeten, nasionalisme Iran tumbuh secara semarak, bersama dengan lingkup pengaruh Teheran di wilayah tersebut.
Hari ini, pengaruh itu terus berlanjut meskipun rasa sakit ekonomi yang disebabkan oleh sanksi Barat, dan komitmen untuk memperkuat diri melintasi perpecahan politik yang dalam: Perlu diingat bahwa pemimpin Gerakan Hijau yang dipenjara, Mir Hossein Mousavi, menuduh fanatik anti-Barat Mahmoud Ahmadinejad dengan tuduhan “mengkhianati” kepentingan nuklir Iran.
Bekas Presiden Barack Obama saat itu mencoba memperbaiki beberapa kerusakan yang diderita oleh para pendahulunya yang tidak kompeten. Kesepakatan nuklirnya dimaksudkan untuk mencegah Iran mencetak gol secara terbuka di seluruh Timur Tengah.
Hal ini bertujuan untuk mempertahankan monopoli nuklir Israel di kawasan itu, dan untuk meredakan penguasa gugatan Arab Saudi.
Selalu ada sesuatu yang ganjil tentang harapan Amerika bahwa Iran harus mengundurkan diri dari perang proksi di Timur Tengah—bahwa ia harus membiarkan saingan Arabnya, misalnya, memutuskan nasib Suriah dan Yaman.
Trump sekarang ingin mencoba sebuah usaha seorang Amerika tua dan obsesif di Timur Tengah: membawa Taheran untuk ditaklukkan. Perekonomian Iran pasti akan menderita akibat sanksi-sanksinya. Tetapi orang Eropa bisa masuk; Hubungan ekonomi dan politik Iran yang erat dengan China dan India hanya dapat diperkuat lebih lanjut.
Sebagai sebuah negara yang telah membuat kemajuan tercepat dalam ilmu pengetahuan meskipun isolasi internasional tidak mungkin bergulir.
Sanksi AS tidak menghalangi India maupun Pakistan untuk membangun kapasitas nuklirnya. Bagaimanapun, langkah meningkatkan ambang penderitaan ekonomi untuk menghasilkan perubahan politik yang diinginkan selalu kontra-produktif.
Ambil contoh, misalnya, Mahathir Mohamad dari Malaysia, yang satu-satunya pemilihannya dalam retorika anti-Amerika dan anti-Israel adalah Ahmadinejad. Mahathir menentang tekanan Amerika, yang termasuk Wakil Presiden Al Gore secara terbuka mendesak Malaysia untuk menggulingkannya, semua melalui krisis keuangan Asia Timur yang menghancurkan di akhir 1990-an.
Minggu ini ia kembali berkuasa pada usia 92—namun bukti lain dari realitas geopolitik yang dengan cepat menjadi kurang dan kurang bisa menerima kontrol Amerika. Dorongan utama di balik dekolonisasi – kebutuhan akan kedaulatan dan martabat—telah menyebabkan munculnya satu kekuatan baru yang tegas setelah yang lain: Cina, India, Turki, Iran.
Dapat dimengerti, beberapa orang Amerika yang berkuasa tidak dapat menyesuaikan diri dengan dunia ini, di mana mereka tidak merasa cukup penting lagi. Dan dengan demikian mereka merobek-robek perjanjian.
Namun, sudah helas apakah pergi ke Baghdad, Teheran, atau Beijing, mereka lebih mungkin daripada tak pergi ke mana-mana.
Penerjemah: Wulan
Editor: Purnama Ayu Rizky
Keterangan foto utama: Sebuah gambar handout yang diberikan oleh kantor Presiden Iran Hassan Rouhani pada tanggal 11 Februari 2018 menunjukkan bahwa dia menyampaikan sebuah pidato di Azadi Square di ibukota Teheran dalam sebuah upacara untuk memperingati 39 tahun Revolusi Islam. (Foto: AFP Photo/Kantor Kepresidenan Iran/Stringer)
Protes Iran dan Kecaman Global Usai Pesawat Ukraina Tertembak Jatuh

Kemarahan di Iran dan luar negeri kian meningkat setelah Iran mengakui secara tidak sengaja menembak jatuh sebuah pesawat Ukraina. Pengunjuk rasa di negara itu menuntut agar pihak-pihak yang bersalah dimintai pertanggungjawaban.
Pemerintah Iran bersiap atas peningkatan kecaman domestik dan internasional setelah mengakui pada Sabtu (11/1), mereka secara tidak sengaja menembak jatuh sebuah pesawat komersil Ukraina serta menewaskan semua 176 orang di dalamnya.
Pengakuan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) itu terjadi beberapa hari setelah tragedi pesawat Boeing 737-800 dari Ukraine International Airlines pada 8 Januari 2020. Hal itu menimbulkan pertanyaan mengapa pemerintah Iran awalnya menolak tuduhan Barat, menjadi sasaran tak lama setelah tinggal landas dari Bandara Internasional Iman Khomenei di Teheran.
Hal itu juga menimbulkan pertanyaan mengapa Iran tidak menutup bandara tersebut dan wilayah udaranya pada Rabu (8/1). Saat itu Iran sedang bersiap membalas dendam terhadap Amerika Serikat dengan meluncurkan serangan rudal balistik pada pangkalan Irak yang menampung pasukan Amerika.
Deutsche Welle melaporkan, Jenderal Amir Ali Hajizadeh, kepala pasukan dirgantara IRGC, mengatakan pada Sabtu (11/1), pesawat Ukraina itu tertembak karena secara keliru dianggap sebagai rudal jelajah Amerika pada saat pertahanan udara Iran dalam keadaan siaga tinggi.
Mengambil tanggung jawab penuh atas “kesalahan manusia” yang telah terjadi, Hajizadeh mengaku bahwa ia telah memberi tahu angkatan bersenjata Iran pada Rabu (8/1) segera setelah ia mengetahui bahwa Boeing 737 itu tertembak jatuh. Namun, militer Iran membutuhkan waktu untuk melakukan penyelidikan.
“Keterlambatan dalam mengeluarkan informasi itu tidak dimaksudkan untuk menyembunyikan masalah tersebut, tetapi merupakan latihan rutin bahwa Staf Umum harus mempelajari kasus ini terlebih dahulu. Semua informasi dikumpulkan pada Jumat pagi setelah penyelidikan dan apa yang terjadi menjadi jelas saat itu,” tutur Hajizadeh kepada awak media, dikutip oleh kantor berita Fars yang dikelola pemerintah, dalam upaya untuk menghilangkan spekulasi bahwa angkatan bersenjata Iran dengan sengaja berusaha menutupi peran mereka.
Hajizadeh menambahkan, otoritas penerbangan sipil tidak dapat disalahkan karena menyangkal pesawat tersebut telah ditembak jatuh oleh pertahanan udara Iran karena mereka tidak diberitahu oleh militer.
PROTES ANTI-PEMERINTAH

Sanak famili korban kecelakaan pesawat Ukraina. (Foto: Reuters)
Kecelakaan pesawat Ukraina itu menantang narasi pemerintah Iran bahwa mereka menunjukkan kekuatan dalam mengancam pasukan Amerika Serikat di kawasan itu dalam menanggapi serangan pesawat tak berawak AS di Baghdad yang menewaskan komandan Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayor Jenderal Qassem Soleimani, sebelum akhirnya militer Iran secara tidak sengaja menembak jatuh pesawat komersil Ukraina yang sebagian besar diisi oleh warga negara Iran maupun dua warga negara ganda yang salah satunya Iran.
Menurut laporan Deutsche Welle, kejadian itu juga menghilangkan kemarahan publik terhadap Amerika dan sentimen nasionalis yang berusaha dimanfaatkan pemerintah Iran setelah kematian Soleimani. Ratusan ribu orang telah bergabung dalam prosesi untuk menghormati pemakaman sang jenderal. Dalam tragedi lain, puluhan orang terbunuh di tengah lairan sejumlah besar massa selama pemakaman Soleimani.
Ketika militer dan pemerintah Iran mengakui kecelakaan itu dan menyampaikan permintaan maaf pada Sabtu (11/1), ribuan warga Iran di ibu kota Iran, Teheran serta kota-kota Shiraz, Esfahan, Hamedan, dan Orumiyeh menuntut agar pihak yang bersalah atas kecelakaan itu dimintai pertanggungjawaban.
Video-video yang tidak terverifikasi yang diunggah di Twitter menunjukkan para demonstran membakar foto-foto Soleimani dan menuntut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khameini mundur. Sementara itu, di berbagai tempat lain polisi membubarkan pengunjuk rasa dengan gas air mata. Pada salah satu protes di depan Universitas Amir Kabir di Teheran, duta besar Inggris ditangkap sesaat karena menghasut demonstran anti-pemerintah, menurut laporan kantor berita Tasnim.
Mehdi Karroubi, pemimpin Gerakan Hijau 2009-2010 yang sekarang hidup di bawah tahanan rumah, meminta Khamenei untuk mundur karena kelalaian dalam menangani penembakan pesawat itu.
Dalam sebuah pernyataan yang diunggah online, mantan ketua parlemen dan kandidat presiden Iran itu mempertanyakan kapan Khamenei diberitahu tentang kecelakaan itu dan mengapa ada penundaan untuk memberi tahu publik tentang penyebab sebenarnya kecelakaan itu.
AMERIKA PERINGATKAN TINDAKAN KERAS
Dikutip dari Deutsche Welle, dalam pernyataan publik pertamanya setelah pengakuan Iran, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengunggah video di Twitter yang menunjukkan para demonstran di Teheran. “Suara rakyat Iran terdengar jelas. Mereka sudah muak dengan kebohongan rezim, serta korupsi, ketidakmampuan, dan kebrutalan IRGC (Korps Garda Revolusi) di bawah kleptokrasi Khamenei. Kami mendukung rakyat Iran yang berhak mendapatkan masa depan yang lebih baik.”
Skala protes pada Sabtu (11/1) sulit diukur, tetapi terjadi kurang dari dua bulan setelah pemerintah Iran secara brutal menumpas demonstrasi besar anti-pemerintah yang telah menewaskan ratusan orang.
Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan bagi pemerintah Iran yang melakukan “pembantaian lain terhadap para demonstran damai,” tulisnya di Twitter. “Dunia sedang menyaksikan.”
Penerjemah: Fadhila Eka Ratnasari
Editor: Purnama Ayu Rizky
Keterangan foto utama: Puing-puing pesawat dan barang yang diyakini milik penumpang pesawat Ukraina. (Foto: Reuters)
Subscribe to:
Posts (Atom)