
Protes Irak yang telah berlangsung sejak dua bulan lalu diwarnai dengan aksi penembakan terhadap para pengunjuk rasa. Hingga kini, masih belum jelas siapa yang membunuh selusin pengunjuk rasa, dan meluncurkan serangan pengeboman terhadap rumah ulama anti-pemerintah Muqtada al-Sadr.
Penyerang tak dikenal telah menewaskan belasan pengunjuk rasa anti-pemerintah di ibu kota Irak, Baghdad. Presiden Irak Barham Salih menuduh serangan itu dilakukan oleh geng-geng kriminal. Sementara itu, sebuah pesawat tak berawak mengebom rumah seorang ulama Syiah terkemuka Irak yang telah menjadi pendukung utama gerakan protes.
The New York Times melaporkan, pengeboman terhadap rumah ulama Moktada al-Sadr di kota selatan Najaf itu terjadi beberapa jam setelah serangan terhadap para pengunjuk rasa. Mereka saat itu tengah berada di sebuah gedung, tempat banyak pendukung al-Sadr berkumpul untuk melakukan demonstrasi menuntut demonstrasi perubahan dalam sistem pemerintahan, penghapusan korupsi, dan pengekangan pengaruh Iran terhadap Irak. Tidak ada yang terluka dalam pemboman di rumah al-Sadr di Najaf.
Serangan mematikan terhadap pengunjuk rasa oleh penyerang bersenjata tak dikenal sudah jarang terjadi sejak protes dimulai lebih dari dua bulan lalu. Serangan saling balas telah meningkatkan ketegangan antara pasukan keamanan Irak dan para demonstran.
“Rakyat Irak berada pada titik didih,” tutur Sa’ad Maye al-Hilfi, anggota Komite Pertahanan dan Keamanan Parlemen Irak, yang berencana mengadakan pertemuan darurat pada Minggu (8/12).
Tidak ada seorang pun yang mengaku bertanggung jawab atas kekerasan itu. Dengan pasukan keamanan negara itu ditarik ke berbagai arah yang berbeda, tidak jelas siapa yang mungkin memberikan perintah.
Presiden Salih telah bertindak sementara sebagai kepala negara sejak Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi mengundurkan diri pada November 2019. Parlemen Irak hingga kini belum menyebutkan penggantinya. Perdana menteri adalah panglima tertinggi di Irak. Tanpa kepemimpinannya, tidak jelas siapa yang bertanggung jawab atau menentukan prioritas pasukan keamanan.
Beberapa pasukan berada di bawah komando Kementerian Pertahanan, sementara yang lain di bawah komando Kementerian Dalam Negeri, dan sisanya dikendalikan oleh Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Irak, yang secara teknis melapor ke komando operasi bersama.
Sebagian Pasukan Mobilisasi Populer memiliki hubungan dekat dengan Iran dan termasuk di antara 30 kelompok bersenjata yang sekarang diintegrasikan ke dalam struktur keamanan. Namun, beberapa kelompok bersenjata berat yang dekat dengan Iran tetap berada di luar proses integrasi itu.
Terdapat dua atau tiga kelompok ekstremis bersenjata yang menentang pemerintah, sama halnya dengan para pengunjuk rasa, yang kian memperumit lanskap keamanan Irak. Namun, kelompok-kelompok tersebut tampaknya bertekad mengganggu protes damai dengan serangan bersenjata.
Kehadiran mereka memungkinkan elemen-elemen jahat di dalam berbagai pasukan keamanan pemerintah untuk beroperasi dengan bebas hukuman dan menyalahkan kelompok-kelompok ekstremis atas kegiatan mereka.
Presiden Salih mengatakan, penembakan para demonstran adalah “tindakan kriminal, serangan bersenjata yang dilakukan oleh geng penjahat dan melanggar hukum.” Dia memperingatkan pasukan keamanan, mengatakan tanggung jawab mereka tidak hanya untuk melindungi “demonstran damai dan properti publik dan pribadi”, tetapi juga untuk “mengejar penjahat ilegal, menangkap mereka, dan membawa mereka ke pengadilan untuk dijatuhi hukuman.”
Dikutip dari The New York Times, para pengunjuk rasa ditembak di dekat Jembatan Sinak yang membentang di atas Sungai Tigris, salah satu dari tiga jembatan yang telah diambil alih demonstran. Selain jumlah korban jiwa, sekitar 100 orang terluka dalam penembakan tersebut.
Serangan itu dimulai di garasi parkir enam lantai yang menghadap ke jembatan dan Sungai Tigris. Garasi itu adalah salah satu dari dua bangunan yang telah menjadi kubu pengunjuk rasa.
“Apa yang terjadi adalah pada jam 8 malam kemarin, kami terkejut ketika kami mendengar perkelahian terjadi di lantai empat dan kemudian tiba-tiba ada penembakan,” lapor Murtada Saad (18), pengemudi tuk tuk yang bekerja di sekitar jembatan dan telah mengendarai kendaraan roda tiga miliknya ke dalam gedung.
Tak lama berselang, terjadi penembakan di luar gedung serta di lapangan terdekat yang juga diduduki oleh para demonstran. Saksi mata menggambarkan situasi kacau. Beberapa pria bersenjata tampaknya mengenakan seragam militer pasukan pemerintah, dengan sejumlah orang di antaranya mengenakan seragam Pasukan Mobilisasi Populer dan beberapa lainnya mengenakan pakaian sipil.
Para pengunjuk rasa segera meminta militer Irak untuk turun tangan. Namun, beberapa tentara justru diserang ketika mereka tiba, menurut The New York Times, menambah kebingungan dan memaksa mereka untuk mundur.
Para saksi mata mengatakan setidaknya beberapa penyerang, mungkin semuanya, melaju dengan truk pickupputih. Rekaman video menunjukkan terdapat setidaknya tujuh kendaraan. Suara penembakan terus-meneru terdengar dalam video tersebut saat truk melaju pergi.
Selama beberapa minggu terakhir, para pengikut al-Sadr telah menduduki garasi parkir di dekat Jembatan Sinak. Saad, sopir tuk tuk, mengatakan pada Sabtu (7/12) bahwa beberapa hari yang lalu, beberapa orang datang ke gedung itu. Mereka mengaku berasal dari selatan Irak dan telah mendirikan tenda di lantai empat.
“Tidak ada satu pun dari orang-orang kami yang menggeledah dua tenda itu karena, sayangnya, beberapa dari kami menerima suap dan siapapun dapat membawa apa pun ke dalam gedung,” keluh Saad, dilansir dari The New York Times.
“Jadi mereka membawa senjata ke gedung,” sambungnya.
Saad melanjutkan, “Pada awalnya, kami diserang dari dalam gedung oleh para penyusup, dan kemudian kami dikejutkan oleh penembakan berat dan banyak kendaraan. Telah terjadi pembantaian.”
Komisi Pasukan Mobilisasi Populer mengatakan kepada para pengikutnya untuk mematuhi arahan pasukan pertahanan Irak dan menjauh dari pusat-pusat protes.
Al-Sadr mengatakan kepada pengikutnya di Twitter untuk segera pulang atau untuk tetap tinggal di area protes yang padat penduduk.
Disadur dari The New York Times, beberapa pengunjuk rasa yang menjaga Jembatan Sinak tetap berada di sana pada Sabtu (7/12) untuk meratapi teman-teman mereka yang menjadi korban jiwa.
Karar Jabar (25) mengaku telah mengenal Mustafa Kamal (21) selama bulan terakhir protes Irak. Mereka saling mengunjungi di pos-pos mereka di sejumlah jembatan yang berbeda.
“Kami dikejutkan oleh kebakaran hebat sekitar jam 8 tadi malam. Saya mencoba berbicara dengan mereka, tetapi mereka benar-benar pembunuh yang jahat,” ujar Jabar.
“Teman saya Mustafa, yang saya datangi untuk melihat di sini di Sinak, terbunuh oleh tembakan penembak jitu,” katanya sambil membungkuk untuk menyalakan lilin di atas beton di sekitar darah kering tempat temannya gugur. “Mereka memperlakukan kami dengan brutal seolah-olah kami adalah musuh mereka,” kisahnya.




