
Para pemberontak Yaman menargetkan bandara di Najran dengan drone bersenjata, seminggu setelah terjadinya serangan terkoordinasi terhadap pipa minyak Saudi. Serangan drone Houthi ini dilaporkan menargetkan gudang senjata Saudi. Pekan lalu, Houthi meluncurkan serangan drone terkoordinasi terhadap pipa minyak Saudi, di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Oleh: Al Jazeera
Pemberontak Houthi Yaman mengatakan bahwa mereka meluncurkan pesawat tanpa awak bermuatan bom ke Arab Saudi, yang menargetkan sebuah bandara dengan pangkalan militer—serangan yang diakui oleh Kerajaan Saudi.
Tidak jelas apakah ada korban cedera atau seberapa besar tingkat kerusakan akibat serangan drone Houthi ini.
Saluran berita Almasirah milik Houthi mengatakan pada Selasa (21/5) pagi, bahwa serangan itu menghantam bandara di Najran dengan pesawat tanpa awak Qasef-2K, dan menyerang sebuah “gudang senjata”.
Najran—840 kilometer barat daya Riyadh—terletak di perbatasan Saudi-Yaman dan telah berulang kali menjadi sasaran para Houthi.
Sebuah pernyataan sebelumnya yang dikutip oleh Saudi Press Agency yang dikelola pemerintah, yang mengutip juru bicara koalisi yang dipimpin Saudi Kolonel Turki al-Maliki, mengatakan bahwa Houthi “telah mencoba menargetkan” sebuah situs sipil di Najran, tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Al-Maliki memperingatkan bahwa akan ada “perlawanan kuat” untuk serangan semacam itu, dan menggambarkan kaum Houthi sebagai “milisi teroris Iran”.
Serangan serupa Houthi di masa lalu telah mendorong putaran serangan udara yang dipimpin Saudi di Yaman, yang telah banyak dikritik internasional karena membunuh warga sipil.
Bandara sipil di seluruh Timur Tengah sering menjadi tempat pangkalan militer.
WARGA AMERIKA DI NAJRAN?
The New York Times tahun lalu melaporkan bahwa para analis intelijen Amerika Serikat (AS) berbasis di Najran, yang membantu Saudi dan penempatan Baret Hijau Angkatan Darat AS di perbatasan.
Pentagon dan Komando Pusat militer AS tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Konflik Yaman telah menewaskan puluhan ribu orang sejak koalisi militer pimpinan Saudi melakukan intervensi dengan kampanye pengeboman udara yang menghancurkan, untuk mendukung pemerintah yang terkepung pada Maret 2015, setelah Houthi menggulingkan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi dan memaksanya keluar dari Sanaa, ibu kota Yaman.
Pertempuran itu telah memicu apa yang digambarkan PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia, di mana 3,3 juta orang terlantar dan 24,1 juta orang—lebih dari dua pertiga populasi—membutuhkan bantuan.
Pekan lalu, Houthi meluncurkan serangan drone terkoordinasi terhadap pipa minyak Saudi, di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Awal bulan ini, para pejabat di Uni Emirat Arab (UEA) menuduh bahwa empat kapal tanker minyak disabotase, dan para diplomat AS menyampaikan peringatan bahwa para maskapai penerbangan komersial dapat salah diidentifikasi oleh Iran dan diserang—sesuatu yang dibantah oleh Teheran.
‘PERANG EKONOMI’
Serangan terhadap kota Najran di Saudi terjadi seiring Iran mengumumkan telah meningkatkan kapasitas produksi pengayaan uraniumnya empat kali lipat di tengah ketegangan dengan AS, yang digarisbawahi oleh pertukaran ancaman dan ejekan pada Senin (20/5) di Twitter antara Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Iran.
Presiden Iran Hassan Rouhani, sementara itu, dikutip oleh kantor berita milik pemerintah Iran, IRNA, mengatakan kepada sekelompok ulama bahwa ia sedang mencari kekuatan eksekutif masa perang untuk menangani lebih baik “perang ekonomi” yang dipicu oleh penarikan pemerintahan Trump dari kesepakatan nuklir Iran dan peningkatan sanksi AS.
Para pejabat nuklir Iran menekankan bahwa uranium hanya akan diperkaya hingga batas 3,67 persen yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 bersama berbagai kekuatan dunia, yang membuatnya dapat digunakan untuk pembangkit listrik—tetapi jauh di bawah apa yang dibutuhkan untuk senjata atom.
Tetapi dengan meningkatkan produksi, Iran akan segera melampaui batasan persediaan yang ditentukan oleh perjanjian tersebut.
Teheran telah menetapkan batas waktu 7 Juli bagi Eropa untuk menetapkan persyaratan baru untuk kesepakatan itu, atau Iran akan memperkaya uranium ke tingkat pembuatan senjata.
AS telah mengerahkan pesawat pengebom dan kapal induk ke wilayah Teluk karena ancaman yang belum pasti dari Iran.
Keterangan foto utama: Para pengikut Houthi bersenjata mengangkat senapan mereka di sebuah pertemuan untuk menunjukkan dukungan bagi gerakan mereka di Sanaa, Yaman, 19 Desember 2018. (Foto: Reuters)
No comments:
Post a Comment