MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Monday, April 29, 2019

Arab Saudi Penggal 37 Orang sebagai Pesan Politik untuk Iran

Arab Saudi Penggal 37 Orang sebagai Pesan Politik untuk Iran

baru saja mengeksekusi 37 orang warganya dalam satu hari, eksekusi terbesar yang dilakukan kerajaan itu sejak 2016. Dalam pengeksekusian atas tuduhan terorisme itu, kebanyakan yang dijatuhi hukuman mati adalah warga Muslim Syiah. Fakta ini memunculkan anggapan bahwa pengeksekusian massal ini adalah pesan bagi Iran.
Oleh: AP/ABC News
Arab Saudi telah memenggal 37 warganya—sebagian besar dari mereka adalah minoritas Syiah—dalam sebuah eksekusi massal di seluruh negeri atas tuduhan kejahatan terkait terorisme, dan secara publik mempertunjukan tubuh dan kepala seorang ekstremis Sunni yang dieksekusi di sebuah tiang, sebagai peringatan kepada orang lain.
Eksekusi itu kemungkinan akan memicu ketegangan regional dan sektarian lebih lanjut antara rival Arab Saudi dan Iran.
Pembangkang Saudi Ali al-Ahmed—yang mengelola Gulf Institute di Washington—mengidentifikasi 34 di antara mereka yang dieksekusi sebagai Syiah, berdasarkan nama-nama yang diumumkan oleh Kementerian Dalam Negeri.
“Ini adalah eksekusi massal Syiah terbesar dalam sejarah kerajaan Saudi,” katanya.
Amnesty International juga mengonfirmasi bahwa sebagian besar dari mereka yang dieksekusi adalah orang-orang Syiah. Kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa mereka dihukum “setelah persidangan palsu”, yang mengandalkan pengakuan yang diperoleh melalui penyiksaan.
Ini menandai jumlah eksekusi terbesar dalam satu hari di Arab Saudi sejak 2 Januari 2016, ketika kerajaan Saudi mengeksekusi 47 orang atas kejahatan terkait terorisme, dalam eksekusi massal terbesar yang dilakukan oleh otoritas Saudi sejak tahun 1980.
Di antara mereka yang dieksekusi tiga tahun lalu adalah empat orang Syiah, termasuk ulama Syiah terkemuka Nimr al-Nimr, yang kematiannya memicu protes dari Pakistan hingga Iran dan penggeledahan Kedutaan Besar Saudi di Teheran. Hubungan Saudi-Iran belum pulih dan kedutaan itu masih ditutup.
Raja Salman meratifikasi melalui dekrit kerajaan untuk eksekusi massal pada Selasa (23/4) dan eksekusi tahun 2016. Raja Salman—yang telah memberdayakan Putra Mahkota Mohammed bin Salman—telah menegaskan gaya kepemimpinan yang lebih berani dari raja-raja sebelumnya sejak naik takhta pada tahun 2015.
Kerajaan Saudi dan sekutu Arab yang dipimpin Sunni juga semakin berani, akibat dedikasi tak tergoyahkan Presiden AS Donald Trump untuk menekan kepemimpinan ulama Syiah Iran, yang mencakup keputusan Trump untuk menarik diri dari perjanjian nuklir dengan Iran dan menerapkan kembali sanksi hukuman untuk melumpuhkan ekonomi Iran.
Al-Ahmed menggambarkan eksekusi pada Selasa (23/4) sebagai pesan bermotif politik untuk Iran.
“Mereka tidak harus mengeksekusi orang-orang ini, tetapi penting bagi mereka untuk mengendarai gelombang anti-Iran Amerika,” katanya.

SEKITAR 100 EKSEKUSI SEJAK AWAL TAHUN 2019

Pernyataan Kementerian Dalam Negeri Saudi mengatakan bahwa mereka yang dieksekusi telah mengadopsi ideologi ekstremis dan membentuk sel-sel teroris, dengan tujuan menyebarkan kekacauan dan memicu perselisihan sektarian.
Kementerian itu mengatakan bahwa orang-orang itu dinyatakan bersalah menurut hukum dan diperintahkan dieksekusi oleh Pengadilan Pidana Khusus di Riyadh—yang berspesialisasi dalam pengadilan terorisme—dan Pengadilan Tinggi negara itu.
Orang-orang itu dinyatakan bersalah karena menyerang instalasi keamanan dengan bahan peledak, menewaskan sejumlah petugas keamanan, dan bekerja sama dengan organisasi musuh melawan kepentingan negara, kata Kementerian Dalam Negeri.
Pernyataan itu tidak mengatakan di kota mana Arab Saudi menggelar pertunjukan publik itu.
Amnesty mengatakan bahwa 11 dari orang-orang itu dihukum karena melakukan mata-mata untuk Iran dan dijatuhi hukuman mati setelah “sidang pengadilan yang sangat tidak adil”. Setidaknya 14 orang lainnya yang dieksekusi, dihukum karena melakukan tindak kekerasan terkait dengan keikutsertaan mereka dalam demonstrasi anti-pemerintah di daerah berpenduduk Syiah di Arab Saudi pada tahun 2011 dan 2012.
Kementerian Dalam Negeri Saudi mengatakan bahwa mayat salah satu pria yang dieksekusi—Khaled bin Abdel Karim al-Tuwaijri—secara publik dipertunjukan di tiang.
Dia tampaknya telah dihukum sebagai militan Sunni, meskipun Pemerintah tidak memberikan penjelasan rinci tentang tuduhan terhadap setiap individu yang dieksekusi.
Pemerintah membela eksekusi seperti itu sebagai alat ampuh untuk pencegahan.
Mereka yang dieksekusi berasal dari Riyadh, Mekah, Madinah, dan Asir, serta daerah berpenduduk Muslim Syiah di Provinsi Timur dan Qassim. Eksekusi itu juga dilakukan di berbagai daerah tersebut.
Ini membuat jumlah orang yang dieksekusi di Arab Saudi sejak awal tahun menjadi sekitar 100 orang, menurut pengumuman resmi. Tahun lalu, kerajaan Saudi mengeksekusi 149 orang, kebanyakan dari mereka adalah penyelundup narkoba yang dihukum karena kejahatan tanpa kekerasan, menurut angka terbaru Amnesty.
Keterangan foto utama: Eksekusi massal ini menandai eksekusi terbesar dalam satu hari sejak tahun 2016. (Foto: AP/Cliff Owen)

No comments:

Post a Comment