MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Sunday, November 11, 2018

Pasukan Yaman ‘Rebut Rumah Sakit Utama Hodeidah’ di Tengah Serangan Udara



Pasukan Yaman yang didukung Arab Saudi mengklaim bahwa mereka telah menundukkan Rumah Sakit May 22 di Kota Hodeidah yang sebelumnya direbut oleh pejuang Houthi. Krisis kemanusiaan di Yaman terus memburuk, dan kota Hodeidah yang menjadi akses masuk utama barang-barang di Yaman telah mendekati kemusnahan. Pembicaraan damai antara kedua pihak yang bertikai telah ditunda sampai akhir tahun.
Oleh: Al Jazeera
Pasukan Yaman, didukung oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, telah merebut kontrol dari sebuah rumah sakit di sebelah barat kota Hodeidah. Awal minggu ini, rumah sakit itu diambil alih oleh pejuang Houthi.
Kantor berita AFP melaporkan para hari Sabtu, tentara Yaman merebut rumah sakit May 22 yang berada di pinggir kota bagian selatan kota tersebut. Rumah sakit itu oleh pejuang Houthi telah digunakan untuk memposisikan penembak jitu—pelanggaran dari hukum internasional.
Satu sumber dari dalam kota mengatakan pada Al Jazeera bahwa pasukan Yaman, berjumlah ribuan, juga telah merebut Fakultas gedung Fakultas Teknik dari Universitas Hodeidah, yang terletak 4 m dari pelabuhan penting kota tersebut.
Sumber tadi mengatakan, jalan-jalan kota, yang biasanya akan dipenuhi orang dan lalu lintas, telah menjadi kosong dengan suara peluru terdengar hampir konstan di kejauhan.
Hodeidah, satu kota besar di pesisir Laut Merah Yaman, adalah medan pertempuran terbaru antara Houthi dan aliansi militer Saudi-UEA, yang telah bertempur memperebutkan kontrol negara selama tiga setengah tahun terakhir.
Sejak tanggal 3 November, telah terjadi lebih dari 200 serangan udara dilaporkan terhadap kota itu, dengan setidaknya 150 orang dikonfirmasi tewas.
Media afiliasi Houthi, Al-Masirah, mengatakan, lebih dari 30 serangan udara di kawasan rumah sakit pada hari Jumat, membunuh setidaknya dua penduduk sipil, termasuk seorang anak perempuan, dan melukai 15 penduduk sipil.
Laporan itu belum bisa diverifikasi.

“MENDEKATI KEMUSNAHAN”

Badan-badan bantuan telah lama memperingatkan, pertempuran di Hodeidan berisiko meningkatkan krisis kemanusiaan negara yang telah porak-poranda oleh perang tersebut.
Lebih dari 70 persen makanan, bantuan, bahan bakar, dan barang-barang komersil masuk ke Yaman melalui pelabuhan Hodeidah.
Pada pernyataan di hari Jumat, Dewan Pengungsi Norwegia (NRC/Norwegia Refugee Council), badan amal yang beroperasi di beberapa bagian negara itu, mengutuk serangan terakhir ini dan memperingatkan Hodeidah “mendekati kemusnahan”.
Penghalang jalan sementara telah diberdirikan di sepanjang kota, ujar kelompok tadi, mencegah orang-orang masuk atau pergi—dengan tujuan menjebak mereka di dalam medan perang aktif.
“Kami memperingatkan komunitas internasional bahwa sebuah serangan terhadap kota akan datang, dan hal itu telah erjadi. Kami memperingatkan bahwa kekerasan ini akan membuat setengah juta orang lagi akan kabur meninggalkan rumah mereka, dan itu telah terjadi.
“Kami kini memperingatkan, jika hal ini terus berlangsung, pihak yang berkonflik dan pendukung mereka akan bertanggung jawab atas kematian, luka-luka dan penderitaan jugaan orang,” ujar NRC.
Babak baru pembicaraan damai untuk mengakhiri perang, yang telah menewaskan 56.000 orang menurut perkiraan terakhir telah dijadwalkan untuk dilangsungkan di Swedia pada bulan November, namun telah ditunda sampai Desember.
Pada tanggal 30 Oktober, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo dan James Mattis, kepala Pentagon, menghimbau gencatan senjata selama 30 hari dan meminta kedua pihak yang bertikai untuk bertemu dengan Utusan Khusus PBB Martin Griffiths di Swedia.
Namun, pada hari Kamis, PBB mengatakan utusan khusus mereka akan melakukan pembicaraan di akhir tahun.

“SAUDI TIDAK TERTARIK PADA DIPLOMASI”

Menulis di Washington Post, Mohammed Ali al-Houthi, kepala dari Komite Tinggi Revolusioner Houthi, menyebut himbauan gencatan senjata Amerika “hanyalah omong kosong.”
“Pemimpin Saudi ceroboh dan tidak tertarik pada diplomasi,” ujarnya.
“Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk mengakhiri konflik—namun mereka memilih untuk melindungi sekutu yang korup.
“Trump dan administrasinya jelas memilih untuk melanjutkan perang yang mematikan ini karena pengembalian ekonomi produksi mereka—mereka tergiur keuntungan penjualan senjata,” tambah al-Houthi.
Konflik di Yaman, negara Arab paling miskin, dimulai ketika pemerintah Yaman memangkas subsidi bahan bakar pada musim panas 2014, memicu protes marah dan memaksa ribuan orang turun ke jalan-jalan ibu kota.
Houthi mengeksploitasi kekacauan ini dan berbaris ke selatan dari markas mereka di provinsi Saada ke Sanaa, dan menggulingkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.
Khawatir akan bangkitnya Houthi, koalisi militer Arab Saudi-UEA yang didukung Amerika Serikat mengintervensi pada tahun 2015 dengan kampanye udara besar-besaran yang bertujuan untuk memposisikan kembali pemerintahan Hadi.
Sejak saat itu, data yang dikumpulkan oleh Al Jazeera dan Yemen Data Project telah menemukan lebih dari 18.000 serangan udara diluncurkan di Yaman, dengan sepertiga dari misi serangan bom itu menyerang situs-situs non-militer.
Pernikahan, pemakaman, rumah sakit dan sekolah-sekolah, begitu juga dengan pembangkit air dan listrik, telah menjadi target, menewaskan dan melukai ribuan orang.
Keterangan foto utama: Koalisi negara-negara Arab meluncurkan serangan militer pada tahun 2015 untuk mengalahkan kelompok Houthi dan mengembalikan pemerintahan Yaman. (Foto: EPA)

No comments:

Post a Comment