
Walau para penyelidik belum menyimpulkan apa yang menyebabkan pesawat Lion Air JT610 terjerumus ke laut, namun mereka tahu bahwa pada hari-hari sebelum kecelakaan itu, pesawat tersebut telah mengalami masalah berulang di beberapa sistem yang sama yang dapat menyebabkan pesawat itu menukik tajam ke laut. Jika terdapat kesalahan, pilot harus mengambil keputusan dalam hitungan detik. Dan mengharapkan seseorang melakukan segalanya dengan benar dalam tekanan yang tinggi sangatlah sulit. Maka dari itu, hal tersebut harus dicegah sebisa mungkin.
Oleh: Hannah Beech dan Keith Bradsher (The New York Times)
Saat-saat terakhir dari Lion Air Penerbangan 610—seiring pesawat itu meluncur pada pagi hari dari langit Indonesia yang tenang ke perairan Laut Jawa—pasti sangat menakutkan tetapi terjadi dengan cepat.
Pesawat Boeing dengan lorong tunggal tersebut—yang dirakit di Negara Bagian Washington dan dikirim ke Lion Air kurang dari tiga bulan yang lalu—tampaknya telah menukik tajam ke dalam air, mesin canggihnya memacu pesawat menuju ombak dengan kecepatan 400 mil per jam dalam waktu kurang dari satu menit.
Pesawat itu menabrak laut dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga beberapa peralatan logam di pesawat berubah menjadi bubuk, dan perekam data penerbangan pesawat itu terlepas dari kotak berlapis baja, terdorong ke dasar laut berlumpur.
Seiring para penyelidik Amerika dan Indonesia menemukan teka-teki tentang apa yang salah, mereka tidak berfokus pada satu waktu, tetapi pada isu-isu bermasalah yang berakhir dengan kematian semua 189 orang di dalamnya.
Itu hampir selalu terjadi dalam kecelakaan pesawat, di mana bencana jarang dapat disematkan pada satu faktor. Walau para penyelidik belum menyimpulkan apa yang menyebabkan Penerbangan 610 terjerumus ke laut, namun mereka tahu bahwa pada hari-hari sebelum kecelakaan itu, pesawat tersebut telah mengalami masalah berulang di beberapa sistem yang sama yang dapat menyebabkan pesawat itu menukik tajam ke laut.
Pertanyaan tentang masalah-masalah itu dan bagaimana masalah itu ditangani, merupakan pengingat yang serius dari kepercayaan yang kita tunjukkan setiap kali kita mengikat sabuk pengaman dan terbang ke langit dalam sebuah tabung logam.
Pada tanggal 29 Oktober, pada pagi hari dengan sedikit angin, apa yang tampaknya menjadi serangkaian masalah yang sempurna—mulai dari kesalahan data berulang yang berasal dari instrumen pesawat terbang, hingga maskapai penerbangan dengan catatan keamanan yang menyedihkan—mungkin telah membuat pilot muda pesawat tersebut menghadapi tantangan yang tak dapat diatasi.
Pada Rabu (7/11), Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat (AS) memperingatkan bahwa data yang salah diproses di pesawat Max 8 tersebut, dapat menyebabkan pesawat tiba-tiba jatuh. Para penyelidik yang memeriksa Penerbangan 610 tersebut mencoba untuk menentukan apakah itu yang terjadi.
Boeing minggu ini mengeluarkan buletin global yang menasihati para pilot untuk mengikuti manual operasinya dalam kasus-kasus seperti itu. Tetapi untuk melakukannya, kata para ahli, akan mengharuskan kapten Penerbangan 610, Bhavye Suneja (seorang warga negara India berusia 31 tahun), dan rekannya, Harvino, (seorang warga Indonesia berusia 41 tahun), untuk membuat keputusan dalam hitungan detik di momen kepanikan yang hampir pasti.
Mereka harus menyadari bahwa masalah dengan pembacaan di layar kokpit menyebabkan penurunan tiba-tiba. Kemudian, menurut FAA, mereka harus mengambil kendali fisik pesawat tersebut.
Itu bukan masalah sederhana soal menekan tombol. Sebagai gantinya, para pilot berkata, Kapten Suneja dapat menguatkan kakinya di dasbor dan menarik kuk, atau roda kontrol, kembali dengan seluruh kekuatannya. Atau dia bisa melakukan proses empat langkah untuk mematikan daya ke motor listrik di ekor pesawat, yang menyebabkan pesawat menukik ke bawah.
Semua ini harus terjadi dalam hitungan detik—atau pesawat akan berada dalam risiko serius untuk jatuh.
“Mengharapkan seseorang yang berada pada tekanan tinggi untuk melakukan segalanya dengan benar, sangatlah sulit,” kata Alvin Lie, seorang pakar penerbangan Indonesia dan ombudsman negara tersebut. “Itu sebabnya Anda tidak ingin menempatkan pilot dalam situasi seperti itu jika ada hal yang dapat Anda lakukan untuk menghentikannya.”
LANGIT YANG PENUH
Bahkan seiring semakin banyak orang yang terbang, penerbangan menjadi lebih aman. Tahun lalu adalah yang paling aman dalam sejarah perjalanan udara komersial. Rata-rata, hanya satu dari setiap 16 juta penerbangan yang menghasilkan kecelakaan mematikan, menurut Jaringan Keselamatan Penerbangan. Hampir satu dekade telah berlalu sejak kecelakaan fatal yang dialami oleh sebuah maskapai Amerika.
Namun, seiring dengan semakin banyaknya bukti, tampaknya nasib Penerbangan 610 dapat menggambarkan bagaimana rantai peristiwa individual—terutama dengan pesawat yang sangat otomatis—dapat menyebabkan konsekuensi yang fatal.
Kecelakaan itu juga menunjukkan masalah yang berkembang dalam penerbangan, yang secara tidak langsung disebabkan oleh munculnya maskapai penerbangan berbiaya rendah dan pertumbuhan eksplosif dalam jumlah orang yang mampu terbang.
Walau Boeing dan saingannya di Eropa, Airbus, memproduksi pesawat secepat yang mereka bisa, namun jumlah pilot yang berpengalaman, insinyur pesawat terbang, mekanik, dan bahkan regulator keamanan udara, masih tertinggal.
“Masalahnya adalah, maskapai yang kurang diminati adalah yang memiliki sumber daya paling sedikit, yang sangat kekurangan dalam hal sumber daya manusia,” kata Martin Craigs, ketua Aerospace Forum Asia, kelompok advokasi industri di Hong Kong.
Kisah Lion Air dimulai hampir 20 tahun yang lalu, ketika sebuah agen perjalanan Indonesia dan saudaranya mendirikannya sebagai maskapai penerbangan yang akan menawarkan penerbangan murah antara pulau-pulau yang tersebar di seluruh kepulauan negara berpenduduk padat tersebut.
Bahkan seiring perusahaan yang terhubung secara politik tersebut—yang memiliki beberapa maskapai penerbangan—mendorong ekspansi agresif dengan pinjaman dari bank dan lembaga kredit pemerintah, maskapai itu juga memiliki setidaknya 15 penyimpangan keamanan utama. Pilot mengeluh bahwa mereka terlalu banyak bekerja dan dibayar rendah, dan beberapa yang menantang perusahaan tersebut terkait masalah kontrak, sekarang dipenjara.
Yang lebih memprihatinkan, pilot mengatakan bahwa budaya di maskapai ini mengabaikan keselamatan. Seorang pilot yang menolak menerbangkan sepasang pesawat yang dianggapnya tidak aman, akhirnya dikesampingkan oleh Lion Air dan menyelesaikan kasusnya di pengadilan beberapa tahun kemudian.
Seorang mantan penyelidik untuk Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengatakan bahwa Lion Air berulang kali mengabaikan perintah untuk mendaratkan pesawat atas masalah keamanan. Pilot dan mantan regulator keamanan mengatakan bahwa penerbangan Lion Air dan kru pemeliharaan secara teratur mengisi dua buku log, satu asli dan satu palsu, untuk menyembunyikan penyimpangan.
Anggota keluarga bersedih di atas peti-peti korban Penerbangan 610. (Foto: Getty Images/Ed Wray)
Edward Sirait—Direktur Umum Lion Air—mengatakan dalam sebuah wawancara, bahwa maskapai itu mempertimbangkan keselamatan, bersama dengan ekspansi bisnis, sebagai prioritas utamanya. Dia membantah adanya pilot log palsu.
“Mereka pilot,” katanya. “Mereka profesional.”
Sirait juga mengatakan bahwa dia tidak memiliki informasi tentang apa yang mungkin menyebabkan kecelakaan Penerbangan 610. “Saya bukan insinyur,” katanya.
Banyak pakar penerbangan yang skeptis terhadap perusahaan tersebut. “Budaya perusahaan Lion bertentangan dengan keselamatan,” kata Lie, sang ombudsman. “Jika mereka dapat menerbangkan pesawat, mereka akan melakukannya, daripada mendarat dan mencari tahu apa masalahnya.”
Selama dua hari sebelum Penerbangan 610 memulai perjalanan terakhirnya, terdapat indikasi berulang bahwa pilot mendapatkan data yang salah—mungkin dari instrumen yang mengukur kecepatan dan sudut kunci pesawat—yang akan membahayakan kemampuan mereka untuk terbang dengan selamat.
Para insinyur mencoba untuk mengatasi masalah ini di setidaknya tiga bandara, kata para penyelidik Indonesia.
Setelah penerbangan kedua terakhir pesawat tersebut, misalnya, para teknisi mencatat dalam log pemeliharaan bahwa mereka telah memperbaiki tabung pilot, pemeriksaan eksternal pada pesawat yang mengukur kecepatan udara relatif. Sebelumnya pada hari itu, di pulau resor Bali, para insinyur mengganti sebuah sensor yang mengukur sudut di mana angin yang berhembus melintasi pesawat.
Disebut sensor angle of attack (sudut serang), instrumen ini memberitahu pilot jika hidung pesawat terlalu tinggi, yang bisa menyebabkan pesawat mogok. Di Max 8, jika data menunjukkan hidung terlalu tinggi, sistem pesawat akan secara otomatis menarik hidung ke bawah.
Jika data sensor salah, sistem bisa menyebabkan pesawat untuk menukik ke bawah.
Belum diketahui pasti apakah sensor kecepatan udara dan sensor angle of attack tidak berfungsi pada penerbangan terakhir, atau apakah komputer yang memproses informasi yang datang dari sensor tidak berfungsi.
Hanya dengan analisis lebih lanjut terhadap data di kotak hitam—baru satu yang telah ditemukan—sehingga penyebabnya dapat ditentukan.
Namun, para ahli mengatakan mereka terkejut bahwa pesawat dengan masalah yang sudah diketahui, diizinkan untuk tinggal landas lagi dan lagi. Beberapa orang mengatakan bahwa mereka kaget dan bertanya-tanya mengapa Lion Air begitu angkuh.
“Saya tidak percaya bahwa pesawat itu diizinkan terbang,” kata Ruth Simatupang, mantan penyelidik keselamatan udara, tentang penerbangan terakhir JT610. “Ini bertentangan dengan semua prosedur operasi standar.”
Para penyelam Angkatan Laut bersiap-siap untuk mencari reruntuhan Penerbangan 610 pada Selasa (6/11). (Foto: Getty Images/Ed Wray)
PENERBANGAN TERAKHIR
Sebelum fajar, seiring udara tropis di Jakarta masih dipenuhi kelembaban, Kapten Suneja kemungkinan besar terlibat dalam ritual yang tidak asing bagi pilot mana pun, berjalan di sekitar pesawat yang akan dia terbangkan ke udara. Dia telah memiliki 6.000 jam terbang—sebuah bukti ketekunannya selama tujuh tahun dia bekerja untuk Lion Air.
Salah satu dari sekian banyak misteri Penerbangan 610 adalah, mengapa Kapten Suneja setuju untuk menerbangkan pesawat yang harusnya telah ditunjukkan oleh log pemeliharaan, bahwa memiliki dua hari masalah kecepatan udara—masalah yang terjadi hanya beberapa jam sebelum dia berangkat ke kota kecil Pangkal Pinang, di pulau penambangan timah kecil di Laut Jawa.
“Kami ingin tahu mengapa pilot setuju menerbangkannya,” kata Ony Soerjo Wibowo, penyelidik keselamatan udara Indonesia yang menyelidiki kasus ini. “Mungkin kalau saya, saya tidak akan mengatakan ‘ya’.”
Mungkinkah Kapten Suneja merasakan tekanan dari maskapai tersebut untuk menerbangkan pesawat yang dipertanyakan? Apakah dia tidak melihat log pemeliharaan yang menyebutkan masalah? Ataukah dia tidak menyadari bahwa masalah ini begitu serius? Pesawat mengalami anomali sepanjang waktu. Itulah sebabnya para kru pemeliharaan selalu hadir dan memainkan peran yang sangat penting.
Pada pukul 06.21—beberapa saat setelah azan subuh menggema di seluruh Indonesia—Kapten Suneja berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Dalam beberapa menit, awak pesawat menghubungi kontrol lalu lintas udara (ATC) Jakarta dan meminta izin untuk kembali, yang segera diberikan.
Kapten Suneja tidak mengeluarkan panggilan marabahaya (mayday). Dia juga tidak kembali ke Jakarta. Sebaliknya, pesawat membelok tajam ke kiri dan memulai lintasan berputar-putar yang pasti akan membuat takut para penumpang.
Pada hari-hari setelah kecelakaan minggu lalu, Lion Air terlibat setidaknya dalam dua kesalahan lainnya—sayap pesawat menabrak sebuah tiang, dan penerbangan dari Malaysia mengalami kegagalan hidrolik saat tiba di Jakarta, menurut para pejabat penerbangan.
DETIK-DETIK TERAKHIR
Ketika menit ke-11 Penerbangan 610 dimulai, pesawat itu masih berada di level penerbangan pada ketinggian sekitar 5.000 kaki. Pada akhir menit itu, pesawat itu telah hancur menjadi kaleidoskop potongan-potongan di dalam air, setelah menukik mungkin sekitar 400 mil per jam, menurut pengukuran dari layanan data onlineFlightradar24.
Apa yang menyebabkan pesawat itu jatuh ke bawah begitu tajam di menit terakhir, adalah teka-teki terbesar. Selama dua hari terakhir, para penyelidik telah mencari tahu apakah itu kegagalan pemeliharaan atau kemungkinan kekurangan di Boeing 737 Max 8, yang dapat mempengaruhi armada lain yang mengoperasikan pesawat populer tersebut. Para penyelidik juga sedang menjajaki kemungkinan bahwa para pilot tidak dilatih secara memadai tentang bagaimana pesawat itu berbeda dari model sebelumnya.
Versi lama Boeing 737 memiliki reputasi di kalangan pilot, karena mudah menyesuaikan sudut hidung pesawat jika ada masalah, kata John Cox, mantan eksekutif kepala keselamatan udara dari Asosiasi Pilot Jalur Udara di Amerika Serikat, dan sekarang menjadi kepala eksekutif Sistem Operasi Keselamatan—sebuah perusahaan konsultan.
Tas berisi sisa-sisa korban ditata pekan lalu di Jakarta. (Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti)
Namun dalam versi baru, Boeing memperkenalkan sistem darurat yang secara otomatis mengoreksi sudut hidung untuk mencegah pesawat agar tidak mogok. Dalam buletin keamanannya, Boeing mengatakan bahwa sistem tersebut dapat mendorong hidung ke bawah selama 10 detik penuh tanpa izin pilot.
Sistem baru Boeing dimaksudkan untuk menjaga terhadap apa yang menurut beberapa penelitian adalah penyebab paling umum kecelakaan pesawat—mogok.
Tetapi jika data yang dimasukkan ke dalam sistem itu tidak akurat—yang diselidiki oleh para penyelidik—itu bisa secara teoritis menyebabkan pesawat melaju ke depan, membuat bahkan pilot yang paling berpengalaman sekali pun berada dalam kesulitan, kata Peter Marosszeky, insinyur pesawat berpengalaman dan mantan senior eksekutif di Qantas, maskapai penerbangan Australia.
“Pelatihan adalah segalanya dalam situasi ini, dan pengalaman sangatlah penting,” katanya.
Qantas mengetahui hal itu pada tahun 2008 dengan menggunakan Airbus, yang memiliki sistem serupa.
Setelah menerima bacaan yang salah yang tampaknya menunjukkan kemogokan palsu, sebuah Airbus yang melakukan perjalanan dari Singapura ke Perth, Australia, dengan kasar jatuh dua kali dalam penukikan otomatis. Puluhan penumpang dan awak yang tidak mengenakan sabuk pengaman terlempar dan beberapa patah tulang.
Di kokpit, kapten—mantan pilot pesawat Angkatan Laut Amerika Serikat—berhasil mengendalikan pesawat itu dan akhirnya berhasil mendarat darurat di landasan udara terpencil di Australia barat laut.
“Tampaknya seperti sebuah komputer yang menjadi gila, dan para pilot sedang berjuang melawannya,” kata Geoffrey Thomas, pemimpin redaksi AirlineRatings.com. Dia mengatakan bahwa keterampilan awak pesawat “menyelamatkan nyawa.”
Pilot penerbangan Lion Air 610 tampaknya telah menghadapi kerusakan juga, tetapi dengan akhir yang berbeda.
Tanggapan yang direkomendasikan oleh Boeing dan FAA minggu ini, tidak akan menjadi reaksi alami dari seorang pilot. Awak penerbangan diperintahkan untuk mematikan penstabil daya listrik di ekor pesawat yang mendorong hidung yang menukik ke bawah.
Tetapi tanpa pelatihan khusus tentang anomali ini, pilot seperti apa yang akan berpikir untuk mematikan bagian dari pesawat? Ketika awak penerbangan belajar cara mengendalikan model pesawat baru, mereka biasanya mempelajari perbedaan antara model lama dan yang lebih baru. Pakar penerbangan khawatir pilot di perusahaan maskapai ambisius seperti Lion Air mungkin tidak diberikan waktu yang cukup untuk pelatihan tersebut.
Selain itu, perbedaan antar-model terkadang baru menampakkan diri setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun beroperasi. Boeing Max 8 mulai beroperasi tahun lalu. Meskipun Kapten Suneja adalah penerbang berpengalaman untuk seusianya, dia tidak akan memiliki waktu untuk membiasakan diri dengan versi terbaru dari pesawat Boeing.
Dan dengan hanya beberapa detik untuk menarik pesawat keluar dari kejatuhan fatalnya, dia tidak pernah mendapat kesempatan itu.
Hannah Beech melaporkan dari Jakarta, dan Keith Bradsher dari Shanghai. Kontribusi laporan oleh Muktita Suhartono dari Jakarta, Hiroko Tabuchi dan James Glanz dari New York, dan Rick Rojas dari Sydney, Australia.
Keterangan foto utama: Personel Angkatan Laut Indonesia mengambil roda Lion Air Penerbangan 610 minggu lalu. (Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti)



No comments:
Post a Comment