MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Thursday, November 2, 2017

Wawancara dengan Pdt Max Tangkudung

PENGALAMAN DAN PERJUANGAN SAYA

     Pada Desember tahun lalu kita cukup dihebohkan dengan aksi demo tunggal seorang putera Minahasa di Jakarta. Dia dengan tegas menyuarakan anti radikalisme dan sentimisme sara yang saat itu gencar dilakukan oleh banyak oknum anti Pancasila. Ya, Pdt Max Tangkudung “Tole Tondano” ini hingga sekarang masih terus berupaya memperjuangkan hak-hak kaum Minahasa maupun umat Kristen dan Pancasilais yang hendak didiskriminasi oleh mereka yang mengatasnamakan agama. Meskipun banyak mengalami tantangan dan ujian, bukan hanya dari pihak di pusat bahkan di daerah tetapi Pendeta kelahiran 5 Mei 1954 di Makasar ini tetap memperjuangkan suara umat Kristen Minahasa dan Pancasila. Berikut wawancara kami Lentera Minahasa dengan beliau ketika berada di kediamannya di Kendis Tondano.

Lentera Minahasa (LM): Boleh cerita sedikit tentang apa itu “Minahasa Condolence”?
Pdt Max: Saya pencetus gerakan atau kegiatan belasungkawa “Minahasa Condolence” pada 2001 silam di mana dalam kegiatan itu kami orang Minahasa menyatakan sikap bahwa kami tidak sepaham dengan demo-demo di Indonesia pada umumnya saat itu. Seperti kita ketahui bersama paska serangan teror 11 september 2001 di WTC Newyork, terjadi pergolakan besar internasional. Demo anti Amerika di mana-mana termasuk di Indonesia. Bendera negara-negara yang turut berduka dibakar para pendemo. Mereka memfitnah bahwa Amerika sengaja menuduh terorisme untuk mencemarkan negara-negara Islam. Kami di Minahasa tidak mau dicap sebagai “sarang teroris” ataupun setuju dengan serangan WTC tersebut sebagaimana yang dipantau dunia luar tentang Indonesia saat itu. Makanya saya berinisatif untuk melakukan kegiatan belasungkawa atas korban-korban WTC dan menyatakan sikap bahwa bangsa Minahasa tidak setujua dengan demo-demo yang anti Amerika dan yang memfitnah Amerika. Ini jelas menunjukkan bahwa tidak semua orang Indonesia mendukung terorisme saat itu, ada kami orang Minahasa yang punya sikap berbeda. Kita jangan diam. Ini pun ada kaitannya dengan ancaman embargo ekonomi dari Amerika saat itu, hingga dengan dilihatnya sikap Minahasa yang berbeda maka setidaknya kami bisa meyakinkan bahwa embargo atas Indonesia jika terjadi agar kami tidak turut diembargo.

LM: Selain itu, apa yang membuat bapak amat tergerak melakukan aksi atau kegiatan tersebut saat itu?  
Pdt Max: Saya orang Minahasa asli, punya kepedulian dengan daerah saya. Budaya dan gaya hidup kita di sini sejak dulu selalu diberkati, terbiasa tidak lapar. Jika embargo ekonomi benar-benar dilakukan Amerika saat itu, maka suku yang pertama punah bisa saja Minahasa. Kita di sini tidak terbiasa lapar, bandingkan dengan saudara-saudara kita di pulau lain yang mengalami penjajahan berat dari Belanda dan Jepang. Saya juga amat geram saat itu melihat situs-situs radikal menulis bahwa pelaku serangan WTC adalah Amerika dan Yahudi sendiri padahal ada sekitar 400 orang Yahudi turut jadi korban termasuk ada 1 orang Minahasa. Selain itu saya pernah menonton tv saat itu di mana saya melihat seorang ayah yang kehilangan anak gadisnya di depan matanya sendiri akibat runtuhnya gedung WTC, saya turut sedih dan merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu.
(Bahkan korban pertama dari tragedi itu adalah seorang pria Yahudi yang melakukan perlawanan di dalam pesawat yang dibajak).

LM: Kapan acara belasungkawa itu diadakan saat itu?
Pdt Max: Jadi kami melakukan aksi “Minahasa Condolence” itu tepat memperingati 40 hari setelah serangan teror 11 September 2001. Jam 11 siang kami berkumpul di lapangan Sam Ratulangi Tondano dan melakukan ibadah serta pernyataan sikap Minahasa yang anti terorisme. Kami memasang bendera Amerika setengah tiang sebagai tanda turut berduka. Kurang lebih ada 2000 orang terkumpul saat itu. Kegiatan itu menjadi viral internasional, Chicago News dan media-media barat lainnya memberitakan kegiatan tersebut. Berita nasional menulis “Aksi demo melawan arus”.

LM: Bapak pasti tidak bekerja sendiri saat itu, siapa saja rekan-rekan yang turut membantu?
Pdt Max: Saya tidak bisa menyebutkan semua, ada banyak. Beberapa di antaranya ada Pdt Noldy Sompotan, Pdt Yuberth warouw, dan bapak Lenter Pakasi. Ada banyak kendala, ancaman dan tantangan kepada saya saat itu tetapi kegiatan tetap terselenggara. Tantangan dan ancaman bahkan datang dari sesama rekan di Minahasa sendiri. Tapi saya paham betul mereka bersikap demikian bukan karena menentang saya ataupun daerah dan masyarakat Minahasa tetapi karena tekanan jabatan. Ada juga kejadian unik yang masih menjadi misteri bagi saya sat itu di mana sehari atau dua hari sebelum kegiatan kami dilaksanakan, ex dubes Amerika yang baru akan pulang ke Amerika yaitu Mr. Wolkowicz sempat berkunjung ke Minahasa dan meminta izin untuk sandar kapal induk Amerika di Bitung tetapi tidak diizinkan pemerintah.

LM: Apa saja yang diserukan saat kegiatan itu sebagai pernyataan sikap bangsa Minahasa?
Pdt Max: Beberapa di antaranya adalah kami bangsa Minahasa tidak terlibat dengan kebiadaban yang terjadi di USA dan demo-demo anti Amerika di Indonesia. Serangan terhadap pusat ekonomi/perdagangan dunia di WTC adalah brutal dan tidak berperikemanusiaan.

LM: Apa akibat dari bapak melakukan kegiatan tersebut?
Pdt Max: Resikonya besar, masa itu kita tahu bersama di Indonesia khususnya Ambon dan Poso masih rawan konflik. Saya diisukan menjadi target laskar Jihad. Rumah saya hendak dijaga polisi dua personil tapi saya menolak. Di Makasar bahkan terjadi sweeping terhadap orang Manado. Saya saat itu hendak ke Makasar untuk bertanggung jawab membela saudara-saudara Minahasa agar saya saja yang di sweeping jangan mereka. Beberapa pemuda datang ke rumah dan mencegah, mereka mau melakukan aksi balasan di sini tapi saya berupaya mendinginkan suasana di sini. Setidaknya aksi itu menjadi berita nasional dan dunia hingga mata mereka terbuka bahwa ada Kristen Minahasa di Indonesia yang punya suara berbeda dan memiliki hak bersuara sebagai warga Indonesia.

LM: Sekarang kita beralih ke pengalaman anda saat terjadi Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004. Apa yang membuat bapak tergerak berangkat dan menjadi relawan di sana?
Pdt Max: Kembali lagi, saat itu saya menonton sebuah siaran tv swasta yang menampilkan sebuah rekaman video warga di sebuah rumah. Saya mendengar tangis dan takut dari mereka dan ada terekam ungkapan seorang ibu berujar; “Tuhan ampuni kami sudah aniaya orang Kristen”. Saya melihat seorang kakek memeluk bayi yang sudah meninggal dan entah mau dibawa ke mana, dan banyak lagi. Semua itu membuat saya tergerak untuk ke sana namun tidak tahu harus pergi bagaimana. Beberapa hari kemudian  saya bertemu seorang teman lama dan bercerita kepadanya saya akan sakit. Dia bertanya apa gerangan dan akhirnya saya menerangkan bahwa saya sudah tidak sanggup menonton tv di rumah jika saya tidak berbuat apa-apa di Aceh. Tahu-tahu saya mendapat telepon dari North West Medical America untuk menjadi sukarelawan tim dokter mereka yang akan berangkat ke Aceh. Tugas saya adalah menjadi pendamping dan penterjemah mereka. Inilah akhirnya saya bisa ke Aceh.

LM: Apa saja pengalaman bapak di sana?
Pdt Max: Banyak sekali, saya bertemu banyak tim sukarelawan asing di sana, sangat banyak dari berbagai negara dan PBB-UNHCR. Ada kejadian di mana saya diminta oleh sebuah regu Kopassus untuk mendirikan sebuah pos kesehatan di sebuah Mesjid. Kami ke lokasi jam 12 malam dan sesampainya di sana saya dijaga dengan senjata terhunus, mereka bermaksud melindungi saya sebab takut ada serangan GAM. Ternyata di situ adalah wilayah GAM, namun saya meminta agar tidak perlu seketat itu sebab justru membuat warga korban Tsunami menjadi tidak nyaman.

LM: Kabarnya bapak sempat dihebohkan hilang, bagaimana ceritanya?
Pdt Max: Waktu itu saya dan dua rekan asal Amerika ditugaskan untuk menjadi pendata awal sebelum tim datang membawa obat-obatan dan alat medis lainnya. Kami berangkat dengan helikopter Amerika namun entah bagaimana pilotnya salah mendaratkan kami. Kami mendarat di seberang dari kota Calang, ada sebuah daerah tanjung yang seluruh pemukimannya rata dengan tanah. Saya lupa nama kota itu. Itulah lokasi yang menurut saya sangat memperihatinkan, wilayahnya tinggal pondasi tersisa, baik mayat maupun puing-puing bangunan terseret ke laut sebab kota tanjung itu di sapu dari pantai sebelah hingga pantainya ujung sebelah. Saat itu kami sempat bermalam di sana hingga akhirnya ditemukan besoknya. Kabar hilangnya kami saat itu tersiar di Amerika. Tapi saya bersyukur karena kami justru dapat menolong sebisa mungkin terhadap warga selamat yang tersisa di sana. Mereka amat kelaparan dan kehausan hingga apa yang kami bawa saat itu amat dibutuhkan.
     Saya tidak akan lupa seorang anak dibawa kepada kami dalam keadaan pingsan dan parah, namanya Muzakir. Dia kehilangan seluruh anggota keluarganya dan warga membawa anak itu kepada kami untuk ditolong. Kami berusaha obati dia seadanya, di tengah hujan dan perlindungan seadanya kami berganti menjaganya, saya dan seorang teman saya asal Amerika. Berkali-kali anak itu alami syok dan kami tenangkan, kami harus bergantian melindungi dia dari hujan malam walau tubuh kami yang harus basah. Ada saatnya ketika warga datang berkumpul dan melihat keadaan anak itu suadah tak tertolong lagi dan akan segera meninggal, akhirnya saya mengambil sikap untuk mendoakan anak itu di hadapan warga. Kami para sukarelawan sebelumnya ditegaskan agar dilarang menyebut agama, tapi saat itu saya melanggarnya. Saya menyebut saya seorang Kristen dan hendak mendoakan anak tersebut. Warga paham dan menyetujui, syukur kepada Tuhan anak itu tetap hidup melewati masa kritisnya hingga besoknya datang bantuan lebih banyak dan dia dibawa ke rumah sakit di Banda Aceh dan kami dijemput oleh Heli yang kemarin.
     Ada juga kejadian di mana tengah malam kami harus pergi melayani pasien yang hendak ganti infus. Kami harus berhadapan dengan hadangan penjagaan tentara yang tidak mengijinkan kami bepergian. Mereka memberlakukan jam tertentu di malam hari hingga barangsiapa yang keluar di wilayah itu akan ditembak. Kami berkata bahwa nyawa dari pasien kami adalah tanggung jawab kami. Jika tabung infus yang sudah kosong tidak diganti maka akan menghisap darahnya ke atas. Akhirnya tentara mengijinkan kami untuk pergi meskipun dengan resiko tertembak, apakah itu oleh tentara sendiri atau oleh GAM.
     Asal tahu saja, seandainya paska Tsunami negara gagal berdamai dengan GAM maka dipastikan GAM akan lebih mudah menguasai Aceh. Keadaan paska Tsunami dan keuntungan GAM yang selamat di atas gunung beserta bahan makanan yang amat melimpah hasil dari bantuan relawan asing. Persenjataan berat TNI saat itu sisa-sisa dari puiing Tsunami banyak diambil oleh GAM. Mereka juga memakai para korban Tsunami yang lari ke gunung untuk menjadi umpan agar menerima banyak bantuan logistik. Diperkirakan logistik tersebut asalkan tersimpan baik bisa bertahan hingga tujuh tahun untuk GAM.

LM: Apa hikmah yang bapak dapatkan dari sana?
Pdt Max: Banyak, saya melihat bagaimana rapuhnya manusia digoncang alam dan dunia. Orang-orang tergoncang batin dan mentalnya. Mereka hilang harapan, sudah tidak mempedulikan apa-apa dan tidak tahu harus bagaimana. Bayangkan keadaan di mana anggota keluarga yang sudah tidak utuh lagi, bekas rumahnya pun sudah tidak tahu di mana, mereka tidak tahu lagi harus berbuat apa. Sebagai contoh banyak korban selamat yang ketika ditanya ada luka-luka atau apa yang bisa diobati mereka menjawab tidak. Padahal ketika diperiksa mereka mengalami banyak luka di badan baik luka berdarah, membusuk, maupun memar. Bahkan luka yang sudah membusuk sekalipun sudah mereka abaikan sebab yang lebih parah adalah bencana dan trauma yang sedang mereka alami.
     Saya melihat betapa sialnya manusia sejak jatuh dalam dosa dan mengenal yang namanya kematian jasmani. Jasad manusia beda jauh dengan jasad binatang. Di mana-mana bertebaran jasad membusuk manusia dan bianatang tapi perbedaannya kalau binatang jasadnya terlindungi kulit yang tebal tapi manusia kulitnya amat tipis, jasadnya akan mengembang, menghitam, terkelupas dan amat menyengat dan ngeri dilihat. Bau busuk dan berbagai bakteri penyakit di mana-mana saat itu. Luka goresan dalam sekejap  bisa membesar dan membusuk. Trauma mendalam tampaknya butuh waktu bertahun-tahun untuk mengobatinya.

LM: Sekarang tentang perjuangan bapak di Jakarta akhir-akhir ini. Apa garis-garis besar yang bapak tunjukkan  dan lakukan di Jakarta?
Pdt Max: Waktu itu saya melihat di media KKR Stepehn Tong dibubarkan paksa oleh ormas radikal setelah sebelumnya terjadi aksi besar-besaran yang mendiskreditkan Ahok. Pada 9 Desember saya melakukan demo tunggal pertama di bundaran HI di Jakarta, seminggu sesudah aksi 212 nya Rizieq Shihab cs. Itu adalah demo saya yang pertama, ada tiga kali saya melakukan demo tunggal di sana setelah itu ditemani rekan-rekan pengacara dari Tim Pembela Demokrasi Indonesia melaporkan resmi Rizieq Shihab ketua FPI ke Bareskrim Polri terkait hasutan dan ajakannya untuk membunuh Pendeta-pendeta. Sebelumnya saya berusaha sendiri berkali-kali mengurus laporan ke Polri tetapi tidak dilayani baik hingga akhirnya dibantu oleh pengacara-pengacara dari TPDI.
     Tuntutan pada demo-demo tunggal yang saya lakukan tersebut secara garis besar meminta persamaan hak dan keadilan di Indonesia, jangan kami didiskriminasi karena Agama atau ras sebagaimana yang dialami oleh Ahok saat itu. Banyak agenda yang saya jalani selama di sana. Saya diundang di rumah Lembang bertemu Ahok, berorasi di saat pengadilan Ahok dan berhadapan dengan orator-orator radikalis FPI. Selain itu saya banyak bertemu dengan tokoh-tokoh Pancasilais dan forum-forum gerakan anti radikalisme,. Saya akhirnya bertemu dengan Panglima pusat Pengawal Garuda Nusantara yaitu Kyai Haji Gus Nuril dari NU yang dulunya adalah Panglima Pasukan Berani Mati. Dia memberi mandat kepada saya untuk mendirikan cabang-cabang PGN di Sulut yang akan mengakomodir semua kaum Pancasilais. Selain itu saya sebelumnya telah mendirikan BTPI Benteng TImur Pancasila Indonesia di mana tujuannya adalah untuk mewakili suara kaum Kristen dan kaum Pancasilais di Indonesia timur agar kita tidak selalu diam menyikapi aksi-aksi sepihak dari para radikalis agama seperti FPI, HTI, PAS, dll. BTPI sendiri sudah lama saya dirikan, tercetusnya pada 10 Oktober 2010.



LM: Apa harapan bapak untuk Minahasa ke depannya?
Pdt Max: 1. Minahasa harus semakin tahu kebenaran dan berjalan dalam kebenaran yang hakiki. Kebahagiaan seorang abdi negara adalah apabbila dia menjalankan tugasnya dalam budaya kebenaran.
              2. Minahasa harus kembali kepada persaudaraan seperti dulu. Jangan pernah bicara persaudaraan “torang samua basudara” kalau tidak dilandasi kebenaran. Kita ingin agar orang lain juga maju, orang bijak adalah orang yang ingin agar saudaranya turut maju. Tidakkah itu selaras dengan semboyan leluhur kita Dr. Sam Ratulangi?
            3. Minahasa harus mengerti betul keadilan. Keadilan berarti tidak membeda-bedakan. Ini diukur dari keberpihakkan kita kepada rakyat apakah utuh atau hanya bersifat kelompok? Adil di sini berarti kita mau bersedia saling membantu baik moril maupun materil. Budaya ini sudah lama ditinggalkan kita orang Minahasa.





No comments:

Post a Comment