PENGALAMAN DAN PERJUANGAN SAYA
Pada Desember
tahun lalu kita cukup dihebohkan dengan aksi demo tunggal seorang putera
Minahasa di Jakarta. Dia dengan tegas menyuarakan anti radikalisme dan
sentimisme sara yang saat itu gencar dilakukan oleh banyak oknum anti
Pancasila. Ya, Pdt Max Tangkudung “Tole Tondano” ini hingga sekarang masih
terus berupaya memperjuangkan hak-hak kaum Minahasa maupun umat Kristen dan
Pancasilais yang hendak didiskriminasi oleh mereka yang mengatasnamakan agama.
Meskipun banyak mengalami tantangan dan ujian, bukan hanya dari pihak di pusat
bahkan di daerah tetapi Pendeta kelahiran 5 Mei 1954 di Makasar ini tetap
memperjuangkan suara umat Kristen Minahasa dan Pancasila. Berikut wawancara
kami Lentera Minahasa dengan beliau ketika berada di kediamannya di Kendis
Tondano.
Lentera Minahasa
(LM): Boleh cerita sedikit tentang apa itu “Minahasa Condolence”?
Pdt Max: Saya
pencetus gerakan atau kegiatan belasungkawa “Minahasa Condolence” pada 2001
silam di mana dalam kegiatan itu kami orang Minahasa menyatakan sikap bahwa
kami tidak sepaham dengan demo-demo di Indonesia pada umumnya saat itu. Seperti
kita ketahui bersama paska serangan teror 11 september 2001 di WTC Newyork,
terjadi pergolakan besar internasional. Demo anti Amerika di mana-mana termasuk
di Indonesia. Bendera negara-negara yang turut berduka dibakar para pendemo.
Mereka memfitnah bahwa Amerika sengaja menuduh terorisme untuk mencemarkan negara-negara
Islam. Kami di Minahasa tidak mau dicap sebagai “sarang teroris” ataupun setuju
dengan serangan WTC tersebut sebagaimana yang dipantau dunia luar tentang
Indonesia saat itu. Makanya saya berinisatif untuk melakukan kegiatan
belasungkawa atas korban-korban WTC dan menyatakan sikap bahwa bangsa Minahasa
tidak setujua dengan demo-demo yang anti Amerika dan yang memfitnah Amerika.
Ini jelas menunjukkan bahwa tidak semua orang Indonesia mendukung terorisme
saat itu, ada kami orang Minahasa yang punya sikap berbeda. Kita jangan diam.
Ini pun ada kaitannya dengan ancaman embargo ekonomi dari Amerika saat itu,
hingga dengan dilihatnya sikap Minahasa yang berbeda maka setidaknya kami bisa
meyakinkan bahwa embargo atas Indonesia jika terjadi agar kami tidak turut
diembargo.
LM: Selain itu, apa
yang membuat bapak amat tergerak melakukan aksi atau kegiatan tersebut saat
itu?
Pdt Max: Saya
orang Minahasa asli, punya kepedulian dengan daerah saya. Budaya dan gaya hidup
kita di sini sejak dulu selalu diberkati, terbiasa tidak lapar. Jika embargo
ekonomi benar-benar dilakukan Amerika saat itu, maka suku yang pertama punah
bisa saja Minahasa. Kita di sini tidak terbiasa lapar, bandingkan dengan
saudara-saudara kita di pulau lain yang mengalami penjajahan berat dari Belanda
dan Jepang. Saya juga amat geram saat itu melihat situs-situs radikal menulis
bahwa pelaku serangan WTC adalah Amerika dan Yahudi sendiri padahal ada sekitar
400 orang Yahudi turut jadi korban termasuk ada 1 orang Minahasa. Selain itu
saya pernah menonton tv saat itu di mana saya melihat seorang ayah yang
kehilangan anak gadisnya di depan matanya sendiri akibat runtuhnya gedung WTC,
saya turut sedih dan merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu.
(Bahkan
korban pertama dari tragedi itu adalah seorang pria Yahudi yang melakukan
perlawanan di dalam pesawat yang dibajak).
LM: Kapan acara
belasungkawa itu diadakan saat itu?
Pdt Max: Jadi kami
melakukan aksi “Minahasa Condolence” itu tepat memperingati 40 hari setelah
serangan teror 11 September 2001. Jam 11 siang kami berkumpul di lapangan Sam
Ratulangi Tondano dan melakukan ibadah serta pernyataan sikap Minahasa yang
anti terorisme. Kami memasang bendera Amerika setengah tiang sebagai tanda turut
berduka. Kurang lebih ada 2000 orang terkumpul saat itu. Kegiatan itu menjadi
viral internasional, Chicago News dan media-media barat lainnya memberitakan
kegiatan tersebut. Berita nasional menulis “Aksi demo melawan arus”.
LM: Bapak pasti
tidak bekerja sendiri saat itu, siapa saja rekan-rekan yang turut membantu?
Pdt Max: Saya
tidak bisa menyebutkan semua, ada banyak. Beberapa di antaranya ada Pdt Noldy
Sompotan, Pdt Yuberth warouw, dan bapak Lenter Pakasi. Ada banyak kendala,
ancaman dan tantangan kepada saya saat itu tetapi kegiatan tetap terselenggara.
Tantangan dan ancaman bahkan datang dari sesama rekan di Minahasa sendiri. Tapi
saya paham betul mereka bersikap demikian bukan karena menentang saya ataupun
daerah dan masyarakat Minahasa tetapi karena tekanan jabatan. Ada juga kejadian
unik yang masih menjadi misteri bagi saya sat itu di mana sehari atau dua hari
sebelum kegiatan kami dilaksanakan, ex dubes Amerika yang baru akan pulang ke
Amerika yaitu Mr. Wolkowicz sempat berkunjung ke Minahasa dan meminta izin
untuk sandar kapal induk Amerika di Bitung tetapi tidak diizinkan pemerintah.
LM: Apa saja yang
diserukan saat kegiatan itu sebagai pernyataan sikap bangsa Minahasa?
Pdt Max: Beberapa
di antaranya adalah kami bangsa Minahasa tidak terlibat dengan kebiadaban yang
terjadi di USA dan demo-demo anti Amerika di Indonesia. Serangan terhadap pusat
ekonomi/perdagangan dunia di WTC adalah brutal dan tidak berperikemanusiaan.
LM: Apa akibat
dari bapak melakukan kegiatan tersebut?
Pdt Max: Resikonya
besar, masa itu kita tahu bersama di Indonesia khususnya Ambon dan Poso masih
rawan konflik. Saya diisukan menjadi target laskar Jihad. Rumah saya hendak
dijaga polisi dua personil tapi saya menolak. Di Makasar bahkan terjadi
sweeping terhadap orang Manado. Saya saat itu hendak ke Makasar untuk
bertanggung jawab membela saudara-saudara Minahasa agar saya saja yang di sweeping
jangan mereka. Beberapa pemuda datang ke rumah dan mencegah, mereka mau
melakukan aksi balasan di sini tapi saya berupaya mendinginkan suasana di sini.
Setidaknya aksi itu menjadi berita nasional dan dunia hingga mata mereka
terbuka bahwa ada Kristen Minahasa di Indonesia yang punya suara berbeda dan
memiliki hak bersuara sebagai warga Indonesia.
LM: Sekarang kita
beralih ke pengalaman anda saat terjadi Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004. Apa
yang membuat bapak tergerak berangkat dan menjadi relawan di sana?
Pdt Max: Kembali
lagi, saat itu saya menonton sebuah siaran tv swasta yang menampilkan sebuah
rekaman video warga di sebuah rumah. Saya mendengar tangis dan takut dari
mereka dan ada terekam ungkapan seorang ibu berujar; “Tuhan ampuni kami sudah
aniaya orang Kristen”. Saya melihat seorang kakek memeluk bayi yang sudah
meninggal dan entah mau dibawa ke mana, dan banyak lagi. Semua itu membuat saya
tergerak untuk ke sana namun tidak tahu harus pergi bagaimana. Beberapa hari kemudian
saya bertemu seorang teman lama dan
bercerita kepadanya saya akan sakit. Dia bertanya apa gerangan dan akhirnya
saya menerangkan bahwa saya sudah tidak sanggup menonton tv di rumah jika saya
tidak berbuat apa-apa di Aceh. Tahu-tahu saya mendapat telepon dari North West
Medical America untuk menjadi sukarelawan tim dokter mereka yang akan berangkat
ke Aceh. Tugas saya adalah menjadi pendamping dan penterjemah mereka. Inilah
akhirnya saya bisa ke Aceh.
LM: Apa saja
pengalaman bapak di sana?
Pdt Max: Banyak
sekali, saya bertemu banyak tim sukarelawan asing di sana, sangat banyak dari
berbagai negara dan PBB-UNHCR. Ada kejadian di mana saya diminta oleh sebuah
regu Kopassus untuk mendirikan sebuah pos kesehatan di sebuah Mesjid. Kami ke
lokasi jam 12 malam dan sesampainya di sana saya dijaga dengan senjata
terhunus, mereka bermaksud melindungi saya sebab takut ada serangan GAM.
Ternyata di situ adalah wilayah GAM, namun saya meminta agar tidak perlu
seketat itu sebab justru membuat warga korban Tsunami menjadi tidak nyaman.
LM: Kabarnya bapak
sempat dihebohkan hilang, bagaimana ceritanya?
Pdt Max: Waktu itu
saya dan dua rekan asal Amerika ditugaskan untuk menjadi pendata awal sebelum
tim datang membawa obat-obatan dan alat medis lainnya. Kami berangkat dengan helikopter
Amerika namun entah bagaimana pilotnya salah mendaratkan kami. Kami mendarat di
seberang dari kota Calang, ada sebuah daerah tanjung yang seluruh pemukimannya
rata dengan tanah. Saya lupa nama kota itu. Itulah lokasi yang menurut saya
sangat memperihatinkan, wilayahnya tinggal pondasi tersisa, baik mayat maupun
puing-puing bangunan terseret ke laut sebab kota tanjung itu di sapu dari pantai
sebelah hingga pantainya ujung sebelah. Saat itu kami sempat bermalam di sana
hingga akhirnya ditemukan besoknya. Kabar hilangnya kami saat itu tersiar di
Amerika. Tapi saya bersyukur karena kami justru dapat menolong sebisa mungkin
terhadap warga selamat yang tersisa di sana. Mereka amat kelaparan dan kehausan
hingga apa yang kami bawa saat itu amat dibutuhkan.
Saya
tidak akan lupa seorang anak dibawa kepada kami dalam keadaan pingsan dan
parah, namanya Muzakir. Dia kehilangan seluruh anggota keluarganya dan warga
membawa anak itu kepada kami untuk ditolong. Kami berusaha obati dia seadanya,
di tengah hujan dan perlindungan seadanya kami berganti menjaganya, saya dan
seorang teman saya asal Amerika. Berkali-kali anak itu alami syok dan kami
tenangkan, kami harus bergantian melindungi dia dari hujan malam walau tubuh
kami yang harus basah. Ada saatnya ketika warga datang berkumpul dan melihat
keadaan anak itu suadah tak tertolong lagi dan akan segera meninggal, akhirnya
saya mengambil sikap untuk mendoakan anak itu di hadapan warga. Kami para
sukarelawan sebelumnya ditegaskan agar dilarang menyebut agama, tapi saat itu
saya melanggarnya. Saya menyebut saya seorang Kristen dan hendak mendoakan anak
tersebut. Warga paham dan menyetujui, syukur kepada Tuhan anak itu tetap hidup
melewati masa kritisnya hingga besoknya datang bantuan lebih banyak dan dia
dibawa ke rumah sakit di Banda Aceh dan kami dijemput oleh Heli yang kemarin.
Ada juga kejadian di mana tengah malam
kami harus pergi melayani pasien yang hendak ganti infus. Kami harus berhadapan
dengan hadangan penjagaan tentara yang tidak mengijinkan kami bepergian. Mereka
memberlakukan jam tertentu di malam hari hingga barangsiapa yang keluar di
wilayah itu akan ditembak. Kami berkata bahwa nyawa dari pasien kami adalah
tanggung jawab kami. Jika tabung infus yang sudah kosong tidak diganti maka
akan menghisap darahnya ke atas. Akhirnya tentara mengijinkan kami untuk pergi
meskipun dengan resiko tertembak, apakah itu oleh tentara sendiri atau oleh
GAM.
Asal
tahu saja, seandainya paska Tsunami negara gagal berdamai dengan GAM maka dipastikan
GAM akan lebih mudah menguasai Aceh. Keadaan paska Tsunami dan keuntungan GAM
yang selamat di atas gunung beserta bahan makanan yang amat melimpah hasil dari
bantuan relawan asing. Persenjataan berat TNI saat itu sisa-sisa dari puiing
Tsunami banyak diambil oleh GAM. Mereka juga memakai para korban Tsunami yang
lari ke gunung untuk menjadi umpan agar menerima banyak bantuan logistik.
Diperkirakan logistik tersebut asalkan tersimpan baik bisa bertahan hingga
tujuh tahun untuk GAM.
LM: Apa hikmah
yang bapak dapatkan dari sana?
Pdt Max: Banyak,
saya melihat bagaimana rapuhnya manusia digoncang alam dan dunia. Orang-orang
tergoncang batin dan mentalnya. Mereka hilang harapan, sudah tidak mempedulikan
apa-apa dan tidak tahu harus bagaimana. Bayangkan keadaan di mana anggota
keluarga yang sudah tidak utuh lagi, bekas rumahnya pun sudah tidak tahu di
mana, mereka tidak tahu lagi harus berbuat apa. Sebagai contoh banyak korban
selamat yang ketika ditanya ada luka-luka atau apa yang bisa diobati mereka
menjawab tidak. Padahal ketika diperiksa mereka mengalami banyak luka di badan
baik luka berdarah, membusuk, maupun memar. Bahkan luka yang sudah membusuk
sekalipun sudah mereka abaikan sebab yang lebih parah adalah bencana dan trauma
yang sedang mereka alami.
Saya melihat betapa sialnya manusia sejak
jatuh dalam dosa dan mengenal yang namanya kematian jasmani. Jasad manusia beda
jauh dengan jasad binatang. Di mana-mana bertebaran jasad membusuk manusia dan
bianatang tapi perbedaannya kalau binatang jasadnya terlindungi kulit yang
tebal tapi manusia kulitnya amat tipis, jasadnya akan mengembang, menghitam,
terkelupas dan amat menyengat dan ngeri dilihat. Bau busuk dan berbagai bakteri
penyakit di mana-mana saat itu. Luka goresan dalam sekejap bisa membesar dan membusuk. Trauma mendalam tampaknya
butuh waktu bertahun-tahun untuk mengobatinya.
LM: Sekarang
tentang perjuangan bapak di Jakarta akhir-akhir ini. Apa garis-garis besar yang
bapak tunjukkan dan lakukan di Jakarta?
Pdt Max: Waktu itu
saya melihat di media KKR Stepehn Tong dibubarkan paksa oleh ormas radikal
setelah sebelumnya terjadi aksi besar-besaran yang mendiskreditkan Ahok. Pada 9
Desember saya melakukan demo tunggal pertama di bundaran HI di Jakarta,
seminggu sesudah aksi 212 nya Rizieq Shihab cs. Itu adalah demo saya yang pertama,
ada tiga kali saya melakukan demo tunggal di sana setelah itu ditemani
rekan-rekan pengacara dari Tim Pembela Demokrasi Indonesia melaporkan resmi
Rizieq Shihab ketua FPI ke Bareskrim Polri terkait hasutan dan ajakannya untuk
membunuh Pendeta-pendeta. Sebelumnya saya berusaha sendiri berkali-kali
mengurus laporan ke Polri tetapi tidak dilayani baik hingga akhirnya dibantu
oleh pengacara-pengacara dari TPDI.
Tuntutan pada demo-demo tunggal yang saya
lakukan tersebut secara garis besar meminta persamaan hak dan keadilan di
Indonesia, jangan kami didiskriminasi karena Agama atau ras sebagaimana yang
dialami oleh Ahok saat itu. Banyak agenda yang saya jalani selama di sana. Saya
diundang di rumah Lembang bertemu Ahok, berorasi di saat pengadilan Ahok dan
berhadapan dengan orator-orator radikalis FPI. Selain itu saya banyak bertemu
dengan tokoh-tokoh Pancasilais dan forum-forum gerakan anti radikalisme,. Saya
akhirnya bertemu dengan Panglima pusat Pengawal Garuda Nusantara yaitu Kyai
Haji Gus Nuril dari NU yang dulunya adalah Panglima Pasukan Berani Mati. Dia
memberi mandat kepada saya untuk mendirikan cabang-cabang PGN di Sulut yang
akan mengakomodir semua kaum Pancasilais. Selain itu saya sebelumnya telah
mendirikan BTPI Benteng TImur Pancasila Indonesia di mana tujuannya adalah
untuk mewakili suara kaum Kristen dan kaum Pancasilais di Indonesia timur agar
kita tidak selalu diam menyikapi aksi-aksi sepihak dari para radikalis agama
seperti FPI, HTI, PAS, dll. BTPI sendiri sudah lama saya dirikan, tercetusnya
pada 10 Oktober 2010.
LM: Apa harapan
bapak untuk Minahasa ke depannya?
Pdt Max: 1. Minahasa
harus semakin tahu kebenaran dan berjalan dalam kebenaran yang hakiki.
Kebahagiaan seorang abdi negara adalah apabbila dia menjalankan tugasnya dalam
budaya kebenaran.
2. Minahasa harus kembali kepada
persaudaraan seperti dulu. Jangan pernah bicara persaudaraan “torang samua
basudara” kalau tidak dilandasi kebenaran. Kita ingin agar orang lain juga
maju, orang bijak adalah orang yang ingin agar saudaranya turut maju. Tidakkah itu
selaras dengan semboyan leluhur kita Dr. Sam Ratulangi?
3. Minahasa harus mengerti betul
keadilan. Keadilan berarti tidak membeda-bedakan. Ini diukur dari keberpihakkan
kita kepada rakyat apakah utuh atau hanya bersifat kelompok? Adil di sini
berarti kita mau bersedia saling membantu baik moril maupun materil. Budaya ini
sudah lama ditinggalkan kita orang Minahasa.








No comments:
Post a Comment