MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Wednesday, July 10, 2019

Netanyahu Gunakan Klaim DNA untuk Tolak Hak Palestina atas Tanah Air

Netanyahu

Klaim terbaru Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mendelegitimasi hak Palestina atas Tanah Air mereka disambut dengan cercaan di media sosial. Namun pengguna Twitter lain menggambarkan adanya persamaan sejarah dengan apartheid Afrika Selatan, ketika pemukim kulit putih menggunakan argumen serupa untuk membenarkan kebijakan apartheid tentang transfer penduduk dan pemisahan secara paksa. Yang lain memandang Nazi Jerman sebagai persamaan historis, di mana eugenika dan sains tentang ras digunakan untuk membenarkan genosida terhadap orang-orang Yahudi.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menulis di Twitter hari Minggu (7/7) bahwa koneksi Palestina ke Tanah Israel tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan koneksi 4.000 tahun yang dimiliki orang-orang Yahudi dengan tanah air tersebut. Netanyahu mengutip sebuah artikel baru-baru ini oleh ScienceMag yang menyatakan bahwa orang Filistin dalam Injil berasal dari Eropa, menurut DNA yang ditemukan di kota pesisir Ashkelon.
Usahanya untuk mendelegitimasi hak rakyat Palestina atas tanah air mereka dikritik oleh banyak orang sebagai “ilmu pengetahuan tentang ras,” yang sering dipromosikan oleh sayap kanan ekstrem Israel untuk membenarkan kebijakan etno-nasionalis.Seorang pengguna Twitter mempertanyakan validitas argumen ilmiah” Netanyahu, membandingkannya dengan frenologi, pseudosains yang melibatkan pengukuran benjolan pada tengkorak untuk memprediksi ciri-ciri mental dan telah sepenuhnya diabaikan oleh penelitian ilmiah.
Pengguna Twitter lain menantang Netanyahu tentang kebijakan Israel terhadap orang Yahudi Ethiopia. Pekan lalu, seorang remaja Yahudi Ethiopia yang tidak bersenjata dibunuh oleh seorang petugas polisi yang sedang tidak bertugas, memicu protes oleh masyarakat yang menuduh polisi Israel menganut rasisme.
Namun pengguna Twitter lain menggambarkan adanya persamaan sejarah dengan apartheid Afrika Selatan, ketika pemukim kulit putih menggunakan argumen serupa untuk membenarkan kebijakan apartheid tentang transfer penduduk dan pemisahan secara paksa. Yang lain memandang Nazi Jerman sebagai persamaan historis, di mana eugenika dan sains tentang ras digunakan untuk membenarkan genosida terhadap orang-orang Yahudi.
Secara sarkastis, pengguna Twitter lainnya menggarisbawahi absurditas argumen Netanyahu dengan membandingkannya dengan “koneksi” yang dimiliki orang Mongolia atas wilayah Hungaria karena mereka tinggal di sana pada tahun 1200-an.
Sementara itu, putra Netanyahu, Yair direkam sedang berbicara di sebuah acara untuk orang-orang Kristen taat di Alabama akhir pekan lalu, mencoba untuk menghapuskan identitas Palestina dengan mengatakan bahwa mereka awalnya bermigrasi dari bagian lain di Timur Tengah, yang dibuktikan dengan nama keluarga yang berarti “Mesir” dan “dari Aleppo.” Netanyahu Junior juga menghadapi kritik dan dibandingkan dengan ayahnya karena retorikanya yang ekstrem.
Dikutip dari Middle East Monitor, Selasa (8/7), Yair Netanyahu terkenal karena perilakunya yang ofensif di media sosial. Bulan Desember 2018, Facebook memblokir akunnya selama 24 jam setelah ia mengunggah serangkaian pos anti-Muslim dan anti-Palestina yang melanggar aturan jejaring sosial tersebut tentang ujaran kebencian.
Bulan April 2019, Yair mengklaim bahwa Palestina tidak pernah ada karena tidak ada huruf “P” dalam bahasa Arab, yang menyebabkan banyak orang mengkritik dan mengejeknya karena ketidaktahuannya. Dalam bahasa Arab, Palestina dilafalkan “Filistiin,” dan tentu saja ada huruf “f” dalam bahasa Arab.
Keterangan foto utama: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tiba dalam sebuah upacara Memorial Day, ketika Israel mengenan para prajuritnya yang telah gugur, di Mount Herzl di Yerusalem, 8 Mei 2019. (Foto: Heidi Levine/Pool via Reuters)

No comments:

Post a Comment