
Sementara Washington merayakan kemenangan, ISIS sedang berkumpul kembali, dan rezim Assad membiarkannya terjadi bahkan memanfaatkannya. Rezim Assad menyaksikan secara pasif ketika ISIS memecah belah masyarakatnya, dan memanfaatkannya agar masyarakat mencari perlindungan, tunduk pada pemerintah, dan bergabung dengan tentara Suriah.
Oleh: Sarah Hunaidi (Foreign Policy)
Dunia telah merayakan kekalahan ISIS sejak pertempuran terakhir di Baghouz pada tanggal 23 Maret. Pada bulan Februari, Presiden Donald Trump merayakan kemenangan Amerika Serikat (AS) yang mengklaim bahwa ISIS telah “100 persen” dikalahkan. Sementara itu, Amerika Serikat dan Inggris telah beralih pada perdebatan terkait pencabutan kewarganegaraan warga negara mereka yang bergabung dengan ISIS.
Tetapi bertentangan dengan deklarasi Trump, kelompok teroris itu belum dikalahkan, dan saat ini sedang berkumpul kembali di dekat kota asal saya, Suwayda, di Suriah selatan—daerah yang telah lama diteror ISIS, sementara pemerintah Bashar al-Assad hanya berdiam diri dan membiarkannya terjadi.
Pada 24 Juli 2018, saya memeluk ibu saya sebelum ia pergi meninggalkan Chicago untuk kembali ke Suriah melalui Lebanon. Tidak seperti banyak ibu Suriah lainnya, ibu saya diizinkan untuk mengunjungi putri pengungsinya karena kewarganegaraan Lebanon-nya. Ibu saya tiba di Suriah pada tengah malam. Empat jam kemudian, ISIS menyerang, dan saya kehilangan kontak dengan keluarga saya. Saya memantau tanpa daya dari media sosial, seiring para gerilyawan mengamuk dari rumah ke rumah.
Selama tiga hari pertama serangan tanpa ampun di Suwayda, tentara Suriah menyaksikan dalam diam. Warga sipil dibiarkan sendiri untuk bertarung menggunakan pisau dapur, senapan berburu, dan apa pun yang mereka miliki. Sekitar 250 orang tewas, 300 orang luka-luka, dan puluhan perempuan dan anak-anak diculik dalam sehari. Setidaknya satu wanita Druze dieksekusi mati di tahanan ISIS.
Saya melihat daftar itu dengan ngeri, berusaha menemukan anggota keluarga dan teman-teman saya. Pada hari-hari berikutnya, saya mengetahui bahwa mereka telah membunuh beberapa sepupu saya.
Serangan terhadap Suwayda adalah bagian dari “strategi orang-orangan sawah” ISIS, yang awalnya diadopsi oleh rezim Suriah untuk membuat agama minoritas tunduk pada pemerintah karena takut akan ISIS dan mayoritas Sunni.
Sebelum bulan Juli, ISIS hadir di tiga wilayah utama di Suriah selatan: Cekungan Yarmouk di provinsi Daraa, wilayah Lajat di timur laut Daraa, dan gurun timur provinsi Suwayda. Pada bulan Juli, pasukan Suriah mengalahkan ISIS di Yarmouk Basin. Menyusul kekalahannya, ISIS membuat kesepakatan dengan rezim Assad dan sekutu Iran, untuk dipindahkan ke gurun timur Suwayda. Keluarga dan teman saya melihat para pejuang itu saat mereka diangkut oleh bus hijau rezim Suriah.
Presiden Suriah Bashar al-Assad menyangkal bahwa pasukannya pernah menggunakan senjata kimia. (Foto: AFP)
Sebulan sebelum serangan pada bulan Juli, pasukan Assad telah mengevakuasi desa-desa di timur Suwayda, salah satunya adalah Rami, tempat bibi saya tinggal. Tiga hari sebelum serangan tersebut, rezim Assad melucuti senjata Suwayda, terutama orang-orang yang tinggal di wilayah timur dan timur laut. Beberapa jam sebelum serangan, rezim Assad memutus aliran listrik dari desa-desa itu. Desa-desa itulah yang pertama diserang sebelum fajar.
Beginilah cara Assad memungkinkan pembantaian di Suwayda, sehingga ia dapat mengklaim bahwa minoritas membutuhkan perlindungan dari rezimnya.
Suwayda dihuni oleh agama minoritas, termasuk Druze Suriah, Kristen, dan beberapa suku Badui Sunni. Sejak tahun 2011, sebagian besar penduduk Druze di Suwayda tetap berada di pinggiran perang di Suriah. Mereka tidak memberontak ketika pemberontakan dimulai, dan mereka juga tidak sepenuhnya mendukung Assad. Meskipun Suwayda masih berada di bawah kendali Assad, namun puluhan ribu orang Druze menolak untuk bergabung dengan tentara Suriah.
Rezim Suriah mencoba dan gagal beberapa kali untuk meminta orang-orang Druze menjadi tentara. Beberapa teman saya melakukan apa saja untuk menghindari bergabung dengan pasukan Assad; beberapa orang harus melarikan diri, dan yang lainnya tetap berada di bawah otoritas Druze, terutama Rijal al-Karama (“orang-orang yang bermartabat”)—sebuah gerakan religius Druze yang didirikan pada tahun 2012 oleh para syekh Druze, untuk melindungi semua sekte di Suwayda dari segala risiko luar, entah ISIS, Assad dan sekutunya, atau Rusia, Iran, dan Hizbullah—juga untuk melindungi mereka dari pasukan Assad jika para pasukan datang untuk membuat mereka menjadi tentara.
Rezim Suriah mengandalkan ISIS untuk meneror orang-orang Suwayda untuk bergabung dengan tentara Suriah.
Akibatnya, banyak warga Druze merasa dipaksa untuk bergabung dengan rezim Suriah, yang memungkinkan rezim untuk mempertahankan statusnya sebagai pelindung minoritas. Ini bukan pertama kalinya rezim Suriah menggunakan ekstremis Islam untuk mendapatkan dukungan.
Pada tahun 2011, setelah pemberontakan dimulai, banyak ekstremis dibebaskan dari penjara rezim, dan mereka memulai dan memimpin beberapa kelompok ekstremis, termasuk ISIS dan Jaish al-Islam, yang keduanya menculik dan membunuh para aktivis oposisi.
Beberapa bulan setelah serangan Suwayda, rezim Suriah membantu membebaskan sekelompok perempuan Druze. Dalam sebuah pertemuan dengan keluarga para perempuan itu, Assad secara eksplisit mengatakan kepada keluarga itu bahwa, karena tentara Suriah telah membantu membebaskan para perempuan itu dari ISIS, hal terkecil yang bisa mereka lakukan adalah mendesak para pria untuk bergabung dengan pasukan rezim.
Tetapi orang-orang Druze menolak. Seorang mantan teman sekelas saya mengatakan kepada saya bahwa dia tidak ingin bergabung dengan pasukan Assad, karena dia tidak tertarik untuk membunuh orang Suriah lain hanya supaya Assad dapat mempertahankan jabatannya.
Setelah serangan bulan Juli, rezim Assad mengklaim telah sepenuhnya memusnahkan pejuang ISIS di perbukitan Safa, di gurun timur Suwayda. Namun, banyak penduduk setempat saat ini mengkonfirmasi kembalinya ISIS. Faksi Druze lokal di Suwayda timur baru-baru ini bertemu dengan pejuang ISIS saat memeriksa daerah itu bulan lalu.
Orang-orang yang diduga merupakan militan ISIS menunggu untuk digeledah oleh anggota Pasukan Demokratik Suriah yang dipimpin Kurdi setelah meninggalkan kantong terakhir kelompok itu di Baghouz, Suriah, pada 22 Februari. (Foto: AFP/Getty Images/Bulent Kilic)
Berbagai sumber di kota Suwayda mengklaim bahwa para pejuang ISIS diselundupkan melalui gurun Suriah dari Baghouz ke Suwayda timur, oleh orang-orang Iran yang memiliki kendali penuh atas rute tersebut di gurun; beberapa menuduh milisi Iran membantu mereka dengan imbalan uang.
Menurut kantor berita setempat seperti I Am a Human Story, jumlah pejuang yang diselundupkan telah mencapai “lebih dari 1.500 orang, sebagian besar dari mereka bersenjata lengkap.”
Para pejuang ini bukan hanya ancaman bagi warga Suriah; mereka juga bisa menjadi ancaman bagi Amerika Serikat.
Ada pangkalan militer AS yang terletak di antara perbukitan Safa dan kota Baghouz. Mengingat kekalahan ISIS di Baghouz, pangkalan militer tersebut adalah target potensial untuk pembalasan. Pangkalan Tanf juga dekat dengan kamp Rukban. Rezim Suriah dan Rusia percaya bahwa kamp Rukban menampung para pejuang ISIS, dan mereka bukan satu-satunya yang berpikir demikian.
Jaish Maghawir al-Thawra—faksi Tentara Pembebasan Suriah (FSA) yang didukung oleh koalisi internasional—hadir di kamp Rukban, dan memiliki penilaian yang sama. Namun, jika eskalasi militer Rusia terjadi di Rukban, itu bisa menjadi ancaman keamanan bagi pangkalan AS dan warga sipil yang terlantar, yang sudah hidup dalam kondisi yang mengerikan di kamp tersebut.
Masih terlalu dini untuk merayakan kemenangan atas ISIS. ISIS sedang berkumpul kembali, dan rezim Suriah mengambil keuntungan dari kemunculannya kembali.
Rezim Assad menyaksikan secara pasif ketika ISIS memecah belah masyarakatnya, sampai mereka tunduk pada pemerintah dan bergabung dengan tentara Suriah. Jika nyawa rakyat Suriah tidak cukup penting, mungkin ancaman terhadap pangkalan militer AS di Tanf akan membuat para pembuat kebijakan AS menghadapi kenyataan bahwa ISIS masih jauh dari kalah.
ISIS mungkin bukan lagi kekhalifahan yang luas, tetapi ISIS secara strategis membentuk kembali dirinya sebagai pemberontak untuk meneror rakyat Suriah.
Sarah Hunaidi adalah seorang penulis dan anggota Gerakan Politik Perempuan Suriah. Dia menulis dan menerbitkan dalam bahasa Inggris dan Arab. Setelah pengasingannya dari Suriah pada tahun 2014 karena pertentangannya terhadap rezim Suriah, ia telah menulis sebuah buku tentang aktivis Samira al-Khalil yang hilang.
Keterangan foto utama: Sebuah truk membawa para pejuang ISIS yang menyerah pada Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi, saat mereka diangkut keluar dari Baghouz di provinsi utara Deir Ezzor, Suriah, pada 20 Februari 2019. (Foto: AFP/Getty Images/Bulent Kilic)


No comments:
Post a Comment