MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Thursday, February 21, 2019

Perjuangan Terorisme India: Keheningan China Menandakan Sesuatu



Serangan dari kelompok teroris Jaish-e-Mohammed  (JeM), organisasi teroris yang berbasis di Pakistan, telahh menewaskan 40 anggota Pasukan Cadangan Pusat India. Setelahnya, banyak negara telah menyatakan kesedihan mereka, dengan tegas mengutuk serangan teroris ini, termasuk kelompok JeM dan negara basisnya. Namun, China memilih untuk tidak mengatakan apa-apa terkait pelaku serangan Kashmir tersebut.
Oleh: Prarthana Basu (The Diplomat)
India sekali lagi menjadi korban terorisme dan pemberontakan lintas-perbatasan. Sebuah serangan di distrik Pulwama di Jammu dan Kashmir menelan korban lebih dari 40 tentara Pasukan Cadangan Pusat.
Setelah peristiwa itu, negara-negara di seluruh dunia menyatakan belasungkawa mendalam dan dengan tegas menentang terorisme. Sementara India terus berdiri dengan kokoh dalam mengecam terorisme, serangan di Pulwama itu menunjukkan kesulitan perjuangan melawan terorisme yang disponsori negara Pakistan dan ketidakefektifan tindakan yang telah diambil India di tingkat internasional, di berbagai organisasi multilateral seperti di PBB, BRICS, dan Organisasi Kerjasama Shanghai.
Ketika kelompok-kelompok teroris dan pemberontak menyerang, India membalas dengan langkah-langkah balasan dan serangan-serangan pre-emptive tetapi India terus menderita akibat serangan terorisme di dalam negeri.
Sekarang sebagian besar pertanyaannya tetap tentang bagaimana India akan mencoba untuk memajukan perjuangannya di panggung internasional, terutama DK PBB dan memberikan ultimatum yang sesuai kepada Pakistan, yang memang telah terbukti sebagian besar bertanggung jawab karena terus bertindak sebagai “tempat berlindung” bagi berbagai organisasi teroris. Masalah utamanya, seperti telah terjadi selama beberapa dekade, adalah kemampuan China untuk memblokir tindakan yang menargetkan Pakistan, “saudara besinya,” dalam mendukung terorisme.

MUSUH: JEM DAN MASOOD AZHAR

Jaish-e-Mohammed  (JeM), organisasi teroris yang berbasis di Pakistan, telah beroperasi sejak awal 2000-an dan secara aktif berpartisipasi dalam kekerasan dan menyebabkan ketidakstabilan di wilayah Jammu dan Kashmir. Motif utama JeM adalah pemisahan Kashmir dari India dan menggabungkannya dengan Pakistan. JeM telah dikaitkan dengan banyak serangan teroris di tanah India, dari pembajakan penerbangan Indian Airlines 814 di Khandahar tahun 1999 hingga serangan 2001 di Parlemen India.
Peristiwa ini menjadi terkenal setelah serangan 9/11 dan perang global melawan terorisme dimulai. Perjuangan inheren India dengan terorisme ini menyebabkan banyak negara lain―seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan bahkan PBB―menyatakan JeM sebagai organisasi teroris.
Pada saat itu, Pakistan juga dipaksa untuk bertindak secara bertanggung jawab dan ditekan untuk memberlakukan larangan terhadap berbagai organisasi teroris yang berkembang di negerinya. Namun, pihak berwenang Pakistan dengan mudah melepaskan para militan yang ditangkap dan Masood Azhar, pemimpin JeM, dibebaskan berdasarkan perintah pengadilan. Dia tetap bebas sejak itu.
Azhar diduga tidak menonjolkan diri dari markasnya di Bahawalpur, Pakistan, selama bertahun-tahun setelah serangan Mumbai 2008, tetapi  muncul kembali pada tahun 2014, dengan lantang berbicara melawan India dan Amerika Serikat dan membual tentang memiliki ratusan pembunuh siap mati dan siap untuk membuat kekacauan.
JeM sejak itu telah secara aktif merekrut dan mengumpulkan pasukan melalui madrasah atau sekolah Islam (masalah yang tidak luput dari perhatian di Pakistan). JeM mempertahankan Amerika Serikat dan India sebagai dua musuh terbesarnya dan juga berupaya mengusir pasukan Amerika dari Afghanistan.

TANGGAPAN INTERNASIONAL

Pada 15 Februari di New Delhi, Menteri Luar Negeri India Vijay Gokhale menyerukan pertemuan sekitar 25 kepala misi dari berbagai negara seperti Afrika Selatan, Jepang, Jerman, Amerika Serikat, China, Inggris, dan lainnya. Dalam pertemuan ini, Gokhale berbicara tentang bagaimana Pakistan secara aktif melanggengkan terorisme dan menggunakannya sebagai instrumen kebijakan negara.
Dia mengatakan, “Pakistan harus mengambil tindakan segera yang dapat diverifikasi” terhadap JeM dan segera menghentikan rekan-rekan lain dari kelompok-kelompok tersebut dalam menciptakan gangguan lebih lanjut. India berjanji untuk mengisolasi Pakistan secara diplomatis dari sini kecuali tindakan telah diambil. India juga menarik status “Most Favored Nation” Pakistan.
Banyak negara telah menyatakan kesedihan mereka, dengan tegas mengutuk serangan teroris ini, dan mendukung sikap India pada saat kesedihan ini. Negara-negara seperti Amerika Serikat dan Rusia sangat mengecam tindakan itu dan telah membuat pernyataan menyeluruh tentang masalah ini.
Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders merilis pernyataan yang mengatakan, “Amerika Serikat mengecam serangan teroris keji oleh kelompok teroris berbasis di Pakistan yang menewaskan lebih dari 40 pasukan paramiliter India dan melukai setidaknya 44 lainnya.” Perilisan pers itu juga berisi komentar, “Amerika Serikat meminta Pakistan untuk segera mengakhiri dukungan dan penyediaan tempat berlindung yang aman kepada semua kelompok teroris yang beroperasi di negaranya, yang satu-satunya tujuannya adalah untuk menabur kekacauan, kekerasan dan teror di wilayah tersebut.”
Ini menandakan akan adanya banyak kerja sama intensif dan penguatan hubungan antara Amerika Serikat dan India dalam kontraterorisme di masa depan.
Presiden Rusia Vladimir Putin juga menentang serangan teroris itu. Dia juga menuntut para pelaku agar “dihukum”, yang bertanggung jawab atas “tindakan keji”. Pesan itu juga menyiratkan dukungan yang tak tergoyahkan dalam upaya operasi kontraterorisme dan kemitraan dalam memerangi terorisme.

CHINA LAGI-LAGI TETAP DIAM

Sementara itu, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengeluarkan pernyataan tentang serangan di India, menyatakan belasungkawa bagi negara itu dan menekankan bahwa terorisme tetap menjadi musuh bersama umat manusia. “Pihak China dengan tegas menentang dan mengecam keras segala bentuk terorisme,” Wang bersikeras.
Anehnya, pernyataannya tidak menyebutkan organisasi teroris yang bertanggung jawab (JeM) atau pemimpin kelompok itu (Masood Azhar)―dan negara mendukung mereka (Pakistan). Sebagian besar negara mengeluarkan pernyataan dengan merujuk pelaku serangan itu.
Namun, ini tidak mengejutkan. Setiap kali India meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menunjuk kepala JeM Masood Azhar sebagai “teroris global,” China telah memveto tindakan tersebut. China terus diam tentang alasan di balik keputusannya. India telah mengajukan itu sejak Serangan Mumbai 11/11, tetapi setiap kali dibahas di DK PBB, China selalu menempatkan “menunda” diskusi mengenai masalah tersebut.
Sekarang setelah serangan teroris lagi yang membuat marah penduduk India, misteri di balik keheningan China ini masih belum terpecahkan. Walaupun sebagian besar menganggap keheningan China ini sebagai bantuan bagi Pakistan, karena keduanya terus mempertahankan “persahabatan erat” mereka, yang lain berpendapat bahwa China menganggap India bertanggung jawab karena memberikan suaka politik kepada pemimpin Tibet Dalai Lama, yang dianggap China sama dengan pemimpin Lashkar-e -Taiba (LeT), Hafiz Saeed.
Sikap China atas pendaftaran Masood Azhar sebagai teroris global oleh DK PBB diangkat pada konferensi pers baru-baru ini. Pada hari Jumat (15/2), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang menjawab bahwa “Mengenai masalah pendaftaran, saya dapat memberi tahu Anda bahwa Komite Dewan Keamanan 1267 memiliki ketentuan yang jelas tentang pendaftaran dan prosedur organisasi teroris.” Dia juga menyatakan bahwa China akan mematuhi aturan dan regulasi yang tepat untuk “menangani masalah sanksi yang relevan secara konstruktif dan bertanggung jawab.”
Hambatan China terhadap teguran internasional terhadap Azhar―dan Pakistan―telah menjadi salah satu penghalang terbesar dalam hubungan antara India dan China, di samping masalah-masalah abadi yang berkaitan dengan sengketa perbatasan, Dalai Lama, dan perbedaan perdagangan. Kedua negara itu berpartisipasi dalam banyak inisiatif internasional dan multilateral seperti BRICS dan SCO, yang belakangan mengecam terorisme dan dengan demikian menyediakan platform bagi India untuk mengecam terorisme yang disponsori negara Pakistan (karena Pakistan juga menjadi anggota SCO).
Tetapi daftar hitam Masood Azhar, dan tanggapan China yang tidak memadai, telah menjadi gangguan bagi India. Ketika serangan Pulwama terus menjadi berita dan negara itu mungkin bersiap-siap untuk melawan, tarik ulur India-China mengenai masalah ini tetap menemui jalan buntu.
Prarthana Basu adalah Asisten Peneliti di Institute of Chinese Studies, New Delhi .
Keterangan foto utama: Tentara India. (Foto: Wikimedia Commons)

No comments:

Post a Comment