MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Wednesday, January 30, 2019

Adik bungsu BTP dan ayah Puput akhirnya bicara

Adik Bungsu BTP Singgung Perpisahan dan Perselisihan Kakaknya, Sementara Ayah Puput Bicara....

Harry Basuki Tjahaja Purnama, adik bungsu Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok, menuliskan ungkapan perasaannya.

Adik bungsu Ahok ini mencurahkan isi hatinya seusai santer kabar pernikahan sang kakak.

Harry Basuki Tjahaja Purnama membagikan curahan isi hatinya melalui Instagramnya @harrytjahajapurnama, meski ia tak menyebut langsung soal Ahok BTP yang akan menikah dengan Puput Nastiti Devi.

Sebagaimana diketahui, Ahok santer dikabarkan akan menikah pada tanggal 15 Februari.

Kendati demikian, ayah Puput Nastiti Devi, Teguh Sriyono membantah tanggal pernikahan tersebut.

"Ya itu kan belum benar tanggal berapanya," kata Teguh Sriyono kepada Grid.ID di Jalan Bhineka 3, Depok, Jawa Barat, Senin (28/1/2019).

Meski tak memberitahukan tanggal pasti pernikahan sang putri dengan BTP, ayah Puput sempat membongkar lokasi pernikahan.

Awalnya Ayah Puput membantah pernikahan BTP dengan Puput akan dilangsungkan di kampung halamannya, Nganjuk, Jawa Timur.

Kemudian, Ayah Puput justru memberikan bocoran lokasi pernikahan sang putri dengan Ahok.

"Ya, pastinya pestanya enggak sampai di Nganjuk. Lha, wong nikahnya kan di sini (Depok)," ungkap Teguh.

Seiring dengan kabar pernikahan Ahok dengan Puput, kini adik bungsu BTP mencurahkan isi hatinya.

Melansir akun Instagram @harrytjahajapurnama pada Rabu (30/1/2019), Harry Basuki Tjahaja Purnama menuliskan curahan hatinya tersebut.

Harry Tjahaja Purnama mengakui sulit untuk menjawab apabila urusan pribadi menjadi urusan publik.

Bahkan dalam curahan hatinya itu ia menyinggung soal perpisahan dan perselisihan.

Tak hanya itu, ia menegaskan jika kita semua hanyalah seorang manusia.

Adik Ahok itu juga mengatakan repotnya urusan keluarga yang telah menjadi konsumsi publik.

Berikut curahan hati Harry Tjahaja Purnama, adik bungsu Ahok:

"Sulit memang untuk menjawab kalau urusan pribadi menjadi urusan publik.
Semua perpisahan dan perselisihan pasti ada sebab dan akibat yang pada dasarnya sudah tak saling pengertian.

Urusan keluar, suami - istri, anak, adik dan kakak juga tak lepas dari kesalahpahaman dan cara pandang,

sifat yang berbeda dalam menyelesaikan suatu masalah dengan cara berbeda.
We are just a human.

Yang paling repot memang urusan keluarga di konsumsi publik.

Hidup milik pribadi salah dan benarpun menjadi tanggungjawab pribadi.

Kita punya opini bahkan punya kesempatan boleh saja menyampaikan pandangan kita terhadap ornag lain termasuk saya sendiri sering melakukan hal tsb.

Namun diterima atau tidaknya tetap menjadi hak dan milik orang tersebut.

Tetaplah mengasihi dan menyayangi sesama karena kita sebenarnya tak sungguh-sungguh mengetahui perasaan dan isi hati orang lain sebenarnya," tulis @harrytjahajapurnama.

Dalam postingannya itu, adik Ahok juga menambahkan caption.

"Be wise & be love," ucap Harry Tjahaja Purnama.

Sumber: tribunnnews.com

Sunday, January 27, 2019

Akan Targetkan Tel Aviv, Pemimpin Hizbullah Beri Peringatan pada Israel



Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah memberikan peringatan pada Israel sehubungan serangan-serangannya di Suriah. Nasrallah mengatakan Iran, Suriah, dan Hizbullah bisa “kapan saja” memutuskan untuk menghadapi tindakan Israel di Suriah dengan cara yang berbeda, dan memberi sinyal bahwa Tel Aviv bisa jadi target. Ia memperingatkan agar Israel jangan sampai salah langkah.
Oleh: Sarah El Deeb (AP/CTV News)
Kepala kelompok militan Hizbullah di Libanon memperingatkan Israel Sabtu malam sehubungan serangan mereka yang berkelanjutan di Suriah, mengatakan satu salah perhitungan bisa menyeret area itu dalam perang.Hassan Nasrallah membuat komentar itu dalam wawancara panjang yang berlangsung lebih dari tiga jam dengan stasiun TV Beirut, Al-Mayadeen.Nasrallah mengatakan Iran, Suriah, dan Hizbullah bisa “kapan saja” memutuskan untuk menghadapi tindakan Israel di Suriah dengan cara yang berbeda, dan memberi sinyal bahwa Tel Aviv bisa jadi target.Berbicara kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, ia mengatakan: “Berhati-hatilah. Jangan lanjutkan apa yang Anda lakukan di Suriah. Jangan salah perhitungan dan jangan menyeret area ini dalam perang atau konfrontasi besar.”Nasrallah mengatakan situasi di regional itu telah berubah seiring Iran dan sekutu-sekutunya, termasuk kelompoknya, melebarkan pengaruh mereka di sana. Ini artinya, perang apapun bisa berlangsung lebih dari di satu tempat, Nasrallah memperingatkan.
Baru-baru ini Israel telah meningkatkan serangan mereka terhadap terduga target militer Iran di Suriah, menyasar target itu adalah satu perubahan dari kebijakan mereka sebelumnya untuk mengecilkan atau tidak mengomentari aktivitas militernya di negara perang.Dalam kekerasan terakhir, militer Israel mengklaim bertanggung jawab untuk serangkaian serangan udara terhadap target-target Iran di Suriah Senin lalu, mengatakan mereka merespons serangan misil Iran sehari sebelumnya. Serangan Iran diikuti oleh serangan udara Israel yang jarang terjadi di siang hari di dekat Damascus International Airport.Nasrallah mengatakan, Israel gagal memahami bahwa apa yang ia katakan adalah tujuan mereka di Suriah: menundukkan pemerintahan Suriah, memaksa Iran keluar dari Suriah dan mencegah Hizbullah mendapatkan misil presisi. Dia juga mengatakan Netanyahu adalah orang yang “paling dikecewakan” oleh rencana Amerika Serikat untuk menarik pasukannya dari Suriah dan mengutip penarikan itu sebagai “kegagalan” lain.Kemunculan Nasrallah itu diikuti laporan-laporan berita di Sirael dan tempat lainnya bahwa kesehatannya menurun. Ia membantah laporan itu dan menyebutnya sebagai “kebohongan.”“Saya tidak menderita masalah kesehatan apapun,” ujar Nasrallah, yang terlihat santai dan saat itu bergurau dengan pewawancaranya sambil menyisip teh dan air. “Saya aktif beraktivitas, dan berat badan saya juga turun,” ujarnya sambil terkikik.Pemimpin Hizbullah itu secara teratur menyapa para pendukungnya dan muncul di TV membahas masalah-masalah mendesak di area itu dan Libanon. Namun Nasrallah yang berusia 59 tahun, yang telah memimpin kelompoknya melalui berbagai perang melawan Israel selama tiga dasawarsa, sudah tidak muncul di TV sejak bulan November, walaupun meningkatnya kekerasan Israel di Suriah dan perbatasan Libanon.Nasrallah menyebut ketidakmunculannya itu disengaja, mengatakan Hizbullah memutuskan untuk tidak membahas serangn Israel agar mereka tidak mengipasi apa yang mereka sebut sebagai “aksi publisitas” Israel.Pada bulan Desember, militer Israel meluncurkan “Operasi Perisai Utara” (Operation Northern Shield) untuk menditeksi dan menghancurkan apa yang mereka jabarkan sebagai jaringan luas terowongan-terowongan Hizbullah agar para milisi bisa menyusup menyebrangi perbatasan masuk ke Israel, merebut teritori dan melancarkan serangan. Israel menemukan setidaknya enam terowongan, yang mereka katakan adalah investasi strategis Hizbullah untuk perang potensial selanjutnya.Dalam komentar pertamanya tentang operasi terowongan, Nasrallah mengecilkan penemuan itu, mengatakan Hizbullah akan membutuhkan lebih ari beberapa terowongan jika mereka pernah akan memutuskan untuk menyerang Israel.Ia juga mengatakan setidaknya salah satu terowongan itu dibangun satu dasawarsa yang lalu.“Hal ini adalah kegagalan 13 tahun intelijen Israel,” ujar Nasrallah.Keterangan foto utama: Dalam foto tanggal 2 Agustus 2013 ini, pemimpin Hizbullah Sheikh Hassan Nasrallah berbicara dalam suatu reli untuk menandai hari Yerusalem atau hari Al-Quds, di pinggir selatan kota Beirut, Libanon. (Foto: AP/Hussein Malla)

Perang Rahasia Israel dan Iran di Suriah: Ini yang Harus Kita Tahu

Israel dan Iran

srael dan Iran melakukan perang rahasia di Suriah, di mana kedua negara baru-baru ini saling mengirimkan serangan. Pertikaian sengit atau ancaman berapi-api antara Israel dan Iran bukanlah hal yang baru. Tetapi kekerasan minggu ini telah menggarisbawahi kekhawatiran bahwa upaya kedua negara untuk menetapkan garis merah di Suriah, berisiko meningkatkan konflik yang awalnya rahasia menjadi perang terbuka. Berikut ini yang harus kita ketahui tentang perang Israel dan Iran di Suriah.
Oleh: Joseph Hincks (TIME)
Terdapat video yang menunjukkan seorang pemain ski dengan jaket biru meluncur menuruni lereng sebelum kamera bergerak ke atas, suara gemuruh yang tidak menyenangkan terdengar di latar belakang.
“Inilah yang dilihat oleh keluarga yang bermain ski di Gunung Hermon di Israel utara, ketika mereka melihat ke atas,” tulis keterangan di layar pada video 37 detik yang diunggah oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) ke Twitter pada Senin (21/1), ketika dua jalur berasap melintasi sebuah langit gelap. “Sebuah roket Iran ditembakkan ke arah mereka dari tanah Suriah.”
Diambil pada kamera snowboarder pada tanggal 20 Januari, video tersebut menunjukkan sistem pertahanan rudal Iron Dome Israel yang tampaknya mencegat roket permukaan-ke-permukaan yang ditembakkan ke Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel—sebuah dataran tinggi di Suriah barat daya—yang dipasang tak lama setelah Israel melakukan serangkaian serangan udara balasan terhadap target Iran di Suriah.
Target-target itu termasuk apa yang disebut oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebagai “gudang Iran yang berisi senjata Iran” di Bandara Internasional Damaskus, dan sederetan baterai pertahanan udara militer Suriah, termasuk beberapa instalasi buatan Rusia.
Serangan udara Israel tersebut menewaskan 21 orang, menurut sebuah badan pengawas, di antaranya 12 anggota Korps Pengawal Revolusi Iran, enam pejuang Suriah, dan tiga warga negara non-Suriah. Menanggapi hal itu, seorang pejabat tinggi militer Iran mengeluarkan ancaman baru untuk memusnahkan Israel, dan Suriah memperingatkan bahwa itu bisa mengenai bandara Tel Aviv.
Sementara itu, Rusia meminta Israel untuk menghentikan “serangan sewenang-wenang di wilayah negara berdaulat.” Pada Kamis (24/1), Israel telah mengerahkan sistem Iron Dome di Tel Aviv untuk menyediakan area metropolitan tersebut dengan penutup udara yang lebih besar, di tengah ketegangan dengan Suriah, begitu juga nyala api yang membumbung di Jalur Gaza ke selatan.
Pertikaian sengit atau ancaman berapi-api antara Israel dan Iran bukanlah hal yang baru. Tetapi kekerasan minggu ini telah menggarisbawahi kekhawatiran bahwa upaya kedua negara untuk menetapkan garis merah di Suriah, berisiko meningkatkan konflik yang awalnya rahasia menjadi perang terbuka.
Inilah yang perlu diketahui.

MENGAPA RUDAL TERBANG DI ATAS RESOR SKI?

Sebuah bendera Israel terlihat diletakkan di Gunung Bental di Dataran Tinggi Golan yang dicaplok Israel pada 10 Mei 2018. Tentara Israel mengatakan telah melakukan penggerebekan yang luas terhadap sasaran-sasaran Iran di Suriah, setelah serangan roket ke arah pasukannya yang dipersalahkan pada Iran. (Foto: AFP/Getty Images/ Jalaa Marey)
Video IDF tersebut menggambarkan Gunung Hermon berada di Israel utara, tetapi komunitas internasional tidak mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan. Israel menaklukkan sebagian besar dataran tinggi tersebut selama Perang Arab-Israel tahun 1967 dan mencaploknya secara sepihak pada tahun 1981.
Meskipun perselisihan wilayah Suriah dan Israel atas Dataran Tinggi Golan tidak terselesaikan, dan kedua negara secara teknis telah berperang sejak didirikannya Israel, namun perbatasan barat laut Israel selama beberapa dekade merupakan daerah yang paling tidak bergejolak. Itu berubah ketika perang Suriah pecah pada tahun 2011, dan Iran mulai mengucurkan uang, sumber daya, dan tentara ke negara itu untuk mendukung rezim Bashar al-Assad.
Intervensi Iran, sebagian, merupakan tanggapan terhadap rute awal pemberontak Sunni, yang dibiayai oleh Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya. Tujuan strategis utama Teheran sekarang adalah untuk meningkatkan kemampuannya untuk mencegah potensi serangan Israel terhadap Iran, dengan meningkatkan risiko penyerangan semacam itu terhadap Israel, kata Payam Mohseni, Direktur Proyek Iran di Sekolah Pemerintahan Kennedy Harvard.
Kehadiran milisi sekutu Iran di perbatasan barat laut Israel, “mungkin menjadi pengubah permainan” dalam hal pencegahan, katanya. Mereka juga meningkatkan kemampuan Iran untuk mendukung dan memasok partai politik Islam Syiah yang berbasis di Lebanon dan kelompok militan Hizbullah, di sebelah utara langsung Israel. “Israel menyerang untuk sangat membatasi skenario seperti itu.”
“Iran sibuk mengubah Suriah menjadi basis pertahanan militer,” kata Netanyahu pada tahun 2017, ketika intervensi Iran dan Rusia dalam mendukung Assad membantu rezim itu menuju kemenangan strategis. “Iran ingin menggunakan Suriah dan Lebanon sebagai medan perang dalam melawan tujuan yang dinyatakannya untuk membasmi Israel,” Netanyahu menambahkan, “Ini adalah sesuatu yang tidak bisa diterima Israel.”

SEBERAPA MENGAKAR IRAN DI SURIAH?

Iran menyangkal kehadiran militer resmi atau pangkalan di Suriah—selain penasihat yang diakuinya secara terbuka—dan tidak ada jumlah pasti terkait pasukan yang dimilikinya di sana. Tetapi setidaknya 2.000 orang Iran telah tewas di Suriah sejak perang dimulai, kata Ariane Tabatabai, seorang ilmuwan politik di RAND Corporation yang berbasis di California. Suriah mewakili “salah satu komitmen paling signifikan yang telah dibuat Iran di luar perbatasannya dalam beberapa dekade terakhir,” kata Tabatabai.
Namun, yang lebih besar dari jumlah pejuang Iran, adalah kontingen pejuang asing yang dilatih dan diperlengkapi oleh Iran di Suriah. Selain Hizbullah dan pasukan Suriah yang setia kepada Assad, Teheran mendukung milisi Syiah yang terdiri dari pejuang Afghanistan dan Pakistan. Tabatabai mengatakan bahwa perkiraan jumlah orang Afghanistan yang terbunuh di Suriah mencapai puluhan ribu jiwa.
Pada Kamis (24/1), Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) mengumumkan sanksi terhadap Divisi Fatemiyoun yang didukung Iran, yang terdiri dari warga negara Afghanistan, dan Brigade Zaynabiyoun, yang terdiri dari warga negara Pakistan. “Rezim Iran yang brutal mengeksploitasi komunitas pengungsi di Iran, membuat mereka kehilangan akses untuk mendapatkan layanan dasar seperti pendidikan, dan menggunakannya sebagai perisai manusia untuk konflik Suriah,” kata Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dalam sebuah pernyataan.
Kehadiran Iran tidak terbatas pada pasukan di lapangan. Iran telah menginvestasikan semuanya, mulai dari telekomunikasi, ekstraksi sumber daya, hingga sektor pendidikan.

BISAKAH AS ATAU RUSIA MEMBANTU MEREDAKAN SITUASI?

Para ahli mengatakan bahwa Israel dan Iran berusaha untuk menetapkan garis merah terhadap aktivitas satu sama lain di Suriah, dan tidak ada yang menginginkan perang. “Untuk saat ini, risiko bahwa ini akan meningkat secara serius masih terbatas,” kata Mohseni dari Harvard. Tetapi yang lain menganggap bahwa risiko terjadinya sesuatu yang tidak disengaja sangat signifikan.
Jika sebuah roket yang berasal dari Suriah mengenai warga sipil di Dataran Tinggi Golan, misalnya, atau jika serangan Israel yang salah arah menghantam infrastruktur kritis Suriah atau Rusia, responsnya mungkin sulit untuk ditahan.
Meskipun Rusia pada Rabu (23/1) mengatakan bahwa serangan udara Israel yang “sewenang-wenang” harus dihentikan, namun Rusia telah menoleransi sejumlah tindakan Israel terhadap target Iran dan pro-Iran di Suriah, asalkan mereka tidak berdampak pada asetnya sendiri atau aset Suriah, kata Joost Hiltermann, Direktur program Timur Tengah dan Afrika Utara di International Crisis Group.
Moskow “umumnya berusaha membantu keduanya menetapkan garis merah mereka tanpa terlibat terlalu dalam,” katanya. “Di satu sisi Rusia agak netral. Rusia tidak ingin Iran menang. Rusia juga tidak ingin Israel menang.”
Tetapi ada keraguan sejauh mana Rusia akan dapat mengendalikan pengaruh Iran atas rezim Suriah. Menulis untuk TIME awal bulan ini, Lina Khatib, Kepala Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House, berpendapat bahwa penarikan pasukan AS yang tiba-tiba akan memperkuat Teheran.
Kehadiran pasukan AS di Suriah timur laut sejauh ini membatasi pergerakan bebas antara milisi yang didukung Iran dan Pasukan Mobilisasi Rakyat Irak yang bersekutu di seberang perbatasan. Kehadiran pasukan Amerika juga menghalangi akses Iran ke ladang-ladang minyak—pendapatan yang dapat mengimbangi dampak ekonomi dari sanksi Amerika yang baru-baru ini diberlakukan kembali.
Penarikan Amerika, Khatib menulis, “akan memberi Iran waktu dan ruang untuk mengonsolidasikan kehadiran dan aksesnya ke sumber daya, dan pada akhirnya membuat lebih sulit bagi Rusia dan Assad untuk memisahkan Suriah dari Iran.”

BAGAIMANA MILITER ISRAEL MENCOBA MEMBATASI PENGARUH IRAN?

Sebelumnya, Israel telah mempertahankan kebijakan ambiguitas atas aktivitasnya di Suriah—yang berarti bahwa mereka tidak secara terbuka mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap instalasi atau konvoi pasukan Iran. Israel juga tidak secara terbuka mengakui pendanaan terhadap kelompok pemberontak di Suriah selatan untuk memblokir pejuang yang didukung Iran.
Namun pada bulan September, seorang pejabat intelijen Israel mengatakan bahwa Israel telah melakukan lebih dari 200 serangan terhadap sasaran-sasaran Iran di Suriah dalam dua tahun terakhir. Awal bulan ini, seorang mantan kepala staf militer IDF mengatakan kepada New York Times bahwa IDF telah menyerang “ribuan” target di Suriah sejak tahun 2011.
Keterbukaan baru itu menyusul peluncuran sekitar 20 roket ke Dataran Tinggi Golan pada bulan Mei, di mana Israel menyalahkan Iran. “Mereka harus ingat bahwa jika hujan turun di sini (di Israel), hujan akan turun di sana,” kata Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman, setelah serangkaian serangan udara pembalasan yang dia klaim mengenai hampir semua infrastruktur Iran di Suriah. “Saya harap kita telah menyelesaikan bab ini dan semua orang mendapat pesannya.”
Tapi melihat satu minggu terakhir, sepertinya itu tidak terjadi.
Keterangan foto utama: Foto yang dirilis oleh kantor berita resmi Suriah SANA ini, menunjukkan rudal terbang ke langit di dekat bandara internasional di Damaskus, Suriah, pada 21 Januari 2019. Dalam langkah yang sangat tidak biasa, militer Israel telah mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa mereka sedang menyerang target militer Iran di Suriah. Israel juga memperingatkan pemerintah Suriah untuk tidak membalas Israel. (Foto: AP/REX/Shutterstock)

Negara-negara Barat Sekutu AS Kompak Minta Pemilu Di Venezuela Diulang



Negara-negara sekutu Amerika Serikat sepakat menuntut digelarnya pemilu ulang di Venezuela. Mereka menganggap hasil pemilu beberapa bulan yang lalu dengan 68 persen suara yang memenangkan Nicolas Maduro adalah tidak sah.
Presiden Perancis Emmanuel Macron pada Sabtu mengaku akan mengakui Juan Guaido sebagai presiden Venezuela bila negara itu tak menggelar pemilu ulang dalam waktu dekat.
Macron dalam akun Twitternya menulis, “Rakyat Venezuela harus bebas menentukan masa depan mereka. Tanpa pemilihan yang diumumkan dalam waktu 8 hari, kami akan siap mengakui @jguaido [Juan Guaido] sebagai “Presiden yang bertanggung jawab” dari Venezuela untuk memulai proses politik. Kami sedang mengupayakannya bersama mitra Eropa.”
Spanyol dan Jerman pada hari ini telah mengumumkan sikap yang sama. Sementara itu Dewan Keamanan PBB, atas permintaan Amerika Serikat dan sejumlah negara Timur Tengah, rencananya akan menggelar sebuah pertemuan untuk membahas pengakuan terhadap Guaido dan pelengseran Nicolas Maduro, Presiden Venezuela saat ini.
Dua hari yang lalu Amerika Serikat dan sebagian besar negara-negara Barat menyatakan bahwa pemerintahan Venezuela yang baru saja terpilih kembali dalam pemilu adalah ilegal dan tidak sah. Tindakan ini dinilai bertentangan dengan kebiasaan dan undang-undang internasional. Gantinya, mereka mengakui pemimpin oposisi di negara tersebut sebagai presiden sementara.
Tindakan Amerika Serikat dan pendukungnya ini mendapatkan perlawanan dari negara-negara penentang mereka seperti Rusia, Iran dan Turki. Negara-negara tersebut meminta pihak AS untuk berpegang teguh pada kaidah-kaidah demokrasi.
Nicolas Maduro telah memenangkan pemilu yang digelar beberapa bulan yang lalu di Venezuela dengan kemenangan telak dengan memperoleh suara sebesar 68 persen.
Meski demikian, Juan Guaido pada Rabu lalu yang mendapatkan dukungan penuh dari negara-negara Barat mendeklarasikan dirinya sebagai presiden sementara Venezuela saat ia berorasi di hadapan para pendukungnya. Tindakan Guaido ini dianggap oleh pemerintah Maduro sebagai bentuk kudeta terhadap pemerintah.

Tiba di Turki, Tim Penyidik PBB Ingin Selidiki TKP Pembunuhan Khashoggi



Tim penyelidik khusus PBB dalam kasus pembunuhan Jamal Khashoggi pada Sabtu meminta untuk diizinkan melakukan pemeriksaan di gedung Konsulat Arab Saudi di Turki, tempat di mana jurnalis Arab Saudi itu dibunuh.
Dilansir dari Reuters, Agnes Callamard, penanggung jawab penyelidikan kasus pembunuhan Khashoggi di PBB mengumumkan bahwa pihaknya telah mengajukan permintaan untuk melakukan pemeriksaan di tempat tersebut kepada pemerintah Arab Saudi sejak beberapa pekan yang lalu. Namun hingga saat ini Riyadh belum memberikan jawaban resmi.
Callamard yang menjabat sebagai Pelapor Khusus untuk eksekusi di luar hukum, ringkasan atau arbitrer di Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia juga melaporkan, pihaknya juga telah mengajukan permintaan kepada pemerintah Arab Saudi untuk melakukan pertemuan Duta Besar Arab Saudi untuk Turki.
Pejabat di PBB itu pada Kamis telah tiba di Turki untuk melakukan penyelidikan terkait kasus yang sedang digarapnya ini.
Rencananya ia bersama timnya selama sepekan akan berupaya menyelidiki tindakan-tindakan yang telah dilakukan oleh pemerintah Ankara dalam penanganan kasus tersebut.
Pelapor khusus PBB mengungkapkan, hasil penyelidikannya itu rencananya akan dilaporkan pada Dewan HAM PBB pada Juni 2019 nanti atau sekitar enam bulan ke depan.

Meninjau Aliansi Mesir-Israel Pasca Revolusi 25 Januari



Revolusioner Mesir menyerang kedutaan Israel di Kairo sambil meneriakkan “Gaza Rumus Martabat Kami”. Mereka menurunkan bendera Zionis dan masuk ke dalam gedung kedutaan.
Peristiwa penyerangan kedutaan rezim Zionis di Kairo adalah pintu periode baru politik Mesir menghadapi Israel. Presiden Mohamed Morsi, presiden pertama pasca dilengserkannya Hosni Mubarak, tidak pernah mengucapkan kata “Israel” dalam lisannya.
Terkait agresi Israel ke Gaza tahun 2012, Presiden Morsi secara terang-terangan mendukung langkah Gaza. “Kami tidak akan pernah meninggalkan Gaza sendirian”, jelas Presiden Morsi. Tak sampai di sini, Presiden Mesir ini juga mengirim PM Hesham Qandil ke Palestina.
Betapa seriusnya Mesir mendukung Palestina. Tetapi pasca kudeta militer tahun 2013, semua berubah. Mohamed Morsi digulingkan dan digantikan oleh Presiden Abdel Fattah el-Sisi. Relasi Israel-Mesir berubah.
Sekutu Hangat
Secara umum, hubungan Israel-Mesir dari revolusi 25 Januari 2011 hingga 3 Juli 2013 menunjukkan hubungan yang sangat tipis dan lemah. Sebuah periode yang membuat petinggi Israel berkali-kali mengumumkan kekhawatirannya terhadap pemimpin yang terhubung erat dengan Ikhwan al-Muslimin.
Setelah el-Sisi naik dan pernyataanya tentang aliansi hangat Kairo-Tel Aviv, rezim Zionis semakin beringas memberantas Morsi dan kawan. Hal yang menarik Tawfik Okasha, jurnalis Mesir yang dekat dengan Pemerintah, menganjurkan Mesir untuk menghubungi Israel dan memohon kepada Zionis untuk membela sistem baru Mesir, di hadapan AS dan Barat, sebagai sistem hasil revolusi rakyat bukan kudeta militer.
Pasca itu, semua pejabat melaksanakan nasehat Tawfik Okasha dan Israel mulai mengiklankan sistem baru Mesir ke dunia internasional.
Sejak Abdel Fattah el-Sisi aktif menjabat tahun 2014 hingga sekarang, Israel selalu mengumumkan diri sebagai sahabat Kairo dan Presiden baru Mesir juga tidak pernah melewatkan satu kesempatan untuk mengakui hal ini. Presiden el-Sisi, pada bulan Desember 2017 di PBB, menegaskan pentingnya keselamatan penduduk Israel. Di April 2017 el-Sisi mengadakan pertemuan dengan Donald Trump dan menegaskan dukungannya atas Deal of the Century.
Dan akhir-akhir ini, Presiden el-Sisi mengakui kerjasama militer Mesir-Israel dalam memberantas teroris di Semenanjung Sinai.
Yuval Steinitz, Menteri Energi rezim Zionis dalam kunjungannya ke Kairo, menghadiri kongres gas Mediterania.
Kunjungan petinggi Zionis ini dalam rangka membagi hasil sumber daya gas Mediterania. Ini adalah kerjasama paling kuat Kairo-Tel Aviv sejak el-Sisi menjadi pemimpin tertinggi Mesir. “Secepatnya gas Mesir akan sampai ke Israel”, jelas Yuval Steinitz.
Beberapa bulan yang lalu, perusahaan Mesir-Israel menandatangani perjanjian produksi gas Israel-Mesir senilai 1 milyar 500 juta dolar pertahun.
Entah apa yang ada di benak el-Sisi, padahal diketahui semua bahwa salah satu kebangkitan revolusi Mesir kala itu adalah penjualan gas oleh Hosni Mubarak dengan harga paling rendah ke rezim Zionis.
Morsi Harus Lengser
Salah satu analis dengan yakin menjelaskan revolusi 25 Januari telah menggiring hubungan Israel-Mesir ke satu jalan buntu. Sebenarnya revolusi 25 Januari mampu menggusur hegemoni AS-Israel di Kawasan. Oleh karena itu, kudeta militer 2013 dan pelengseran Morsi adalah satu hal wajib di mata Zionis demi keutuhan rezim.
Salah satu aktifis dan revolusioner 2011, Ahmad el-Baqri, yakin bahwa penduduk Arab menolak diktator yang ingin normalisasi hubungannya dengan Zionis.
“Natijah kebangkitan rakyat adalah kepanikan rezim Zionis. Karena Israel sadar bahwa kebangkitan Arab sama dengan kemusnahan rezim Zionis. Oleh karena inilah, mereka memaksakan diri untuk mengadakan aliansi dengan anti-revolusi demi membela kelanggengan rezim”, tegasnya.
“Kegagalan revolusi Mesir telah menyebabkan Kairo keluar dari perhitungan Kawasan, hingga menjerumuskannya ke lingkaran Zionis. Bahkan sejalan dengan AS dalam meresmikan Yerusalem sebagai ibukota Yahudi”, akhirnya.

Live Musik di Makkah-Madinah, bertolak belakang dengan gaya kaum ekstrim Wahabi "DI/TII" di Indonesia



Istana Gubernur Makkah mengumumkan terbitnya surat izin live musik dalam restoran dan cafe di seluruh penjuru Arab Saudi.
Istana Makkah secara resmi menyatakan bahwa Khalid Al Faisal, Gubernur Makkah, tidak mengeluarkan surat larangan penyelenggaraan live musik di dalam restoran. Hal ini menolak isu yang tumbuh di dunia maya tentang pengecualian atau hak istimewa Makkah tentang live musik di dalam restoran.
Menurut Alahednews larangan penyelenggaraan live musik di dalam restoran adalah kebijakan lama. Kala itu, terjadi perilaku tak etis di dalam restoran, sehingga hal tersebut dijawab dengan langkah hukum.
(Tetapi) kini Dewan Kesejahteraan Saudi, pada hari selasa (22/1), mengeluarkan pernyataan bahwa semua restoran dan cafe memiliki izin untuk mempersembahkan seni dan lagu. Tak terkecuali dua kota suci Islam Madinah dan Makkah.

Thursday, January 24, 2019

Konflik Suriah: Israel dan Iran Bisa Terlibat dalam Perang Terbuka

Iran dan Israel

Perang antara kedua kekuatan regional itu bukan lagi rahasia, tulis Anshel Pfeffer. Serangan mereka mulai dilakukan di siang hari dan secara terbuka. Iran dan Israel berjuang terutama untuk pengawasan wilayah Suriah, tetapi tingkat perang terbuka di antara mereka belum pernah terjadi sebelumnya.
Oleh: Anshel Pfeffer (JC)
Perang rahasia yang terjadi antara Iran dan Israel selama dua tahun terakhir telah pecah.
Pada Minggu (20/1), Iran meluncurkan rudal jarak menengah ke arah Israel, yang dicegat oleh Iron Dome, yang meluncur di resor Gunung Hermon. Itu adalah serangan siang hari yang langka.
Beberapa jam kemudian, ketika pesawat Israel melakukan serangan balasan di pangkalan Pasukan Qods Iran di Suriah, juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengeluarkan pernyataan real-time yang belum pernah terjadi sebelumnya, bahwa mereka melakukan serangan.
Itu adalah serangan kedua oleh Israel di Suriah hari itu. Sebelumnya, terdapat serangkaian serangan udara terhadap sasaran-sasaran Iran di dekat Damaskus pada Minggu (20/1) pagi.
Dalam kedua kasus, baterai pertahanan udara Suriah menembakkan puluhan roket dalam upaya untuk mencegat pesawat dan rudal Israel yang masuk.
Kesibukan serangan udara dan rudal ini tidak kehilangan tempo kecepatan seperti pada serangan sebelumnya.
Hanya seminggu yang lalu, Kepala Staf IDF Gadi Eisenkot yang akan keluar, mengatakan bahwa Israel telah melakukan “ribuan” serangan serupa dalam beberapa tahun terakhir.
Iran juga telah mencoba setidaknya dua kali pada tahun 2018 untuk melancarkan serangan terhadap Israel menggunakan rudal, dan—dalam satu kasus—sebuah drone bersenjata. Apa yang telah berubah adalah sifat terbuka dari banyak kegiatan tersebut.
Baik Israel maupun Iran berusaha untuk menetapkan aturan keterlibatan di wilayah di mana negara-negara adikuasa—Amerika Serikat (AS) dan Rusia—tampaknya tidak tertarik atau tidak mampu membuat aturan apa pun.
Para pejabat militer Israel percaya bahwa mereka telah berhasil—melalui pengeboman yang ditargetkan terus-menerus dalam dua tahun terakhir—dalam mencegah Iran membangun pangkalan permanen di Suriah.
Tetapi mereka juga percaya bahwa Komandan Pasukan Qods, Jenderal Qasem Suleimani, memiliki Rencana B.
Iran kembali ke strategi yang telah dicoba dan diuji untuk membangun proksi regionalnya: ini berarti Hizbullah di Lebanon, dan milisi Syiah di Irak dan Suriah.
Tahap selanjutnya dalam meningkatkan kemampuan proksi-nya, klaim Israel, adalah untuk membekali mereka dengan rudal jarak jauh yang lebih akurat, memungkinkan mereka di masa depan untuk mengancam target Israel dengan tepat.
Banyak serangan udara baru-baru ini bertujuan untuk mencegah pengiriman sistem rudal Iran dalam mencapai gudang senjata Hizbullah di Lebanon.
“Pasukan Qods beroperasi di samping pasukan Suriah, itu adalah kewajiban bagi mereka,” kata Jonathan Conricus, juru bicara militer Israel, pada Senin (21/1).
“Iran mengeksploitasi Suriah. Orang-orang Suriah membayar mahal karena membiarkan serangan itu direncanakan dan dilakukan dari wilayah mereka.”
Komandan Angkatan Udara Iran Aziz Nasirzadeh, mengatakan di Teheran bahwa negaranya siap untuk memerangi Israel “dan menghilangkannya dari bumi.”
Kedua negara berjuang terutama untuk pengawasan wilayah Suriah, tetapi tingkat perang terbuka di antara mereka belum pernah terjadi sebelumnya.
Keterangan foto utama: Langit malam di atas Damaskus diterangi oleh baterai pertahanan udara Suriah, yang menanggapi apa yang media pemerintah katakan di mana rudal Israel berada. (Foto: Getty Images)

Netanyahu: ‘Israel Memiliki Senjata Paling Canggih di Dunia’

Netanyahu

Israel memiliki senjata paling canggih di dunia, dan mereka akan menghancurkan siapa saja yang berusaha menyerang Israel. Hal itu disampaikan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. “Kami akan terus mengembangkan sistem senjata paling canggih di dunia untuk memastikan keamanan Negara Israel dan warga negara kami,” kata perdana menteri.
Oleh: Middle East Monitor
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Selasa (22/1) mengancam akan memberikan pukulan “menghancurkan” kepada semua orang yang berupaya menghancurkan Israel, menurut sebuah pernyataan resmi yang dilansir dari Anadolu Agency.
“Biarkan musuh kami tahu bahwa pukulan menghancurkan dari Israel akan menjangkau semua orang yang berupaya menghancurkan kami,” kata Netanyahu.
Netanyahu menyampaikan ancaman saat mengunjungi markas besar Israel Aerospace Industries (IAI), yang bertanggung jawab mengembangkan sistem pertahanan rudal Israel, Arrow. Kunjungan Netanyahu ke markas IAI dilakukan tak lama setelah para pejabat Israel mengumumkan keberhasilan uji peluncuran rudal anti-balistik Arrow 3.
“Kami akan terus mengembangkan sistem senjata paling canggih di dunia untuk memastikan keamanan Negara Israel dan warga negara kami,” kata perdana menteri.

Sebelumnya pada hari Selasa (22/1), Kementerian Pertahanan Israel mengatakan telah berhasil menguji sistem senjata yang mampu mencegat rudal balistik di luar atmosfer bumi. Dalam sebuah pernyataan, kementerian mengatakan bahwa uji coba tersebut telah dilakukan bekerja sama dengan Badan Pertahanan Rudal Amerika Serikat.
Keterangan foto utama: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (Foto: AFP/Getty Images/Gali Tibbon)

Suriah Mengancam Akan Serang Bandara Ben-Gurion Israel

Bandara Ben-Gurion

“Suriah akan mempraktikkan hak membela diri yang sah dan menanggapi agresi Israel di Bandara Internasional Damaskus dengan cara yang sama terhadap Bandara Tel Aviv.” Duta Besar Suriah untuk PBB mengancam akan menyerang Bandara Ben-Gurion menanggapi serangan udara Israel yang terus-menerus. Ia juga mengecam utusan Timur Tengah lain di PBB, karena mengabaikan serangan Israel tersebut.
Oleh: Ilanit Chernick (Jerusalem Post)
Duta Besar Suriah untuk PBB, Bashar Jaafari, telah mengancam akan menyerang Bandara Ben-Gurion dalam menanggapi serangan udara Israel yang terus-menerus terhadap milisi Iran yang berurat akar di negara itu, menurut Kantor Berita Suriah SANA.
SANA melaporkan bahwa Jaafari membuat komentar itu selama pertemuan Dewan Keamanan PBB tentang situasi di Timur Tengah. “Agresi musuh Israel terhadap Suriah tidak akan dilakukan tanpa dukungan tanpa batas yang diberikan oleh negara-negara anggota PBB,” katanya merujuk pada Prancis, Inggris, dan AS. “Jika Dewan Keamanan PBB tidak mengambil langkah-langkah untuk menghentikan agresi berulang Israel di Suriah, Suriah akan mempraktikkan hak membela diri yang sah dan menanggapi agresi Israel di Bandara Internasional Damaskus dengan cara yang sama terhadap Bandara Tel Aviv.”
Jaafari juga menentang kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan, mengklaim bahwa upaya Israel untuk mendapatkan pengakuannya ditakdirkan untuk gagal dan tidak akan mempengaruhi hak Suriah atas wilayah tersebut.
Ia kemudian menyerang utusan PBB untuk Timur Tengah, Nickolay Mladenov, yang dia klaim “mengabaikan pendudukan Israel dan penindasan warga sipil di Golan Suriah yang diduduki Israel,” menambahkan bahwa Suriah sepenuhnya mendukung perjuangan Palestina.
“Berlanjutnya pendudukan, pemukiman dan pembunuhan Israel atas Palestina adalah alasan utama di balik ketidakstabilan dan kurangnya kemakmuran di kawasan itu,” kata Jaafari.
Jaafari juga memperingatkan bahwa “kami memberi tahu orang-orang yang berusaha mengubah batas-batas negara di wilayah itu—Suriah, yang telah memerangi teror internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya, akan bertahan terhadap skema ini dan mengalahkan mereka seperti yang telah kami lakukan berkali-kali di masa lalu.”
Komentar itu muncul setelah ketegangan antara kedua negara mencapai titik puncak awal pekan ini.
Pada Minggu malam (20/1) dan Senin pagi (21/1), IDF menyerang sasaran militer milik Pasukan Quds Iran di Suriah, termasuk tempat penyimpanan senjata, lokasi intelijen Iran dan kamp pelatihan Iran. Serangan itu adalah serangan tanggapan terhadap rudal permukaan-ke-permukaan yang ditembakkan ke Israel oleh Iran di Suriah pada Minggu sore (20/1).
Pusat Hak Asasi Manusia Suriah di London melaporkan bahwa jumlah orang yang tewas dalam serangan IDF itu telah meningkat menjadi setidaknya 21 orang. Menurut laporan itu, 15 orang yang tewas bukanlah orang Suriah, dengan 12 orang diidentifikasi sebagai anggota Garda Revolusi Iran.
Juga dilaporkan bahwa kerusakan terbesar di serangan itu menimpa gudang dan situs militer Garda Revolusi di Suriah.
Keterangan foto utama: Sebuah pesawat El Al di Bandara Ben Gurion. (Foto: Reuters)

Menlu Qatar: Arab-Iran Seharusnya Saling Berunding



Dalam sesi wawancara dengan media Bloomberg, Menlu Qatar dan Wakil PM Qatar mengakui pengaruh Iran, Turki dan Irak. Mereka mengajak Negara Arab untuk bertemu dengan Iran.
Mohammed bin Abdulrahman Al Thani kepada Bloomberg menjelaskan bahwa ia mengakui kekuatan Negara Arab Teluk Persia. Tetapi Iran, Turki beserta Irak adalah bagian dari Kawasan. “Jadi sudah seharusnya kami saling menjabat tangan”, jelasnya.
Menurut Menlu Mohammed Al Thani, Qatar butuh pada kerjasama yang kuat, stabil serta membangun dengan Pemerintah lain. Dia yakin bahwa hajatan ini bukan karena Qatar dikepung oleh Saudi dan Emirat. Tetapi dalam pandangannya, kerjasama ini lebih berdasar pada kebijakan Qatar dalam membangun hubungan baik dengan semua pihak Timteng.
“Iran adalah tetangga Qatar. Iran-Qatar memiliki satu garis sumber gas yang sama”, jelasnya mengenai Iran.
“Ketika Qatar menghadapi embargo dan boikot Negara tetangga. Iran membuka wilayah udaranya demi bangsa Doha. Berdasarkan fakta ini, hubungan baik sangat dibutuhkan oleh semua Pemerintah. Dan Qatar selalu siap dan membuka pintu perundingan, baik (waktu) dikepung oleh Negara Teluk Persia atau tidak”, tegasnya.
Kendati kepungan belum dibuka, Menlu Qatar tetap optimis bahwa mereka akan segera membangun hubungan baik dengan Doha. Dengan begitu, maka segala urusan berakhir.
Adapun tentang Irak, Menlu Qatar menjanjikan sebuah bantuan untuk stabilitas Baghdad. “Dalam pandangan Qatar, dekat dengan Irak adalah sebuah keistimewaan”, jelasnya.
“Iran adalah bagian dari Kawasan. Kami berharap Negara-negara Teluk Persia membuka perundingan dengan Teheran demi stabilitas, baik itu langsung maupun tidak langsung”, akhirnya.

Kurdi Suriah: Kami Upayakan Berunding Demi Satu Kesepakatan dengan Turki



Militer Demokratik Suriah dalam sebuah pernyataannya menjelaskan bahwa mereka tidak akan menolak bantuan pihak yang ingin menciptakan stabilitas dengan jaminan internasional untuk membelaan minoritas dan menghentikan intervensi asing.
Mayoritas militer Demokratik Suriah dihuni oleh militan Kurdi. Militer Demokratik menyanjung keberhasilan operasi pemberantasan ISIS dan menyatakan bahwa mereka tidak ada niatan untuk mengancam stabilitas tetangga, khususnya Turki. “Kami tidak berniat untuk menganggu tetangga, khususnya Turki. Kami berharap bisa mencapai satu kesepakatan dengan Ankara dan mencari jalan keluar yang akan mengamankan daerah-daerah perbatasan”, tegas militer Demokratik.
“Kami sebagai militer Demokratik Suriah, akan mempersembahkan semua kekuatan dan bantuannya untuk menciptakan stabilitas di utara dan timur laut Suriah. Sebuah daerah aman yang mampu menjamin minoritas di bawah naungan dunia internasional dan menghentikan intervensi asing”, tambahnya.
Pernyataan ini dikeluarkan saat Turki bersiap untuk menggempur militan Kurdi YPG, militan yang menjadi urat nadi militer Demokratik Suriah. AS sebelumnya juga telah mengambil keputusan untuk menarik pasukannya dari Suriah. Tak mau melupakan sekutu operasi pemberantasan terorisnya, Pentagon sudah berkali-kali mengirim pesan kepada Ankara untuk tidak mengusik Kurdi Suriah.

Jokowi, Ba'asyir dan BTP

Saya ditanya untuk menanggapi ribut-ribut di media (sosial) soal pembebasan Ba'asyir, terpidana pendukung terorisme dan bapak ideologis para jihadis Indonesia.
Mengapa Jokowi membebaskan Ba'asyir sekarang ?
Ya, memang alasan yang dikemukakan adalah alasan "kemanusiaan". Tapi kita tahu, Jokowi tidak pernah melakukan sesuatu yang menghebohkan tanpa perhitungan politik. Dan dia memang sudah sering mengejutkan para pengamat dan lawan-lawan politiknya dengan "move" yang tidak terduga-duga.

Menghitung sebuah ‘move’ politik, yang pertama-tama perlu kita amati adalah: Siapa yang paling diuntungkan dengan 'move' itu? Nah, ini yang sering dilalaikan para pengamat politik. Jawabannya sebenarnya mudah saja: Yuhril Ihza Mahendra. Pembebasan Ba'asyir sebenarnya adalah hadiah untuk YIM, sesuatu yang memang sudah dijanjikan kepadanya ketika berbalik mendukung capres nomor urut 1
 
Mengapa penting untuk mengangkat citra YIM? Karena dia satu-satunya politisi yang unya kapasitas menggembosi Gerindra, walaupun dalam hitungan dua-tiga persen saja, namun dalam situasi pertarungan politik saat ini, setiap persen sangat berguna untuk mengamankan kursi kepresidenan.
 
Jadi pada beberapa hari ke depan, yang akan kita alami adalah bangkitnya seorang politisi yang energik, yang sebenarnya sempat loyo dan lunglai, kembali ke panggung politik Indonesia. Lihat saja, beberapa hari ini nama YIM akan menghiasi headlines di media-media di Indonesia seperti pada masa-masa jayanya. Jadi yang penting bukanlah sang Ba'asyir, melainkan si ganteng YIM. Bagi Jokowi, sangat penting membesarkan lagi YIM agar bisa menarik sepersekian suara dari Gerindra dan aliansinya. Dan menurut saya, itu memang langkah politik yang jitu dan bakal membuat kubu lawan politiknya kebingungan dan merasa BT.
 
Tetapi memang ada faktor kemanusiaan dalam move politik Jokowi. Hanya saja, jauh dari yang disebut-sebut para pengamat politik.
 
Dengan membebaskan Ba'asyir, Jokowi sebenarnya sedang mengalihkan perhatian publik dari pembebasan BTP. Karena dia sadar betul, sosok BTP masih tetap berpotensi menjadi mobilisasi politik pihak lawan. Dan yang lebih penting lagi, bagi Jokowi sendiri BTP merupakan seorang sahabat baik, sekaligus sosok yang tegar, konsisten serta konsekuen, sesuatu yang tidak akan pernah dicapai Jokowi sendiri, karena dia merasa harus selalu melakukan kompromi ini-itu demi mempertahankan kepemimpinannya. Sedangkan seorang BTP, seperti yang kita kenal, adalah sosok berani mati dalam mempertahankan apa yang dia yakini, tanpa peduli pangkat atau jabatan. Itulah hal yang sangat dikagumi sekaligus dicintai Jokowi pada sosok BTP.
 
Memang, Jokowi tidak akan pernah berani secara terang-terangan menyatakan kekaguman dan kecintaannya kepada BTP, karena dia selalu memperhitungkan dan mengkhawatirkan dampak politiknya. Tapi langkah membebaskan Ba'asyir adalah move politik yang jitu untuk meringankan langkah BTP menuju ke alam bebas.
 
Pada akhirnya, dari aspek perhitungan politik, harus diakui bahwa Jokowi selalu menemukan celah yang mengejutkan dan tidak diduga para lawan maupun para pengamat politik. Disitulah, saya sering angkat jempol untuk orang nomor 1 RI ini. Akan halnya soal 'kemanusiaan', ya kalau ada yang percaya dengan itu, tentu akan sangat menguntungkan posisi Jokowi juga.
 
Dan ini teori lain :
 
INDONESIA JAUH LEBIH PENTING DARI SUARA PILPRES!
 
Ada banyak kesempatan jika Jokowi hanya memikirkan soal elektoral. Tapi ia memilih kerja keras. Lebih memilih pembangunan yang adil.
 
Kalau Jokowi mau menang Pemilu mudah. Simpel saja. Fokuskan saja anggaran untuk membangun daerah yang padat penduduknya seperti Jawa dan Sumatera. Atau kota-kota padat di Sulawesi dan Kalimantan.
 
Tapi itu tak dilakukan.
 
Jokowi membagi kartu Keluarga Harapan. Setiap keluarga akan mendapat Rp10 juta setahun, dibagi setiap tiga bulan sekali. Kartunya berbentuk seperti kartu ATM.
 
Tapi saat Jokowi mempertimbangkan untuk membebaskan Abubakar Baasyir, sebagian orang malah menudingnya itu cuma langkah meraup suara.
 
Bahkan yang menyebalkan, mereka menuding suara yang mau diraup Jokowi adalah suara kaum radikal. Padahal mana ada gerombolan radikal itu mau ikut Pemilu? Mereka mengharamkan NKRI. Wong, kabarnya Baasyir sendiri menolak menandatangani kesetiaan pada negara ketikka proses pembebasaannya.
 
Justru langkah membebaskan Baasyir berpeluang menggerus suara Jokowi dari kelompok minoritas. Tapi kenapa tetap dilakukan oleh Jokowi?
 
Saya meyakini ini bukan soal Copras-capres belaka. Keputusan itu menyangkut persoalan yang lebih besar dari sekadar Pilpres.
 
Baasyir itu salah satu pemimpin yang omongannya didengarkan gerombolan teroris. Ia pernah memegang posisi sebagai Imam yang meliputi Asia Tenggara. Artinya di mata gerombolan itu, posisi Baasyir sangat penting.
 
Persoalannya sekarang Baasyir sakit keras. Sementara masa tahannya masih 6 tahun lagi. Bayangkan jika ia mati di Penjara. Isunya akan dimainkan bahwa pemerintah Indonesia menjalimi ulama sampai mati.
 
Isu itu akan digoreng habis-habisan untuk membangkitkan seruan jihad.
 
Gerombolan teroris se-Asia akan bergerak memasuki Indonesia. Mereka juga didukung teroris dunia yang memang sedang mencari sarang baru. Setelah kehancuran di Suriah dan Irak.
 
Jadi jika Baasyir mati di penjara, isunya dimungkinkan akan dibakar gila-gilaan. Seperti mengundang burung pemakan bangkai mematuki tubuh kita. Jihadis dunia jadi punya motivasi masuk ke Indonesia. Disambut gerombolan politisi ‘ngehe’ yang ngebet berkuasa. Lalu esok, kita membaca berita negeri ini sudah tersandra gerombolan teroris.
 
Jadi naif jika kita memandang bahwa pembebasan Baasyir adalah langkah untuk menarik suara. Lho boro-boro nambah. Malah ada resiko berkurang. Coba lihat saja obrolan di medsos.
 
Persoalannya, sebagai Presiden Jokowi tak mungkin membiarkan kemungkinan buruk melanda negerinya. Jika pun langkah itu justru merugikan posisi politiknya. Kerugian kehilangan potensi suara, jauh lebih sedikit ketimbang kerugian kehilangan Indonesia.
 
Sebab Indonesia jauh lebih berarti dari sekadar Pilpres. Jauh lebih penting dari sekadar memuaskan rasa sakit hatimu.