Oleh : Mahrus Ad Dimasq
Seusai dari mengunjungi Hama,kurang lebih pukul 12:30 kami siap menuju kota Homs yang makmur dan sejahtera penduduknya.
Dibutuhkan sekitar satu jam-an lebih agar kita sampai disana.
Dibutuhkan sekitar satu jam-an lebih agar kita sampai disana.
Homs termasuk salah satu kota tua di Suriah dan sarat sejarah. Kota ini tidak hanya memiliki jejak Emperium Romawi dan Yunani Kuno tapi juga catatan emas perjuangan mujahid Muslim dalam menaklukkan Romawi di bawah komando Panglima Khalid bin Walid. Inilah tujuan utama tour kami mengunjungi makam sang panglima umat islam Saifullah Al maslul (pedang Allah yang terhunus) di Homs.
Awal pertama kali kami masuk pintu perbatasan kota ini, kami disuguhkan dengan pemandangan yang tak sedap. Ku kira Homs selamat dari bahaya perang seperti layaknya Hama. Nyatanya semua rumah berantakan bahkan seseorang yang berkursi roda bercerita bahwa "jangankan Rumah warga yang dijadikan persembunyian (markas) para Mujahid palsu. Di dalam masjid yang dinamakan masjid Kholid bin walid pun tak segan hancur olehnya.
"Begitu berani dan sembarangannya mereka !!
"Apa gak takut kuwalat dan di tebas lehernya sama beliau" ? Jika tidak di dunia bisa jadi di akhirat kelak.
Kata dan tanyaku dalam hati keheranan."Jika seandainya saja mereka berperang di satu tempat,maka keadaan sekitar tidak akan rusak separah ini.Kejadiannya, mereka berperang dari satu tempat yang utuh hingga hancur kemudian loncat mencari tempat yang lain. Dan beginilah keadaannya". Beliau sejenak diam mengusap matanya.
"Apa gak takut kuwalat dan di tebas lehernya sama beliau" ? Jika tidak di dunia bisa jadi di akhirat kelak.
Kata dan tanyaku dalam hati keheranan."Jika seandainya saja mereka berperang di satu tempat,maka keadaan sekitar tidak akan rusak separah ini.Kejadiannya, mereka berperang dari satu tempat yang utuh hingga hancur kemudian loncat mencari tempat yang lain. Dan beginilah keadaannya". Beliau sejenak diam mengusap matanya.
"Rumahku di tengah bangunan reruntuhan itu" tunjuknya kepadaku.
"karena belom layak untuk ditempati,maka saya dan anak sekaligus cucu menginap di rumah saudara untuk sementara waktu".
"karena belom layak untuk ditempati,maka saya dan anak sekaligus cucu menginap di rumah saudara untuk sementara waktu".
"Ngomong-ngomong kalian berasal darimana" ?? Tanyanya yang sedari awal percakapan kita belom berkenalan.
"Indonesia". Jawabku mantabkan diri.
"Wanni'am,Ya Ahlan wasahlan". Jawabnya senyum yang sepertinya senang kami kunjungi.
"Mohon pamit untuk ziarah ke makam Sayyidina Kholid bin walid". Kataku izin pamit.
"Indonesia". Jawabku mantabkan diri.
"Wanni'am,Ya Ahlan wasahlan". Jawabnya senyum yang sepertinya senang kami kunjungi.
"Mohon pamit untuk ziarah ke makam Sayyidina Kholid bin walid". Kataku izin pamit.
Masjid Kholid bin walid yang dulu megah bangunannya juga bagus pemandangannya,kini masih dalam perawatan ekstra.
Pinggiran-pinggiran bangunan megahnya terlihat pecah berlubang dan yang lebih parahnya kamar mandi atau tempat wudhu hancur berantakan belom terurus.
Kami pun wudhu dengan menggunakan Air tangki yang terletak di luar sekitar masjid.
Pinggiran-pinggiran bangunan megahnya terlihat pecah berlubang dan yang lebih parahnya kamar mandi atau tempat wudhu hancur berantakan belom terurus.
Kami pun wudhu dengan menggunakan Air tangki yang terletak di luar sekitar masjid.
Seketika ku menginjakkan kaki di pintu masuk masjid terlihat olehku bangunan dan hiasan baru,Ini termasuk bangunan makam sang panglima dan anaknya yang terletak sebelah kanan pintu masuk yang hampir selesai. Begitu juga dengan makam Ubaidillah ibn umar bin khottab amirul mukminin yang terletak di sebelah kiripun sudah rapi terenovasi. Bahkan Lampu-lampu penghias ala masjid turkey pun sudah terpasang dengan Indahnya. "Tapi sayang...kami dilarang foto oleh penjaga masjidnya.
'Ala kulli hall... Alhamdulillah.
'Ala kulli hall... Alhamdulillah.
Damaskus 30 Des 2018.
No comments:
Post a Comment