BERITA INTERNASIONAL, TIMUR TENGAH, DAN DALAM NEGERI.
MENERIMA IKLAN/SPONSOR
Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.
Tuesday, December 18, 2018
Geger Nisan Berbentuk Salib di Pemakaman di Yogya Dipotong
Masyarakat Yogyakarta digegerkan dengan kabar dipotongnya nisan salib di sebuah pemakaman umum di Kotagede, Kota Yogyakarta. Informasi tersebut diposting oleh akun Facebook Iwan Kamah.
Tim lantas menelusuri kebenaran informasi tersebut. Diketahui bahwa pemakaman yang dimaksud adalah pemakaman Albertus Slamet Sugihardi yang meninggal pada Senin (17/12).
Slamet kemudian dimakamkan di Pemakaman Umum Jambon Purbayan yang tidak jauh dari rumahnya di Purbayan RT 53 RW 13, Kotagede.
Bedjo Mulyono, tokoh masyarakat setempat, memberikan penjelasan terkait peristiwa tersebut. Ia mengatakan bahwa tidak ada pemaksaan dalam pemotongan salib. Pemotongan salib merupakan kesepakatan warga agar tidak menggunakan simbol agama dalam pemakaman.
“Dipotong sesuai kesepakatan karena kesepakatan warga tidak ada simbol dan di pinggir (lokasi). Maka itu tadi dipotong,” jelas Bedjo, Selasa (18/12).
Bedjo menceritakan awal mula pemakaman. Menurut Bedjo, Slamet meninggal di Rumah Sakit PKU dan kemudian hendak dimakamkan di pemakaman kampungnya. Masyarakat setempat yang mayoritas muslim lantas mempersiapkan pemakaman mulai dari menggelar tikar, sound system, tenda, dan menggali kubur.
“Dimakamkan di Jambon, itu pemakaman muslim. Kemudian jam 12 setelah zuhur tokoh-tokoh kita ke tempat kami. Kalau dimakamkan untuk tidak di (bagian) tengah-tengah makam. Kita kan cukup toleransi, dipinggirkan dengan catatan tidak menggunakan simbol agama,” bebernya.
Sementara itu Nur Hudin, tokoh masyarakat lain menjelaskan bahwa makam Slamet diletakkan di pinggir karena memang tadinya akan dibuat blok sendiri antara makam muslim dan nonmuslim.
“Di pinggir artinya nanti akan kita blok sendiri bahwa ini muslim, ini non. Kalau di tengah-tengah kan campur aduk,” jelasnya.
Pemotongan salib dan letak makam juga sudah atas kesepakatan dengan keluarga. Ketika ditanya dengan adanya peraturan tersebut, keluarga juga sudah menyatakan ikhlas.
“Keluarga tidak mempersalahkan. Ini (menjadi) viral (karena) orang luar yang memviralkan. Keluarga itu adem ayem. Keluarga mesake (kasihan), masih berduka ditanya ngalor ngidul (ke sana kemari),” bebernya.
Sementara itu, di lokasi pemakaman, makam Slamet masih bertabur bunga. Sementara nisan berbentuk “T” masih menancap di pusara Slamet.
Tokoh masyarakat Purbayan RT 53 RW 13, Kotagede, Yogyakarta, Bedjo Mulyono. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)
No comments:
Post a Comment