
Pasukan Suriah mulai bergerak melindungi Kurdi dari serangan Turki, setelah pasukan Kurdi yang dikenal sebagai YPG meminta bantuan kepada rezim Suriah. Kelompok Kurdi berada di garis depan koalisi AS dalam memerangi ISIS di Suriah. Tetapi mereka dibiarkan terhuyung-huyung pekan lalu, ketika Presiden Trump tiba-tiba memerintahkan penarikan pasukan AS dari Suriah, yang membuat Kurdi menghadapi kemungkinan serangan dari Turki.
Oleh: Nazih Osseiran (The Wall Street Journal)
Pasukan pemerintah Suriah bergerak untuk melindungi Kurdi Suriah yang berperang melawan ISIS, setelah Amerika Serikat (AS) mengatakan akan menarik pasukannya dari wilayah itu, dan Kurdi Suriah mengatakan bahwa mereka khawatir akan serangan oleh Turki.
Pasukan Kurdi Suriah—yang dikenal sebagai YPG dan merupakan sekutu AS—mengendalikan kota Manbij yang strategis di timur laut dekat perbatasan Turki. Dalam sebuah pernyataan pada Jumat (28/12), mereka mengatakan telah meminta pemerintah Suriah untuk melindungi daerah itu karena khawatir akan terjadi invasi Turki, sementara mereka terlibat dalam memerangi ISIS di tempat lain.
Tidak jelas apakah pasukan pemerintah Suriah telah memasuki kota Manbij pada Jumat (28/12) sore. Media pemerintah Suriah mengatakan bahwa pasukan telah mengibarkan bendera pemerintah di pusat kota, tetapi kelompok pemantau yang berbasis di Inggris, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, dan seorang pejabat pemerintah dari daerah itu, mengatakan bahwa pasukan pemerintah telah dikerahkan di luar kota antara pasukan YPG dan pasukan yang didukung Turki di dekatnya.
Pasukan AS beroperasi di Manbij dan memiliki pangkalan militer di daerah tersebut. Mereka tidak bisa segera dihubungi untuk memberikan komentar. Pasukan AS masih melakukan patroli baik di dalam kota maupun di wilayah udara sekitarnya, kata pejabat setempat.
Komando Pusat AS di AS mengatakan melalui Twitter, bahwa mereka tidak melihat perubahan pasukan militer di kota Manbij. “Kami meminta semua orang untuk menghormati integritas Manbij dan keselamatan warganya,” Komando itu mencuit.
Kurdi Suriah berdemonstrasi di kota Qamishli dalam melawan ancaman dari Turki untuk melakukan serangan baru, pada 28 Desember. (Foto: Agence France-Presse/Getty Images/Delil Souleiman)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan—ketika berbicara dengan para wartawan di Istanbul—tidak mengatakan apakah Ankara berencana untuk melancarkan serangan terhadap Manbij, tetapi bersikeras agar pasukan Kurdi meninggalkan daerah itu. “Jika mereka pergi, maka kami tidak punya urusan di sana,” katanya.
Erdogan mengatakan bahwa dia mengetahui langkah pemerintah Suriah di Manbij dan telah menghubungi Moskow—pendukung utama Presiden Bashar al-Assad—mengenai operasi tersebut.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa Rusia menyambut baik masuknya pasukan pemerintah ke Manbij. “Tidak diragukan lagi ini adalah langkah positif untuk menstabilkan situasi,” katanya dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media milik pemerintah Rusia.
Pemerintah Turki menganggap YPG sebagai teroris dan ancaman bagi keamanan nasionalnya. Kelompok Kurdi—sebagai bagian dari Pasukan Demokrat Suriah—berada di garis depan koalisi AS dalam memerangi ISIS di Suriah. Tetapi mereka dibiarkan terhuyung-huyung pekan lalu, ketika Presiden Trump tiba-tiba memerintahkan penarikan pasukan AS dari Suriah, yang membuat Kurdi menghadapi kemungkinan serangan dari Turki.
Sementara itu, Turki dalam beberapa hari terakhir telah mengirim lebih banyak pasukan dan tank ke perbatasannya dengan Suriah di sepanjang wilayah yang dikuasai Kurdi, setelah Presiden Trump mengatakan bahwa Ankara akan mengambil alih perang melawan ISIS di Suriah.
Langkah YPG untuk mencari bantuan pemerintah Suriah juga bisa menandakan penyelarasan yang lebih luas di Suriah, yang memungkinkan Presiden Assad untuk memperluas kontrolnya atas negara itu setelah hampir delapan tahun perang sipil di Suriah.
Penarikan AS telah “menggeser perhitungan strategis di antara para aktor yang hubungannya selalu berakar pada kepentingan, bukan kesetiaan,” kata Steven Heydemann, Direktur Program Timur Tengah di Smith College.
Manbij—sebuah kota berpenduduk sekitar 600 ribu orang—berada di ujung tanduk pada Jumat (28/12). Sementara banyak yang mengkhawatirkan kemungkinan serangan Turki, beberapa juga khawatir pemerintah Suriah mengambil kendali.
“Mereka meminta pemerintah Suriah untuk turun tangan guna mencegah insiden Afrin lainnya, di mana kekejaman meluas menurut Amnesty International dan Human Rights Watch,” kata Mutlu Civiroglu, seorang analis yang berbasis di Washington yang fokus pada urusan Kurdi.
Pada bulan Maret, pasukan Turki merebut Afrin di Suriah utara. Operasi itu menempatkan Erdogan berselisih dengan sekutu-sekutu internasionalnya, dan menggusur lebih dari 200 ribu warga sipil. Operasi itu dimaksudkan untuk menciptakan zona penyangga antara perbatasan Turki dan milisi Kurdi.
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan kepada media milik pemerintah pada bulan Maret, bahwa Ankara akan menyelidiki klaim penjarahan dan keluhan terhadap pasukan yang didukung Turki.
Faksi lainnya yang berperang bersama pasukan Kurdi, mendesak AS untuk tetap berada di Suriah. Dewan Militer Suriah—sebuah milisi Kristen yang berjuang bersama YPG sebagai bagian dari Pasukan Demokrat Suriah—meminta pasukan AS untuk tidak pergi sebelum memastikan bahwa Kurdi dan minoritas lainnya terlindungi.
Dewan itu mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa tidak hanya minoritas Kurdi yang akan diancam oleh kemungkinan serangan Turki, tetapi bahwa Yazidi, Kristen, dan lainnya juga dapat diserang.
“ISIS masih menjadi ancaman,” pernyataan itu menambahkan.
Keterangan foto utama: Para pejuang Suriah yang didukung Turki berkumpul di daerah di luar kota Manbij di Suriah utara, pada 28 Desember. (Foto: Agence France-Presse/Getty Images/Bakr Alkasem)

No comments:
Post a Comment