MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Friday, November 9, 2018

Saudi dan Sekutu Emirat-nya Biarkan Rakyat Yaman Mati Kelaparan

Yaman

Dunia benar-benar marah dengan pembunuhan Jamal Khashoggi, tetapi bom-bom Mohammed bin Salman dan sekutunya Uni Emirat Arab membunuh puluhan orang setiap hari di Yaman. Saudi dan Uni Emirat Arab terus membiarkan rakyat sipil mati kelaparan dengan membombardir kota-kota, memblokade pelabuhan Yaman, dan mencegah bantuan kemanusiaan mencapai jutaan orang yang membutuhkan. Rakyat sipil dibuat mati kelaparan dengan sengaja, di mana kelaparan penduduk sipil digunakan oleh Arab Saudi sebagai senjata perang.
Oleh: Radhya Almutawakel dan Abdulrasheed Alfaqih (Foreign Policy)
Jamal Khashoggi hanyalah korban terbaru dari arogansi sembrono yang menjadi ciri kebijakan luar negeri Arab Saudi. Orang-orang Yaman sedih—tetapi tidak terkejut—pada tingkat kebrutalan yang ditunjukkan dalam pembunuhan Khashoggi, karena negara kami telah hidup melalui kebrutalan Saudi yang sama selama hampir empat tahun.
Sebagai pendukung hak asasi manusia yang bekerja di Yaman, kami sangat akrab dengan kekerasan, pembunuhan orang-orang tak berdosa, dan pencabikan norma-norma internasional yang telah menjadi keunggulan intervensi militer Arab Saudi di negara kami.
Selama hampir empat tahun, Arab Saudi telah memimpin koalisi—bersama dengan Uni Emirat Arab—yang telah secara sinis dan kejam membombardir kota-kota Yaman, memblokade pelabuhan Yaman, dan mencegah bantuan kemanusiaan mencapai jutaan orang yang membutuhkan.
Menurut Yemen Data Project, pesawat Saudi dan Emirat telah melakukan lebih dari 18.500 serangan udara ke Yaman sejak perang dimulai—rata-rata lebih dari 14 serangan setiap hari selama lebih dari 1.300 hari. Mereka telah mengebom sekolah, rumah sakit, rumah, pasar, pabrik, jalan, pertanian, dan bahkan situs bersejarah. Puluhan ribu warga sipil—termasuk ribuan anak-anak—telah tewas atau cacat karena serangan udara Saudi.
Tetapi Saudi dan Emirat tidak dapat melanjutkan kampanye pengeboman mereka di Yaman tanpa dukungan militer Amerika Serikat (AS). Pesawat Amerika mengisi bahan bakar pesawat Saudi dalam perjalanan menuju target mereka, dan pilot Saudi dan Emirat menjatuhkan bom yang dibuat di Amerika Serikat dan Inggris ke rumah dan sekolah Yaman.
Namun demikian, perhatian AS terhadap perang Yaman sebagian besar terbatas pada kecaman singkat atas serangan yang sangat dramatis, seperti pengeboman bus sekolah di bulan Agustus lalu, yang menewaskan puluhan anak-anak.
Kejahatan Saudi di Yaman tidak terbatas pada pengeboman biasa dan yang disengaja terhadap warga sipil, yang melanggar hukum humaniter internasional. Dengan meningkatkan perang dan menghancurkan infrastruktur sipil yang penting, Arab Saudi juga bertanggung jawab atas puluhan ribu warga sipil yang telah meninggal karena penyakit yang dapat dicegah dan kelaparan yang disebabkan oleh perang.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyimpulkan bahwa blokade telah menimbulkan “dampak yang menghancurkan pada penduduk sipil”, seiring serangan udara Saudi dan Emirat telah menargetkan sistem produksi dan distribusi makanan Yaman, termasuk sektor pertanian dan industri perikanan.
Sementara itu, jatuhnya mata uang Yaman karena perang telah mencegah jutaan warga sipil membeli makanan yang ada di pasar. Harga makanan melambung tinggi, tetapi pegawai negeri tidak menerima gaji rutin dalam dua tahun. Rakyat Yaman dibuat mati kelaparan dengan sengaja, di mana kelaparan penduduk sipil digunakan oleh Arab Saudi sebagai senjata perang.
Seorang anak Yaman yang menderita kekurangan gizi ditimbang di pusat perawatan di sebuah rumah sakit di ibukota Sanaa pada 6 Oktober. (Foto: AFP/Getty Images/Mohammed Huwais)
Tiga perempat dari populasi Yaman—lebih dari 22 juta pria, wanita, dan anak-anak—saat ini bergantung pada bantuan dan perlindungan internasional. AS memperingatkan pada bulan September bahwa negara itu akan segera mencapai “titik kritis”—di luar titik itu, tidak mungkin untuk menghindari kematian warga sipil secara besar-besaran.
Lebih dari delapan juta orang saat ini berada di ambang kelaparan, sebuah angka yang kemungkinan akan meningkat menjadi 14 juta—separuh penduduk dari negara itu—pada akhir tahun 2018.
Untuk menjadi jelas, tidak ada pihak dalam perang ini tanpa darah di tangannya; organisasi kami, Mwatana, telah mendokumentasikan pelanggaran terhadap warga sipil oleh semua pihak, tidak hanya Arab Saudi.
Kaum Houthi telah membunuh dan melukai ratusan warga sipil melalui penggunaan ranjau darat dan penembakan tanpa pandang bulu, sementara milisi yang didukung oleh Uni Emirat Arab, milisi yang didukung pemerintah Yaman, dan milisi Houthi, secara sewenang-wenang menahan, secara paksa menghilangkan, dan menyiksa warga sipil.
Tetapi kekebalan de facto yang diberikan komunitas internasional kepada Arab Saudi melalui sikap diam mereka, mencegah keadilan nyata untuk menghentikan pelanggaran oleh semua pihak.
Orang-orang di Timur Tengah memiliki pengalaman panjang dan pahit dengan standar ganda internasional ketika menyangkut hak asasi manusia, seiring para pejuang hak universal yang diakui di Barat secara teratur mengabaikan pelanggaran berat oleh sekutu mereka di wilayah tersebut, mulai dari mantan syah Iran hingga Saddam Hussein hingga putra mahkota Arab Saudi saat ini, Mohammed bin Salman.
Standar ganda ini terlihat selama kunjungan terakhir putra mahkota itu ke berbagai ibu kota negara dan ke Silicon Valley, di mana ia umumnya dipuji sebagai “pembaharu”, dan para tokoh media membacakan visinya untuk Arab Saudi tahun 2030 tanpa bertanya apa yang akan tersisa dari Yaman pada tahun 2020 jika perang berlanjut.
Demikian pula, standar ganda ini dipamerkan ketika para pembuat kebijakan Barat mengecilkan pelanggaran Saudi dan Emirat terhadap hak asasi manusia di Yaman, dengan mengklaim bahwa kemitraan yang erat dengan Riyadh diperlukan untuk mencegah persepsi ancaman Iran terhadap komunitas internasional, tanpa bertanya apakah komunitas yang sama itu juga terancam oleh pelanggaran harian Arab Saudi terhadap norma-norma internasional dasar.
Dan ya, ada standar ganda dalam rentetan liputan dari pembunuhan mengerikan Khashoggi, ketika pembunuhan harian Yaman oleh Arab Saudi dan pihak-pihak lain dalam konflik ini hampir tidak disebutkan.
Mereka yang berada di Amerika Serikat dan di tempat lain yang marah dengan pembunuhan Khashoggi harus memberikan kejelasan moral yang sama dan mengecam pembunuhan orang-orang tak bersalah sehari-hari di Yaman. Jika pelanggaran Saudi harus benar-benar dibatasi, pembunuhan Khashoggi harus menandai awal—bukan akhir—dari pertanggungjawaban atas kejahatan Saudi.
Kematian Khashoggi telah didegradasi menjadi satu titik data, alih-alih dilihat sebagai hasil dari tumbangnya nilai universal demi kepentingan geopolitik atau bisnis.
Melakukan sebaliknya—dengan mengakhiri dukungan militer AS untuk intervensi Arab Saudi di Yaman, dan mendukung upaya perdamaian yang dipimpin oleh PBB dan pembukaan kembali pelabuhan udara dan laut Yaman—masih dapat menyelamatkan jutaan jiwa.
Jika anggota parlemen AS telah berbicara dan mengambil tindakan di Yaman bertahun-tahun yang lalu, ketika pelanggaran Arab Saudi yang merajalela pertama kali diketahui, ribuan warga sipil yang sejak saat itu telah tewas oleh serangan udara atau kelaparan akan tetap hidup hari ini—dan mungkin Jamal Khashoggi juga masih akan hidup.
Radhya Almutawakel adalah salah satu pendiri dan pemimpin Organisasi Hak Asasi Manusia Mwatana, yang baru-baru ini menerima Roger Baldwin Medal of Liberty, hadiah dua tahunan yang diberikan oleh Human Rights First yang berbasis di AS. @RAlmutawakel.
Abdulrasheed Alfaqih adalah salah satu pendiri dan pemimpin Organisasi Hak Asasi Manusia Mwatana, yang baru-baru ini menerima Roger Baldwin Medal of Liberty, hadiah dua tahunan yang diberikan oleh Human Rights First yang berbasis di AS. @ralfaqih.
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.
 Keterangan foto utama: Seorang anak memeriksa puing-puing sebuah rumah di ibu kota Yaman yang dikuasai pemberontak, Sanaa, pada 11 Agustus 2016, setelah dilaporkan terkena serangan udara koalisi pimpinan Saudi. (Foto: AFP/Getty Images/Mohammed Huwais)


No comments:

Post a Comment