
Pasukan pro pemerintah Yaman mengepung kota Hodeidah yang diduduki oleh pemberontak Houthi. Mereka telah menewaskan setidaknya 43 pejuang Houthi dalam serangan darat dan udara. Sementara itu, badan bantuan telah memperingatkan, menyerang kota pelabuhan Hodeidah bisa memperparah krisis kemanusiaan yang telah terjadi.
Oleh: Al Jazeera
Setidaknya 43 pejuang Houthi telah terbunuh di pusat pertempuran di kota Houthi, Yaman, dalam waktu 24 jam, seiring pasukan pro-pemerintah mengepung area yang diduduki pemberontak di timur kota.
Petugas medis di sebuah rumah sakit di Hodeidah mengatakan pada hari Minggu, pejuang Houthi telah dibunuh dalam pertempuran darat tengah malam dan serangan udara yang dilakukan oleh aliansi Saudi-UEA yang mendukung tentara Yaman.
Seorang sumber di rumah sakit militer Hodeidah mengatakan pada kantor berita AFP bahwa puluhan pejuang yang terluka telah dipindahkan ke rumah sakit-rumah sakit di provinsi Sanaa dan Ibb, yang berada lebih dalam ke daratan—Hodeidah adalah kota pelabuhan.
Sementara itu, seorang sumber dari rumah sakit di kota yang dikuasai pemerintah, Mocha, sekitar 170 km di selatan kota Hodeidah, mengatakan bahwa sembilan tentara Yaman telah terbunuh dalam pertempuran di sana.
Hodeidah, kota besar yang terletak di pesisir Laut Merah Yaman, adalah tempat pertempuran terakhir antara Houthi dan aliansi Saudi-UEA yang telah memperebutkan kontrol negara itu sejak tiga setengah tahun yang lalu.
Sejak tanggal 3 November, telah terjadi lebih dari 200 serangan udara yang dilaporkan di kota itu, dengan AFP melaporkan telah ada sekitar 400 pejuang yang tewas.
PBB telah mengatakan ada 23 penduduk sipil yang tewas dan 445.000 orang telah melarikan diri dari kota tersebut.
Pada hari Sabtu, pasukan Yaman merebut rumah sakit utama Hodeidah dan komplek industri seiring mereka semakin mendesak masuk ke tengah kota.
“Hari ini, dengan bantuan Tuhan, kami berhasil merebut komplek Thabit Brothers Industrial, di timur kota,” ujar seorang prajurit dari Brigade Amalqa, unit milter yang setia pada pemerintah Yaman.
“Dalam beberapa jam ke depan, kami akan meraih kontrol atas lebih banyak area di kota. Kemenangan akan tiba.”
Badan-badan bantuan telah lama memperingatkan bahwa pertempuran di Hodeidah berisiko meningkat krisis kemanusiaan yang sudah sangat buruk.
Lebih dari 70 persen pasokan makanan, bantuan, bahan bakar, dan barang-barang komersil sebelumnya masuk ke Yaman melalui pelabuhan itu.
Mariam Aldogani, koordinator lapangan Save the Children, berbicara tentang banyaknya serangan udara di kota itu.
“Dalam 30 menit terakhir sudah ada lebih dari 15 serangan udara,” ujarnya.
“Hal ini harus segera dihentikan, saat ini adalah periode terburuk bagi kegubernuran Hodeidah, terutama Hodeidah City. Hal ini adalah masa-masa paling buruk bagi anak-anak Hodeidah.”
Juga di hari Sabtu, Arab Saudi berusaha untuk memproyeksikan pengakhiran pengisian bahan bakar udara atas kehendak mereka sendiri, bukan keinginan Washington.
Pentagon telah mensuplai kemampuan pengisian bahan bakar udara untuk sekitar 20 persen pesawat tempur aliansi Saudi di atas Yaman.
Phyllis Bennis, seorang rekan di Institute for Policy Studies, mengatakan, pembunuhan Jamal Khashoggi telah meningkatkan tekanan bagi Amerika Serikat untuk menarik dukungannya terhadap Perang Yaman.
“Pembunuhan Jamal Khashoggi jelas telah menempatkan lebih banyak sorotan terhadap aksi Arab Saudi di Yaman,” ujarnya pada Al Jazeera.
“Hal itu akan memberikan perhatian baru terhadap krisis kemanusiaan. Namun saya rasa tekanan sebenarnya, adalah tindakan seperti mengumumkan bahwa Amerika Serikat tidak lagi akan mensuplai bahan bakar di udara untuk para pesawat pembom Saudi, itulah langkah pentingnya.”
Babak baru pembicaraan damai untuk mengakhiri perang, yang telah menewaskan lebih dari 56.000 orang menurut estimasi terbaru, telah dijadwalkan untuk dilakukan di Swedia pada bulan November, tapi telah diundur jadi akhir Desember.
Pada tanggal 30 Oktober, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo dan James Mattis, kepala Pentagon, menghimbau gencatan senjata selama 30 hari dan meminta kedua pihak yang bertikai untuk bertemu dengan Utusan Khusus PBB Martin Griffiths di Swedia.
Namun, pada hari Kamis, PBB mengatakan utusan khusus mereka akan melakukan pembicaraan di akhir tahun.
Menulis di Washington Post, Mohammed Ali al-Houthi, kepala dari Komite Tinggi Revolusioner Houthi, menyebut himbauan gencatan senjata Amerika “hanyalah omong kosong.”
“Pemimpin Saudi ceroboh dan tidak tertarik pada diplomasi,” ujarnya.
“Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk mengakhiri konflik—namun mereka memilih untuk melindungi sekutu yang korup.
“Trump dan administrasinya jelas memilih untuk melanjutkan perang yang mematikan ini karena pengembalian ekonomi produksi mereka—mereka tergiur keuntungan penjualan senjata,” tambah al-Houthi.
Konflik di Yaman, negara Arab paling miskin, dimulai ketika pemerintah Yaman memangkas subsidi bahan bakar pada musim panas 2014, memicu protes marah dan memaksa ribuan orang turun ke jalan-jalan ibu kota.
Houthi mengeksploitasi kekacauan ini dan berbaris ke selatan dari markas mereka di provinsi Saada ke Sanaa, dan menggulingkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.
Khawatir akan bangkitnya Houthi, koalisi militer Arab Saudi-UEA yang didukung Amerika Serikat mengintervensi pada tahun 2015 dengan kampanye udara besar-besaran yang bertujuan untuk memposisikan kembali pemerintahan Hadi.
Sejak saat itu, data yang dikumpulkan oleh Al Jazeera dan Yemen Data Project telah menemukan lebih dari 18.000 serangan udara diluncurkan di Yaman, dengan sepertiga dari misi serangan bom itu menyerang situs-situs non-militer.
Pernikahan, pemakaman, rumah sakit dan sekolah-sekolah, begitu juga dengan pembangkit air dan listrik, telah menjadi target, menewaskan dan melukai ribuan orang.
Keterangan foto utama: Lebih dari 445.000 orang melarikan diri dari kota Hodeidah sejak bulan Juni, menurut PBB. (Foto: EPA/Stringer)
No comments:
Post a Comment