MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Sunday, November 11, 2018

Diduga membela Boko Haram, Militer Nigeria menembak mati demonstran Syiah di Nigeria

tentara nigeria

Bentrokan antara Muslim Syiah dan tentara Nigeria berujung mematikan. Tentara menembaki para demonstran yang melempar batu. Mereka lalu menggunakan kutipan pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang imigran sebagai pembenaran.
Oleh: James Bwala dan Morgan Winsor (ABC News)
Sayap militer terbesar Nigeria pada hari Jumat (2/11) tampaknya memanfaatkan kata-kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membela penembakan para demonstran selama seminggu terakhir.
Akun Twitter resmi Angkatan Darat Nigeria, salah satu dari tiga cabang layanan dalam Angkatan Bersenjata Nigeria, mengunggah video yang menunjukkan klip pidato Trump di Gedung Putih pada hari Kamis (1/11) tentang imigrasi ilegal dan keamanan perbatasan, di mana presiden AS tersebut mengatakan bahwa melempar batu ke arah pasukan Amerika akan dianggap sama saja dengan senjata api.
“Kami tidak akan menoleransi hal itu. Jika mereka melempar batu ke arah militer kami, militer kami akan melawan kembali,” kata Trump dalam video tersebut. “Saya bilang pada mereka, anggap itu senapan.”
Tweet itu diunggah hanya beberapa hari setelah bentrokan antara tentara Nigeria dan Muslim Syiah sekali lagi berubah mematikan.
Sejak awal tahun ini, para pengunjuk rasa seringkali membanjiri jalan-jalan ibukota Nigeria, Abuja, untuk menuntut pembebasan Ibrahim Zakzaky, pemimpin Gerakan Islam Nigeria (IMN/Islamic Movement of Nigeria) yang dipenjara, sebuah organisasi yang bermarkas di kota utara Zaria. Gerakan ini telah menjadi pendukung vokal untuk Muslim Syiah di negara yang didominasi oleh Muslim Sunni.
Zakzaky telah berada di tahanan federal sejak Desember 2015, ketika pasukan keamanan Nigeria membunuh ratusan pengikutnya. Dia ditahan tanpa dakwaan hingga bulan April 2018 dan sekarang tetap ditahan karena dia dituduh melakukan pembunuhan terkait kekerasan tahun 2015, memicu kegemparan di antara para pengikutnya.
Akhir pekan lalu dan pada hari Senin (29/10), pasukan keamanan menyemprotkan peluru dan gas airmata pada pendukung Gerakan Islam Nigeria ketika kelompok itu berbaris di pinggiran Abuja. Juru bicara pertahanan Nigeria, Brigade Jenderal John Agim, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa para demonstran melukai tentara dengan batu, merusak kendaraan militer, memblokir lalu lintas, dan berusaha menyerbu sebuah pos pemeriksaan militer yang mengarah ke wilayah ibukota federal.
Enam pengunjuk rasa tewas, menurut Agim, yang mengatakan pasukan berada di bawah “serangan tanpa provokasi seblumnya” yang “direncanakan dan direncanakan” oleh para demonstran.
“Dalam semua serangan ini, IMN adalah agresor sementara militer hanya bertindak untuk membela diri,” kata Agim dalam pernyataannya hari Kamis (1/11).
Jenazah para anggota Gerakan Islam Nigeria yang tewas setelah pasukan keamanan melepaskan tembakan selama protes kelompok Syiah di Abuja sebelum dimakamkan di Mararaba, Nigeria, tanggal 31 Oktober 2018. (Foto: Reuters/Afolabi Sotundo)
Namun, penyelidikan oleh Amnesty International menemukan jumlah jenazah yang dihitung jauh lebih tinggi. Setidaknya 45 pendukung Gerakan Islam Nigeria tewas oleh pasukan keamanan pada Sabtu (27/10) dan Senin (29/10), ketika kelompok itu mengadakan dua hari “pertemuan damai” di sekitar Abuja, menurut Lembaga pengawas hak asasi manusia internasional yang berbasis di London.
“Kami telah melihat penggunaan kekuatan mematikan yang mengejutkan dan tidak berbelas kasihan oleh tentara dan polisi terhadap anggota IMN. Cuplikan video dan kesaksian saksi mata secara konsisten menunjukkan bahwa militer Nigeria membubarkan pertemuan damai dengan menembakkan peluru tajam tanpa peringatan, dengan jelas melanggar hukum Nigeria dan internasional,” tutur Osai Ojigho, direktur eksekutif Amnesty International Nigeria, dalam sebuah pernyataan hari Rabu (31/10).
“Mereka yang terluka ditembak di berbagai bagian tubuh, kepala, leher, punggung, dada, bahu, kaki, lengan, dan beberapa dari mereka mengalami luka tembak. Pola ini jelas menunjukkan tentara dan polisi melakukan pendekatan terhadap prosesi IMN tidak untuk memulihkan ketertiban umum, tetapi untuk membunuh.”
Amnesty International mengecam militer Nigeria yang “menggunakan kekuatan secara berlebihan” dan mengatakan para peneliti memiliki “bukti kuat” bahwa pasukan keamanan menggunakan senjata api otomatis selama protes hari Senin (29/10).
“Tampaknya militer Nigeria sengaja menggunakan taktik yang dirancang untuk membunuh ketika berhadapan dengan pertemuan IMN. Banyak dari penembakan ini jelas merupakan eksekusi ekstra-yudisial,” kata Osai Ojigho. “Tindakan keras terhadap para demonstran IMN tersebut tidak dapat dibenarkan dan tidak dapat diterima. Mereka dengan sempurna memiliki hak untuk mengadakan prosesi keagamaan dan protes dan tidak ada bukti bahwa mereka menjadi ancaman hidup.”
Kedutaan Besar dan Konsulat AS di Nigeria mengeluarkan pernyataan pada hari Kamis (1/11) yang menyatakan keprihatinan tentang “kematian akibat bentrokan antara pasukan keamanan Nigeria dan anggota Gerakan Islam Nigeria.
“Kami mendesak pemerintah Nigeria untuk melakukan penyelidikan menyeluruh atas peristiwa itu dan mengambil tindakan yang tepat untuk meminta pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab atas pelanggaran hukum Nigeria,” kata kedutaan. “Kami mendesak menahan diri di semua sisi.”
Jenazah para anggota Gerakan Islam Nigeria yang tewas setelah pasukan keamanan melepaskan tembakan selama protes kelompok Syiah di Abuja sebelum dimakamkan di Mararaba, Nigeria, tanggal 31 Oktober 2018. (Foto: Reuters/Afolabi Sotundo)
Pada hari Jumat (1/11) pagi, Angkatan Darat Nigeria tampak bereaksi terhadap tuduhan Amnesty International dengan mengunggah video ucapan Trump di Twitter, bersama dengan keterangan, “Tolong Tonton dan Buat Kesimpulan Anda.” Tentara Nigeria kemudian menghapus tweet tersebut, tetapi tidak sebelum ditonton berbagai kanal berita dan para pejabat AS.
Duta Besar AS untuk PBB Samantha Power mengunggah gambar dari tweet Angkatan Darat Nigeria dengan video Trump, dan menyebut tweet tersebut “memuakkan.”
Trump memberikan komentarnya pada hari berikutnya, mengatakan pasukan “tidak perlu menembak.”
“Yang tidak saya inginkan adalah saya tidak ingin orang-orang tersebut melempar batu,” kata presiden Trump seraya menambahkan bahwa jika para migran melemparkan batu ke arah pasukan, “akan ada masalah.” “Saya tidak mengatakan menembak. Tapi jika mereka melakukan hal itu terhadap kami, mereka akan ditangkap untuk waktu yang lama.”
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara tentang imigrasi di Ruang Roosevelt di Gedung Putih di Washington, tanggal 1 November 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Nicholas Kamm)
Juru bicara Tentara Nigeria Brigadir Jenderal Texas Chukwu tidak menanggapi permintaan ABC News pada hari Jumat (1/11) untuk memberikan komentar atas tweet tersebut dan mengapa pernyataan itu kemudian dihapus. Juru bicara pertahanan Nigeria, Agim, mengatakan kepada ABC News bahwa dia yakin tentara menanggapi kritik Amnesty International dengan “menggunakan video Trump untuk membenarkan penembakan itu.”
“Apa yang digunakan Daud untuk membunuh Goliat? Saya percaya Anda tahu bahwa ia menggunakan batu,” kata Agim. “Kurasa kau tidak mengharapkan tentara melipat tangan mereka dan menyaksikan para pengunjuk rasa mengalahkan mereka.”
Sebagai tanggapan atas tweet yang dihapus oleh Angkatan Bersenjata Nigeria, Osai Ojigho dari Amnesty International Nigeria mengatakan pemerintah negara Afrika Barat “harus meminta pertanggungjawaban pasukan keamanannya” alih-alih terlibat dalam “persaingan yang tidak masuk akal mengenai siapa yang melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam pelanggaran hak asasi manusia.” “Hak asasi manusia dasar tidak tunduk pada tingkah para pemimpin dunia,” kata Osai Ojigho dalam sebuah pernyataan hari Sabtu (3/11).
Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan ABC News untuk memberikan komentar pada hari Sabtu (3/11).
Kontributor artikel: Meridith McGraw dari ABC News.
Keterangan foto utama: Para anggota Gerakan Islam Nigeria (IMN) melambaikan bendera dan melantunkan slogan ketika mereka mengambil bagian dalam demonstrasi untuk memprotes seorang ulama Syiah yang dipenjarakan di Abuja, tanggal 29 Oktober 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Sodiq Adelakun)

No comments:

Post a Comment