
Israel dan Yordania dilaporkan membunuh para pejuang ISIS di dekat Dataran Tinggi Golan di Suriah, yang juga berbatasan dengan Israel dan Yordania. Para pejuang ISIS tersebut melarikan diri karena terusir, setelah adanya pertempuran antara para pejuang ISIS dan pasukan Suriah Bashar Al-Assad.
Oleh: Dan Williams, Suleiman Al-Khalidi (Reuters)
Israel dan Yordania mengatakan pada Kamis (2/8), bahwa pasukan mereka telah membunuh pemberontak ISIS yang mendekati perbatasan mereka, setelah didesak keluar dari barat daya Suriah oleh tentara Presiden Bashar al-Assad.
Menanggapi keuntungan medan perangnya, Israel menggambarkan bahwa kemenangan telah diraih oleh Assad, yang kini melakukan upaya terakhir untuk memulihkan pemerintahannya setelah lebih dari tujuh tahun perang sipil, sebagai jaminan yang bisa menenangkan Dataran Tinggi Golan.
Dataran strategis tersebut membagi Israel dan Suriah—dua musuh lama—dan telah melalui dekade yang stabil sebelum terjadi pemberontakan Suriah.
Sementara itu, dalam perubahan besar pada status quo pra-konflik 2011, polisi militer Rusia mulai ditempatkan di Dataran Tinggi Golan yang dikuasai Suriah, dan berencana untuk mendirikan delapan pos pengamatan di daerah itu, kata Kementerian Pertahanan di Moskow.
Setelah berminggu-minggu pengeboman intensif yang didukung Rusia, pasukan Suriah telah merebut tanah pertanian subur, di mana terdapat aliran Sungai Yarmouk yang dulunya dikendalikan oleh kelompok yang berafiliasi dengan ISIS, yang dikenal sebagai Pasukan Khaled Bin Walid.
Militer Israel mengatakan telah melakukan serangan udara di Golan pada Rabu (1/8) malam, yang menewaskan tujuh gerilyawan yang diyakini berasal dari Pasukan Khaled Bin Walid, dan dalam perjalanan untuk menyerang sasaran Israel.
Secara terpisah, militer Yordania mengatakan bahwa mereka bentrok dengan pejuang Khaled Bin Walid yang melewati perbatasan selama 24 jam antara Selasa (31/7) dan Rabu, dan menewaskan sejumlah prajurit yang tidak disebutkan jumlahnya.
“Kami menerapkan aturan keterlibatan dan anggota geng Daesh (ISIS) dipaksa mundur ke dalam Suriah,” kata seorang sumber militer kepada kantor berita Yordania, Petra.
Serangan yang dilancarkan Assad dari Suriah barat daya mendorong ratusan ribu pengungsi melarikan diri menuju Israel dan Yordania, yang mengkhawatirkan kedua negara tersebut.
Saat ketegangan memuncak pekan lalu, Israel menembak jatuh sebuah pesawat perang Suriah yang dikatakan telah menyimpang ke Golan yang diduduki Israel, dan memperingatkan pasukan Hizbullah—yang merupakan bantuan Iran dan Lebanon bagi Assad—untuk tidak menempatkan pasukan di sisi yang dikuasai Suriah.
Namun Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman terdengar lebih bersemangat pada Kamis (2/8), saat ia menggambarkan kemenangan Assad sebagai kemenangan yang dianugerahkan.
“Dari sudut pandang kami, situasinya kembali ke keadaan sebelum perang sipil, yang berarti ada pihak-pihak yang nyata (yang terlibat), seseorang yang bertanggung jawab, dan pemerintahan pusat,” kata Lieberman kepada para wartawan selama tur unit pertahanan udara di Israel utara.
Ditanya apakah Israel harus waspada terhadap kemungkinan serangan terhadap Golan—banyak wilayah yang dirampas Israel dari Suriah dalam perang tahun 1967, dan dianeksasi dalam sebuah langkah yang tidak diakui secara internasional—Lieberman mengatakan: “Saya yakin demikian. Saya pikir ini (Golan) juga merupakan minat Assad.”
Tidak ada tanggapan segera dari pemerintah Suriah mengenai bentrokan perbatasan yang dilaporkan oleh Yordania dan Suriah pada Kamis (2/8).
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia—kelompok pemantau perang yang berbasis di Inggris—membenarkan pertempuran antara pasukan Assad dan ISIS di Dataran Tinggi Golan yang dikuasai Suriah, yang juga berbatasan dengan Yordania.
Di Moskow, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan bahwa pengerahan polisi militernya di Golan yang dikuasai Suriah ditujukan untuk mendukung kehadiran pasukan penjaga perdamaian Amerika Serikat (AS).
Dikatakan bahwa pos-pos Rusia baru akan diserahkan kepada pemerintah Suriah, begitu situasi telah stabil.
Lieberman mengatakan bahwa, untuk mewujudkan ketenangan jangka panjang antara Israel dan Suriah, Assad harus mematuhi gencatan senjata tahun 1974 yang diawasi oleh PBB, yang mengatur zona demiliterisasi di Golan.
Lieberman mengulangi kembali tuntutan Israel bahwa Iran tidak boleh mendirikan pangkalan militer terhadapnya di Suriah, atau bahwa Suriah tidak akan digunakan untuk menyelundupkan senjata kepada gerilyawan Hizbullah di negara tetangganya, Lebanon.
Laporan tambahan oleh Angus McDowall di Beirut dan Tom Balmforth di Moskow; Penyuntingan oleh Kevin Liffey, David Stamp, Richard Balmforth.
Keterangan foto utama: Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman mengunjungi persimpangan Kerem Shalom di Gaza, terminal perbatasan perdagangan utama di jalur itu, pada tanggal 22 Juli 2018.
No comments:
Post a Comment