Di antara negara-negara dan lembaga pendonor badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurus pengungsi Palestina (UNRWA), jumlah negara mayoritas Muslim yang menjadi pendonor hanya mencapai 20% dari keseluruhan 52 negara.
Amerika Serikat, yang memutuskan untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, justru merupakan pendonor terbesar UNRWA--walau belakangan Presiden Donald Trump mengancam akan menghentikan aliran dana tersebut.Dalam daftar donor yang disusun UNRWA pada Desember 2016, AS tercatat menyumbang sekitar US$370 juta atau setara Rp5 triliun untuk badan internasional tersebut. Nilai itu mencapai 30% dari total pendanaan UNRWA itu ditujukan untuk program pendidikan, kesehatan, dan program sosial lainnya.
Adapun dalam daftar yang sama, hanya terdapat 11 negara mayoritas Muslim, antara lain Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.
Indonesia tidak termasuk dalam daftar penyumbang bantuan untuk Palestina melalui UNRWA, setidaknya hingga 2015.
Walau demikian, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyebut pemerintah selalu memprioritaskan Palestina dalam kebijakan di dunia internasional.
"Dukungan Indonesia untuk Palestina tidak hanya berupa dukungan politik, namun juga dukungan ekonomi dan kerja sama teknis," ujar Retno di Jakarta, Selasa (09/01).Juru bicara ACT, Lukman Azis Kurniawan, menyebut warga Palestina selalu kesulitan mendapatkan bahan pangan karena akses mereka dibatasi Israel. Lembaga mereka kini mengelola dapur umum di Palestina yang membagikan 500 hingga 2.000 porsi makanan setiap hari.
Pengalaman yang sama juga dialami PKPU, yang bersama Inisiatif Zakat Indonesia, mendistribusikan bantuan makanan untuk ribuan pasien di Rumah Sakit Indonesia dan Rumah Sakit Dar Al Shifa di Gaza.

No comments:
Post a Comment