MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Wednesday, January 10, 2018

Amerika, donatur terbesar Palestina


Di antara negara-negara dan lembaga pendonor badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurus pengungsi Palestina (UNRWA), jumlah negara mayoritas Muslim yang menjadi pendonor hanya mencapai 20% dari keseluruhan 52 negara.
Amerika Serikat, yang memutuskan untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, justru merupakan pendonor terbesar UNRWA--walau belakangan Presiden Donald Trump mengancam akan menghentikan aliran dana tersebut.Dalam daftar donor yang disusun UNRWA pada Desember 2016, AS tercatat menyumbang sekitar US$370 juta atau setara Rp5 triliun untuk badan internasional tersebut. Nilai itu mencapai 30% dari total pendanaan UNRWA itu ditujukan untuk program pendidikan, kesehatan, dan program sosial lainnya.
Adapun dalam daftar yang sama, hanya terdapat 11 negara mayoritas Muslim, antara lain Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.
Indonesia tidak termasuk dalam daftar penyumbang bantuan untuk Palestina melalui UNRWA, setidaknya hingga 2015.
Walau demikian, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyebut pemerintah selalu memprioritaskan Palestina dalam kebijakan di dunia internasional.
"Dukungan Indonesia untuk Palestina tidak hanya berupa dukungan politik, namun juga dukungan ekonomi dan kerja sama teknis," ujar Retno di Jakarta, Selasa (09/01).Juru bicara ACT, Lukman Azis Kurniawan, menyebut warga Palestina selalu kesulitan mendapatkan bahan pangan karena akses mereka dibatasi Israel. Lembaga mereka kini mengelola dapur umum di Palestina yang membagikan 500 hingga 2.000 porsi makanan setiap hari.
Pengalaman yang sama juga dialami PKPU, yang bersama Inisiatif Zakat Indonesia, mendistribusikan bantuan makanan untuk ribuan pasien di Rumah Sakit Indonesia dan Rumah Sakit Dar Al Shifa di Gaza.

Sayeret Rimon, Intelejen Mossad yang ditakuti teroris

Intelijen Israel, Mossad, memiliki satu unit khusus bernama Rimon atau Sayeret Rimon. Tugas Rimon adalah melaksanakan aksi teror di penjuru dunia dan menurut sumber-sumber internasional, Rimon hanya beranggotakan 40 orang.
Raialyoum, saluran televisi dan media cetak rezim Zionis menguak dokumen rahasia teror agen intelijen Mossad dan teror terhadap para tokoh nuklir Iran oleh unit Rimon, salah satu cabang Mossad.
Channel 2 tv Israel juga melaporkan sekilas berita tentang Rimon dalam judul “Peneror Dalam Tubuh Mossad”.
40 Laki-laki dan Perempuan Peneror Terkenal di Dunia
Menurut sumber selain Zionis, unit ini beranggotakan 40 orang, 5 orang dari mereka adalah perempuan. Menurut sumber tersebut, pelaku teror terkenal di dunia bersumber dari sistem intelijen Rimon. Pembunuhan Mahmoud al-Mabhouh, salah satu petinggi Hamas, ilmuwan nuklir Iran hingga Imad Mughniyah semua di tangan Rimon.
“Identitas pelaku teror tersebut tersembunyi dan dirahasiakan, tidak ada seorangpun yang bisa mengenali mereka” lanjut stasiun tv berbahasa Ibrani tersebut.
Sebelumnya, salah satu pengadilan rezim Zionis mengeluarkan izin penyebaran berita tentang pengakuan Meir Dagan, mantan Pemimpin Mossad, terkait salah satu petugas Zionis, Daniel Aukiv. Menurut Dagan, petugas tersebut membunuh satu wisatawan Inggris karena menjalankan perintah unit teror Rimon.
Perlu diketahui bahwa unit ini didirikan oleh Ariel Sharon, ketika ia memipin daerah selatan Palestina dan dipimpin oleh Meir Dagan.
Berdasarkan dokumen yang tersebar, Dagan menjelaskan, ketika masuk Gaza, ada 300 orang Palestina yang dicari. Dengan bangga ia meneruskan “290 orang dari mereka berhasil dibunuh dan hanya sisa 10 orang”.
Channel 2 menjelaskan, para komandan daerah selatan Palestina memutuskan untuk melakukan sebuah perubahan dalam tubuh Rimon agar beroperasi lebih baik di Gaza, karena mereka butuh prajurit yang kejam, berpengalaman dan berani.
“Dalam sistem baru, unit ini memiliki banyak prajurit dengan latihan militer termodern dan dilengkapi dengan senjata tercanggih. Prajurit pemberani dan kejam Israel ini melaksanakan tugas dengan secepat mungkin dan sempurna. Ketika masuk daerah lawan, mereka memakai baju yang sama dengan musuh sehingga dengan mudah membidik pemimpin-pemimpin Palestina” tambah tv Israel tersebut.
50 Tahun Operasi
Untuk pemimpin orde lama Israel, identitas Rimon bukanlah hal rahasia. Unit Rimon berdiri di awal tahun 70-an dan sudah beroperasi sejak tahun tersebut. Semenjak itulah mereka telah menciptakan situasi yang mencekam bagi pemimpin Palestina, khususnya Gaza.
Kepala sekertaris surat kabar Haaretz meliput perjalanan hidup Meir Dagan, Dagan pernah menyatakan bahwa Ariel Sharon, mantan PM Israel, memaksanya untuk memimpin Mossad, karena terkenal dengan kekejamannya atas warga Palestina.
Haaretz melanjutkan, hubungan Sharon dan Dagan kembali ke hubungan mereka di tahun 70-an, ketika Sharon menjadi pemimpin di daerah selatan Palestina. Dagan adalah pemimpin Rimon kala itu dan Sharon menjadi penanggung jawab dan bertugas untuk menghabisi pejuang Palestina dan mengeksekusi mereka di Gaza. Dikatakan bahwa setiap Dagan memotong kepala pejuang Palestina, Sharon tersenyum bahagia.
Kekejaman Rimon
Dokumen tersebut membuktikan bahwa sejumlah prajurit, yang membunuh di tengah jalan para warga Palestina atas nama Rimon, mengalami gangguan jiwa.
Menurut Dan Raviv dan Yossi Melman, dua jurnalis, pusat Rimon terletak di daerah selatan Palestina. Saat ini Rimon sudah pisah dari cabang-cabang Mossad lainnya dan beranggotakan prajurit terbaik militer Israel.
“Rimon terdiri dari unit-unit kecil. Satu unit hanya beranggotakan dua atau empat orang saja. Mereka adalah penjaga rahasia, bahkan di Mossad-pun mereka memakai nama samaran” lanjut dua jurnalis tersebut.
Selain banyaknya aksi teror, jumlah mereka juga tidak lebih dari 40-50 prajurit, ungkap mereka.

Antisipasi serangan Yaman, Arab Saudi hendak membeli Iron Dome Israel


Menurut Jerusalem Post, Arab Saudi berupaya untuk membeli Sistem Iron Dome dari Rezim Israel untuk mengantisipasi serangan rudal Yaman.
Situs tersebut juga mengutip dari Channel 10 Tv Israel yang mengatakan bahwa Arab Saudi telah mengutarakan keinginannya untuk membeli Iron Dome dari Israel melalui jalur pihak ketiga.
Sebelumnya, surat kabar Swiss awal bulan ini mengutip sebuah wawancara dengan seorang pengusaha Eropa yang bergerak di perdagangan Eropa di Riyadh, mengatakan bahwa Arab Saudi sedang berencana untuk membeli senjata dari Israel dan akan mengunjungi Abu Dhabi guna melihat peralatan militer buatan Israel yang dimiliki oleh negara tersebut.
Terlepas dari kenyataan bahwa Riyadh tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Tel Aviv, surat kabar Swiss tersebut melaporkan bahwa kerjasama intelejen Israel-Saudi telah maju secara signifikan.

Wednesday, January 3, 2018

ISIS selundupkan narkoba ke Italia


ebanyak dua puluh empat juta pil terlarang milik ISIS yang kerap disebut sebagai ‘obat pejuang’ berhasil diamankan oleh petugas keamanan di sebuah pelabuhan di Italia. Polisi setempat beranggapan bahwa ISIS bekerjasama dengan mafia Italia dalam misi penyelundupan barang-barang haram tersebut.
Surat kabar La Repubblica menulis, “24 juta pil Tramadol yang berharga 50 juta Euro ini dikirimkan lewat jalur India ke arah Libia, tepatnya di suatu tempat yang telah berada di bawah kontrol ISIS. Kemudian benda tersebut diarahkan ke pelabuhan Gioia Tauro di bagian selatan Italia dan akhirnya aparat keamanan berhasil menghentikan upaya penyelundupan barang-barang terlarang tersebut.
Dilaporkan keuntungan dari penjualan obat-obatan terlarang ini akan digunakan untuk menopang keuangan ISIS.
Obat narkotika yang setiap pilnya dihargai dengan dua Eouro ini dugunakan untuk menghilangkan rasa takut, sakit, lapar, lelah serta menambah ketahanan tubuh.
Obat ini telah beredar ke berbagai pelosok dunia sejak tahun 80-an. Dengan cara dicampur dengan bahan-bahan lainnya bahkan dengan kafein, obat ini akan berubah menjadi Amphetamine yang sangat kuat.
Obat-obatan ini pada tahun 90-an sudah merambah ke negara-negara kawasan teluk, khususnya di Arab Saudi. Kemudian sejak tahun 2000 ke depan obat-obatan tersebut tersebar secara diam-diam di kalangan teroris ISIS di wilayah-wilayah yang menjadi kekuasaan mereka. Dengan mengkomsumsi obat-obatan tersebut mereka akan kehilangan rasa takut dalam berperang.
Selain itu obat-obatan ini beberapa kali didapati di sebagian sarang-sarang ISIS. Bahkan kelompok Boko Haram di Nigeria juga memanfaatkan obat-obatan ini untuk melatih para anak-anak di bawah umur untuk berperang.
“Penyelundupan obat-obatan terlarang ini di pelabuhan Gioia Tauro di Italia kemungkinan besar adalah hasil kerjasaman antara ISIS dan mavia Italia. Sudah lama kami mencium indikasi hubungan antara kelompok mavia ‘Ndrangheta dengan berbagai organisasi di Timur Tengah,” jelas Jaksa Gaetano Paci.

Sisa-sisa ISIS bergabung dengan Baath di Irak


Anggota teroris ISIS dan sisa rezim Ba’ath berusaha bergabung dan membangun sebuah gerakan baru.
Salah satu petinggi Kurdi bahkan menguak rincian anggota tersebut. Haiman Manshur, wakil Persatuan Patriot Kurdi di Khanaqin menjelaskan, anggota teroris bersenjata dan sisa rezim Ba’ath yang ada di daerah Khanaqin, khususnya di daerah Sa’adiya dan Shareban, dalam beberapa kesempatan bergerak melawan militer, meskipun sampai sekarang mereka masih lemah dalam hal gerakan militansi.
“Gerakan mereka dibawah Bendera Putih dan Hazmiyun yang notabene mereka adalah sisa dari teroris ISIS dan Ba’ath” lanjutnya.
Wakil Persatuan Patriot Kurdi ini menjelaskan, militer Hashd Shaabi sudah memborbardir tempat persembunyian mereka berkali-kali. Dan dari drone jelas bahwa jumlah mereka ada sekitar 700 orang.

300 Anggota ISIS asal Inggris sembunyi di Turki


Times (27/12) melaporkan, setidaknya 300 anggota ISIS asal Inggris bersembunyi di Turki dari kejaran intelijen Barat.
Ketika Raqqa, Suriah dan Mosul, Irak keluar dari kontrol ISIS di tahun 2017 ini, ribuan teroris ISIS lari ke Turki, 300 orang dari mereka adalah berkewarganegaraan Inggris.
Salah satu intel Suriah kepada surat kabar Times menjelaskan, mayoritas ISIS Inggris lari dari Suriah. Pelarian ini sudah dimulai sejak runtuhnya Mosul, Irak hingga pembebasan Raqqa, Suriah. Saat ini banyak ISIS dari Perancis dan negara lainnya yang ditahan di sel-sel Damaskus. Tapi ISIS asal Inggris keluar dari Suriah.
Menurut Times, hingga saat ini ada 850 warga Inggris yang masih bersama teroris ISIS. Setengah dari mereka sudah kembali ke London. 130 dari mereka tewas dalam perang di Suriah dan Irak.
“Intel Inggris melaporkan, terkait kembalinya anggota ISIS Inggris ke London dan dan ancaman terornya, Intel Inggris berharap ada kerjasama dengan intel Turki untuk interogasi dan mendeteksi mereka semua sebelum pulang ke London” lanjut Times.
Salah satu sumber di Inggris menjelaskan, “Sulit bagi seseorang untuk masuk Inggris tanpa identifikasi dari Turki. Semua orang, yang pulang dari daerah sengketa, berakhir di tangan organisasi intelijen MI6 (intelijen dalam negeri Inggris). Mereka diinterogasi dan jika diketahui telah bekerja untuk ISIS, mereka akan segera ditangkap.”
Times dalam laporannya menambahkan, MI6 dalam kerjasamanya dengan intelijen AS (CIA) terus berusaha meneliti semua orang Barat yang ikut ISIS.
Meskipun anggota asing ISIS hanya berperan di 3 dari 40 aksi teroris di Eropa sejak 2015, namun ada jumlah korban yang lumayan banyak dari aksi tersebut.
Bulan lalu, Baghdad mengumumkan kemenangannya dalam perang melawan teroris selama setahun penuh. ISIS waktu itu mengumumkan Raqqa sebagai ibukota dan Mosul sebagai markas ISIS takfiri. Saat ini, ISIS cerai-berai dan menjadi kelompok-kelompok teroris kecil di Suriah.

Kolaborasi Turki dan Sudan di Sawakin mengancam Mesir


Analis asal Mesir mengkhawatirkan dampak negatif kebijakan Sudan yang akan memberikan pelabuhan dan pulau Sawakin kepada Turki.
Russia Today melaporkan, Hani Ruslan, wakil direktur pusat analisa politik al-Ahram, menyatakan bahwa keputusan Sudan telah mengundang tanda tanya. Hal yang memaksa Mesir untuk siaga akan kehadiran Turki di laut Merah.
Ruslan melanjutkan, pernyataan Erdogan, Presiden Turki yang menyatakan bahwa sudah terbangun pondasi kesepakatan antara Sudan-Turki memiliki arti bahwa kemungkinan ada kesepakatan keamanan antara kedua belah pihak.
Analis asal Mesir ini mengingatkan, pertemuan segitiga antara pemimpin Turki, Sudan Qatar menunjukkan bahwa mekanisme militer dan keamanan akan mereka ciptakan di pulau tersebut.
Di sisi lain, direktur pusat analisa politik dan strategi ini juga menyatakan, alasan yang dilontarkan dalam pemberian pulau dan pelabuhan Sawakin adalah untuk menjaga peninggalan sejarah Utsmani hanyalah klaim, karena tujuan sebenarnya antara kedua belah pihak adalah membangun pangkalan militer Turki-Sudan.
“Melihat situasi terkini Kawasan dan hubungan buruk Turki, Mesir dan Sudan, jelas bahwa ini adalah sebuah ancaman bagi Mesir” lanjutnya.
Mesir harus memikirkan jalan keluar untuk menghadapi ancaman nyata ini.

Gelombang demonstrasi Iran, 22 tewas


Televisi pemerintah Iran melaporkan sembilan orang lagi terbunuh dalam bentrokan pada Senin malam (01/01) antara pasukan keamanan dan pemrotes sehingga jumlah orang yang meninggal dunia dalam kekerasan selama enam hari terakhir menjadi 22 orang.
Pihak berwenang mengatakan di antara sembilan orang yang terbunuh pada Senin malam terdapat enam orang di Qahdarijan, Provinsi Isfahan, ketika demonstran berusaha mencuri senjata dari kantor polisi setempat.
Korban yang lain meliputi anggota Garda Revolusi dan kepolisian.Sejauh ini 450 pemrotes ditangkap di ibu kota Iran, Teheran, sejak Sabtu. Unjuk rasa kali tercatat sebagai aksi terbesar sejak pemilihan presiden tahun 2009 yang hasilnya dipersoalkan.
Pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mengatakan musuh-musuh Iran menghasut kekacauan di negaranya.Unjuk rasa bermula Kamis pekan lalu (28/12) di Mashhad, kota terbesar kedua di Iran, dan sejak itu protes menyebar ke sejumlah kota, termasuk di Teheran.
Kelompok pengunjuk rasa tidak puas dengan kondisi perekonomian, pengangguran dan inflasi di dalam negeri. Namun pada satu sisi, Iran mengeluarkan uang dalam jumlah besar karena keterlibatannya dalam perang di Suriah dan Yaman untuk menyebut sebagian.
Jadi sebagian warga Iran meminta pemerintah menggunakan dana itu untuk mengurus rakyatnya sendiri, bukan untuk membiayai konflik di kawasan.
"Ekonomi di sini semakin memburuk, salah satunya karena ada rencana untuk menaikan harga bahan bakar di Iran. Selain itu, sebagian warga tidak puas karena tidak semua warga menerima subsidi yang seharusnya diberikan oleh pemerintah," papar Asep Nasrullah, ketua Ikatan Pelajar Indonesia di Iran.
Kenaikan biaya hidup kian menjepit rakyat, terutama kalangan bawah. Asep Nasrullah, yang baru saja pulang dari pasar ketika memberikan wawancara kepada BBC Indonesia, memberikan contoh kenaikan harga kebutuhan.
"Saya tadi membeli cabai pedas. Biasanya minggu-minggu sebelumnya harganya 60.000-70.000 real atau sekitar Rp15.000/kg, tadi menjadi 110.000-120.000/kg. Akhirnya saya tawar dan harganya menjadi 90.000/kg."Meskipun awalnya demonstrasi mengangkat isu-isu ekonomi, aksi lantas merambah ke masalah politik.
Kelompok pengunjuk rasa mengecam sosok-sosok penting yang berkuasa di Republik Islam dan sebagian bahkan menyerukan kembalinya ke pemerintahan monarki yang digulingkan dalam revolusi tahun 1979, lapor redaktur masalah Timur Tengah BBC, Jeremy Bowen.Dalam komentar pertamanya sejak pecah kerusuhan, pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mengatakan musuh-musuh Iran adalah pihak-pihak yang menghasut kekacauan.
Ditegaskan oleh Khamenei bahwa musuh-musuh itulah yang menyediakan dana tunai, senjata dan agen intelijen bagi kelompok demonstran.
"Melihat peristiwa-peristiwa selama beberapa hari terakhir, mereka semua yang menentang Republik Islam, mereka semua yang mempunyai uang, mereka yang berada di dunia politik, mereka yang mempunyai senjata, mereka yang menjalankan lembaga-lembaga keamanan, mereka semua bekerja sama untuk menimbulkan masalah bagi kemapanan Islam, Republik Islam dan Revolusi Islam," kata Ayatollah Ali Khamenei dalam situs resminya, Selasa (02/01).
Ia tak sampai merinci pihak-pihak yang dituding terlibat. Lebih jauh ia akan menyampaikan pidato nasional tentang situasi terbaru ketika waktunya tepat.
"Saya mempunyai penilaian sendiri tentang kejadian-kejadian selama beberapa hari terakhir dan Insya Allah, saya akan menyampaikannya kepada rakyat tercinta kita."Redaktur masalah Timur Tengah BBC, Jeremy Bowen, melaporkan gerakan yang muncul di Iran saat ini bukanlah revolusi baru, "tetapi protes-protes ini merupakan yang terbesar di Iran sejak pemilihan presiden yang disengketakan tahun 2009".
"Bagaimanapun, kali ini gerakan ini tampaknya tanpa pemimpin nasional," tambahnya.
Dalam aksi unjuk rasa di sejumlah kota, kelompok yang tampak menonjol adalah mereka yang menentang pemerintah, sedangkan mahasiswa belum banyak yang terlibat.
"Kalau yang saya amati, pertama-tama yang mengadakan demonstrasi kebanyakan adalah kelompok Zidde Daulath, yaitu orang-orang yang kontra akan pemerintah di sini," kata Asep Nasrullah.
Dikatakannya, mereka pada umumnya anak-anak muda yang menentang pemerintahan pimpinan para mullah atau ulama.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran merangkap Turkmenistan, Octavino Alimudin, menjelaskan di antara kerumunan demonstran terdapat banyak anak muda.
"Saya sendiri tidak melihat mereka dari mana karena umumnya mereka tidak memakai seragam, jadi memang mereka masyarakat setempat. Dan kalaupun mereka berkumpul di depan universitas, itupun tidak kemudian itu adalah dari mahasiswa universitas terkait," katanya.Presiden Hassan Rouhani sebelumnya mengatakan rakyat Iran bebas untuk memprotes pemerintah namun tidak boleh membahayakan keamanan seraya menambahkan kekerasan tidak akan ditoleransi.
Meski dari jumlah kota dan peserta unjuk rasa kini berkurang, kata Dubes Octavino Alimudin, aksi ini masih mungkin berlanjut.
"Aksi unjuk rasa ini mungkin diawali dengan kerumunan massa, kemudian mereka bergerak ke taman atau ke depan universitas. Dari pergerakan tersebut semakin banyak massa yang ada dan apabila kondisinya tidak kondusif, memang dibubarkan oleh aparat keamanan."Situasi keamanan di Iran secara umum dilaporkan lebih baik pada Selasa (02/01, meskipun aparat keamanan tampak berjaga-jaga di titik-titik penting.
Di Gorgan, misalnya, sekitar 400 km dari Teheran, polisi dapat dilihat di jalan-jalan.
"Saya waktu pergi ke pasar melihat banyak polisi mengamankan di titik-titik kota. Polisi banyak mengadakan pengamanan mungkin karena takut terjadi demonstrasi," jelas Asep Nasrullah, seorang mahasiswa Indonesia di Gorgan.
Adapun di ibu kota Iran, Teheran, situasi juga berangsur-angsur tenang meskipun penjagaan semakin ketat.
"Dua hari lalu sampai ada meriam air untuk mengusir mereka (pengunjuk rasa). Ini yang kami lihat di kota Teheran. Untuk tadi malam, itu sudah tidak ada.
"Memang jumlah personel polisi, penegak hukum atau aparat keamanan memang semakin banyak tapi kita tidak melihat situasinya sampai mencekam seperti pada tanggal 31 Desember," papar Dubes Octavino Alimudin.Mungkin karena sekarang masih dalam suasana libur Tahun Baru, Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan briefing kepada kalangan diplomat asing yang bertugas di negara itu.
Namun menurut Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran merangkap Turkmenistan, Octavino Alimudin, para diplomat berbagi informasi, terutama menyangkut kondisi keamanan.
"Jadi kita belum sampai fokus melihat siapa yang dinilai sebagai musuh atau pun juga mungkin siapa yang mendalangi ini semua, kami dari kalangan diplomatik memang belum ada pembahasan sejauh itu."
"Kami sendiri dari KBRI Teheran, yang kami utamakan adalah bagaimana ini mempengaruhi perkantoran ataupun juga kegiatan usaha."
Sejauh ini, lanjutnya, demonstrasi tidak sampai memaksa kegiatan sehari-hari berhenti, termasuk perdagangan, sekalipun toko-toko berada di sekitar lokasi demonstrasi.
Khusus untuk warga negara Indonesia yang belajar atau bekerja di Iran, kata Dubes Octavino Alimudin, mereka dimbau untuk menghindari tempat-tempat yang menjadi kerumunan massa, dan juga menghindari lokasi-lokasi kerumunan massa yang sudah diawasi aparat keamanan.
Jumlah WNI yang berada di Iran tercatat 370 orang, sebagian besar berada di kota Qom, sekitar 125 km dari Teheran.

Benarkah Israel - Amerika berada di balik kerusuhan Iran?


Channel 10 televisi Israel dalam liputan khususnya melaporkan, kunjungan tim inti Tel Aviv ke Washington adalah dalam rangka pencanangan strategi baru untuk menghadapi rudal, nuklir dan segala aktifitas Iran di Timteng.
Saluran televisi Israel ini menukil penjelasan dari beberapa sumber petinggi AS dan melaporkan, pada tanggal 12 Desember lalu rombongan delegasi Israel mengadakan kunjungan rahasia ke Washington. Delegasi tersebut dipimpin oleh Meir Ben-Shabbat, penasehat keamanan PM Israel, beberapa anggota parlemen senior militer, intelijen dan diplomatik kabinet Israel.
Salah satu senior pemerintahan Amerika menjelaskan, setelah dua hari perundingan, kedua belah pihak (Washington-Tel Aviv) mencapai sebuah kesepakatan terkait Iran. Tujuan dari dokumen ini adalah mengaplikasikan pernyataan Donald Trump, Presiden AS, tentang Iran di dunia nyata.
Menurut petinggi tersebut, dokumen tersebut berisi analisa tim untuk mengejewantahkan sebuah tujuan. Salah satu kerja tim ini adalah aktifitas rahasia dan diplomatis untuk melawan nuklir Iran. Selain itu, tim juga bertugas untuk memperketat pengaplikasian dan pengawasan resolusi nuklir saat ini. Namun di saat itu juga, mereka juga akan menapaki jalan diplomatik di luar dari resolusi. Dan mereka juga menganalisa adanya jalan lain untuk melawan nuklir Iran.
Tugas tim kedua adalah membatasi aktifitas Iran di Kawasan, khususnya di Suriah dan Lebanon. Mereka akan menganalisa tembok penghalang Iran di Suriah dan mereka juga membangun garis kesepakatan bersama di periode baru setelah perang Suriah. Mereka juga bertugas menghalangi bantuan Iran ke kelompok seperti Hizbullah, Hamas dan Jihad Islami.
Tugas tim ketiga adalah mengagendakan strategi rudal Iran dan masalah pengiriman rudal canggih Iran ke Hizbullah dan Suriah. Tugas tim keempat adalah membuat skenario perang di Kawasan yang kemungkinan besar Iran akan intervensi di sana. Skenario lainnya yang akan dibangun adalah skenario menghadapi Hizbullah.
Petinggi senior Israel dalam sesi wawancara dengan Channel 10 ini menegaskan kerjasama mereka dengan AS untuk menghadapi Iran. Salah satu dari mereka menjelaskan, Israel-AS memiliki satu kacamata terkait Kawasan, khususnya Iran. Dan kita mencapai satu pandangan tentang strategi dan politik dalam hal ini. Kita bersama (AS-Israel) bahagia dan menunggu dengan penuh senyum akan hasil strategi dan kesepakatan ini.