MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Tuesday, January 22, 2019

Jokowi: Mau Bebas, Abu Bakar Baasyir Harus Setia ke NKRI dan Pancasila

Jokowi: Mau Bebas, Abu Bakar Baasyir Harus Setia ke NKRI dan Pancasila

Presiden Jokowi menegaskan, dirinya tak memberikan pembebasan tanpa syarat kepada narapidana terorisme Abu Bakar Baasyir , melainkan bersyarat.
Karenanya, Jokowi menegaskan Abu Bakar Baasyir harus memenuhi semua persyaratan yang diberikan pemerintah kalau ingin benar-benar bebas."Pemerintah punya mekanisme hukum dan harus dilalui. Soal Ustaz Abu Bakar Baasyir, ada sistem hukum yang harus dilalui. Ini namanya pembebasan bersyarat, bukan pembebasan murni,” kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (22/1/2019).Sebagai presiden, Jokowi menegaskan tak mungkin dirinya melanggar peraturan hukum mengenai pembebasan bersyarat dalam kasus Abu Bakar Baasyir
Salah satu syarat yang diberikan pemerintah kepada Abu Bakar Baasyir adalah, napi teroris tersebut harus mau meneken surat kesetiaan terhadap NKRI dan Pancasila .
"Ini pembebasan bersyarat. Syaratnya harus dipenuhi. Kalau tidak, kan enggak mungkin saya menabrak peraturan. Contoh, setia kepada NKRI dan Pancasila, itu dasar sekali. Sangat prinsip sekali. Saya kira jelas sekali," ucap dia.
Kekinian, setelah persyaratan itu disodorkan, giliran Abu Bakar Baasyir dan keluarga menentukan apakah mau memenuhi atau tidak."Ini semua masih kajian di Menkopolhukam, termasuk juga tentu saja terserah kepada keluarga besar Ustaz Abu Bakar Baasyir.”

Sebelumnya, Kuasa Hukum Abu Bakar Baasyir, Mahendradatta menjelaskan alasan kliennya tidak mau menandatangani ikrar kesetiaan NKRI.

Menurut Abu Bakar Baasyir, tidak perlu tanda tangan surat pernyataan tersebut untuk membuktikan kecintaannya kepada NKRI.

Abu Bakar Baasyir juga lebih memilih bela Islam karena keduanya dianggap satu hal yang sama.

Monday, January 21, 2019

Seorang Lagi Perempuan Saudi Ingin Melarikan Diri dari Keluarganya

Keberhasilan pelarian Rahaf al-Qunun (18 tahun) ke Kanada, akan mengilhami perempuan Saudi lainnya untuk melakukan tindakan serupa (foto: ilustrasi).

Seorang lagi perempuan Arab Saudi memanfaatkan media sosial untuk mencari perlindungan dari ancaman ayahnya, hanya beberapa hari setelah Kanada memberi ijin tinggal bagi Rahaf al-Qunun, perempuan Saudi berusia 18 tahun yang melarikan diri dari keluarganya.
Hanya diidentifikasi sebagai Nojoud al-Mandeel di Twitter, kasusnya berbeda dari kasus al-Qunun. Ia belum melarikan diri dari keluarganya, belum mengungkapkan wajahnya dan hanya meminta bantuan di Twitter dalam bahasa Arab.
Sementara situasi mereka berbeda, pengakuan adanya pelecehan yang dialami kedua perempuan itu mencerminkan apa yang dihadapi perempuan-perempuan Saudi lainnya yang menggunakan media sosial untuk mengungkapkan perjuangan mereka.
Ada spekulasi bahwa keberhasilan pelarian al-Qunun akan mengilhami orang-orang lain untuk melakukan tindakan serupa. Namun, hal-hal yang mencegah mereka melakukan itu, masih tetap berlaku. Jika tertangkap, mereka yang melarikan diri itu menghadapi kemungkinan mati di tangan sanak-kerabat mereka karena dianggap mempermalukan keluarga.
Perempuan Saudi yang melarikan diri dari keluarga mereka menantang sistem yang memberi hak perwalian laki-laki atas kehidupan perempuan. Sistem perwalian ini berawal di rumah, di mana wanita harus mematuhi ayah, suami, dan saudara laki-lakinya. Di luar rumah, sistem itu berlaku untuk semua warga negara yang sering disebut sebagai putra dan putri oleh penguasa Saudi yang menuntut kepatuhan.
Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman yang memperkenalkan reformasi sosial yang melonggarkan pembatasan pada perempuan mengatakan kepada majalah Atlantik, bahwa menghapus hukum perwalian harus dilakukan dengan cara yang tidak membahayakan keluarga dan budaya. Dia mengatakan, menghapus undang-undang itu akan menciptakan masalah bagi keluarga yang tidak ingin memberi kebebasan kepada putri-putri mereka.

ISIS Bertekad Terus Serang Kepentingan AS di Manbij, Suriah Utara

Tentara AS melakukan patroli di Manbij, Suriah November tahun 2018 lalu (foto: ilustrasi).

Kelompok militan ISIS berjanji akan terus menarget kepentingan Amerika dan pasukan-pasukan yang didukung Amerika di kota Manbij, Suriah bagian utara, di mana penyerang bunuh diri menewaskan empat orang Amerika dan lima tentara koalisi minggu ini.
Klaim yang diterbitkan dalam suratkabar online ISIS, Naba, muncul ketika para pejabat pertahanan dan intelijen Amerika bertanya-tanya apakah jaringan intelijen dan keamanan ISIS lebih luas dan masih kuat daripada yang diperkirakan sebelumnya.
“Serangan-serangan oleh pasukan Mujahidin di Manbij akan terus berlanjut sampai pemerintahan syariah kembali ke kawasan itu,” kata Naba.
Sasaran serangan sebelum ini termasuk pasukan koalisi dan para pejabat intelijen, kata laporan ISIS itu. Kendati klaim ISIS bahwa mereka bertanggung-jawab atas serangan hari Rabu di Manbij belum bisa dikukuhkan, pejabat kontra-teroris Amerika mengatakan, “Kami yakin klaim itu betul.”
Laporan situs ISIS itu juga memberikan rincian bagaimana para pejuang dan informan mereka terus memantau kegiatan pasukan Amerika di pangkalan-pangkalan mereka di sekitar Manbij, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan anggota pasukan Demokratik Suriah yang dibantu koalisi. 

Pengadilan AS Kukuhkan Penangkapan Wartawati Televisi Iran

Wartawati Marzieh Hashemi (kanan) bersama putranya (foto: dok).

Pengadilan Amerika hari Jumat (18/1) mengukuhkan penangkapan seorang wartawati yang bekerja untuk televisi Iran, dan mengatakan, keterangannya diperlukan dalam sebuah kasus lain yang tidak disebutkan.
Pengadilan itu juga menambahkan bahwa Marzieh Hashemi yang lahir di Amerika dan bekerja sebagai pembawa acara dalam televisi Iran yang berbahasa Inggris, tidak dituduh melakukan kejahatan apapun.
Hakim ketua di pengadilan Washington DC, Beryl Howell memerintahkan dikeluarkannya pengumuman tentang Hashemi dengan menggunakan nama aslinya Melanie Franklin.
Perintah pengadilan itu mengatakan Hashemi ditangkap karena kesaksiannya dibutuhkan dalam sebuah kasus lain, dan ia akan dibebaskan segera setelah ia memberikan kesaksian dimuka sebuah juri agung atau grand jury yang sedang memeriksa “kasus pelanggaran hukum kriminal di Amerika.”
Hashemi ditangkap hari Minggu (13/1) lalu di bandara St. Louis ketika ia tiba untuk mengunjungi seorang anggota keluarga yang sakit.Hashemi, yang masuk agama Islam dan kawin dengan seorang warga Iran dilaporkan telah membuat laporan dokumenter yang mengecam kebijakan Amerika di Timur Tengah, dan perlakuan Amerika atas warga kulit hitam dan warga Muslim. Iran mengatakan akan membela Hashemi yang dianggap sebagai warga Iran karena perkawinannya.
Penangkapan Hashemi oleh Amerika adalah suatu tindakan politik “yang tidak bisa diterima dan menginjak-injak kebebasan menyatakan pendapat,” kata menteri LN Iran Javad Zarif. 

Militer Turki Siap Ambil Alih Keamanan di Manbij, Suriah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara di Ankara (15/1).

Turki siap untuk mengambil alih keamanan di kota Manbij yang dikuasai Kurdi di Suriah, kata Presiden Recep Tayyip Erdogan hari Minggu (20/1).
Kantor Erdogan mengatakan presiden telah berbicara dengan Presiden AS Donald Trump lewat telepon hari Minggu, beberapa hari setelah sebuah serangan ISIS di kota itu menewaskan 19 orang, termasuk tiga tentara AS dan seorang kontraktor militer AS.
Erdogan memberitahu Trump serangan itu merupakan "provokasi" yang bertujuan mempengaruhi keputusannya untuk menarik pasukan AS dari Suriah.
Gedung Putih tidak secara khusus menyebut komentar Erdogan mengenai Manbij, namun hanya mengatakan kedua presiden itu "setuju untuk melanjutkan upaya negosiasi untuk menemukan solusi bagi Suriah timur laut yang menjadi keprihatinan keamanan kami."

Israel Kukuhkan Serangan Militer terhadap Target-target Iran di Suriah

Serangan misil Israel menyasar target-target militer Iran di Damaskus, Suriah (foto: dok).

Dalam sebuah pengakuan publik yang langka, Israel mengukuhkan Senin (21/1) pagi bahwa pihaknya melancarkan serangan udara terhadap target-target militer Iran di dalam Suriah.
"Kita telah mulai menyerang target-target Quds Iran di dalam wilayah Suriah. Kami memperingatkan Pasukan Bersenjata Suriah untuk tidak berupaya membahayakan pasukan atau wilayah Israel," cuit militer Israel.
Mereka tidak memberikan rincian mengenai serangan itu lebih lanjut.
Tapi Israel melancarkan serangan udara itu setelah mencegat sebuah rudal di atas Dataran Tinggi Golan, beberapa jam setelah apa yang Suriah katakan sebagai rudal-rudal yang ditembakkan dekat bandara Damaskus.
Israel jarang membuat komentar apapun mengenai aksi militer di Suriah. Tapi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan dalam sebuah kunjungan ke Chad, "Kami memiliki kebijakan yang pasti -- untuk menghancurkan pertahanan Iran di Suriah dan membahayakan siapapun yang berupaya membahayakan kami."
Israel tidak mau terlibat dalam perang saudara Suriah. Israel telah meminta Rusia -- sekutu dekat pemerintah Suriah -- untuk menjauhkan pasukan Iran dari sebuah zona dekat perbatasan Suriah-Israel.

Saturday, January 19, 2019

Ahok : Saya Merasa Begitu Dikasihi

Ahok : Saya Merasa Begitu Dikasihi

Terpidana kasus penistaan agama yang juga mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok ) mengaku berterima kasih kepada pihak-pihak ataupun para pendukungnya yang memberikan dukungan selama dirinya berada tahanan di Markas Korps Brimob, Kelapa, Dua Depok.
Hal ini disampaikan Ahok melalui surat yang dibuat dengan tulisan tangan Ahok yang di unggah oleh tim Ahok atau BTP di akun twitternya @basuki_btp pada Kamis (17/1/2019) malam.
"Terima kasih atas doa serta dukungannya selama ini untuk saya," tulis Ahok.Ahok menuturkan dalam pengalaman hidupnya, ia tak pernah mendapatkan begitu banyak pemberian baik makanan, buah-buahan, pakaian, dan lainnya dari para pendukungnya. Hal itu baru ia dapatkan saat menjalani hukuman di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.
"Saya merasa begitu dikasihi dan kasih sayang saudara saudara berikan kepada saya lebih baik daripada emas dan perak maupun dibandingkan kekayaan yang besar," kata Ahok dalam tulisan tangannya.
Tak hanya itu, mantan Bupati Belitung Timur itu mengimbau kepada para pendukungnya, Ahokers untuk tidak menjemputnya apalagi menginap di depan Mako Brimob pada hari kebebasannya pada 24 Januari 2019 mendatang.
Menurutnya, hari dimana dirinya bebas adalah hari dimana orang bekerja.
"Saya mendengar ada yang mau menyambut hari kebebasan saya di Mako Brimob, bahkan ada yang mau menginap di depan Mako Brimob. Saya bebas tanggal 24 Januari 2019, adalah hari Kamis, hari orang-orang bekerja, jalanan di depan Mako Brimob dan di depan Lapas Cipinang adalah satu-satunya jalan utama bagi saudara-saudara kita yang mau mencari nafkah," tutur Ahok.Karena itu, ia menyarankan agar para pendukungnya untuk tidak menjemputnya ataupun menginap di depan Mako Brimob.
"Saya sarankan demi untuk kebaikan dan ketertiban umum bersama dan untuk menolong saya, sebaiknya saudara-saudara tidak melakukan penyambutan apalagi menginap," kata Ahok.
Ahok saat ini tengah menjalani masa hukuman 2 tahun penjara karena dinilai bersalah pada kasus penodaan agama. Ahok akan bebas pada 24 Januari 2019 setelah menjalani dua tahun hukuman dan dikurangi remisi atas kasus penodaan agama yang menimpanya.

Thursday, January 17, 2019

Kesaksian Mengejutkan Mantan Penghuni Kamp Muslim Uighur di China



Wajah Gulbachar Jalilova (54 tahun) terkejut. Matanya membulat menatap ke layar besar. Di hadapan dia terpampang satu foto memperlihatkan beberapa orang Uighur berpakaian seragam merah sedang mengantre makanan. Suaranya langsung meninggi, “No! No!” Ia menggeleng berkali-kali sambil nyerocos panjang lebar berbahasa Turki.
Seyit Abdulkadir Tumturk, rekan Jalilova, menjelaskan, “Foto itu bukan sebenarnya. Tidak ada seperti itu,” kata Abdulkadir dengan bahasa Inggris beraksen Turki.
Jalilova, Abdulkadir, dan Seyit Tumturk adalah perwakilan Majelis Nasional Turkistan Timur yang berkunjung ke kantor redaksi Republika, Jumat (11/1) sore. Dari ketiga orang ini, hanya Abdulkadir yang aktif berbahasa Inggris menjelaskan, sementara Tumturk dan Jalilova membutuhkan penerjemah untuk menjelaskan.
Kemudian, foto kedua diperlihatkan. Beberapa peserta kamp Uighur Cina sedang bermain bola voli di lapangan. Suara Jalilova makin kencang seolah memprotes aksi di foto. Ia setengah berteriak kepada Sayit Tumturk yang duduk tak jauh darinya. Tangan kanannya memberi isyarat.
Abdulkadir mengatakan, “Foto itu bagaikan timur dan barat dengan kenyataan aslinya,” kata dia. Jalilova adalah eks penghuni kamp Uighur Cina Xinjiang. Ia mengaku baru bebas pada September kemarin setelah 16 bulan ditahan tanpa alasan yang jelas.
Foto ketiga dan keempat diperlihatkan, berisi ruang kelas berisi belasan warga Uighur pria dan wanita duduk rapi. Foto kelima memperlihatkan deretan warga Uighur sedang mengikuti kursi pelatihan. Jalilova makin terbelalak seolah mengatakan semua foto itu bohong.
“Saya tidak berolahraga di sana, keluar dari kamp, saya harus dirawat di rumah sakit karena badan penuh kuman. Tubuh saya harus disuntik dengan vitamin untuk menguatkan,” ujar dia seperti disampaikan Abdulkadir.
Jalilova ditangkap aparat Cina di Kota Urumqi, Xinjiang. Ia keturunan Uighur, tapi berkewarganegaraan Kazakshtan. Sudah 20 tahun ia berbisnis melintas perbatasan Kazakhstan-Cina Xinjiang. Saat ditangkap, ia bingung dengan tuduhannya: mentransfer dana ilegal 17 ribu yuan dari Cina dan Turki ke Xinjiang. Ia pun dijebloskan ke kamp.
“Ketika saya berada di kamp, saya memberi tahu mereka bahwa saya adalah orang asing dan bahwa saya tidak melakukan kesalahan,” kata dia.
Hal yang membuat Jalilova semakin sedih adalah karena ia harus terpisah dengan anaknya. Ia juga tak bisa berkomunikasi langsung dengan anaknya. Anaknya hanya bisa mengirim surat ke kamp.
“Kami diberi tahu bahwa kami tidak memiliki hak di sana. Kami tidak memiliki hak untuk melakukan panggilan telepon, kami seperti orang mati,” ujarnya bercerita.
Dari pengakuan Jalilova, kondisi kamp penuh dengan penyiksaan. Ia lalu memperlihatkan beberapa dokumen berbahasa Cina dan Inggris yang katanya berisi keterangan penangkapan dia. Namun, Jalilova menolak dokumen itu direkam ataupun digandakan pers. Ia tak memberi alasan tertentu. Hanya menolak menggeleng.
Di kamp, Jalilova hidup di dalam ruangan berukuran 7 x 3 x 6 meter tanpa jendela. Kamar yang sangat pengap dan gelap karena diisi 40-50 perempuan.
“Mereka mengikat logam seberat 5 kilogram di kaki kami sebagai cara hukuman. Tidur kami bergantian karena terlalu banyak orang, tak bisa seluruhnya rebah. Sebagian rebah, sebagian bangun. Tidur hanya empat jam semalam,” ujar Jalilova.
Pendidikan vokasi yang disebut Cina dalam berita sepekan lalu, menurut Jalilova, lebih berupa pemberian ajaran-ajaran komunis, baik itu berupa lagu-lagu maupun undang-undang komunis. Semua wajib dihafal, wajib dipelajari, bahkan dijadikan ujian. Ada kalanya mereka harus duduk di dalam ruangan, menatap televisi yang berisi tayangan Presiden Cina Xi Jinping, belasan jam lamanya.
Jalilova juga mengaku kerap dipukuli selama berada di dalam kamp. Berat badannya pun turun drastis. Saat pertama kali masuk, berat badannya mencapai 76 kilogram. Dalam sebulan, kata dia, berat badannya turun lebih dari 20 kilogram.
“Tujuan akhir dari kamp-kamp konsentrasi itu adalah untuk menghilangkan orang-orang Uighur,” kata dia.
Pernyataan Gulbachar Jalilova ini bertentangan dengan klaim Pemerintah Cina, tetapi sesuai dengan kelompok advokasi masyarakat Uighur dan hak asasi manusia lainnya.
Jalilova dikeluarkan dari kamp setelah upaya lobi yang berkelanjutan oleh keluarganya dan Pemerintah Kazakstan. “Saya sudah dibebaskan dari kamp konsentrasi tiga bulan lalu, tetapi setiap hari situasi di kamp konsentrasi masih terbayang-bayang di pelupuk mata saya,” ujarnya. “Tangisan rakyat Uighur masih terngiang di telinga saya.”
Berdasarkan data yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diperkirakan lebih dari satu juta etnis minoritas Muslim Uighur telah ditahan tanpa persetujuan mereka di pusat penahanan tidak resmi di Xinjiang. Pemerintah RRC mengatakan, kamp-kamp tersebut adalah pusat pelatihan kejuruan yang menyediakan pelatihan bahasa dan pendidikan ulang bagi para ekstremis.
Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur Seyit Tumturk berterima kasih kepada rakyat Indonesia atas aksi solidaritas untuk Muslim Uighur. Demonstrasi mendukung Muslim Uighur di sejumlah daerah di Indonesia dilakukan bulan lalu. Di Jakarta, ribuan demonstran menggelar unjuk rasa di depan Kedubes Cina. Mereka menyuarakan kecaman terhadap apa yang terjadi terhadap Muslim Uighur di Xinjiang.
“Terima kasih untuk warga Muslim Indonesia atas nama seluruh masyarakat Uighur di seluruh dunia,” ujar dia.
Tumtruk mengatakan, masyarakat Indonesia telah menyuarakan apa yang tidak bisa disuarakan atau diberitahukan masyarakat Turkistan Timur kepada dunia. “Tapi, Indonesia melakukan itu, terima kasih,” ujarnya.
Mengapa bernama Turkistan Timur? Gerakan perlawanan Uighur internasional menolak menggunakan istilah Uighur atau Xinjiang. Karena, itu versi Pemerintah Cina yang menggunakan nama Turkistan Timur. Dengan klaim inilah wilayah asli mereka sebelum dicaplok Cina pada pertengahan 1940-an.
Turtuk mengklaim, 90 persen masjid di Turkistan Timur dihancurkan. Kalaupun ada masjid yang berdiri, dia menuding, itu karena sengaja didirikan Pemerintah Cina untuk memperbaiki citra. “Itu semua settingan pemerintah komunis Cina untuk menyembunyikan fakta sebenarnya,” kata dia menuding.
Seperti diketahui, Cina sempat membuka akses bagi sejumlah pihak untuk mengintip kondisi di kamp reedukasi di Xinjiang pada awal Januari. Dalam kunjungan yang mendapatkan kawalan pejabat setempat itu, meski belum sepenuhnya, gambaran soal yang terjadi di Xinjiang mulai tampak.
Cina mengundang sejumlah wartawan asing ke Xinjiang. M Irfan Ilmie, wartawan Antara, salah satu yang mengikuti kunjungan ke dalam kamp yang sempat dilaporkan PBB menjadi lokasi penyiksaan dan indoktrinasi itu. “Melihat dari usia mereka yang rata-rata 20 tahun hingga 30 tahun, tidak seharusnya duduk di ruang kelas untuk melafalkan kata demi kata layaknya murid sekolah dasar,” tulisnya merujuk para penghuni kamp, seperti dilansir Antara pada Senin (7/1).
Salah satu kamp yang dikunjungi berjarak sekitar 1.500 kilometer di sebelah selatan ibu kota Xinjiang di Urumqi dan dibangun di atas lahan seluas 16 hektare pada pertengahan 2017. Daya tampungnya sebanyak 3.000 orang.
Kepala kamp, Mijiti Meimeiti, menyebutkan, saat ini jumlah anak didiknya sebanyak 2.000 orang etnis Uighur yang tinggal di wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Kirgizstan, Uzbekistan, Tajikistan, Afghanistan, dan Pakistan.
Mayoritas mereka, kata Mijiti, berisiko terpapar paham radikal dan ekstremis sehingga ada yang memang darurat untuk dikirim ke kamp. Di dalam kamp, yang diperlihatkan kepada para wartawan serupa balai latihan kerja dengan fasilitas apik dan memadai. Namun, dari luar, bangunan tampak dikelilingi pagar berlapis dan beberapa bagian dipasangi kawat berduri lengkap dengan kamera pemantau di mana-mana.
Lokasinya sepi dan jauh dari permukiman sehingga, menurut Irfan, mirip sebuah kamp daripada lembaga pendidikan. Reuters yang juga diundang menuturkan, dalam salah satu kelas, para murid diberi tahu bahwa larangan bernyanyi, menari, dan menangis saat pemakaman merupakan tanda-tanda pikiran ekstremis. Para murid tampak tekun mencatat keterangan itu, tak ada yang tampak mengalami penganiayaan. (Sumber: republika.co.id)

Reaksi Turki atas ancaman Presiden AS



Presiden Donald Trump dalam akun twiter pribadinya memperingatkan Turki agar tidak mengusik Kurdi. Sontak kantor Kepresiden Turki bereaksi.
“Kami menyarankan AS untuk menghormati kemitraan strategis”, jelas Kepresidenan Turki.
“Kurdi dan militan Kurdi jangan disamakan. Ini adalah kesalahan besar”, tegas Jubir Kepresidenan Turki.
Dalam akun twiternya, Presiden AS juga menyindir masalah daerah aman di 20 mile antara Turki-Kurdi. Tetapi Presiden AS tidak menjelaskan siapa yang membangun, pihak yang menanggung biaya, bahkan daerah juga tidak dipastikan dimana.

Kurdi Suriah: Kami Upayakan Berunding Demi Satu Kesepakatan dengan Turki


Militer Demokratik Suriah dalam sebuah pernyataannya menjelaskan bahwa mereka tidak akan menolak bantuan pihak yang ingin menciptakan stabilitas dengan jaminan internasional untuk membelaan minoritas dan menghentikan intervensi asing.
Mayoritas militer Demokratik Suriah dihuni oleh militan Kurdi. Militer Demokratik menyanjung keberhasilan operasi pemberantasan ISIS dan menyatakan bahwa mereka tidak ada niatan untuk mengancam stabilitas tetangga, khususnya Turki. “Kami tidak berniat untuk menganggu tetangga, khususnya Turki. Kami berharap bisa mencapai satu kesepakatan dengan Ankara dan mencari jalan keluar yang akan mengamankan daerah-daerah perbatasan”, tegas militer Demokratik.
“Kami sebagai militer Demokratik Suriah, akan mempersembahkan semua kekuatan dan bantuannya untuk menciptakan stabilitas di utara dan timur laut Suriah. Sebuah daerah aman yang mampu menjamin minoritas di bawah naungan dunia internasional dan menghentikan intervensi asing”, tambahnya.
Pernyataan ini dikeluarkan saat Turki bersiap untuk menggempur militan Kurdi YPG, militan yang menjadi urat nadi militer Demokratik Suriah. AS sebelumnya juga telah mengambil keputusan untuk menarik pasukannya dari Suriah. Tak mau melupakan sekutu operasi pemberantasan terorisnya, Pentagon sudah berkali-kali mengirim pesan kepada Ankara untuk tidak mengusik Kurdi Suriah.

ISIS di Suriah Berada pada Titik-Titik Penghabisan

ISIS di Suriah

ISIS di Suriah tengah berada di titik-titik terakhirnya. Kekalahan para jihadis di daerah kantong akan menghapus pijakan teritorial ISIS di tepi timur Sungai Eufrat. Seorang juru bicara untuk koalisi yang dipimpin Amerika Serikat mengatakan Pasukan Demokratik Suriah (SDF/Syrian Democratic Forces) membuat “kemajuan besar, tetapi perjuangan terus berlanjut.”GWhatsApLTFacebook Messenger
Oleh: Rodi Said dan Tom Perry (Reuters)
Militan ISIS di Suriah tengah “menjalani saat-saat terakhir mereka” di daerah kantong terakhir yang mereka kuasai di dekat perbatasan Irak, tempat Pasukan Demokratik Suriah (SDF/Syrian Democratic Forces) yang didukung Amerika Serikat menyerang mereka, menurut seorang pejabat SDF pada hari Minggu (13/1).
Kekalahan para jihadis di daerah kantong akan menghapus pijakan teritorial ISIS di tepi timur Sungai Eufrat. Seorang juru bicara untuk koalisi yang dipimpin Amerika Serikat mengatakan SDF membuat “kemajuan besar, tetapi perjuangan terus berlanjut.”
Pasukan Demokrat Suriah, sebuah koalisi milisi yang dipimpin oleh Kurdi YPG, telah mengusir ISIS dari wilayah Suriah utara dan timur dengan bantuan koalisi pimpinan AS selama empat tahun terakhir.
Mustafa Bali, kepala kantor media SDF, mengatakan bahwa SDF telah meningkatkan serangan dalam dua hari terakhir dan mengambil kendali atas wilayah antara kantong ISIS dan perbatasan Irak, memotong jalan keluar.
“Mereka menjalani saat-saat terakhir dan menyadari bahwa pertempuran ini adalah pertempuran untuk melenyapkan mereka,” tambahnya.
Presiden AS Donald Trump bulan Desember 2018 mengumumkan ia akan menarik pasukan AS dari Suriah, menyatakan bahwa mereka telah berhasil dalam misi mereka untuk mengalahkan ISIS dan kini tidak lagi diperlukan.
Sejak itu, para pejabat AS telah memberikan pesan yang beragam. Hari Jumat (11/1), koalisi yang dipimpin AS mengatakan pihaknya telah memulai penarikan pasukan, tetapi para pejabat kemudian mengatakan hanya peralatan, bukan pasukan, yang ditarik.
Kolonel Sean Ryan, juru bicara koalisi, mengatakan, “SDF membuat kemajuan besar dan terus membebaskan lebih banyak wilayah yang pernah dipegang ISIS, tetapi pertempuran terus berlanjut. Kekalahan abadi ISIS masih merupakan misi dan mereka masih menghadirkan ancaman yang sangat nyata bagi stabilitas jangka panjang di wilayah ini, sehingga ini semua belum berakhir.”

Keputusan AS telah menyuntikkan ketidakpastian baru ke dalam perang Suriah yang berusia delapan tahun dan memacu banyak kontak mengenai bagaimana kekosongan keamanan akan diisi di Suriah utara dan timur tempat pasukan AS kini ditempatkan. Sementara Turki bertujuan untuk mengejar pasukan Kurdi yang bersekutu dengan Amerika Serikat, pemerintah Suriah yang didukung Rusia dan Iran melihat peluang untuk memulihkan wilayah yang luas.
Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton menyarankan pekan lalu bahwa perlindungan bagi sekutu Amerika, Kurdi, akan menjadi prasyarat penarikan pasukan AS. Presiden Turki Tayyip Erdogan menyebut komentar Bolton sebagai “kesalahan serius.”
Bali mengatakan bahwa orang-orang Suriah utara dan koalisi harus membahas rencana untuk “setelah pemusnahan Daesh, dan untuk mengambil langkah-langkah untuk mencegah Daesh mengatur ulang dirinya sendiri dan kembali bangkit.”
ISIS masih memegang wilayah di tepi barat Sungai Eufrat, di antara daerah yang dikuasai pemerintah Suriah serta sekutu yang didukung Rusia dan Iran.
Ditulis oleh Tom Perry dan diedit oleh Kevin Liffey
Keterangan foto utama: Para pejuang dari Pasukan Demokratik Suriah mempersiapkan diri mereka sebelum apa yang mereka sebut sebagai serangan terhadap militan ISIS untuk mengambil kendali bendungan Tishrin, di selatan Kobani, Suriah, tanggal 26 Desember 2015. (Foto: Reuters/Rodi Said)

Kepala Militer Baru Israel Janji Pimpin Pasukan yang ‘Mematikan’

militer israel

Kepala militer baru Israel Letnan Jenderal Kochavi berjanji akan memimpin pasukan yang ‘mematikan, efisien, dan inovatif’, dalam upacara pelantikannya pada Selasa (15/1) di Tel Aviv. Kochavi menjadi kepala militer ke-22 Israel, menggantikan Letnan Jenderal Gadi Eisenkot, yang pensiun setelah 40 tahun pelayanan.
Oleh: Aron Heller (Associated Press)
Kepala militer baru Israel yang mulai menjabat pada Selasa (15/1), berjanji untuk memimpin “tentara yang mematikan, efisien, dan inovatif” di masa depan, seiring mereka menghadapi tantangan besar di sepanjang perbatasannya.
Pelantikan Letnan Jenderal Kochavi dilakukan tidak lama setelah pengumuman militer, bahwa mereka telah berhasil menyelesaikan operasinya untuk menghancurkan jaringan terowongan lintas perbatasan yang digali oleh kelompok militan Hizbullah, yang membentang dari Lebanon ke Israel, dan seiring mereka tampaknya mengakhiri ambiguitas atas ratusan serangan yang telah dilakukannya terhadap pasukan Iran di Suriah dalam beberapa tahun terakhir.
Kochavi dipromosikan dari mayor jenderal pada upacara hari Selasa (15/1) di markas militer di Tel Aviv, menjadi kepala militer ke-22 di negara itu. Dia menggantikan Letnan Jenderal Gadi Eisenkot, yang pensiun setelah 40 tahun pelayanan. Panglima militer Israel biasanya melayani hingga empat tahun.
“Saya berjanji untuk mendedikasikan seluruh energi saya pada pendekatan yang menuntut dan kritis untuk memperkuat pertahanan kami, dan menyesuaikannya dengan tantangan saat ini dan masa depan, dengan berfokus pada peningkatan kemampuan menyerang kami melawan musuh-musuh kami dan menempatkan pasukan yang mematikan, efisien, dan inovatif, yang mempertahankan tujuan dan keunikannya,” katanya.
Dalam minggu terakhirnya menjabat, Eisenkot mengawasi penemuan apa yang dikatakan militer adalah terowongan Hizbullah keenam dan terakhir yang menembus Israel. Dia juga mengungkapkan bahwa Israel telah menyerang ribuan target Iran sebagai bagian dari perubahan kebijakan untuk melibatkan Iran secara langsung, dan bukan hanya proksi Hizbullah yang lebih kecil di Lebanon dan Hamas di Gaza.
Israel telah lama menyerukan tindakan keras terhadap Hizbullah yang didukung Iran—sebuah milisi bersenjata lengkap yang berfungsi sebagai pasukan mini dan diyakini memiliki gudang dengan sekitar 150 ribu roket yang dapat menjangkau hampir seluruh Israel.
Dalam beberapa tahun terakhir, Hizbullah telah terlibat dalam pertempuran di Suriah atas nama pemerintah Presiden Suriah Bashar Assad. Tetapi dengan perang yang mereda, para pejabat keamanan Israel khawatir bahwa Hizbullah memfokuskan kembali perhatiannya pada Israel.
Walau Diancam, Tentara Israel Tetap Agresif Lawan Iran di Suriah
Kepala Staf IDF, Gadi Eisenkot, mengunjungi brigade Golani, pada tanggal 7 April 2016. (Foto: Unit Juru Bicara IDF)
Pada upacara di Tel Aviv, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berjanji akan mencegah Iran mendirikan pijakan militer di Suriah pasca-perang sipil, di depan pintu Israel.
“Di depan kami berdiri satu unsur utama yaitu Iran dan proksi terornya. Kami telah bertindak dengan cara yang bertanggung jawab dan bijaksana dalam menggagalkan upaya orang-orang yang berusaha untuk menyakiti kami,” katanya. “Saya mendengar kemarin juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan: ‘Iran tidak memiliki kehadiran militer di Suriah, kami hanya menasihati.’ Yah, saya menyarankan mereka untuk keluar dari sana dengan cepat karena kami akan melanjutkan kebijakan agresif kami di sana, seperti yang telah kami janjikan dan kami lakukan, tanpa henti dan tanpa rasa takut.”
Kochavi dan Eisenkot akan bersaing serah terima dengan kunjungan ke Tembok Barat Yerusalem, makan siang dengan presiden, dan pertemuan bersama staf umum.
Kochavi yang berusia 54 tahun sebelumnya menjabat sebagai komandan intelijen militer, kepala komando utara, dan yang terbaru sebagai wakil kepala staf Eisenkot. Dia juga memerintahkan divisi Gaza selama penarikan Israel pada tahun 2005 dari Jalur Gaza.
Sebagai komandan brigade pasukan terjun payung pada awal tahun 2000-an, ia dikreditkan dengan mengembangkan taktik menggunakan palu untuk menghancurkan dinding antara rumah-rumah di kamp-kamp pengungsi Palestina di Tepi Barat, dan untuk menyerang para penembak jitu dari tempat yang menguntungkan di mana mereka bisa menembak pasukan Israel di jalanan.
Keterangan foto utama: Kepala Staf Baru Israel Letjen Aviv Kochavi (tengah), meninjau seorang penjaga kehormatan di Tel Aviv, Israel, pada Selasa, 15 Januari 2019. Kochavi berjanji pada Selasa (15/1) untuk memimpin “tentara yang mematikan, efisien, dan inovatif” saat menghadapi tantangan besar di sepanjang perbatasannya. (Foto: AP/Ariel Schalit)

Suriah: Serangan Rudal Israel Kembali Hujani Damaskus

iran di suriah

Kantor berita Suriah melaporkan rudal-rudal Israel telah ditembakkan ke Damaskus, dan membuat pasukan udara Suriah mengerahkan tembakan balasan untuk melawan serangan rudal. Laporan dilengkapi video yang menyiarkan langit malam Damaskus yang dipenuhi kilatan cahaya dari rudal-rudal yang ditembakkan. Dalam dua tahun terakhir telah terjadi lebih dari 200 kali Israel serang Suriah untuk menargetkan sasaran Iran.
Kantor berita negara Suriah mengatakan, pesawat tempur Israel menembakkan sejumlah rudal ke daerah Damaskus pada hari Jumat (11/1), membuat pasukan pertahanan udara Suriah yang menembak jatuh sebagian besar dari mereka.
“Hasil agresi sejauh ini terbatas pada serangan di salah satu gudang di bandara Damaskus,” kata kantor berita SANA mengutip sumber militer. Serangan itu terjadi pada pukul 11:15 malam (2115 GMT), katanya.
Media pemerintah Suriah menyiarkan rekaman tentang apa yang dikatakannya adalah tembakan balasan pertahanan udara, dengan cahaya terang terlihat menembaki langit malam. Ledakan terdengar di salah satu video.
Israel telah meningkatkan serangan di Suriah sebagai bagian dari upayanya untuk melawan pengaruh yang diukir di sana oleh Iran, yang telah mendukung Presiden Bashar al-Assad dalam perang yang meletus pada 2011.
Serangan terakhir Israel yang dilaporkan oleh media pemerintah Suriah adalah pada 25 Desember 2018, ketika serangan rudal melukai tiga tentara Suriah.
Seorang pejabat senior Israel mengatakan pada bulan September Israel telah melakukan lebih dari 200 serangan terhadap sasaran Iran di Suriah dalam dua tahun terakhir.
Kelompok-kelompok yang didukung Iran dan rakyat Iran termasuk Hizbullah dari Lebanon telah dikerahkan ke Suriah untuk mendukung pemerintah Presiden Bashar al-Assad selama perang.
Keterangan foto utama: Foto ilustratif. Api rudal terlihat dari Damaskus, Suriah, tanggal 10 Mei 2018. Serangan rudal Israel yang terbaru dilaporkan terjadi pada 11 Januari 2018 kemarin. (Foto: Reuters/Omar Sanadiki)

Saturday, January 12, 2019

Cukup 1 Istri: Israel Terapkan Aturan Anti-poligami Bagi Bedouin

Pemandangan Kota Hura yang mayoritas dihuni suku Bedouin di Padang Pasir Negev, Israel, 20 Oktober 2014.

Pada hari ulang tahun pernikahan Hadra al-Faqira, suaminya datang dan membawa istri keduanya. Padahal, baru beberapa minggu al-Faqira melahirkan anak perempuan mereka.
Al-Faqira sudah beberapa waktu tak bersua dengan suaminya sejak dia pindah ke kediaman lain di kota Bedouin yang gersang tempat mereka tinggal. Suami Hadra memulai kehidupan baru dengan tujuh anaknya yang lain.
“Saya tidak tahan memikirkan perempuan itu,” kata al-Faqira menyebut istri kedua suaminya. “Suami saya merusak rumah tangga saya saat dia memulai pernikahan yang baru.”
Meski Israel melarang poligami berpuluh tahun lalu, praktik itu masih marak dalam komunitas suku Bedouin atau Bedawi yang miskin.
Israel sekarang berusaha memberantas adat lama itu dengan untuk pertama kalinya mengadili orang-orang Bedouin yang dicurigai melakukan poligami. Tapi banyak warga Bedouin memandang kebijakan itu hanya taktik untuk menekan laju pertumbuhan populasi Bedouin dan mengkriminalisasi anggota suku itu.
Kaum Bedouin juga mengeluh penelantaran sistematik dan diskriminasi oleh pemerintah Israel.

Seorang pria Bedoui berjalan di desa Umm Al-Hiran di padang pasir Negev, Israel, 12 Mei 2015.
Seorang pria Bedoui berjalan di desa Umm Al-Hiran di padang pasir Negev, Israel, 12 Mei 2015.
Direktur jenderal pada Kementerian Kehakiman Israel, Emi Palmor, yang memimpin program itu mengatakan dia bertekad untuk menerapkan aturan hukum. Namun dia akan melakukan dengan mempertimbangkan masukan dari komunitas.
Palmor mengaku sudah melakukan riset mengenai isu poligami selama dua tahun dan membahas berbagai solusi dengan para aktivis Bedouin.
“Komunitas Bedouin adalah satu-satunya tempat di negara ini di mana poligami dinyatakan legal, terang-terangan, terekspos, dan tidak ada satu pun yang malu,” kata Emi. “Ini isu yang peka, tapi harus berakhir.”
Kekhawatiran Demografis
Para pihak yang menentang program tersebut, termasuk perempuan Bedouin yang menentang poligami, tidak mempercayai tujuan pemerintah dan waktu pelaksanaan program.
“Sederhana hanya saja: poligami artinya lebih banyak anak-anak Bedouin, dan itu artinya lebih banyak kekhawatiran demografis dari perspektif Zionist,” kata Rawia, pengacara hak-hak asasi manusia.
Kaum Bedouin, yang keturunan suku-suku pengembara, sudah menjadi bagian kelompok minoritas Arab Israel yang berjumlah 1,8 juta jiwa atau 20 persen dari populasi Israel.
Sekitar 240 ribu orang Bedouin bermukim di Padang Pasir Negev di Israel. Kebanyakan dari mereka tinggal di perkemahan-perkemahan yang kekurangan aliran listrik, saluran pembuangan air, dan air bersih.

Para perempuan dan anak-anak suku Bedouin menentang rencana penggusuran desa Umm Al-Hiran di padang pasir Negev, selatan Israel, 27 Agustus 2018.
Para perempuan dan anak-anak suku Bedouin menentang rencana penggusuran desa Umm Al-Hiran di padang pasir Negev, selatan Israel, 27 Agustus 2018.
Kebanyakan orang Bedouin melarikan diri atau dipaksa keluar dari wilayah yang sekarang menjadi Israel saat perang Timur Tengah 1948. Perang itu kemudian berujung pada pembentukan Israel. Israel tidak mengakui klaim suku-suku Bedouin atas lahan mereka.
Banyak dari warga Bedouin yang akhirnya menetap di desa-desa yang tidak diakui. Mereka tidak mendapatkan layanan dasar dan rentan terhadap perintah pengusiran pemerintah Israel serta penggusuran rumah-rumah, kata aktivis komunitas, Yousef Abu Jafar.

Sekitar 20 hingga 30 persen pria Bedouin melakukan poligami, menurut data pemerintah. Di pedesaan angkanya bisa mencapai 60 persen. Poligami dalam masyarakat Bedouin, yang muslim, biasanya seorang pria tinggal dengan beberapa istri dalam rumah yang sama. Atau, pria mengawini dan pindah dengan istri kedua tanpa mengurusi lagi keluarga dari istri pertama.
Penelantaran, KDRT
Al-Faqira, 47 tahun, dinikahkan oleh keluarganya saat dia berusia 16 tahun. Setelah menikah delapan tahun dan dikaruniai empat anak, suaminya meninggalkan dia dengan alasan memilih istri yang lebih muda dan kaya.
Selama satu dasawarsa terakhir, suami Al-Faqira tidak mau menemui anak-anaknya, yang sekarang sudah berusia 20 tahun. Kata Al-Faqira, suaminya mengatakan anak-anak mereka “sudah bukan urusan dia lagi.”

Seorang pria Bedouin memandikan ontanya di pesisir Laut Tengah di pantai Zikim, dekat kibbutz Zikim, di perbatasan Israel-Gaza, 15 Oktober 2018.
Seorang pria Bedouin memandikan ontanya di pesisir Laut Tengah di pantai Zikim, dekat kibbutz Zikim, di perbatasan Israel-Gaza, 15 Oktober 2018.
Al-Faqira mengatakan anak-anaknya sudah terjerumus dalam narkoba dan kejahatan. Dia mengatakan persaingan sengit dengan istri kedua suaminya sudah memicu serangan-serangan fisik terhadap keluarganya. Istri kedua suaminya, kata Al-Faqira, “melancarkan kekerasan ke dalam kehidupan saya.”
Poligami sudah sering dikaitkan dengan kekerasan dalam rumah tangga, gangguan-gangguan psikologis, dan kemiskinan. Adat juga berkontribusi pada maraknya poligami dengan menurunkan usia pernikahan perempuan Bedouin menjadi 18 tahun. Hal itu memicu peningkatan angka putus sekolah dan pengangguran masing-masing 85 persen dan 80 persen, menurut para pakar.

Program Anti-Poligami
Komite pimpinan Palmor, yang dibentuk pada 2016, berusaha memberantas praktik itu dengan memperluas keterlibatan polisi dan memberikan pendidikan anti-poligami di sekolah-sekolah Bedouin serta mendorong untuk lebih banyak sektor mempekerjakan perempuan.
Sejak Oktober, otoritas Israel sudah mengeluarkan belasan dakwaan. Dan, pada November, menjatuhkan hukuman pertama untuk kasus poligami. Pengacara pelaku meminta agar pelaku, yang mengawini istri kedua setelah istri pertama jatuh sakit, diberi hukuman melakukan pelayanan sosial. Tapi jaksa menuntut 18 bulan penjara. Pembacaan hukuman akan dilakukan segera.
Palmor mengatakan upaya-upaya ini bersamaan dengan rencana Israel untuk mengembangkan Negev. “Kami mulai berinvestasi di selatan Israel dan kami menyadari jika kami mau membangun industri dan pangkalan-pangkalan militer dan membuat wilayah selatan maju, kemajuan harus mengikutkan Bedouin,” katanya.

Para perempuan Bedouin duduk di luar bangunan yang digusur didesa Umm al-Hiran, 18 Januari 2018.
Para perempuan Bedouin duduk di luar bangunan yang digusur didesa Umm al-Hiran, 18 Januari 2018.
Pada 2017, Israel menyetujui proyek pembangunan kembali senilai $800 juta, ketika Israel memindahkan dua pangkalan militer besar ke padang pasir selatan yang luas. Proyek itu juga berjanji akan membuka lapangan pekerjaan, pendidikan, dan infrastruktur untuk masyarakat Bedouin.
Namun banyak warga Bedouin yang mengatakan mereka belum melihat manfaat dan mengklaim janji-janji pembangunan hanya untuk menutupi upaya mengusir komunitas itu dari tanah-tanah leluhur mereka. Selama bertahun-tahun, Israel mencoba untuk memukimkan Bedouin di desa-desa yang diakui dan kota-kota lain.
Masyarakat Bedouin sudah menolak upaya-upaya pemukiman tersebut. Mereka berpendapat itu adalah upaya pengambilalihan lahan yang bertentangan dengan tradisi mereka dan membuka jalan bagi Israel untuk melakukan pembangunan untuk kaum Yahudi.

“Kami selalu mendengar tentang miliaran dolar anggaran, tapi kami hanya melihat lebih banyak penggusuran, lebih banyak polisi dan lebih banyak pemukiman Yahudi,” kata pengacara Bedouin, Khalil Alamour.
Shefa al-Sana, seorang pekerja sosial Bedouin yang membantu para perempuan yang terdampak poligami, mengatakan meski punya tujuan yang sama, dia tidak percaya kepada pemerintah. Al-Sana mundur dari komite Palmor karena khawatir penekanan pada penegakan hukum akan lebih meminggirkan masyarakat Bedouin.
“Poligami itu bukan kejahatan yang dilakukan secara acak. Ini adalah masalah ego dan ketidakpedulian para laki-laki yang dilucuti lahannya dan mereka butuh perempuan untuk diperlakukan sebagai harta benda,” kata pengacara perempuan itu.

Para aktivis Palestina duduk di depan tenda untuk para pendukung masyarakat Bedouin Khan al-Ahmar di Tepi Barat, 21 Oktober 2018.
Para aktivis Palestina duduk di depan tenda untuk para pendukung masyarakat Bedouin Khan al-Ahmar di Tepi Barat, 21 Oktober 2018.
Memperkuat kecurigan terhadap program anti-poligami Israel adalah penyertaan kelompok pro-pemukiman, Regavim, untuk memaparkan riset ke hadapan komite Palmor. Hal itu membingkai upaya pemberantasan poligami sebagai cara untuk menekan perkembangan desa-desa Bedouin.
Palmor menepis tuduhan bahwa rencananya bermuatan politik dengan menunjukkan dukungan yang dia terima dari beberapa tokoh Bedouin. Di antaranya adalah pengacara HAM, Insaf Abu-Shareb.
Abu-Shareb tetap bergabung dengan komite pimpinan Palmor, meski mendapat kecaman dari warga Bedouin yang menuduhnya mengkhianati komunitasnya.
“Kami telah menunggu selama 70 tahun dan makin lama pemerintah tidak melakukan sesuai, makin sulit mengubah praktik poligami,” kata perempuan itu. “Jika saya ingin situasi perempuan Bedouin membaik, saya harus bekerja sama dengan mereka.”

Pompeo Undang Netanyahu di Konferensi Internasional anti-Iran di Polandia

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat mengundang Perdana Menteri Israel untuk menghadiri konferensi internasional anti-Iran yang akan berlangsung di Polandia.
Mike Pompeo telah mengundang Benjamin Netanyahu untuk mengikuti konferensi internasional anti-Iran yang akan digelar pada 13 Januari di Warsaawa, Polandia.
Selain itu Pompeo juga telah mengungang para menteri luar negeri sejumlah negara Arab untuk hadir dalam acara ini.
Salah seorang pejabat senior Israel mengungkapkan bahwa Netanyahu hingga saat ini belum memutuskan apakah ia akan hadir dalam konferensi ini atau tidak.
Dalam wawancaranya dengan Fox News, Pompeo mengaku sedang berupaya untuk mengundang puluhan negara di berbagai belahan dunia untuk mengahdiri acara ini. Ia mengaku, tujuan dari acara ini adalah untuk meningkatkan keamanan, stabilitas dan kebebasan di kawasan Asia Barat dan bertujuan untuk meminimalisir pengaruh Iran di kawasan.
Pada kamis lalu, Mike Pompeo dalam pidatonya di Universitas Amerika Serikat di Kairo mengklaim, Amerika Serikat telah memberlakukan sanksi ekonomi yang sangat berat bagi Iran dan akan terus diperberat. Ini, menurutnya, adalah yang paling berat sepanjang sejarah. “Situasi berat ini akan terus berlanjut sampai pemerintah Tehran berperilaku seperti sebuah negara pada umumnya,” katanya.