MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Wednesday, November 21, 2018

Raja Salman Desak Tindakan atas Iran, Dukung Perdamaian Yaman

Raja Salman

Raja Salman dari Arab Saudi mendesak masyarakat internasional pada hari Senin (19/11) untuk menghentikan program rudal nuklir dan balistik Iran dan menegaskan kembali dukungan kerajaan terhadap upaya Amerika Serikat untuk mengakhiri perang di Yaman.
Pernyataan tahunan raja kepada Dewan Syura, badan penasihat pemerintah teratas, adalah komentar publik pertamanya sejak kasus pembunuhan jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul, Turki tanggal 2 Oktober 2018, yang menimbulkan kecaman global. Raja Salman, yang tidak menyebutkan urusan Khashoggi, mengutuk tindakan Iran, saingannya untuk menancapkan pengaruh di kawasan itu, termasuk dalam konflik di Suriah, Irak, dan Yaman.
“Rezim Iran selalu campur tangan dalam urusan internal negara-negara lain, mensponsori terorisme, serta menciptakan kekacauan dan kehancuran di banyak negara di kawasan itu,” kata Raja Salman yang berusia 82 tahun. “Masyarakat internasional harus bekerja sama untuk mengakhiri program nuklir Iran dan menghentikan kegiatannya yang mengancam keamanan dan stabilitas.”
Raja mengatakan bahwa pemerintah Arab Saudi mendukung upaya AS untuk mengakhiri konflik di Yaman, di mana koalisi yang didukung Saudi telah memerangi gerilyawan Houthi yang beraliansi dengan Iran selama hampir empat tahun, untuk memulihkan pemerintah yang diakui dunia internasional.
“Pendirian kami bersama Yaman bukanlah pilihan, tetapi tugas untuk mendukung rakyat Yaman dalam menghadapi agresi milisi yang didukung Iran,” katanya.
Houthis mengatakan pada hari Senin (19/11) bahwa mereka menghentikan serangan drone dan rudal di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan sekutu Yaman mereka, dan mengindikasikan kesiapan untuk gencatan senjata yang lebih luas jika koalisi pimpinan Saudi “menginginkan perdamaian.”

DI BAWAH TEKANAN

Pemerintah Arab Saudi telah mendapat kecaman internasional yang terus meningkat atas tindakannya terhadap perang Yaman, yang telah membawa negara itu ke jurang kelaparan dan membunuh banyak warga sipil dalam serangan udara. Reputasi Arab Saudi, pengekspor minyak utama dunia, semakin terpukul oleh pembunuhan Khashoggi.
Raja Salman sebagian besar mundur dari kehidupan politik aktif dan menyerahkan wewenang luas kepada putra dan pewarisnya, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, tetapi sekarang berusaha untuk meredakan krisis yang disebabkan oleh pembunuhan dan mendukung putra mahkota.
Putra Mahkota Mohammed bin Salman, penguasa de facto kerajaan Arab Saudi, akan berpartisipasi dalam KTT G20 di Argentina pada akhir bulan November 2018 sebagai bagian dari perjalanan luar negeri, dilansir dari televisi Al Arabiya yang mengutip menteri energi negara pada hari Senin (19/11).
Dalam pidatonya, Raja Salman mengatakan pemerintah Arab Saudi akan terus bekerja dengan produsen minyak OPEC dan non-OPEC untuk menjaga stabilitas di pasar energi global. Dia menegaskan kembali dukungan Saudi untuk negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya, posisi lama yang dipertanyakan tahun 2017 ketika putra mahkota muncul untuk mendukung rencana perdamaian AS yang baru lahir yang sejalan dengan Israel pada isu-isu kunci.
Kemudian pada hari Senin (19/11), Raja Salman melakukan perjalanan ke wilayah Tabuk utara, melanjutkan tur domestik dalam penjangkauan publik terbaru yang tampaknya dimaksudkan untuk menunjukkan dukungan untuk pewaris pilihannya.
Pekan lalu, setelah menawarkan banyak penjelasan yang kontradiktif untuk hilangnya Khashoggi, pemerintah Arab Saudi mengatakan dia telah dibunuh dan tubuhnya dimutilasi ketika “negosiasi” untuk meyakinkan dia untuk kembali ke Arab Saudi gagal. Jaksa penuntut umum mengatakan akan mengupayakan hukuman mati untuk lima tersangka dalam kasus ini.
Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan perintah untuk pembunuhan Khashoggi datang dari tingkat tertinggi kepemimpinan Arab Saudi, tetapi mungkin tidak dari Raja Salman, menempatkan sorotan pada putra mahkota berusia 33 tahun itu.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menegaskan tanggung jawab utama terletak pada Putra Mahkota Mohammed bin Salman sebagai penguasa de facto. Pemerintah AS telah memberlakukan pembatasan ekonomi dan perjalanan pada beberapa individu atas dugaan keterlibatan, termasuk seorang ajudan utama Pangeran Mohammed.
Hari Senin (19/11), Raja Salman mengisyaratkan bahwa Putra Mahkota Mohammed bin Salman tetap diberdayakan untuk mengejar reformasi ekonomi yang ambisius, memuji “transformasi perkembangan menyeluruh” yang sedang berlangsung. Dia mengarahkan putranya, yang sedang duduk di aula, “untuk fokus pada mempersiapkan generasi baru untuk pekerjaan di masa depan.”
Raja Salman juga memuji pengadilan Saudi dan layanan kejaksaan karena telah “melakukan tugas-tugas yang dipercayakan kepada mereka,” tanpa merinci lebih lanjut.
Selain kasus Khashoggi, jaksa penuntut umum telah berpartisipasi dalam kampanye anti-korupsi yang diperintahkan oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman tahun 2017, di mana sejumlah pangeran, menteri, dan pengusaha Saudi ditangkap dan negara mengatakan telah memulihkan aset-aset curian senilai 100 miliar Dolar AS.
Ditulis oleh Hadeel Al Sayegh dan Stephen Kalin. Diedit oleh Gareth Jones dan Janet Lawrence.
Keterangan foto utama: Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dari Arab Saudi tiba untuk berbicara dengan Dewan Syura di Riyadh, Arab Saudi, tanggal 19 November 2018. (Foto: Reuters/Istana Kerajaan Arab Saudi/Bandar Algaloud)

Foto Mengerikan Bangkai Kapal Selam Argentina di Kedalaman Samudera Atlantik

Samudera Atlantik

Beberapa jam setelah mengumumkan penemuan kapal selam Argentina yang tenggelam jauh di Atlantik setahun yang lalu dengan 44 awak kapal, pemerintah mengatakan bahwa mereka tidak dapat mengevakuasi bangkai kapal itu, dan menimbulkan amarah dari keluarga pelaut yang hilang yang menuntut agar kapal itu diangkat ke permukaan.
Menteri Pertahanan Argentina Oscar Aguad mengatakan bahwa pemerintah Argentina tidak memiliki “teknologi modern” yang mampu “memverifikasi dasar laut” untuk mengekstraksi badan kapal selam ARA San Juan, yang ditemukan sedalam 907 meter di perairan Semenanjung Valdes di Patagonia Argentina, sekitar 600 kilometer dari kota pelabuhan Comodoro Rivadavia.
Sebelumnya di pagi hari, angkatan laut mengatakan “identifikasi positif” telah dilakukan oleh kapal selam yang dioperasikan jarak jauh dari perusahaan Amerika Ocean Infinity. Ocean Infinity juga ditugaskan melakukan upaya pencarian terhadap bangkai pesawat Malaysia Airlines MH370, yang menghilang tanpa jejak pada bulan Maret 2014 dalam perjalanan dari Kuala Lumpur ke Beijing. Perusahaan Ocean Infinity, yang ditugaskan oleh pemerintah Argentina, mulai mencari kapal yang hilang pada tanggal 7 September 2018.
Hingga kini masih belum jelas apa langkah selanjutnya.
Kapal selam ARA San Juan. (Foto: AFP)
CEO Ocean Infinity Oliver Plunkett mengatakan pihak berwenang harus menentukan cara untuk melangkah maju dengan upaya evakuasi.
“Kami akan senang membantu dengan upaya evakuasi tetapi saat ini difokuskan pada menyelesaikan pencitraan dari puing-puing,” katanya.
Komandan Angkatan Laut Argentina Jose Luis Villan mendesak “kehati-hatian,” mengatakan bahwa seorang hakim federal mengawasi penyelidikan dan akan menjadi orang yang memutuskan apakah mungkin untuk memulihkan sebagian atau keseluruhan kapal.
Namun, tanpa kemampuan teknologi yang memadai, Argentina akan perlu mencari bantuan dari negara-negara asing atau membayar Ocean Infinity atau perusahaan lain, yang berpotensi memperumit komitmennya terhadap penghematan baru-baru ini.
Para ahli mengatakan bahwa mengangkat kapal selam ARA San Juan akan menjadi usaha besar dengan biaya satu miliar Dolar AS atau lebih.
Bagian dari puing-puing kapal selam ARA San Juan. (Foto: AFP)
Para anggota keluarga dan kerabat awak kapal selam bertekad untuk memperjuangkannya agar bangkai kapal selam bisa cepat diangkit.
Isabel Vilca, saudara tiri kru Daniel Alejandro Polo, mengatakan bahwa penemuan itu hanyalah permulaan. Dia mengatakan keluarga korban perlu memulihkan sisa-sisa jenazah orang yang mereka cintai untuk mengetahui apa yang terjadi dan membantu mencegah terjadinya tragedi serupa.
“Kami tahu mereka bisa mengeluarkannya karena Ocean Infinity memberi tahu kami bahwa mereka bisa, bahwa mereka memiliki peralatan [yang diperlukan],” kata Luis Antonio Niz, ayah dari awak kapal selam Luis Niz.
Bagian dari puing-puing kapal selam ARA San Juan. (Foto: AFP)
“Jika mereka mengirimnya pergi, saya ingin mereka membawanya kembali pada saya.”
Penemuan kapal selam diumumkan hanya dua hari setelah keluarga para pelaut yang hilang mengadakan peringatan satu tahun untuk hilangnya kapal selam pada tanggal 15 November 2017. San Juan sedang dalam perjalanan kembali ke pangkalannya di kota pantai Mar del Plata ketika kontak hilang.
Pada peringatan hari Kamis (15/11), Presiden Argentina Mauricio Macri mengatakan keluarga para awak kapal selam tidak boleh merasa sendirian dan menyampaikan “komitmen mutlak dan tidak dapat dinegosiasikan” untuk menemukan “kebenaran.”
Pada hari Sabtu (17/11), Aguad mengatakan bahwa kapal itu ditemukan berada di daerah yang diduga “kemungkinan besar” menurut para peneliti. Para pejabat menunjukkan gambar kapal selam, yang terletak di dasar laut dengan lambungnya dalam kondisi benar-benar rusak.
Bagian dari puing-puing kapal selam ARA San Juan. (Foto: AFP)
Bagian baling-balingnya terkubur dan puing-puing berserakan hingga sejauh 70 meter. Kapal selam kelas TR-1700 diesel-listrik buatan Jerman ini pertama kali ditugaskan pada pertengahan tahun 1980-an dan baru-baru ini dipasang kembali antara tahun 2008 dan 2014. Selama pemasangan komponen senilai 12 juta Dolar AS, kapal itu dibelah dua kemudian mesin dan baterai diganti.
Para ahli mengatakan bahwa upaya pemasangan kembali bisa menjadi sulit karena melibatkan mengintegrasikan sistem yang diproduksi oleh produsen yang berbeda, dan bahkan kesalahan terkecil selama fase pemotongan dapat menimbulkan risiko pada keselamatan kapal dan awak kapal.
Kepala Angkatan Laut Argentina Jose Luis Villan berbicara di samping Sekretaris Angkatan Laut Argentina Graciela Villata dan Menteri Pertahanan Argentina Oscar Aguad selama konferensi pers. (Foto: AFP)
Angkatan Laut Argentina mengatakan sebelumnya kapten melaporkan pada tanggal 15 November 2017 bahwa air masuk ke snorkel kapal sebelum hilang dan menyebabkan salah satu baterai di kapal selam mengalami arus pendek. Kapten kemudian mengkomunikasikan bahwa kebocoran itu telah ditangani. Beberapa jam kemudian, sebuah ledakan dideteksi terjadi tak jauh dari waktu dan tempat di mana San Juan terakhir terdengar.
Angkatan Laut mengatakan ledakan itu mungkin disebabkan oleh “konsentrasi hidrogen” yang dipicu oleh masalah baterai yang dilaporkan oleh kapten.
Seabed Constructor dari perusahaan Amerika Serikat Ocean Infinity. (Foto: AFP)
Macri menjanjikan penyelidikan penuh setelah kapal selam itu hilang. Polisi federal menggeledah pangkalan angkatan laut dan bangunan lain bulan Januari 2018 sebagai bagian dari penyelidikan, segera setelah pemerintah memecat kepala angkatan laut.
Argentina menyerah dalam upaya menemukan korban setelah pencarian intensif dibantu oleh 18 negara, tetapi beberapa unit angkatan laut terus memberikan dukungan logistik ke Ocean Infinity. Argentina telah menghabiskan lebih dari 25 juta Dolar AS dalam operasi pencariannya.
Ocean Infinity dikatakan akan mendapatka imbalan sebesar 7,5 juta Dolar AS untuk menemukan kapal selam yang hilang.
Keterangan foto utama: Gambar-gambar yang dilaporkan menunjukkan puing-puing kapal selam ARA San Juan di Samudra Atlantik. (Foto: EPA)

Amerika Masukkan Venezuela dalam Daftar Negara Pendukung Terorisme

Amerika Masukkan Venezuela dalam Daftar Negara Pendukung Terorisme

Amerika Serikat sedang pertimbangkan untuk memasukkan Venezuela dalam daftar negara-negara yang mendukung terorisme. Namun, Amerika akan mengalami kesulitan menemukan bukti untuk mendukung niatannya ini. Administrasi Trump telah memberlakukan beberapa putaran sanksi terhadap pemerintah Maduro yang dipimpin Sosialis sejak tahun 2017.
Amerika Serikat sedang mempertimbangkan menambahkan Venezuela ke dalam daftar negara-negara sponsor terorisme, tetapi masih belum ada keputusan akhir yang dibuat, menurut seseorang yang akrab dengan musyawarah tersebut pada hari Senin (19/11).
Menambahkan Venezuela ke dalam daftar dapat membatasi bantuan ekonomi AS dan memberlakukan pembatasan keuangan pada negara yang sudah menderita hiperinflasi, migrasi massal, serta kekurangan pasokan makanan dan obat-obatan tersebut.
Diskusi tentang masalah ini telah bergerak maju dalam beberapa hari terakhir dengan lobi yang kuat dari Senator Republik Marco Rubio, yang telah lama menekan pemerintah AS untuk mengambil sikap yang lebih keras terhadap pemerintah Presiden Venezuela Nicolas Maduro, kata sumber itu. Kerangka waktu untuk keputusan apakah akan menambahkan Venezuela ke daftar negara pendukung terorisme masih belum ditentukan, menurut sumber itu.
Seorang pejabat AS, berbicara dengan syarat anonimitas, mengatakan bahwa administrasi Trump akan menghadapi tantangan untuk memberikan bukti konkret yang menghubungkan pemerintahan Maduro dengan terorisme jika AS memutuskan untuk memasukkan Venezuela ke dalam daftar.
Keempat negara yang saat ini masuk dalam daftar, yakni Korea Utara, Iran, Sudan, dan Suriah, telah ditemukan “berulang kali memberikan dukungan untuk tindakan terorisme internasional.”
Rubio dan dua senator Republik lainnya mengirim surat kepada Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada bulan September 2018, mendesak dia untuk melabeli Venezuela sebagai sponsor negara terorisme dan menuduh mereka terkait dengan kelompok militan Hezbollah Lebanon dan Pasukan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC/Revolutionary Armed Forces of Colombia), tetapi mereka tidak menghadirkan bukti apapun.
Administrasi Trump telah memberlakukan beberapa putaran sanksi terhadap pemerintah Maduro yang dipimpin Sosialis sejak tahun 2017, menuduh negara itu merusak demokrasi. Tanggal 1 November 2018, Presiden AS Donald Trump menandatangani sebuah perintah eksekutif yang bertujuan mengganggu usaha ekspor emas Venezuela.
Kementerian Informasi Venezuela tidak segera menanggapi permintaan untuk memberikan komentar.
Maduro, yang menyangkal membatasi kebebasan politik, mengatakan dia adalah korban dari “perang ekonomi” yang dipimpin oleh Amerika Serikat.
The Washington Post, yang pertama kali melaporkan bahwa administrasi Trump sedang mempertimbangkan penunjukan label tersebut, mengatakan Departemen Luar Negeri AS telah meminta umpan balik atas langkah yang diusulkan dari berbagai lembaga dalam beberapa hari terakhir.
Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa “secara konsisten dan secara berkelanjutan telah meninjau informasi dan intelijen yang tersedia, dari berbagai sumber, tentang kemungkinan keterlibatan tingkat negara dalam terorisme, mengevaluasi semua informasi yang kredibel, diverifikasi, dan diperkuat secara keseluruhan.”
Gedung Putih menolak memberikan komentar.
Seorang pejabat senior AS mengatakan pada Reuters awal bulan November 2018 bahwa pemerintahan Trump “melihat semua potensi upaya” untuk menekan pemerintahan Maduro.
“Kami percaya kepresidenannya tidak sah,” kata pejabat itu, mengulangi penolakan pemerintah AS terhadap hasil pemilihan Venezuela awal tahun 2018. Maduro memenangkan masa jabatan baru selama enam tahun pada bulan Mei 2018, tetapi saingan utamanya menolak hasil pemilihan dan dugaan penyimpangan besar. “Rezim benar-benar memahami bahwa dunia semakin kecil untuk mereka. Dan itulah jenis tekanan yang diperlukan untuk benar-benar mengubah pikiran dalam rezim. Sanksi menimbulkan efek tertentu,” kata pejabat itu.
Laporan oleh Matt Spetalnick. Laporan tambahan oleh Alexandra Ulmer di Washington dan Luc Cohen di Caracas. Diedit oleh Sandra Maler.
Keterangan foto utama: Presiden Venezuela Nicolas Maduro berbicara saat pertemuan dengan para menteri di Istana Miraflores di Caracas, Venezuela, tanggal 2 November 2018. (Foto: Reuters/Istana Miraflores/Handout)

Penembakan di RS Chicago: Seorang dokter dan polisi tewas

Chicago

Sebanyak empat orang meninggal dunia dalam penembakan di sebuah rumah sakit di Chicago, Amerika Serikat. Empat korban mencakup dua staf perempuan rumah sakit, seorang polisi, serta pelaku penembakan sendiri.
Dua perempuan yang tewas adalah seorang dokter dan asisten bagian farmasi, kata Wali Kota Rahm Emanuel.
Juru bicara kepolisian mengatakan seorang pria pelaku penembakan tewas dalam baku tembak, tetapi tidak jelas apakah dia bunuh diri atau tidak.
Seorang polisi lolos dari maut setelah peluru yang diarahkan kepadanya mengenai pistol miliknya, kata polisi.Penyelidik kepolisian mengatakan pria bersenjata itu sepertinya menargetkan seorang perempuan yang menjalin hubungan dengannya, tetapi mereka mengaku belum menemukan motifnya.
"Chicago kehilangan seorang dokter, asisten farmasi dan seorang polisi, semua menjalani hari-hari mereka, semua melakukan pekerjaan yang mereka cintai," kata Emanuel.
Insiden penembakan itu terjadi di Rumah Sakit Mercy Chicago sekitar pukul 15:00 waktu setempat pada hari Senin.
"Beberapa tembakan" terdengar setelah pria bersenjata itu melepaskan tembakan di lokasi parkir rumah sakit, kata juru bicara Departemen Kepolisian Chicago.
Para pasien di klinik mengaku mendengar suara tembakan ketika tersangka memasuki gedung tersebut, lapor media setempat.
Salah-seorang petugas kepolisian yang ditembak tetapi lolos dari serangan itu menunjukkan foto-foto sebuah peluru yang menempel di pistol miliknya, ungkap penyiar berita ABC7.
Presentational white space
Juru bicara kepolisian, Anthony Guglielmi, kemudian menegaskan bahwa seorang perwira bernama Samuel Jimenez meninggal di rumah sakit akibat luka-lukanya.
Pihak Rumah Sakit Mercy dengan cepat melakukan evakuasi selama insiden, utamanya saat polisi bersenjata menyerbu lokasi kejadian.
Mereka kemudian menegaskan bahwa polisi dapat mengamankan lokasi kejadian, dan memastikan bahwa puluhan pasien dalam kondisi selamat.
Foto-foto dari tempat kejadian memperlihatkan orang-orang bergegas meninggalkan rumah sakit, termasuk beberapa staf berseragam.
ChicagoHak atas fotoJOSHUA LOTT/GETTY IMAGES
Image captionPihak Rumah Sakit Mercy dengan cepat melakukan evakuasi selama insiden, utamanya saat polisi bersenjata menyerbu lokasi kejadian.
Insiden itu terjadi hanya beberapa hari setelah sejumlah dokter dan para profesional di bidang kesehatan di AS terlibat dalam kampanye online untuk melawan penggunaan kekerasan dengan senjata.
Hashtag #ThisIsOurLane ini digunakan oleh para dokter sebagai tanggapan atas cuitan kelompok pro-senjata, National Rifle Association (NRA), yang menuntut agar para dokter "tetap berada di jalur mereka" menyusul merebaknya kasus-kasus penembakan.
Hampir 13.000 orang telah tewas akibat senjata api dalam tahun ini di AS, demikian data yang dihimpun Gun Violence Archive.
Mereka mengatakan 25.000 orang lainnya terluka dan lebih dari 250 orang petugas polisi tertembak saat bertugas.

Pengebom bunuh diri sasar acara Maulid Nabi Muhammad di Kabul, puluhan tewas

Kabul

Sebuah serangan bom bunuh diri dalam acara Maulid Nabi Muhammad di Kabul, Afghanistan, menewaskan sedikitnya 50 orang.
Paling tidak 83 orang juga mengalami luka-luka pada peringatan tersebut yang turut dihadiri sejumlah ulama.
Basir Mujahid, juru bicara kepolisian Kabul, mengatakan, "para cendekiawan muslim dan pengikut mereka berkumpul untuk membacakan ayat-ayat suci Al Quran guna memperingati Maulid Nabi Muhammad".
Sejauh ini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab. Kelompok Taliban membantah terlibat dan mengecam serangan itu.
Peristiwa ini berlangsung di Uranus, tempat pertemuan besar dekat bandara. Sekira 1.000 orang ditengarai berada di lokasi itu saat ledakan terjadi.
Beberapa saksi mata mengatakan pelaku bom bunuh diri masuk ke gedung, menuju bagian tengah, dan meledakkan diri.
Pengajar studi keagamaan, Mohammad Hanif, mengatakan bunyi ledakan amat memekakkan telinga dan "semua orang di lokasi pertemuan menjerit minta tolong".
Sejumlah foto yang diabadikan setelah ledakan berlangsung menunjukkan para korban dengan baju terkoyak dan bersimbah darah, pecahan kaca, serta mebel yang berjatuhan.
Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, menyebut serangan itu merupakan "kejahatan tak termaafkan" dan menyatakan Rabu 21 November sebagai hari berkabung nasional.
Map

Pihak mana yang mungkin terlibat?

Kelompok ISIS Afghanistan, kerap disebut ISIS Khorasan, beberapa kali mengklaim bertanggung jawab atas serangan mematikan semacam ini.
Mereka mengklaim bertanggung jawab atas dua serangan di Kabul pada Agustus lalu yang menewaskan puluhan orang.
Korban-korban juga berjatuhan di beberapa tempat di Afghanistan tatkala pemilih menentukan pilihan mereka dalam pemilu parlemen Oktober lalu.
Selain ISIS, Taliban juga melancarkan sejumlah serangan, walaupun sebagian besar menargetkan aparat keamanan.
Chart showing total civilian casualties in Afghanistan between 2009 and 2017 with steady rise until 2016 and slight decrease in 2017

Apakah ada langkah untuk mengakhiri kekerasan?

Bulan ini, kelompok milisi Taliban untuk pertama kalinya menghadiri pertemuan internasional untuk mendiskusikan cara mengakhiri konflik berkepanjangan di Afghanistan. Rusia merupakan tuan rumah pertemuan tersebut.
Utusan khusus Amerika Serikat untuk Afghanistan juga telah bertemu para petinggi Taliban di Qatar, namun belum ada kesepakatan yang tercapai.
Kekuasaan Taliban telah meningkat sejak pasukan asing hengkang dari Afghanistan pada 2014.
Kelompok ISIS urusan lain. Kelompok ini ditentang Taliban dan merupakan ancaman besar terhadap negara-negara Barat.
Kelompok ini ditengarai bertujuan memperparah konflik di Afghanistan dengan melancarkan serangan terhadap umat Syiah—yang mereka sebut bukan Islam—guna menciptakan perang sektarian.
Sejauh ini ISIS di Afghanistan belum dapat diberantas hingga tuntas.

Saturday, November 17, 2018

Perang di Yaman: 'Bencana kemanusiaan terburuk selama satu abad'

Warga Yaman

Dalam kunjungannya ke Yaman, Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia, (WFP), David Beasley, mengeluarkan peringatan bahwa negara itu terancam bencana kemanusiaan terburuk di dunia selama tempo 100 tahun terakhir.
Peringatan pimpinan WFP itu dilandasi data yang menunjukkan jumlah warga yang berada di ambang kelaparan diperkirakan mencapai 12-14 juta jiwa atau hampir 50% dari total penduduk Yaman, negara yang terletak di Jazirah Arab.Menurut David Beasley, tidak ada jalan lain kecuali mengakhiri perang.
"Kita memerlukan faktor yang paling penting, yaitu kita perlu mengakhiri perang ini.
"Situasinya gawat dan bantuan kemanusiaan yang ada tidak akan pernah cukup untuk mengatasi semua masalah yang dihadapi dengan dengan total penduduk 29 juta jiwa ini, karena kondisi ekonomi yang tidak mampu menyediakan lapangan kerja, tidak tersedia uang tunai, keterbatasan persediaan pangan," katanya dalam kunjungan ke Yaman selama pekan ini.

Cerita mahasiswa Indonesia

Keadaan itu menunjukkan bahwa penduduk Yaman sekarang menghadapi kesulitan yang sangat berat.
"Semua hal itu merupakan penyebab dari bencana kemanusiaan terburuk yang pernah saya saksikan, mungkin terburuk selama 100 tahun terakhir," tambahnya.
Pengungsi YamanHak atas fotoESSA AHMED/AFP
Image captionWarga mengungsi dari Hodeidah atau Al-Hudaydah yang belakangan digempur oleh pasukan pemerintah Yaman dengan bantuan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi.
Sebagaimana dijelaskan oleh Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia, (WFP), David Beasley, kelangkaan pangan memang dialami oleh sebagian warga Yaman.
"Penduduk Yaman kesulitan, karena sejak perang inflasi menjadi hampir sekitar 300%. Bahan makanan sangat mahal," tutur Izzuddin Mufian, mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di Tarim, Provinsi Hadramaut.
Kota tempat Izzuddin Mufian, yang juga merupakan ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Yaman itu, belajar berada di bagian selatan, jauh dari wilayah-wilayah perang di Yaman utara. Namun dampaknya juga dirasakan oleh penduduk di Yaman selatan.
"Barang pokoknya di sini gandum. Kalau gandum dan beras ada, tetapi yang lain-lain hilang dari pasar, seperti LGP sudah sejak satu bulan tidak ada," paparnya kepada wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir.
Saleh JomanHak atas fotoYAHYA ARHAB/EPA
Image captionSaleh Joman menggendong anaknya setelah mendapat perawatan di sebuah klinik di Sanaa, karena malnutrisi.
Sebagai ganti bahan bakar gas, warga beralih ke bahan bakar tradisional.
"Warga berinisiatif mengambil kayu bakar. Kalau tiba-tiba harga ayam melonjak tajam, maka mereka mengambil bahan makanan yang lain," kata Izzuddin Mufian.
Ditambahkan dampak perang juga dirasakan oleh mahasiswa Yaman sebab kiriman uang dari orang tua berhenti, sementara mereka tidak bisa pulang kampung karena alasan keamanan.
Menurutnya, keperluan makan di kampus tidak mengalami kendala berarti karena disediakan oleh pengelola kampus. "Hanya saja pasokan BBM berkurang dan listrik kadang-kadang mati."
Lebih lanjut ia menuturkan bahwa sekitar 1.800 mahasiswa dari Indonesia kini belajar di Yaman, sebagian mendapat beasiswa dari universitas-universitas di negara itu.

Yaman 'proksi Arab Saudi dan Iran

Perang di Yaman telah berlangsung selama bertahun-tahun, antara pemberontak Houthi melawan pemerintah.
Anak YamanHak atas fotoYAHYA ARHAB/EPA
Image captionSeorang anak berada di antara makam anggota pemberontak Houthi di Sanaa.
Perang memanas tahun 2015 setelah koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan operasi militer di Yaman untuk membantu pemerintah memukul mundur pemberontak dari ibu kota, Sanaa, dan sejumlah provinsi lain yang sempat dikuasai pemberontak Houthi.
Arab Saudi, yang berbatasan dengan Yaman, khawatir akan penyebaran pengaruh Iran yang mendukung pemberontak Houthi. Dalam perkembangannya Yaman disebut sebagai arena proksi antara Iran dan Arab Saudi.
Jumlah korban tewas dalam perang di Yaman diperkirakan melebihi angka 10.000 jiwa, belasan ribu lainnya mengalami luka.

Kebakaran hutan California: Jumlah orang hilang melonjak menjadi 631 jiwa

Kota Paradise luluh lantak akibat kebakaran hutan.

Jumlah orang hilang dalam kebakaran hebat di California utara dilaporkan melonjak menjadi lebih dari 600 jiwa. Otoritas setempat juga menyatakan petugasnya menemukan tujuh jenazah lainnya.
Ini artinya jumlah orang yang hilang mengalami peningkatan dua kali lipat sejak awal Kamis (15/11).
Api "Camp" merupakan kebakaran paling parah yang melanda negara tersebut dan menyebabkan sedikitnya 63 orang tewas dan hampir 12.000 bangunan rusak.Dan ada tiga orang lagi yang ditemukan tewas di wilayah selatan akibat api"Woolsey".
Sheriff Butte County, Kory Honea mengatakan petugas SAR berjibaku dengan tingkat "kekacauan" yang "luar biasa", sehingga mereka sulit untuk mencatat jumlah orang yang hilang.
Presiden Donald Trump akan mengunjungi California pada hari Sabtu (17/11) untuk melakukan survei kerusakan dan menemui mereka yang terkena dampak kebakaran.
Sekitar 9.400 petugas pemadam kebakaran saat ini berjuang mengatasi kebakaran hutan di seluruh negara bagian itu.
Api "Camp" - yang melahap wilayah itu delapan hari yang lalu - menyapu bagian utara dengan kecepatan tinggi, ditambah dengan hembusan angin kencang, sehingga warga tidak sempat melarikan diri.

Mengapa jumlah orang hilang bisa begitu melonjak?

Jumlah orang hilang yang tercatat dalam daftar resmi melonjak dari 300 menjadi 631 orang pada hari Kamis.
penyebaran api
Dalam konfrensi persnya, Sheriff Butte County, Kory Honea, mengungkapkan hal itu terjadi karena para petugas memeriksa kembali laporan yang dibuat ketika kebakaran terjadi pada 8 November.
"Saya ingin Anda semua mengerti bahwa kami menghadapi kekacauan yang luar biasa," ujar Honea.
Ia menekankan bahwa jumlah orang yang hilang kemungkinan besar akan terus berubah. Ia mengharapkan warga melaporkan kerabat mereka yang hilang atau yang sudah selamat.
Dinas Pemadam Kebakaran California mengatakan, saat ini pihaknya telah mengendalikan kebakaran sekitar 40% dari api Camp.
"Kami terus berjuang mengatasi kebakaran ini. Kami akan terus mengawasi api yang menyebar," kata kepala dinas pemadam kebakaran, Ken Pimlott.

Pemimpin Khmer Merah didakwa pengadilan bersalah atas genosida

Khmer Merah

Untuk pertama kalinya, pengadilan Khmer Merah yang didukung PBB mendakwa dua pemimpin rezim Pol Pot bersalah atas genosida.
Nuon Chea, 92 tahun, adalah wakil Pol Pot, dan Khieu Samphan, 87 tahun, adalah kepala negara rezim Kamboja.
Mereka diadili karena menargetkan penghapusan dua etnis minoritas di Kamboja: Muslim Cham dan etnis Vietnam.
Putusan itu adalah pengakuan resmi pertama bahwa apa yang dilakukan rezim Khmer Merah sebenarnya adalah genosida sebagaimana didefinisikan di bawah hukum internasional.
Hingga dua juta orang diperkirakan tewas di bawah rezim Khmer Merah yang singkat namun brutal antara 1975 dan 1979.
Namun wartawan BBC Jonathan Head mengatakan pembunuhan skala besar warga Kamboja itu tidak masuk ke dalam definisi international yang terlalu sempit akan genosida, dan telah didakwa sebagai kejahatan atas kemanusiaan.
Khmer MerahHak atas fotoREUTERS
Image captionKhieu Samphan berada di pengadilan untuk mendengarkan putusan.
Kedua pria yang diadili tersebut - telah menjalani hukuman seumur hidup setelah mereka dinyatakan bersalah atas beberapa kejahatan terhadap kemanusiaan pada tahun 2014 - kembali didakwa penjara seumur hidup.
Mereka adalah dua dari tiga orang yang pernah dijatuhi hukuman oleh pengadilan.
Hakim Nil Nonn membacakan putusan yang panjang dan banyak ditunggu di ruang sidang di Phnom Penh oleh kalangan penyintas yang menderita di bawah Khmer Merah.
Khmer MerahHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionPara penyintas dan kerabatnya berada di ruang persidangan untuk mendengar putusan.
Mereka dinyatakan bersalah atas daftar panjang kejahatan yang mereka lakukan termasuk diantaranya kawin paksa, pemerkosaan dan persekusi terkait agama.
Namun momen penting terjadi saat Nuon Chea dinyatakan bersalah melakukan genosida karena upaya menghapus Muslim Cham dan etnis Kamboja, dan Khieu Samphan dinyatakan bersalah melakukan genosida terhadap etnis Vietnam.

Mengapa vonis genosida itu penting?

Kejahatan Khmer Merah telah lama disebut sebagai "genosida Kamboja", namun para akademisi dan jurnalis berdebat soal ini selama bertahun-tahun tentang apakah mereka benar melakukan kejahatan sebanyak itu.
Khmer MerahHak atas fotoEPA
Image captionBesarnya skala pembantaian di Kamboja, membuat negara itu dikenal dengan julukan"ladang pembantaian".
Meski banyak Muslim Cham dan etnis Vietnam yang tewas, Konvensi PBB tentang Genosida berbicara tentang "niat untuk menghancurkan, secara keseluruhan atau sebagian, kelompok nasional, etnis, ras atau agama".
Jadi para jaksa di pengadilan mencoba membuktikan bahwa Khmer Merah secara khusus mencoba melakukan itu kepada kelompok-kelompok ini - sesuatu yang menurut para ahli termasuk penulis biografi Pol Pot, Philip Short katakan mereka tidak melakukannya.
Selama persidangan, pengadilan mengutip pidato Pol Pot pada tahun 1978 yang mengatakan bahwa "tidak ada satu pun bibit" orang Vietnam dapat ditemukan di Kamboja. Dan sejarawan mengatakan bahwa memang komunitas yang terdiri atas beberapa ratus ribu orang lantas dihilangkan menjadi nol dengan cara deportasi atau pembunuhan.
Selain menjadi sasaran dalam pembunuhan besar-besaran, para penyintas Muslim Cham mengatakan mereka dilarang menjalankan ibadah dan dipaksa untuk makan daging babi di bawah rezim tersebut.
Mungkin putusan yang dijatuhkan saat ini tidak akan sepenuhnya mengakhiri perdebatan, namun beberapa kelompok penyintas sudah lama menantikan vonis ini sebagai simbol keadilan.
"Mereka membuat anggota keluarga saya menderita", kata Los Sat, orang Muslim Cham berusia 82 tahun, yang kehilangan banyak anggota keluarga, kepada kantor berita AFP di pengadilan. "Saya sangat puas dengan hasil dakwaan."
Siapa Khmer Merah itu?
Dipimpin oleh Saloth Sar, yang lebih dikenal dengan nama Pol Pot, Khmer Merah adalah gerakan Mao radikal yang didirikan oleh para intelektual yang mendapat pendidikan di Prancis.
Mereka berusaha menciptakan masyarakat yang mandiri dan agraris: kota-kota dikosongkan dan rakyat dipaksa bekerja di koperasi pedesaan. Banyak diantaranya yang dipaksa bekerja hingga tewas, sementara yang lainnya menderita kelaparan saat ekonomi runtuh.
Pol PotHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionPol Pot (kiri) memiliki visi Kamboja sebagai utopia agraria tanpa kelas
Selama empat tahun berkuasa dari tahun 1975 hingga 1979, Khmer Merah menyiksa dan membunuh semua yang dianggap musuh - mulai dari kalangan intelektual, minoritas, mantan pejabat pemerintah - bahkan anggota keluarga mereka.
Skala dan kebrutalan pembunuhan - didokumentasikan secara cermat oleh para petugas - menunjukkan rezim ini tetap menjadi salah satu yang paling berdarah di abad ke-20.
Rezim ini ditumbangkan dalam sebuah invasi Vietnam pada tahun 1979. Pol Pot melarikan diri dan tetap bebas sampai tahun 1997, dan setahun kemudian meninggal dalam statusnya sebagai tahanan rumah.

Mengapa pengadilan ini kontroversial?

Ini bisa menjadi keputusan akhir pengadilan, yang secara resmi disebut Pengadilan Luar Biasa di Pengadilan Kamboja (Extraordinary Chambers in the Courts of Cambodia, ECCC).
Dibentuk pada tahun 2006 dengan pendanaan sebesar $300 juta. sejauh ini pengadilan yang di dalamnya terdiri dari para hakim Kamboja dan internasional, telah mengadili tiga orang terkait kekejaman rezim Khmer Merah.
Pada tahun 2010, pengadilan tersebut menjatuhkan vonis terhadap Kaing Guek Eav, yang juga dikenal dengan nama Duch, ia bertanggung jawab di pusat penyiksaan Tuol Sleng dan penjara di Phnom Penh.
Mantan menteri luar negeri Khmer Merah, Ieng Sary awalnya menyandang status terdakwa bersama Khieu Samphan dan Nuon Chea, namun meninggal sebelum hakim mengeluarkan putusan dalam persidangan pertama pada tahun 2014.
Istrinya, Thirith, yang merupakan menteri urusan sosial dalam negeri rezim tersebut beserta keempat rekan terdakwa, dinyatakan mengalami masalah mental sehingga tidak diadili dan meninggal pada tahun 2015.
Meski ada beberapa dakwaan yang dijatuhkan pada empat anggota Khmer Merah lainnya, Perdana Menteri Kamboja Hun Sen bersuara lantang menentang dilakukannya persidangan baru dan kecil kemungkinan hal ini akan terjadi.
Sebagai mantan anggota tingkat menengah rezim Khmer Merah sendiri, ia mengatakan rakyatnya ingin melanjutkan hidup dan bahwa penuntutan lebih lanjut bisa mengarah pada kekerasan.
Khmer Merah melancarkan pemberontakan setelah mereka digulingkan dari kekuasaan, meskipun ribuan orang membelot ke pemerintah pada tahun 1990-an sebelum kelompok itu dibubarkan sepenuhnya pada tahun 1999.
Di beberapa tempat di negara ini, para penyintas dan pelaku bahkan tinggal berdampingan di wilayah-wilayah pedesaan.
Namun banyak orang Kamboja yang tidak terlalu memperhatikan proses pengadilan ini, dan anak-anak muda khususnya lebih ingin agar negara mereka dikenal karena sesuatu, selain "Killing Fields".