MENERIMA IKLAN/SPONSOR
Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.
Monday, December 5, 2022
Piala Dunia 2022: Kenapa kaus seragam tim sangat mahal?
Piala Dunia Pria FIFA 2022 bukan hanya Piala Dunia termahal yang pernah ada bagi tuan rumah Qatar: suporter sepak bola di seluruh dunia yang ingin membeli replika kaus seragam tim nasional tercinta mereka harus merogoh kocek cukup dalam untuk versi resminya. Di beberapa negara, itu berarti menghabiskan lebih dari sepertiga gaji satu bulan seseorang yang mendapatkan upah minimum.
Janine Garcia tidak berpikir dua kali ketika dia melihat kios di alun-alun Saens Pena, tempat berkumpulnya pedagang kaki lima yang populer di sisi utara Rio de Janeiro. Tempat itu penuh dengan tenda berwarna kuning dan biru, penuh dengan ratusan kemeja tim nasional Brasil versi tiruan alias KW yang tergantung di setiap sudut.
"Saya beli yang biru (warna seragam kedua Brasil). Mereka terlihat begitu mengkilap sehingga banyak rekan kerja dan teman meminta saya untuk membelikan untuk mereka juga," kata guru berusia 42 tahun itu sambil terkekeh-kekeh.
Kaus versi KW itu harganya setara dengan $14 (Rp 220.000), yang hanya sekitar seperlima dari harga seragam resmi yang diproduksi oleh raksasa pakaian olahraga AS Nike ($65, Rp1,2 juta). Ada juga versi premium, yang sama dengan setelan yang dikenakan pemain Brasil di Piala Dunia 2022, tetapi Anda harus membayar $130 (Rp2,04 juta).Saat ini, upah minimum bulanan di Brasil adalah sekitar $225 (Rp3,5 juta). Harga kaus seragam yang lebih murah sampai hampir 30% dari angka tersebut dan yang lebih mahal sekitar 58%.Kenaikan harga
"Kaus sepak bola sudah jadi barang mewah buat kami," kata Garcia.Dalam sebuah artikel pada bulan September, majalah bisnis Brasil Exame melaporkan bahwa versi terbaru dari kaus Brasil yang diluncurkan menjelang Piala Dunia harganya telah naik 40% sejak turnamen terakhir empat tahun yang lalu, meskipun Brasil tampil buruk untuk standar mereka - pemegang lima gelar juara dunia itu gagal lolos ke babak perempat final untuk ketiga kalinya dalam empat turnamen sejak terakhir kali mereka mengangkat trofi pada 2002.Tapi Brasil bukan satu-satunya negara tempat harga kaus sepak bola membuat banyak orang heran dan mengeluh.
Di Inggris, yang sedang menghadapi krisis ekonomi terbesar dalam satu generasi, kaus seragam nasional Inggris untuk Piala Dunia 2022 adalah yang termahal yang pernah dirilis ($85 atau Rp1,23 juta untuk versi yang paling murah). Di masa lalu, kenaikan harga kaus bola pernah dikritik oleh sejumlah politikus, termasuk mantan Perdana Menteri David Cameron.
"Ini mahal sekali. Orang tua berada di bawah tekanan besar untuk membeli kaus seragam terbaru dan kita tidak boleh dimanfaatkan," kata Cameron kepada BBC pada 2014.
Penggemar Prancis yang ingin membeli kaus seragam baru tim juara dunia saat ini diharapkan untuk mengeluarkan sekitar $93 (Rp1,5 juta). Baik Inggris maupun Prancis bermitra dengan Nike sebagai pemasok seragamnya.Namun di negara-negara ini dampak pada kantong penggemar tidak seberapa bila dibandingkan dengan beberapa lain: di Inggris, upah minimum per jam nasional adalah sekitar $11.50 (Rp180.000), yang dapat setara dengan sekitar $1.750 (Rp27,4 juta) per bulan. Di Prancis, upah bulanan minimum setara dengan hampir $1.400 (Rp21,9 juta). Daya beli masyarakat di Ghana sangat jauh dari itu, itulah sebabnya para suporter timnas awal tahun ini turun ke media sosial untuk mengungkapkan kekecewaan mereka pada berita bahwa seragam Piala Dunia tim berjuluk "Black Stars" itu, yang dibuat oleh produsen pakaian asal Jerman Puma, diluncurkan ke pasaran dengan harga sekitar $94 (Rp1,4 juta)."[Kaus] yang palsu belum keluar?" tanya salah seorang warganet.Saat ini, upah minimum legal di negara Afrika itu, menurut Kementerian Ketenagakerjaan, adalah $0,95 (hampir Rp15.000) per jam - atau mungkin sekitar $145 (Rp2,3 juta) per bulan.
Di Senegal, pemegang gelar juara Piala Afrika saat ini, model tiruan alias KW dicari banyak orang di jalanan ibu kota Dakar, meskipun badan sepak bola negara itu sudah meminta para fan untuk membeli kaus orisinalnya, juga didesain oleh Puma, untuk "mendukung tim nasional".
Mulai tanggal 14 November, kaus model resmi dijual dengan harga sekitar $71, yang mencakup lebih dari 75% upah minimum bulanan Senegal yaitu $0,52 per jam ($79 per bulan), menurut Kementerian Ketenagakerjaan.
"Kaus orisinalnya kemahalan. Kausnya bagus, tapi orang-orang di sini tidak punya uang," kata Malik, seorang pedagang kaki lima di Senedal, kepada Radio France International.
"Saya mendapat semakin banyak pelanggan," kata si pedagang, sebelum mengungkapkan harapan bahwa tim Senegal bisa lolos ke babak 16 besar, karena ini akan memungkinkan dia untuk menaikkan harga kaus jualannya.
Ekonomi kaus bola
Kaus bola sebenarnya bukan produk yang mahal untuk diproduksi. Richard Denton, dosen di Institut Manajemen Olahraga Johan Cruyff di Barcelona, memperkirakan biaya produksinya kurang dari $10 (Rp157.000) per unit"Ini jelas-jelas membuat harga final tampak kemahalan dan orang bisa berargumen bahwa itu tidak bisa dibenarkan," kata Denton.
"Tetapi harga yang tidak masuk akal bagi satu orang bisa masuk akal bagi yang lain, karena ada biaya dan investasi lain yang terlibat dan memengaruhi harga finalnya."
Ahli ekonomi Cesar Grafietti, yang berspesialisasi di bisnis sepak bola, menjelaskan bahwa harga final kaus sepak bola tidak terutama ditentukan oleh ongkos produksi — pajak dan biaya logistik termasuk transportasi memberi dampak yang paling besar.
Dua komponen biaya itu telah membesar sejak pandemi virus corona, yang telah mengganggu rantai pasok, serta perang di Ukraina, yang menaikkan harga bahan bakar global.
"Produsen pakaian sebenarnya tidak mendapat banyak uang dari penjualan seragam, karena mereka juga harus membayar klub-klub papan atas dan federasi sepak bola nasional uang yang tak sedikit untuk hak memproduksi seragam mereka," Grafietti menambahkan.
Persaingan para perusahaan raksasa
Perusahaan raksasa seperti Nike dan saingan bebuyutannya dari Jerman Adidas melakukan segala cara untuk memastikan tim-tim paling bergengsi mengenakan peralatan buatan mereka.
Pada Piala Dunia kali ini, Nike adalah pemasok untuk 13 dari 32 tim yang berpartisipasi, sementara Adidas memasok tujuh tim, termasuk empat kali juara dunia Jerman, dua kali juara dunia Argentina, dan tim favorit lainnya, Spanyol.
Dua perusahaan besar ini membayar federasi nasional negara-negara tersebut total $275 juta (Rp4,3 triliun) setahun untuk keistimewaan itu, menurut situs web bisnis olahraga SportsPro Media.."Perusahaan-perusahaan ini punya pemegang saham yang jelas-jelas tidak akan suka kalau Adidas atau Nike tidak mengembalikan investasi sebesar itu melalui kesepakatan dengan tim-tim sepak bola," Denton menerangkan.
"Tetapi kita sendiri yang harus memutuskan apakah kaus itu mahal atau tidak. Karena itulah sebagian orang minum anggur murah dan sebagian lainnya minum anggur mahal."
BBC menghubungi Adidas, Puma, dan Nike untuk meminta komentar. Pada waktu artikel ini ditulis, baru Adidas yang membalas. Dalam sebuah pernyataan tertulis, perusahaan mengatakan bahwa harga final mencerminkan kualitas bahan yang digunakan untuk membuat kaus serta ketahanannya.
"Seragam kami mengandung inovasi bahan yang sama dengan yang dipakai di lapangan serta dirancang dan diproduksi untuk dikenakan dengan bangga oleh para fan selama bertahun-tahun. Harganya mencerminkan tingkat ketahanan dan inovasi performa dalam pembuatannya."
Laku seperti kacang goreng
Janine Garcia dan kawan-kawannya menjauhi kaus seragam resmi yang tak terbeli, tetapi tampaknya tidak semua orang dibuat enggan oleh harga mahal: dalam artikel majalah Exame yang melaporkan kenaikan harga kaus seragam timnas Brasil sebesar 40%, perwakilan Nike mengatakan seragam tahun ini untuk Qatar adalah kaus yang paling laris dalam 26 tahun kemitraan antara perusahaan tersebut dengan badan sepak bola Brasil (CBF).
Tetapi Garcia tidak percaya itu.
"Saya ingin tahu siapa itu yang beli, karena saya kenal banyak orang berduit yang akhirnya beli yang KW juga karena pertimbangan untung-rugi," ujarnya.
"Ini tidak seperti tas atau pakaian desainer, yang akan terus Anda pakai."
Mohenjo-daro, kota 'tumpukan orang mati' yang hilang di Lembah Indus Pakistan
Di dataran berdebu Sindh, Pakistan selatan, berbaring sisa-sisa salah satu kota kuno paling mengesankan di dunia yang belum pernah didengar kebanyakan orang.
Angin sepoi-sepoi menyejukkan panas saat saya mengamati kota kuno di sekitar saya. Jutaan batu bata merah membentuk jalan setapak dan sumur-sumur, dengan daerah sekelilingnya terbentang dalam pola seperti kisi-kisi.
Sebuah stupa Buddha kuno menjulang di atas jalan-jalan yang sudah usang, dengan kolam komunal yang besar, lengkap dengan tangga lebar di bawahnya.
Entah bagaimana, hanya segelintir orang yang ada di sini – saya praktis memiliki tempat itu untuk diri saya sendiri.Saya berada sekitar satu jam di luar kota Larkana yang berdebu di Pakistan selatan di situs bersejarah Mohenjo-daro.
Saat ini, hanya reruntuhan yang tersisa, namun 4.500 tahun yang lalu kawasan ini bukan hanya salah satu kota paling awal di dunia, tetapi juga kota metropolitan yang berkembang dengan infrastruktur yang sangat maju.Mohenjo-daro – yang berarti "tumpukan orang mati" dalam bahasa Sindhi - adalah kota terbesar dari Peradaban Lembah Indus (juga dikenal sebagai Harappan) yang membentang dari timur laut Afghanistan hingga India barat laut selama Zaman Perunggu.
Diyakini pernah dihuni oleh setidaknya 40.000 orang, Mohenjo-daro adalah kota yang makmur dari tahun 2500 hingga 1700 Sebelum Masehi (SM).
“Itu adalah pusat kota yang memiliki hubungan sosial, budaya, ekonomi dan agama dengan Mesopotamia dan Mesir,” jelas Irshad Ali Solangi, pemandu lokal generasi ketiga dari keluarganya yang bekerja di Mohenjo-daro.
Tetapi, dibandingkan dengan kota-kota di Mesir Kuno dan Mesopotamia, yang berkembang pada waktu yang bersamaan, hanya sedikit orang yang pernah mendengar tentang Mohenjo-daro.
Pada 1700 SM, kota itu ditinggalkan, dan sampai hari ini, tidak ada yang tahu persis mengapa penduduk pergi atau ke mana mereka pergi.Para arkeolog pertama kali menemukan kota kuno tersebut pada tahun 1911 setelah mendengar laporan tentang temuan beberapa batu bata di daerah tersebut.
Namun, Survei Arkeologi India (ASI) mengesampingkan batu bata tersebut karena tidak memiliki kekunoan apa pun dan situs tersebut tetap tidak terganggu selama beberapa tahun lagi.
Baru pada tahun 1922 R D Banerji, seorang petugas ASI, percaya bahwa dia melihat sebuah stupa yang terkubur, struktur mirip gundukan tempat umat Buddha biasanya bermeditasi.
Hal ini menyebabkan penggalian besar-besaran - terutama oleh arkeolog Inggris Sir John Marshall - hingga akhirnya penamaan Mohenjo-daro sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1980.
Sisa-sisa yang mereka temukan mengungkapkan tingkat urbanisasi yang sebelumnya tidak terlihat dalam sejarah, dengan Unesco memuji Mohenjo-daro sebagai reruntuhan Lembah Indus yang "terlestarikan".
Mungkin fitur kota yang paling mengejutkan adalah sistem sanitasi yang jauh melampaui zamannya.
Ketika drainase dan toilet pribadi menjadi kemewahan para orang kaya di Mesir dan Mesopotamia, di Mohenjo-daro, toilet tersembunyi dan selokan tertutup ada di mana-mana.Sejak penggalian dimulai, lebih dari 700 sumur telah ditemukan, sebagai tambahan ke sistem pemandian pribadi, termasuk "Pemandian Besar" berukuran 12m x 7m untuk penggunaan komunal.
Hebatnya, toilet ditemukan di banyak tempat tinggal pribadi, dan limbah dibuang secara diam-diam melalui sistem pembuangan yang canggih di seluruh kota.
"Ini adalah sebuah kompleksitas pada tingkat kota yang ingin kita tinggali hari ini," kata Uzma Z Rizvi, seorang arkeolog dan profesor di Institut Pratt Brooklyn, yang menulis esai tahun 2011 berjudul Mohenjo-daro, The Body, and the Domestication of Waste.
Penduduk Mohenjo-daro juga memahami lingkungan mereka.
Menyadari kotanya terletak tepat di sebelah barat Sungai Indus, mereka membangun anjungan pertahanan banjir dan sistem drainase yang mengesankan untuk melindungi diri dari banjir tahunan.
Selain itu, mereka adalah pemain kunci dalam jaringan perdagangan laut yang terbentang dari Asia Tengah hingga Timur Tengah.
Selama berabad-abad, mereka menghasilkan tembikar, perhiasan, patung, dan barang-barang lain yang diukir dengan rumit yang tersebar di mana-mana dari Mesopotamia hingga Oman saat ini.Saat ini, kota bersejarah tersebut telah diubah menjadi taman lokal yang rindang dan teduh, lengkap dengan meja piknik.
Namun, pelancong dari bagian lain Pakistan jarang menjelajah ke lokasi terpencil ini, dan jarang ada turis asing.
Saya berkelana di jalan-jalan kuno yang mirip kisi-kisi, melihat banyak sumur, tembok tinggi yang memberikan keteduhan yang sangat dibutuhkan, dan saluran air yang tertutup – takjub bahwa semua ini telah direkayasa ribuan tahun yang lalu.
Kemampuan Mohenjo-daro untuk menguasai seni sanitasi dan pembuangan limbah bukanlah satu-satunya fitur canggih yang membedakan penduduk ini dari peradaban awal lainnya.
Para arkeolog telah mencatat penggunaan atas bahan bangunan terstandar, meskipun keterbatasan mesin bangunan.
“Semua batu bata memiliki perbandingan 4:2:1, meskipun bentuknya tidak sama,” jelas Rizvi.
"Penting untuk menyadari bahwa semua batu bata ini mengikuti semacam sensibilitas. Ada perasaan tentang seperti apa kota mereka yang mereka inginkan. Jika Anda membuat semuanya dalam rasio, bahkan ruang yang Anda lalui kemudian secara inheren mengikuti kepekaan rasio juga."
Batu bata – terbuat dari pengeringan matahari dan akhirnya pembakaran kiln – telah bertahan dari unsur-unsur selama ribuan tahun.
Dan meskipun arsitektur mewah seperti mansion, kuil, dan indikator status lainnya tidak ada dalam desain Mohenjo-daro, Rizvi menjelaskan bahwa ini tidak berarti bahwa arsitektur monumental tidak ada.
“Di sini monumentalitasnya benar-benar monumentalitas infrastruktur,” ujarnya.Menyeberangi trotoar penuh batu bata yang mengarah jauh dari Kota Atas, saya menemukan diri saya berada di Kota Bawah, yang merupakan wilayah mayoritas dari 300 hektare lebih luas Mohenjo-daro dan menampung pemukiman kota yang berkembang pesat.
Organisasi adalah aturan main di sini. Lusinan jalan yang relatif sempit tersebar dalam jaringan terencana dengan sudut 90 derajat yang sempurna.
Pintu masuk rumah lokal - termasuk yang ada di kamar mandi - menggunakan ambang pintu yang tidak berbeda dengan yang Anda temukan di rumah atau bangunan mana pun saat ini.
“Ketika Anda melihat ambang batas, Anda tahu bahwa seseorang telah memikirkan apa artinya berada di dalam dan di luar,” kata Rizvi.
Di Museum Mohenjo-daro, sebuah bangunan kecil yang terletak di area berumput kompleks, saya mendapat wawasan lebih jauh tentang penghuninya.
Ratusan segel dekoratif – seringkali menampilkan satu hewan – serta patung, perhiasan, perkakas, mainan, dan potongan tembikar telah berhasil digali dari situs tersebut.
Dipajang di deretan rak kaca, relik itu terawetkan dengan sangat baik.
Di antara artefak-artefak itu ada dua patung: seorang perempuan muda yang mengenakan perhiasan dan gaya rambut yang rumit; dan yang lainnya adalah pria berpenampilan rapi yang tampaknya berstatus tinggi.
"Pria elit ini - kami tidak tahu apakah dia seorang pendeta atau raja - menunjukkan kepada kami perhatian terhadap detail dalam hal perhiasan dan perawatan fisik," jelas Rizvi.
"Ini memberi kita wawasan tentang bagaimana [penghuni] memperlakukan diri mereka sendiri, tubuh mereka. Jelas, ada pemahaman tentang matematika. Jelas, ada pemahaman tentang geometri. Jelas, ada pemahaman tentang mode."Namun, detail utama yang dapat membuka lebih banyak tentang kehidupan dan masa penduduk tetap berada di luar jangkauan.
Sementara tulisan-tulisan kuno sering mengungkap rahasia peradaban, tidak demikian halnya dengan Mohenjo-daro, yang penduduknya menggunakan apa yang dikenal sebagai Aksara Lembah Indus.
"Itu adalah bahasa piktografik dengan lebih dari 400 tanda. Masih belum diterjemahkan," kata pemandu saya Solangi.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Mohenjo-daro adalah misteri lain yang belum terpecahkan.
Secara kolektif, para peneliti tidak yakin mengapa kota itu ditinggalkan sekitar tahun 1700 SM, meskipun diyakini secara luas bahwa faktor iklim berperan.
Meski begitu, Rizvi menjelaskan, hilangnya Mohenjo-daro tidak serta merta dalam sekejap.
"Kota itu sendiri tidak tiba-tiba dievakuasi. Sekitar 1900 SM, Anda melihat pergeseran terjadi, lebih sedikit jejak orang yang tinggal di kota mulai muncul dalam catatan material. Bukan karena semua orang pergi, tetapi ada lingkungan tertentu yang mulai terlihat keadaan rusak.
"Periode waktu belakangan ini tidak memiliki kepadatan populasi yang sama dengan periode waktu sebelumnya. Anda melihat pergerakan lambat orang meninggalkan kota, "katanya.
Sekarang, beberapa ribu tahun kemudian, kota ini sekali lagi dalam bahaya setelah banjir dahsyat melanda Pakistan pada Agustus 2022.
Dr Asma Ibrahim, seorang arkeolog dan museolog yang terlibat dalam pekerjaan pelestarian di seluruh negeri, membenarkan hal itu.
Saat ini Mohenjo-daro telah telah rusak dan banjir yang melanda situs itu menjadi hal yang ditakutkan para arkeolog.Ketika ditanya tentang bagaimana Mohenjo-daro dapat dilindungi ke depan, Ibrahim merekomendasikan penggunaan saluran untuk mengalihkan kelebihan air dari lokasi tetapi menekankan bahwa diperlukan "strategi jangka panjang".
Rencana yang panjang untuk kawasan tersebut tidak hanya akan menguntungkan situs arkeologi, tetapi juga banyak penduduk setempat, seperti Solangi, yang tinggal di sekitarnya.
Dari rumah Solangi di desa Dandh, stupa terlihat jelas. “Bagi saya, Mohenjo-daro adalah harta peradaban kuno. Kita harus menjaganya untuk generasi mendatang,” tegasnya.
Saat saya menyusuri jalan setapak, saya setuju dengan penjelasan Solangi.
Saya memikirkan jalan-jalan yang teratur dan batu bata yang dipotong dengan sempurna.
Kolam di dalam tanah dikenal sebagai Pemandian Besar. Sistem sanitasi yang tersebar luas yang dapat mengungguli beberapa infrastruktur yang terlihat di Pakistan saat ini.
Seperti yang dikatakan Solangi dengan cerdik, "Kekayaan publik dihabiskan untuk kesejahteraan publik."Dan setidaknya untuk sementara, investasi mereka terbayar. Mohenjo-daro berkembang pesat, dan penduduknya dapat menikmati standar hidup yang jauh melampaui norma pada masanya.
Duduk di dalam motor bajai dalam perjalanan kembali ke Larkana beberapa jam kemudian, saya merasa bersyukur.
Selama ribuan tahun, Mohenjo-daro terkubur dalam tanah dan pasir, tampaknya hilang selamanya di dataran Pedalaman Sindh.
Namun, berkat upaya tak kenal lelah selama seabad terakhir dari pemandu yang berdedikasi seperti Solangi dan arkeolog, salah satu kota paling maju di dunia kuno dapat kembali dilalui sekali lagi.
Protes di China: Anak-anak muda di balik demonstrasi menentang kebijakan nol Covid
Akhir pekan lalu di China, muncul generasi baru; banyak anak muda yang ikut serta dalam aksi protes publik pertama mereka.
Di jalan-jalan, mereka terang-terangan menuntut untuk lepas dari kebijakan nol-Covid yang telah berlaku selama lebih dari tiga tahun.
Di Shanghai, awalnya aksi protes dilakukan diam-diam.
Warga berkumpul untuk memberi penghormatan pada korban kebakaran blok apartemen di wilayah Xinjiang, China bagian barat. Banyak yang percaya bahwa kebijakan pembatasan Covid mencegah para korban melarikan diri dari api.
Jadi, di bawah penjagaan ketat polisi, mereka berduka. Mereka mengangkat kertas polos sebagai bentuk protes, menaruh karangan bunga, dan tidak berbicara apa-apa.Seiring malam semakin larut, kerumunan orang semakin besar dan semakin berani. Pada pukul 03.00 waktu setempat (02.00 WIB) hari Minggu (27/11) mereka berteriak: "Xi Jinping, turun! Xi Jinping, turun!"Seorang peserta aksi yang berusia awal dua-puluhan berkata ia turun ke jalan setelah mendengar banyak orang berteriak-teriak dari kamarnya.
"Saya melihat banyak, banyak orang marah di dunia maya tetapi tidak ada yang pernah turun ke jalanan untuk berunjuk rasa," katanya kepada BBC.
Ia membawa kameranya untuk merekam peristiwa yang ia rasakan sebagai momen bersejarah.
"Saya melihat banyak orang - petugas polisi, mahasiswa, lansia, orang asing. Mereka punya pendapat yang berbeda-beda tetapi setidaknya mereka bisa menyuarakannya," ujarnya.
"Penting sekali ada perkumpulan seperti ini. Saya merasa ini akan menjadi kenangan yang berharga."
Seorang perempuan muda di tepi kerumunan berkata menurut dia ini adalah momen yang mendebarkan namun rapuh. "Saya tidak pernah melihat apa pun yang seperti ini selama saya hidup di China," ujarnya kepada BBC.
"Saya meras lega. Akhirnya, kita bisa berkumpul, dan bersama-sama - untuk mengatakan sesuatu yang sudah ingin kita katakan untuk sekian lama."
Kebijakan nol Covid telah mencuri tahun-tahun terbaik dalam hidupnya, kata gadis itu.
Generasinya kehilangan penghasilan dan mata pencaharian, kesempatan untuk pendidikan dan perjalanan. Terperangkap dalam lockdown, kadang-kadang sampai berbulan-bulan, mereka terpisah dari keluarga dan terpaksa menunda atau membatalkan rencana hidup.
Mereka "marah, sedih, tak berdaya" - seakan dalam purgatori.
Seruan serupa terdengar di sejumlah kota besar di China akhir pekan itu. Di Universitas Tsinghua yang elite di Beijing, para mahasiswa, terinspirasi oleh demonstrasi yang mereka saksikan di dunia maya, juga berkumpul.
Sebuah video - yang telah menjadi viral - menunjukkan seorang gadis berbicara dengan cepat, ketakutan bisa dirasakan dalam nada suaranya, ke pelantang. Sesekali suaranya pecah dan ia menangis. Tetapi massa mendukungnya: "Jangan takut! Terus bicara!" kata mereka.
"Kalau kita tidak bicara karena takut didiskreditkan, saya pikir rakyat kita akan kecewa," ujarnya dengan suara parau. "Sebagai mahasiswa Universitas Tsinghua, saya akan menyesalinya selamanya."Cerdas atau naif?
Bagi sejumlah pengamat yang lebih tua, demonstrasi politik ini - pemandangan yang tidak pernah terlihat selama puluhan tahun - mengungkit ingatan tentang unjuk rasa tahun 1989 di Lapangan Tiananmen, juga dipimpin oleh mahasiswa yang menginginkan China yang lebih bebas.
Namun beberapa mengatakan semangat generasi ini datang dari ketidaktahuan bagaimana aksi protes itu berakhir - dengan pemberangusan berdarah.
"Kombinasi idealisme masa muda - keberanian tanpa beban ingatan yang memilukan - berarti anak-anak muda turun ke jalan dan menuntut hak-hak mereka," kata peneliti Human Rights Watch China Yaqiu Wang.
Lainnya berargumen bahwa itu meremehkan para pengunjuk rasa. Kemudaan mereka memungkiri betapa pekanya mereka pada sistem dan aturan China, kata Wen-ti Sung, pakar ilmu politik di Universitas Nasional Australia.
Sung kagum pada "kecerdasan taktik" mereka. Para demonstran muda hari ini "adalah generasi paling berpendidikan yang pernah dilihat China," ujarnya.
"Mereka tahu batas-batasnya. Mereka berusaha untuk menekan batasan tanpa melanggarnya," ia menambahkan.
Para pengunjuk rasa di Shanghai menyerukan agar Presiden Xi turun dari jabatannya. Tetapi di hampir setiap unjuk rasa lainnya, para demonstran tidak menyuarakan tuntutan yang mereka khawatirkan terlalu politis.
Kertas kosong - tanpa tulisan-tulisan yang mencela pemerintah - menjadi simbol mereka. Ketika disuruh polisi untuk menghentikan seruan untuk mengakhiri kebijakan nol-Covid, mereka merespons dengan sinis, malah meminta lebih banyak pengujian dan lebih banyak lockdown.
"Perhatikan saja betapa hati-hati mereka sejak awal berusaha menutupi semua celah untuk meminimalkan tuduhan yang dapat dibuat pemerintah China terhadap mereka," kata Sung.
Para pengunjuk rasa juga waspada terhadap suara-suara yang hendak melumpuhkan pesan mereka.
Di Beijing, ketika seorang pria memperingatkan tentang "pengaruh asing", dia diejek oleh beberapa orang lain yang berteriak: "Dengan pengaruh asing, maksud Anda Marx dan Engels? Apakah itu Stalin? Apakah itu Lenin?"
Partai Komunis China menjadikan Marxisme sebagai ideologi pedomannya.
Massa di Beijing terus menekan: "Apakah kekuatan asing yang menyalakan api di Xinjiang? Apakah kekuatan asing yang menjungkirbalikkan bus di Guizhou?"
"Apakah kekuatan asing yang menarik semua orang ke sini malam ini?" teriak seorang pria kepada kerumunan. Mereka berteriak kembali: "Tidak!"
'Nasionalis liberal'
Sebelum pandemi, sebagian besar anak muda China sudah puas dengan prospek masa depan mereka. Covid mengubah semua itu.
"Saya tidak bisa berkeliling dunia, saya tidak bisa melihat keluarga saya," kata pemuda yang membawa kamera di Shanghai itu. Ia berkata kepada BBC bahwa ia mengkhawatirkan ibunya, yang menderita kanker, di kota Guangzhou, China selatan. Pemerintah kota mencabut pembatasan Covid di sebagian besar distriknya pada Rabu.
"Saya benar-benar ingin melihatnya. Sudah lama sekarang, saya tidak melihatnya, tidak menyentuh wajahnya, tidak makan malam dengannya," katanya. "Saya berharap kebijakan lockdown ini akan diangkat. Sesegera mungkin."
BBC belakangan mendapat kabar bahwa hari itu juga, pria tersebut ditahan oleh polisi.
Banyak anak muda yang bicara kepada BBC atau terlihat berbicara dalam video yang tersebar di internet mengatakan mereka ingin melihat negara mereka maju.
Pada aksi protes, massa menyanyikan lagu kebangsaan China berulang kali - terutama bagian korus yang mengajak orang-orang untuk "Berdiri! Berdiri! Berdiri!" dan membela negara mereka.
Salah satu hal yang membuat generasi ini benar-benar berbeda adalah patriotisme mereka, karena mereka besar di era kebangkitan China, kata Sung.
Ia melabeli banyak anak-anak muda itu "nasionalis liberal" - yang, begitu percaya pada sistem, menuntut akuntabilitas ketika sistem itu gagal.
"Sentimen bisa beralih dari pro-pemerintah ke anti-kemapanan dengan sangat cepat," katanya.
Tetapi masih ada keinginan kolektif untuk membuktikan bahwa aksi protes mereka sah dan dibenarkan secara hukum.
Dalam video kampus Tsinghua, setelah pembicara menyampaikan kekhawatiran bahwa protes dapat disusupi oleh pembuat onar, massa berteriak, "Tidak ada pelanggar hukum di sini! Tidak ada pelanggar hukum di sini!"
Suara seorang laki-laki kemudian terdengar, dengan nada khawatir: "Kalau kita kehilangan kendali atas [demonstrasi ini], maka kita akan benar-benar kalah."
"Kita tidak punya pengalaman melakukan ini ... tapi kita akan belajar perlahan-lahan."
Polisi moral Iran penegak aturan busana Islami dibubarkan, kata Jaksa Agung
Polisi moral Iran, yang bertugas menegakkan aturan berpakaian Islami di negara itu, dibubarkan, kata Jaksa Agung Mohammad Jafar Montazeri dalam sebuah acara pada Minggu.
Akan tetapi, saluran televisi pemerintah Al-Alam menyebut media asing menggambarkan komentar Montazeri seolah "Republik Islam mundur dari masalah jilbab dan kesopanan dan dipengaruhi kerusuhan baru-baru ini".
Al-Alam menyebut "Tidak ada pejabat Republik Islam Iran yang mengatakan bahwa polisi moral telah ditutup."Iran telah menghadapi aksi protes berbulan-bulan atas kematian seorang perempuan muda, Mahsa Amini, setelah ditahan oleh polisi moral karena diduga melanggar aturan ketat berhijab.
Montazeri sedang menghadiri sebuah konferensi agama ketika dia ditanya apakah polisi moral dibubarkan.
“Polisi moral tidak ada hubungannya dengan peradilan dan telah ditutup dari tempat mereka dibentuk,” kata Montazeri.
Polisi moral berada di bawah kendali Kementerian Dalam Negeri Iran, bukan oleh lembaga peradilan.
Pada Sabtu (03/12), Montazeri juga mengatakan kepada parlemen Iran bahwa undang-undang yang mewajibkan perempuan mengenakan jilbab akan ditinjau.
Namun, kalaupun polisi moral ditutup, bukan berarti undang-undang yang telah berlaku selama puluhan tahun itu akan diubah.
Aksi protes yang dipimpin oleh para perempuan Iran sejak kematian Amini pada 16 September lalu, telah dilabeli sebagai aksi “kerusuhan” oleh pihak berwenang.
Amini meninggal dunia tiga hari setelah dia ditangkap oleh polisi moral di Teheran.
Kematiannya memicu aksi-aksi protes yang diwarnai oleh kekerasan, lalu diikuti oleh isu-isu lainnya seperti ketidakpuasan atas kemiskinan, pengangguran, ketidaksetaraan, ketidakadilan, dan korupsi.‘Revolusi lah yang kami miliki’
Jika pembubaran polisi moral itu dikonfirmasi pemerintah Iran, keputusan tersebut diduga dilakukan untuk meredam amarah publik.
Tetapi, tidak ada jaminan bahwa pembubaran polisi moral cukup untuk menghentikan aksi protes yang diwarnai aksi bakar hijab oleh para pengunjuk rasa.
“Hanya karena pemerintah memutuskan membubarkan polisi moral, bukan berarti protes berakhir,” kata seorang perempuan Iran kepada program Newshour BBC World Service.
“Bahkan pemerintah mengatakan hijab adalah pilihan pribadi pun tidak cukup. Orang-orang tahu bahwa Iran tidak memiliki masa depan di tangan pemerintah yang berkuasa saat ini.”
“Kami akan melihat lebih banyak orang dari berbagai faksi masyarakat Iran, baik moderat maupun tradisional, bersuara mendukung perempuan untuk mendapatkan lebih banyak hak mereka kembali,” kata perempuan itu.
Sedangkan perempuan lainnya mengatakan, “Kami, para pengunjuk rasa, tidak peduli lagi dengan jilbab. Kami telah bepergian tanpa itu selama 70 tahun terakhir.”
“Sebuah revolusi adalah apa yang kami miliki. Hijab hanyalah titik awalnya dan kami tidak menginginkan apapun selain kematian diktator dan perubahan rezim.”
Iran mendirikan berbagai bentuk “polisi moral” sejak Revolusi Islam 1979, tetapi polisi moral yang dikenal secara resmi sebagai Gasht-e Irsyad menjadi badan utama yang bertugas menegakkan kode etik Islam Iran.
Mereka mulai berpatroli pada 2006 untuk menegakkan aturan berpakaian, yang juga mewajibkan perempuan memakai pakaian panjang dan melarang celana pendek, jins robek, atau menggunakan pakaian lain yang dianggap tidak sopan.
Arsene Wenger: Tim yang Fokus pada Piala Dunia, Bukan Politik, Lebih Mudah Masuk Babak 16 Besar
Mantan manajer klub Arsenal, Arsene Wenger, mengatakan hasil babak penyisihan grup Piala Dunia menunjukkan tim-tim yang maju tanpa banyak masalah adalah mereka yang paling siap secara mental dan tidak terganggu oleh hingar bingar masalah politik.
Mengacu pada tersingkirnya Jerman, Belgia dan Denmark, Wenger, yang berbicara dalam sesi analisis teknis pertandingan fase grup yang digelar oleh badan sepak bola dunia FIFA, mengatakan tim-tim yang fokus pada pertandingan dan memulai dengan baik, seperti Brazil, Prancis dan Inggris, lebih mudah melenggang masuk ke babak 16 besar.
"Tim-tim yang tidak mengecewakan dalam performa pertandingan pertama mereka - karena ketika Anda sampai di Piala Dunia Anda tahu Anda tidak akan kalah di pertandingan pertama - adalah tim-tim yang berpengalaman, mereka memiliki hasil .... mereka bermain bagus di awal permainan," kata Wenger, Minggu (4/12).
Pejabat: Iran Meninjau Ulang UU Wajib Jilbab
Iran pada Sabtu (3/12) mengatakan sedang meninjau undang-undang (UU) berusia puluhan tahun yang mewajibkan perempuan menutupi rambut mereka. Hal itu dilakukan ketika negara itu berusaha mengendalikan protes-protes lebih dari dua bulan terkait aturan berbusana di negara itu.
Protes-protes telah menyapu Iran sejak kematian Mahsa Amini pada 16 September lalu. Perempuan Kurdi Iran berusia 22 tahun itu tewas dalam tahanan polisi. Ia ditangkap oleh polisi moral karena dituduh melanggar UU tersebut.
Para demonstran telah membakar jilbab mereka dan meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah.
Sejak kematian Amini, semakin banyak perempuan yang tidak memakai jilbab, terutama di Teheran utara.
"Kedua parlemen dan pengadilan membahas (isu)" mengenai apakah undang-undang itu perlu diubah, kata Jaksa Agung Iran Mohammad Jafar Montazeri.
Dikutip kantor berita ISNA, ia tidak memerinci apa yang bisa dimodifikasi dalam undang-undang oleh kedua badan itu, yang didominasi oleh kubu konservatif.
Tim peninjau itu bertemu pada Rabu (30/11) dengan komisi budaya parlemen "dan akan melihat hasilnya dalam satu atau dua minggu," kata jaksa agung itu.
4 Negara non unggulan Ini bakal mengejutkan lawan di 16 besar Piala Dunia 2022
Masih ada 4 negara kuda hitam yang tersisa dalam gelaran Piala Dunia 2022. Salah satunya adalah pernah membuat tim Cristiano Ronaldo di Timnas Portugal meratapi kekalahannya, karena dibungkam oleh negara 1-2 oleh negara tersebut. Sampai saat ini, gelaran Piala Dunia 2022 sedang memasuki babak 16 besar. Sebanyak 16 tim tengah berjuang untuk memperebutkan tiket menuju perempat final sampai mencapai tujuan sebagai juara Piala Dunia 2022 di Qatar.
Seiring berjalannya waktu, beberapa negara pun kian bertumbangan, karena kalah dari lawannya di babak 16 besar. Tapi di babak ini, ada juga setidaknya empat tim yang masuk ke dalam kategori kuda hitam dan masih bertahan, berikut ulasan selengkapnya.
1. Korea Selatan
Urutan pertama sebagai negara kuda hitam yang masih bertahan di Piala Dunia 2022 adalah Timnas Korea Selatan. Tim yang dijuluki sebagai Taeguk Warriors ini baru akan menjajaki babak 16 besar kontra Brasil. Keberhasilan Korea Selatan mejeng di 16 besar didapat bukan dengan cara yang mudah. Sein Heung-min dan kawan-kawan tampil habis-habisan di Grup H sampai bisa finis di urutan kedua. Bahkan, Korea Selatan sempat membuat tim Ronaldo merana. Taeguk Warriors mengejutkan publik dengan menumbangkan Portugal di laga pamungkas Grup H dengan skor akhir 2-1.
2. Maroko
Lalu ada Timnas Maroko yang sampai saat ini masih bertahan dalam gelaran Piala Dunia 2022. Tim yang mendapat julukan sebagai Singa Atlas tampil moncer dalam babak penyisihan grup. Bagaimana tidak, Maroko sukses mengemas dua kemenangan, satu seri, dan tanpa kalah. Hakim Ziyech dan tim lolos ke babak 16 besar dengan status juara Grup F. Sedangkan di 16 besar, Maroko harus berhadapan dengan Timnas Spanyol, sebagai runner up Grup E. Kedua tim ini akan bersua pada Selasa, 6 Desember 2022 besok malam pukul 22.00 WIB.
3. Swiss
Berikutnya adalah Swiss, salah satu tim kuda hitam yang masih bisa bertahan di Piala Dunia 2022, karena belum berlaga di babak 16 besar. Tidak jauh berbeda dengan Jepang, Swiss di Piala Dunia kali ini harus mendapat perhatian lebih. Sebab, mereka berhasil mengemas dua kemenangan dan sekali kalah di penyisihan Grup G.
Sedangkan di babak 16 besar sendiri, Swiss akan berhadapan dengan Timnas Portugal. Catatan Swiss di fase grup ini harus diwaspadai oleh tim Cristiano Ronaldo. Kedua tim dijadwalkan akan berjibaku pada Rabu, 7 Desember 2022 dini hari sekira pukul 02.00 WIB.
4. Jepang
Negara kuda hitam berikutnya yang masih tersisa di Piala Dunia 2022 adalah Jepang. Seperti diketahui, Jepang sukses melenggang ke babak 16 besar usai sukses menjadi juara Grup E Piala Dunia 2022. Sebelumnya, Jepang juga sukses membuat publik tercengang. Hal ini karena mereka berhasil menumbangkan dua tim raksasa Eropa, seperti Jerman dan Spanyol di fase grup. Sedangkan di 16 besar, tim dengan julukan Samurai Biru ini akan berjumpa dengan Kroasia. Samurai Biru akan memperebutkan tiket perempat final kontra Kroasia pada Senin, 5 Desember 2022 pukul 22.00 WIB.
Subscribe to:
Comments (Atom)






