MENERIMA IKLAN/SPONSOR

Kami menerima jasa periklanan. bagi anda yang hendak beriklan di web/blog kami silahkan hubungi atau WA di 08991658370.

Thursday, September 19, 2019

Mengapa Iran Disalahkan atas Serangan Fasilitas Minyak Saudi yang Diklaim Houthi

Houthi

Kecanggihan serangan di fasilitas minyak Arab Saudi telah menimbulkan argumen bahwa serangan itu tidak berasal dari kelompok pemberontak Houthi di Yaman, tetapi dilakukan oleh proksi Iran di Irak atau bahkan Iran sendiri. Iran telah mengeluarkan bantahan resmi atas tuduhan bahwa mereka mempersenjatai Houthi, tetapi pengiriman senjata yang dicegat di Laut Arab telah menghasilkan senapan, peluncur roket, rudal yang dipandu antitank, dan amunisi yang tampaknya dalam perjalanan dari Iran ke Yaman untuk pemberontakan.
Oleh: Adam Taylor (The Washington Post)
Serangkaian dugaan serangan pesawat tanpa awak pada Sabtu (14/9) yang menargetkan fasilitas minyak di Arab Saudi mengakibatkan ledakan dan bola api, menghancurkan setengah dari produksi minyak Kerajaan Saudi selama berhari-hari. Sekarang, pertanyaan muncul tentang tingkat kerusakan dan bagaimana serangan itu dilakukan.
Namun, pertanyaan utamanya adalah siapa yang bertanggung jawab. Pemberontak Houthi Yaman—yang menjadi pusat perang sipil melawan pasukan yang didukung Saudi—telah mengaku bertanggung jawab; pada Senin (16/9), mereka mengancam serangan tambahan.
Namun para pejabat Barat dan Saudi telah meragukan klaim tersebut, mengatakan bahwa serangan itu tidak berasal dari Yaman. Mereka justru menyalahkan pendukung Houthi: Iran.
“Di tengah semua seruan untuk de-eskalasi, Iran kini telah meluncurkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pasokan energi dunia,” kata Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dalam sebuah tweetpada Sabtu (14/9). “Tidak ada bukti serangan datang dari Yaman.”
Hubungan antara Iran dan Houthi tidak sederhana dan telah lama dikaburkan oleh tuduhan dan bantahan, dan diperkuat oleh rumor dan propaganda dari semua pihak.

SIAPAKAH HOUTHI?

Berbasis di barat laut Yaman, suku Houthi pertama kali menjadi terkenal di dunia internasional pada tahun 2015, ketika mereka membantu menggulingkan pemerintahan Presiden Yaman dan sekutu regional AS, Abed Rabbo Mansour Hadi.
Sejarah mereka, bagaimanapun, dimulai sejak awal tahun 1990-an, ketika sebuah kelompok bernama Shabab al-Muminin (Pemuda Beriman) berupaya meningkatkan kesadaran tentang cabang Islam Syiah Zaydi, yang telah mendominasi Yaman selama berabad-abad tetapi dikesampingkan setelah perang sipil pada tahun 1960-an.
Hussein al-Houthi, salah satu Pemimpin Pemuda Beriman, mulai menggelar protes anti-Amerika setelah invasi pimpinan AS ke Irak pada tahun 2003. Ketika Houthi dibunuh oleh pasukan pemerintah pada tahun 2003, para pendukungnya mengganti nama kelompok mereka setelahnya, dan melanjutkan pergeseran dari protes agama ke pemberontakan bersenjata.
Sejak tahun 2015 dan seterusnya, Houthi telah berpartisipasi dalam perang saudara yang melanda Yaman, terutama berhadapan dengan para pendukung Hadi, yang juga didukung oleh koalisi internasional yang dipimpin Saudi.

APA HUBUNGAN MEREKA DENGAN IRAN?

Dukungan Iran terhadap Houthi tampaknya telah meningkat dari waktu ke waktu. Tetapi para ahli di jaringan proksi Iran mengatakan bahwa Houthi adalah salah satu yang paling tidak bergantung pada Teheran untuk dukungan keuangan dan militer dan pengambilan keputusan.
Meskipun Houthi dimulai sebagai gerakan lokal—dan teologi cabang Islam Syiah Zaydi sangat berbeda dari yang dipraktikkan oleh Republik Islam Iran—namun kelompok ini adalah bagian dari jaringan luas faksi bersenjata yang didukung Teheran di Timur Tengah.
Nota diplomatik tahun 2009 yang dikirim oleh Kedutaan Besar AS di Yaman, mengatakan bahwa bertentangan dengan klaim pemerintah Yaman bahwa kelompok itu dipersenjatai oleh Iran, “sebagian besar analis melaporkan bahwa Houthi memperoleh senjata mereka dari pasar gelap Yaman” dan dari militer Yaman.
Pada tahun 2017, Reuters mewawancarai seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya, yang mengatakan bahwa Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) telah mengadakan pertemuan tentang cara-cara untuk “memberdayakan” Houthi. “Pada pertemuan ini, mereka sepakat untuk meningkatkan jumlah bantuan melalui pelatihan, pemberian senjata, dan dukungan keuangan,” kata pejabat itu.
Iran telah mengeluarkan bantahan resmi atas tuduhan bahwa mereka mempersenjatai Houthi, tetapi pengiriman senjata yang dicegat di Laut Arab telah menghasilkan senapan, peluncur roket, rudal yang dipandu antitank, dan amunisi yang tampaknya dalam perjalanan dari Iran ke Yaman untuk pemberontakan.

PERNAHKAH HOUTHI MENARGETKAN ARAB SAUDI SEBELUMNYA?

Pernah. Sejak dimulainya konflik Yaman, Houthi telah berusaha untuk menghukum Arab Saudi karena perannya yang menonjol, dengan meluncurkan serangan terhadap tanah Saudi. Tahun lalu, para pejabat Saudi mengatakan bahwa mereka telah mencegat lebih dari 100 rudal balistik yang ditembakkan dari wilayah Houthi.
Drone bersenjata menyerang stasiun pompa minyak di barat Riyadh pada Mei dan menyebabkan kerusakan serius, sementara serangan di bandara Abha di selatan melukai 26 orang pada bulan Juni.
Tetapi serangan pada Sabtu (14/9) menyerang tepat di pusat fasilitas produksi minyak Arab Saudi, membuatnya menjadi operasi yang jauh lebih canggih daripada apa yang dilakukan Houthi di masa lalu. Ledakan itu terjadi di distrik Khurais dan Abqaiq, lebih dari 500 mil dari zona yang dikuasai Houthi di Yaman, menggunakan serangan presisi untuk menyebabkan kerusakan maksimum.
Serangan tersebut mungkin menggunakan drone dan rudal. Fabian Hinz, rekan peneliti di James Martin Center for Nonproliferation Studies di Monterey, berpendapat bahwa foto-foto sisa-sisa rudal di Arab Saudi menunjukkan sebuah senjata yang terlalu canggih untuk diproduksi di dalam negeri oleh Houthi dan tidak pernah dilihat di Iran.
“Apakah Iran diam-diam merancang, menguji, dan memproduksi sistem rudal untuk penggunaan eksklusif oleh para proksinya?” Hinz bertanya dalam sebuah unggahan blog untuk Arms Control Wonk.

BAGAIMANA JIKA HOUTHI TIDAK MELAKUKANNYA?

Kecanggihan serangan ini telah menimbulkan argumen bahwa serangan itu tidak berasal dari Yaman, tetapi dilakukan oleh proksi Iran di Irak atau bahkan Iran sendiri.
Tidak jelas mengapa Houthi mau mengklaim penyerangan itu, jika itu benar. Ini mungkin menjadi bagian dari strategi regional oleh Iran dan sekutunya yang hendak mencoba menabur kebingungan, meskipun banyak analis berpendapat di masa lalu bahwa Houthi—didorong oleh kekhawatiran lokal—bertindak secara independen dari Iran ketika mereka menginginkannya.
“Sekarang mereka mengatakan bahwa mereka tidak ada hubungannya dengan serangan terhadap Arab Saudi,” Presiden Trump mencuit, merujuk pada Iran, pada Senin (14/9) pagi, sebelum menambahkan pertanyaan tentatif. “Kita lihat saja?” tulisnya.
Keterangan foto utama: Asap terlihat setelah kebakaran di sebuah pabrik Aramco di Abqaiq. (Foto: Reuters)

Taliban lakukan Serangan Jelang Pemilu Afghanistan

Pemilu Afghanistan

Taliban menepati janjinya untuk menyerang apa pun yang berhubungan dengan pemilu Afghanistan, yang dijadwalkan akan berlangsung dalam waktu kurang dari dua minggu. Ada kekhawatiran yang meluas di Afghanistan bahwa setelah pasukan Amerika ditarik, Taliban menjadi jauh lebih berani dan mungkin mempercepat kembalinya kelompok itu ke kekuasaan. Hampir 50 orang tewas dalam serangan bom bunuh diri Taliban terhadap kampanye pemilu di negara yang terus dilanda konflik tersebut.
Oleh: Najim Rahim, David Zucchino, dan Fatima Faizi (The New York Times)
Khawatir akan ancaman Taliban, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melakukan sebagian besar kampanye pemilihan kembalinya melalui Skype, menjangkau para pemilih di luar Kabul melalui “rapat umum virtual.”
Tetapi pada hari Selasa (17/9), presiden mengambil risiko dengan melakukan perjalanan ke provinsi tetangga Parwan untuk rapat umum di dalam kompleks pelatihan polisi. Dan di sana, tepat ketika rapat umum dimulai, Taliban menepati janjinya untuk menyerang apa pun yang berhubungan dengan pemilu, yang dijadwalkan akan berlangsung dalam waktu kurang dari dua minggu.
Seorang pengebom bunuh diri yang mengendarai sepeda motor meledakkan diri ketika orang-orang menunggu untuk diantar ke kompleks yang dijaga ketat. Paling tidak 26 orang tewas dan 42 lainnya luka-luka dalam serangan dini hari itu, kata Kementerian Dalam Negeri Afghanistan. Ghani, yang berada di dalam kompleks, berjarak setidaknya setengah mil dari ledakan, tidak terluka.
Bom bunuh diri kedua di Kabul lebih dari satu jam kemudian menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai 38 lainnya, kata Kementerian Dalam Negeri.
Taliban mengklaim bertanggung jawab atas kedua serangan itu. Kelompok tersebut menekankan janji mereka untuk meningkatkan kekerasan terhadap pemerintah yang didukung Amerika tersebut setelah Presiden Trump membatalkan perundingan damai dengan Taliban lebih dari seminggu yang lalu.
Keputusan Trump tersebut menghancurkan diplomasi selama hampir satu tahun yang telah mencapai kesepakatan dengan Taliban untuk mengakhiri perang terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat, yang dimulai setelah Taliban melindungi pemimpin Al-Qaeda, dalang serangan 11 September 2001.
Apakah diplomasi itu akan dihidupkan kembali, dan apakah Trump akan menarik pasukan Amerika? masih belum jelas.
Ghani menganggap gagalnya perundingan tersebut sebagai kemenangan karena pemerintahannya telah dikecualikan. Dia juga mengeluh bahwa kesepakatan yang diusulkan tidak memiliki jaminan kepatuhan Taliban begitu pasukan Amerika ditarik.
Ada kekhawatiran yang meluas di Afghanistan bahwa setelah pasukan Amerika ditarik, Taliban menjadi jauh lebih berani dan mungkin mempercepat kembalinya kelompok itu ke kekuasaan.
Juru bicara Taliban Zabibullah Mujahid mengatakan bahwa serangan pada hari Selasa (17/9) dimaksudkan untuk menargetkan pasukan keamanan Afghanistan.
Mujahid mengatakan bahwa Taliban telah memperingatkan warga Afghanistan untuk tidak menghadiri rapat umum kampanye atau acara pemilu lainnya. Jika ada warga sipil yang tewas atau terluka dalam serangan saat acara-acara tersebut, katanya, mereka bertanggung jawab karena telah menempatkan diri mereka dalam bahaya.
“Kami melakukan serangan ini saat rapat umum pemilu palsu sedang berlangsung,” kata Mujahid melalui pesan WhatsApp.
Ghani menyalahkan gagalnya perundingan damai atas serangan yang dilakukan oleh Taliban pada hari Selasa (17/9).
“Taliban adalah musuh utama sistem republik kita,” katanya melalui akun Twitter kepresidenannya. “Taliban sekali lagi telah membuktikan bahwa mereka tidak tertarik pada perdamaian dan stabilitas di Afghanistan.”
Ghani menambahkan bahwa pemilu akan dilanjutkan sesuai jadwal pada 28 September “sehingga rakyat dapat memutuskan masa depan politik mereka.”
Serangan Kabul terjadi di dekat lokasi ledakan bom bunuh diri pada 5 September yang menewaskan 12 orang, termasuk seorang warga negara Amerika dan seorang tentara Rumania. Trump mengutip serangan itu sebagai salah satu alasan ia memutuskan untuk mengakhiri negosiasi damai.
Sebagian besar dari 26 orang yang tewas dalam serangan Parwan adalah warga sipil, kata petugas kesehatan provinsi.
Abdul Qasim, 30 tahun, mengatakan dia sedang mengantri untuk menghadiri rapat umum ketika dia melihat seorang pria mengenakan seragam Angkatan Darat Afghanistan mengendarai sepeda motor tak lama setelah helikopter Ghani mendarat di dalam kompleks kepolisian.
Beberapa menit kemudian, pengendara sepeda motor itu meledakkan bom di sebelah dua kendaraan pasukan keamanan, sekitar 30 meter dari tempat Qasim berdiri. Dia bercerita dia jatuh ke tanah, lalu mendengar orang-orang berteriak minta tolong.
Qasim mengatakan dia tidak terluka serius, tetapi melihat beberapa orang yang tangan atau kaki putus. “Mereka hanya berbaring di sana seperti domba yang disembelih,” katanya.
Sebuah video yang diunggah di media sosial tampak memperlihatkan orang-orang yang berduka memenuhi bangsal rumah sakit provinsi untuk mencari kerabat yang tewas atau terluka dalam pengeboman itu. Setidaknya ada satu orang yang terbaring tak bernyawa di lantai, dan mayat-mayat lainnya ditutupi dengan selimut atau selimut.
Video lain menunjukkan truk yang dipenuhi mayat dari serangan Parwan. Korban tewas termasuk wanita dan anak-anak, kata Dr. Abdul Qasum Sangin, direktur rumah sakit provinsi Parwan.
Keaslian video-video yang menyebar di media sosial itu tidak dapat segera diverifikasi.
Jauh sebelum perundingan perdamaian ditunda, calon wakil presiden pertama Ghani, Amrullah Saleh, lolos dari serangan bom mobil dan beberapa bom bunuh diri yang menembus markas politiknya di Kabul pada bulan Juli.
Saleh menghadiri rapat umum Parwan dengan Ghani tetapi tidak terluka, kata salah seorang stafnya.
Kedua serangan itu terjadi pada hari Selasa (17/9) ketika pasukan keamanan Afghanistan membuat persiapan akhir untuk mengamankan lebih dari 5.300 TPS, dengan 400 hingga 500 ditutup pada saat itu untuk alasan keamanan. Pemilu parlemen tahun lalu dan pemilu presiden pada tahun 2014 telah dirusak oleh kekerasan dan dugaan korupsi.
“Kami prihatin dengan situasi keamanan, dan itu adalah masalah terbesar,” kata Abdul Aziz Ibrahimi, juru bicara komisi pemilu Afghanistan, ketika kampanye mulai intensif minggu lalu. “Kami berhubungan dengan pasukan keamanan Afghanistan, dan mereka berkomitmen untuk mengamankan pemilu.”
Pasukan keamanan bertanggung jawab untuk melindungi 18 kandidat dalam pemilu dan staf mereka, meskipun beberapa kandidat mengatakan mereka telah mengundurkan diri.
Tentara, polisi, dan agen keamanan nasional Afghanistan juga memerangi para pejuang Taliban di beberapa bagian negara itu, dengan pusat-pusat pemerintah di beberapa provinsi utara diserang. Sejak perundingan damai dimulai akhir tahun lalu, kedua belah pihak telah meningkatkan operasi militer.
Sejak perundingan ditunda, Trump dan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan bahwa pesawat Amerika Serikat dan pasukan Operasi Khusus, yang mendukung pemerintah dan militer Afghanistan, telah meningkatkan serangan terhadap Taliban.
Pada saat yang sama, para militan telah memperingatkan bahwa mereka tengah meningkatkan operasi mereka sendiri dan mengancam akan membunuh lebih banyak pasukan Amerika.
Di PBB pada hari Selasa (17/9), Dewan Keamanan menyetujui resolusi yang memperluas misi 17 tahun PBB di Afghanistan, yang membantu dalam persiapan pemilu.
“Resolusi ini adalah sangat penting bagi rakyat Afghanistan,” kata Christoph Heusgen, Duta Besar Jerman untuk PBB, yang merancang resolusi tersebut bersama dengan Duta Besar Indonesia untuk PBB. “Kami mengirim pesan kepada rakyat Afghanistan bahwa PBB mendukung mereka, kami tidak hanya diam saja.”
Keterangan foto utama: Pasukan keamanan Afghanistan di lokasi ledakan bom di Kabul pada hari Selasa (17/9) (Foto: Reuters/Omar Sobhani)

Benny Gantz, Pesaing Utama Pemilu Israel Meyakini Netanyahu akan Kalah

Benny Gantz

Benny Gantz, penantang utama Benjamin Netanyahu dalam pemilu Israel, meyakini perdana menteri itu akan kalah. Sejumlah hasil survei yang direvisi beberapa jam setelah pemilihan ditutup oleh berbagai stasiun TV Israel menunjukkan bahwa Partai Likud meraih 30 hingga 33 dari 120 kursi parlemen, sedikit menurun dari perkiraan sebelumnya, dibandingkan dengan perolehan 32 hingga 34 kursi Partai Biru dan Putih. Gantz telah mengesampingkan kemungkinan berpartisipasi dalam pemerintahan Israel dengan Netanyahu, jika pemimpin Israel itu didakwa bersalah dalam tuduhan korupsi yang menjeratnya.
Oleh: Jeffrey Heller (Reuters)
Penantang utama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pemilihan umum, ketua partai sayap tengah Benny Gantz mengatakan hari Rabu (18/9) bahwa tampaknya hasil exit polls menunjukkan bahwa Netanyahu akan kalah, meski hasil resminya masih belum merilis pemenang pemilu.
Gantz, seorang mantan jenderal, masih belum secara tegas mengklaim kemenangan. Tetapi dengan berseri-seri, dia mengatakan kepada sebuah kampanye Partai Biru Putih bahwa tampaknya “kami memenuhi misi kami,” berjanji untuk bekerja mewujudkan pembentukan pemerintah persatuan nasional.
Menurut Gantz, Netanyahu tampaknya “tidak berhasil dalam misinya” untuk memenangkan masa jabatan kelima dalam pemilihan umum yang dilakukan setelah kemenangan tipisnya pada pemungutan suara nasional bulan April 2019. “Kita akan menunggu hasil yang sebenarnya,” kata Gantz.
Natanyahu, pimpinan Partai Likud sayap kanan dan pemimpin terlama Israel, akan menyampaikan pidato “singkat tapi penting” di markas pemilihannya sekitar pukul 3 pagi waktu setempat.
Sejumlah hasil survei yang direvisi beberapa jam setelah pemilihan ditutup oleh berbagai stasiun TV Israel menunjukkan bahwa Partai Likud meraih 30 hingga 33 dari 120 kursi parlemen, sedikit menurun dari perkiraan sebelumnya, dibandingkan dengan perolehan 32 hingga 34 kursi Partai Biru dan Putih.
Dilansir dari Reuters, Rabu (18/9), sekilas tampaknya tidak ada cukup dukungan bagi kedua partai tersebut untuk membentuk koalisi penguasa berupa 61 anggota legislatif. Sekutu Netanyahu yang berubah menjadi saingan, mantan Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman, muncul sebagai kemungkinan kingmakersebagai pemimpin Partai Yisrael Beitenu sayap kanan.
“Netanyahu telah kalah, tetapi Gantz belum menang,” kata Udi Segal, pembawa berita televisi terkemuka Israel.
Jajak pendapat yang direvisi menunjukkan bahwa tanpa Yisrael Beitenu yang diproyeksikan meraih delapan hingga sembilan kursi, dapat terjadi kebuntuan dalam hasil pemilu. Partai Likud hanya akan mendapat dukungan hingga 55 anggota legislatif, turun dari 57 pada exit polls sebelumnya untuk membentuk koalisi sayap kanan. Partai Biru dan Putih dapat meminta dukungan tidak lebih dari 59 anggota legislatif untuk membentuk pemerintah sayap kiri-tengah.
“Kita hanya memiliki satu opsi, yakni pemerintahan nasional, liberal, luas yang terdiri dari Partai Yisrael Beitenu, Likud, dan Biru dan Putih,” kata Lieberman, yang proyeksi hasilnya kali ini dua kali lipat dari hasil yang diperolehnya bulan April 2019.
Membangun koalisi bisa terbukti menjadi upaya yang rumit: Lieberman mengaku tidak akan bergabung dengan aliansi yang mencakup partai-partai ultra-Ortodoks, yang merupakan mitra tradisional Netanyahu.
Gantz telah mengesampingkan kemungkinan berpartisipasi dalam pemerintahan Israel dengan Netanyahu, jika pemimpin Israel itu didakwa bersalah dalam tuduhan korupsi yang menjeratnya.

TUDUHAN KORUPSI

Dijuluki “King Bibi” oleh para pendukungnya, Netanyahu, 69 tahun, sudah menderita akibat kegagalannya dalam membentuk pemerintahan setelah pemilihan bulan April 2019.
Meski membantah melakukan kesalahan, tuduhan korupsi yang menjeratnya telah melemahkan Netanyahu yang tampaknya tak terkalahkan, dengan 10 tahun berturut-turut menjabat sebagai perdana menteri yang ditandai oleh fokus tajam pada isu keamanan yang didukung oleh para pemilih.
“Kecuali terjadi perubahan yang ajaib antara exit polls dan hasil aktual pemilu, keajaiban Netanyahu telah hancur,” ucap Anshel Pfeffer, penulis biografi Netanyahu, dalam surat kabar sayap kiri Haaretz.
Berbicara kepada para pendukung setelah exit polls, Lieberman mengimbau kepada Presiden Israel Reuven Rivlin untuk mengundang Netanyahu dan Gantz untuk bertemu paling cepat hari Jumat, 20 September 2019, bahkan sebelum hasil akhir pemilu dirilis, agar dapat mengeksplorasi kemungkinan pembentukan pemerintah persatuan nasional.
Kampanye dua partai utama itu menegaskan perbedaan kecil pada banyak masalah penting: perjuangan regional melawan Iran, konflik Palestina, hubungan dengan Amerika Serikat, dan isu ekonomi.
Berakhirnya era Netanyahu kemungkinan tidak akan menghadirkan perubahan signifikan dalam kebijakan tentang isu-isu hangat yang diperdebatkan dalam proses perdamaian dengan Palestina yang telah runtuh lima tahun lalu.
Tepi Barat
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberikan pernyataan tentang pencaplokan Tepi Barat di Ramat Gan, di dekat Tel Aviv, Israel, 10 September 2019. (Foto: Reuters/Amir Cohen)

ANEKSASI

Netanyahu juga telah mengumumkan niatnya untuk menganeksasi Lembah Jordan di Tepi Barat yang diduduki, tempat Palestina berupaya mendirikan negara merdeka.
Pemimpin Partai Biru dan Putih Benny Gantz dan ketua bersama Partai Yair Lapid, Moshe Yaalon dan Gaby Ashkenazi menunjukkan reaksi di markas besar partai itu setelah pengumuman exit polls saat pemilihan parlemen Israel di Tel Aviv, Israel, 18 September 2019. (Foto: Reuters/Amir Cohen)
Namun Partai Biru dan Putih juga mengatakan akan memperkuat blok pemukiman Yahudi di Tepi Barat, dengan Lembah Jordan sebagai “keamanan perbatasan timur” Israel.
Seperti pada pemilihan lima bulan lalu, kampanye lawan-lawan Netanyahu, termasuk Gantz, berfokus pada tuduhan suap dan penipuan terhadap Netanyahu dalam tiga kasus korupsi.
Netanyahu akan menghadapi pengadilan pra-persidangan bulan Oktober 2019 untuk menolak tuduhan yang diajukan terhadap dirinya. Kekalahan Netanyahu dalam pemilihan umum kali ini bisa membuat dirinya lebih berisiko terhadap penuntutan tanpa adanya perisai kekebalan parlemen yang dijanjikan para sekutu politiknya. Belum ada kepastian bahwa mereka akan mendukung pemimpin yang lemah tanpa mandat publik yang jelas dalam pembentukan koalisi.
Netanyahu telah menggambarkan Gantz, 60 tahun, sebagai politisi yang tidak berpengalaman dan tidak mampu mendapatkan respek dari para pemimpin dunia seperti Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Sebelum pemilihan sebelumnya, Trump mendukung Netanyahu dengan pengakuan AS terhadap kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan, yang telah direbut dari Suriah dalam perang Timur Tengah tahun 1967. Kali ini, Gedung Putih tampaknya jauh lebih sibuk dalam menangani Iran.
Pemerintahan Trump bermaksud untuk segera merilis rencana perdamaian Israel-Palestina yang dapat terbukti tidak efektif. Palestina telah menolak rencana itu sebelum ditetapkan karena dianggap bias. Dukungan luas bagi Netanyahu di Amerika Serikat dan negara-negara dunia lainnya, pada masa konflik di perbatasan Israel dengan Suriah, Gaza dan Lebanon, tetap menjadi daya tarik besar di dalam negeri Israel.
Pada jam-jam terakhir kampanye, Netanyahu berupaya keras mendesak para pemilih untuk mendukungnya demi mencegah apa yang ia sebut sebagai “bencana” dari pemerintah sayap kiri. Dengan suara serak, pemimpin veteran itu berseru di jalanan maupun media sosial, pada satu kesempatan menggunakan megafon di stasiun bus Yerusalem untuk meminta para pemilih memperpanjang dekade kekuasaannya.
Di Gaza, warga Palestina menunggu hasil pemungutan suara Israel.
“Pemilihan ini memengaruhi banyak hal dalam hidup kami,” ujar Mohamad Abdul Hay Hasaneen, petugas kebersihan di Kota Khan Younis. “Mungkin akan ada eskalasi terbatas setelah pemilihan, tetapi saya tidak yakin ini akan mengakibatkan perang dalam skala penuh.”
Laporan oleh Jeffrey Heller; Dan Williams, Maayan Lubell, dan Stephen Farrell di Yerusalem; Akram El-Satarri di Gaza; Disunting oleh Mark Heinrich dan Peter Cooney.
Keterangan foto utama: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberikan pernyataan dalam konferensi pers di Yerusalem, 18 September 2019. (Foto: Reuters/Ronen Zvulun)

AS Simpulkan Iran Serang Ladang Minyak di Arab Saudi

Asap membubung setelah fasilitas pengolahan minyak Aramco di Kota Abqaiq terbakar, Arab Saudi, 14 September 2019.

Ada bukti yang berkembang bahwa serangan pesawat tak berawak dan rudal terhadap ladang minyak Arab Saudi berasal dari Iran.
Pemberontak Houthi di Yaman, yang didukung oleh Iran, awalnya mengklaim bertanggung jawab atas serangan pada Sabtu (14/9), yang menghancurkan separuh dari produksi minyak negara itu. Tetapi pejabat AS mengatakan bukti yang ada menunjukkan itu tidak mungkin.
"Asumsi kita yang masuk akal adalah ini bukan berasal dari Yaman atau Irak," kata seorang pejabat pertahanan Amerika Serikat (AS) kepada VOA pada Selasa (17/9). Ia menambahkan tim forensik AS sedang bekerja sama dengan Saudi untuk memeriksa sisa-sisa rudal.
"Menurut kami bukti akan sangat meyakinkan," kata pejabat itu.
Dalam kesempatan terpisah, pejabat AS lainnya mengatakan bukti yang sudah dikumpulkan bersifat konklusif dan merujuk langsung pada Iran.
Para pejabat yang tidak disebutkan namanya kepada jaringan televisi NBC News Selasa, mengatakan lebih dari 20 pesawat tanpa awak dan rudal yang digunakan dalam serangan terhadap fasilitas minyak Saudi diluncurkan dari Iran.
Pejabat lain mengatakan kepada CBS News sekurangnya satu dari rudal itu melintasi ruang udara Kuwait ketika mengarah ke selatan menuju Arab Saudi, sementara kantor berita Reuters mengutip para pejabat yang mengatakan serangan itu berasal dari Iran barat daya.
Para pejabat juga mengatakan para penyelidik sedang memeriksa mekanisme penuntun rudal yang ditemukan di Arab Saudi dan sebagian besar rudal jelajah utuh yang tampaknya gagal mencapai target yang dituju.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS Joseph Dunford, kepada wartawan di London, mengatakan serangan hari Sabtu tampak berbeda dari yang sebelumnya dilakukan oleh pemberontak Houthi Yaman.
Ia mengatakan AS tidak memiliki gambaran lebih jauh mengenai serangan-serangan itu namun selain tim forensik, Washington memberikan dukungan tambahan pada Riyadh dan menyerahkan Arab Saudi membuat penilaian mereka sendiri.
Meskipun kesimpulan meningkat dari banyak pejabat AS, Selasa, Iran terus membantah peran apa pun dalam serangan itu. 

Keprihatinan Meningkat Terkait Penjara Darurat untuk Militan ISIS


 Kombatan Pasukan Demokratik Suriah yang didukung AS, berjaga di dekat para pria yang menunggu untuk diperiksa setelah dievakuasi dari wilayah terakhir ISIS, dekat Baghuz, timur Suriah, 22 Februari 2019.

Upaya untuk mengamankan penjara yang menahan ribuan militan ISIS yang ditangkap tampaknya berada di ambang kehancuran. Ini adalah perkembangan yang bisa membantu memperkuat upaya kelompok teror itu untuk muncul kembali di Suriah dan Irak.
Selama berbulan-bulan, para pejabat mengatakan penjara-penjara itu, yang dikelola oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung Amerika Serikat,"cukup baik" untuk menahan para militan. Banyak di antara militan itu ditangkap setelah Baghuz, kubu terakhir kelompok teror itu di Suriah, direbut pada Maret.
Tetapi ketika upaya untuk memulangkan miIitan asing ISIS ke negara asalnya macet dan ribuan lebih menunggu semacam pengadilan. Kekhawatiran meningkat bahwa penjara-penjara itu bisa mencapai titik puncak.
"Tidak ada penjara yang dikendalikan oleh pasukan di timur laut Suriah yang bisa menampung 10.000 militan ISIS," kata Chris Maier, direktur Gugus Tugas Kekalahan ISIS di Pentagon, kepada wartawan Rabu (18/9).
"Sejalan dengan waktu, ini tidak berkesinambungan," tambahnya. "Kita membahas masalah ini secara teratur dengan mitra koalisi (anti-ISIS) kita, dan mereka berbagi kajian itu."
Banyak bangunan penjara itu adalah sekolah, yang dengan cepat diubah menjadi fasilitas penahanan ketika AS dan pasukan koalisi merebut kembali wilayah terakhir kelompok teror itu di Suriah.
Tidak lama lagi, penjara-penjara itu akan kewalahan. Pada Maret, AS mulai mengirimi SDF bahan-bahan yang diperlukan untuk melakukan perbaikan bagi penjara-penjara itu.

Iran 'Ancaman Bersama' Bagi Semua Negara

Sisa-sisa misil penjelajah Iran yang digunakan dalam penyerangan terhadap jantung industri minyak Arab Saudi pada akhir pekan (14/9) diperlihatkan dalam konferensi pers oleh Militer Arab Saudi, di Riyadh, Arab Saudi, 18 September 2019.

Arab Saudi, Rabu (18/9), menuduh serangan drone dan rudal jelajah di jantung industri minyak kerajaan itu "disponsori oleh Iran," tetapi tidak secara langsung menuduh Teheran meluncurkan serangan itu.
"Serangan itu diluncurkan dari utara dan tidak diragukan disponsori oleh Iran," kata juru bicara militer Arab Saudi Kolonel Turki al-Malki pada konferensi pers.
Ia tidak secara langsung menuduh Iran menembakkan senjata atau meluncurkannya dari dalam wilayah Iran.
Kerajaan itu telah meminta bantuan dari penyelidik internasional dan PBB, yang memperpanjang penyelidikan dan menjadikan kesimpulannya berskala internasional.
Dengan tidak lagi mengatakan rudal diluncurkan dari Iran, kerajaan itu mungkin berupaya menghindari tanggapan yang bisa mengarah padaperang di antara negara-negara di kawasan itu dan negara adidaya, Amerika.
Namun, tidak membalas serangan juga berisiko Arab Saudi akan menghadapi serangan lanjutan.
Konferensi pers itu berlangsung dengan latar belakang drone yang rusak dan terbakar serta potongan-potongan sebuah rudal jelajah yang diduga dikumpulkan dari serangan itu. 

Viral Video Seruan Tentara Aceh Darussalam, Usir Semua Orang Non Aceh

Viral Video Seruan Tentara Aceh Darussalam, Usir Semua Orang Non Aceh

Penduduk Aceh yang berasal dari luar daerah diminta untuk segera meninggalkan provinsi di ujung utara pula Sumatra itu.
Perintah tersebut disampaikan seorang pria yang menamakan kelompoknya Pembebasan Kemerdekaan Atjeh Darussalam/Atjeh Merdeka (PKAD/AM) dan (Teuntra Islam Atjeh Darussalam (TIAD).
Melalui sebuah video yang diunggah akun Facebook Yahdi Ilar Rusydi Smh, Selasa (17/9/2019), pria itu berbicara di depan kamera, mengungkapkan perintahnya.
Di samping kiri dan kanannya, berdiri lima pria yang menutupi wajahnya menggunakan kain serban dan kacamata hitam.
Hanya satu pria di tengah yang menampakkan parasnya. Namun, mereka semua sama-sama mengenakan seragam hijau loreng-loreng.
Video Amaran PKAD/AM dan TIAD - (Facebook/Yahdi Ilar Rusydi Smh)
Video Amaran PKAD/AM dan TIAD - (Facebook/Yahdi Ilar Rusydi Smh)
Pria tersebut memerintahkan warga dari luar Aceh untuk segera pergi untuk sementara waktu, tetapi diberi kesempatan bersiap-siap sampai tenggat waktu 4 Desember 2019.
Alasannya, mereka ingin menyelesaikan permasalahan di Aceh tanpa campur tangan penduduk dari luar Aceh.
PKAD/AM dan TIAD bahkan mengancam orang-orang yang tidak menuruti perintahnya. Berikut transkrip lengkap ucapan dari perwakilan kelompok tersebut di video:
"Hari ini bertepatan dengan 18 Muharram, sebagai bangsa yang mempunyai adat budaya dan etika di dalam bernegara, maka kami bangsa Aceh Darussalam menyerukan kepada seluruh bangsa-bangsa yang ada di Aceh Darussalam saat ini untuk keluar dari Aceh Darussalam selain daripada bangsa Aceh Darussalam.
Yang merasa diri bukan bangsa Aceh Darussalam kami persilakan untuk sementara waktu untuk keluar dari negeri kami karena kami ingin menyelesaikan persoalan bangsa kami untuk mendirikan hukum Allah di bumi Aceh Serambi Mekah.
Maka dari itu kami atas anama PKAD/AM Pembebasan Kemerdekaan Aceh Darussalam/Aceh Merdeka dan TIAD, Tentara Islam Aceh Darussalam, menyerukan kepada seluruh bangsa selain bangsa Aceh Darussalam untuk keluar dari Aceh Darussalam sementara waktu.
Kami berikan masa tenggang waktu paling lama 4 Desember 2019, dan bila pada tanggal tersebut orang-orang yang tidak berkepentingan dan berkenaan dengan Aceh Darussalam tidak keluar, maka jangan salahkan kami untuk mengambil satu tindakan terhadap orang-orang yang memang tidak berkepentingan di Aceh Darussalam.
Bila perkara menyangkut Aceh Darussalam sudah selesai, kami persilakan kepada bangsa-bangsa yang lain untuk masuk lagi kembali ke negeri Aceh Darussalam, mengingat hal tersebut adalah menentukan dari segala hal, terutama menyangkut kedaulatan Aceh Darussalam. Kami tidak mau bangsa lain ikut campur dalam penyelesaikan hak kedaulatan kami bangsa Aceh Darussalam."
Belum ada keterangan dari pihak berwajib tentang viral-nya video ini.